Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Mewaspadai Aksi Pemurtadan

Mewaspadai Aksi Pemurtadan

Murtad berasal dari akar kata riddah atau irtidad yang berarti kembali. Istilah murtad berarti keluar dari agama Islam dalam bentuk niat, perkataan, atau perbuatan yang menyebabkan seseorang menjadi kafir atau tidak beragama sama sekali.

Pada awal sejarah Islam, istilah riddah dihubungkan dengan kembalinya beberapa kabilah Arab, selain Quraisy dan Saqif, dari Islam kepada kepercayaan lama setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Saat itu, sejumlah kabilah yang murtad menuntut dihilangkannya kewajiban shalat dan meminta dihilangkannya kewajiban membayar zakat. Khalifah Abu Bakar as-Sidiq memerangi kabilah-kabilah yang murtad itu sehingga meletuslah Perang Riddah.

Jumat siang beberapa waktu yang lalu, sebuah bangunan di bilangan Kampung Jiwanaya, Kelurahan Cibeunying, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, sudah dipenuhi warga. Mereka berkumpul di dekat pintu gerbang bangunan megah itu. Sejumlah poster dan spanduk diusung dan sebagian lainnya terpasang di pagar bangunan itu.

Kumandang Takbir pun menggema. Mereka sedang menuntut penutupan bangunan yang disalahgunakan sebagai tempat peribadatan alias gereja. Tak ada aksi anarkis. Namun, warga begitu geram. "Kami ingin rumah ibadah ilegal ini ditutup,'' teriak warga yang berujuk rasa.

Menurut seorang warga, Agus Sulaiman, awalnya warga di daerahnya tenang, tak terusik oleh masalah rumah ibadah ilegal itu. Namun, kata dia, sejak 2003 lalu mulai ada 'penyusup' yang sudah berniat membangun tempat peribadatan. Kecurigaan itu terjadi karena pelakunya selalu bergonta-ganti dalih dan alasan peruntukan bangunan itu.

Beberapa bulan terakhir, hampir setiap Ahad ada pendatang ke kampung itu menanyakan tempat ibadah. Padahal, sepengetahuan warga tak ada tempat ibadah agama lain, selain masjid di tempat itu. Warga sekitar pun coba 'dijinakkan' dengan pemberian uang berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu.

Agus tak mengetahui motif pembagian uang itu. Ia juga tak tahu apakah sudah ada warga sekitar yang berhasil dimurtadkan atau tidak. Dedi Somantri, salah satu warga lainnya, mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, meskipun ada warga yang berhasil dimurtadkan, pasti tidak akan mengaku.

"Apalagi di lingkungannya rata-rata orang Islam," papar Dedi. Aroma dan indikasi pemurtadan tak hanya terjadi di Kampung Jiwanaya saja. Menurut data Forum Ulama Umat Islam (FUUI), di Kecamatan Cimenyan saja diperkirakan terdapat lebih dari 10 tempat ibadah yang melanggar peruntukan.

Motif awal pembangunannya pun bermacam-macam, mulai dari pengalihan fungsi bangunan, dari rumah biasa atau tempat khusus, yakni tempat ibadah. Bahkan, ada pula pengelola rumah ibadah agama lain yang menyamar sebagai orang biasa. Mereka mengajak masyarakat untuk jalan-jalan dengan janji uang serta sembako.

Setelah diajak jalan-jalan, warga dikumpulkan di aula untuk mengikuti upacara. Ternyata itu adalah ritual yang menyebabkan murtadnya seorang Muslim. Begitu upacara selesai, warga pun dibagi sembako.

FUUI menyatakan di wilayah Bandung Raya-meliputi kota/kabupaten Bandung--terdapat 90 titik pemurtadan. Sebanyak 50 titik di Kabupaten Bandung (sebelum lepas Bandung Barat) dan 40 titik di Kota Bandung.

Menurut FUUI, praktik dengan modus ajakan jalan-jalan ini pernah terjadi di Kecamatan Cimenyan sekitar 2007 lalu. Saat itu sekitar 300 orang diajak jalan-jalan ke Cihedeung menggunakan bus. Mereka diming-imingi sembako sebelum dimurtadkan dalam sebuah ritual agama tersebut.

Tak semua warga yang ikut sadar bahwa mereka mengikuti ritual agama yang mengukuhkan mereka telah berpindah keyakinan dari seorang Muslim. Menurut catatan FUUI, modus serupa pernah terjadi di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung.

Ada dua modus utama untuk memurtadkan umat Islam yang berada di pelosok perkampungan miskin. Keduanya adalah iming-iming pembagian sembako dan alih fungsi bangunan menjadi tempat ibadah. "Target mereka pada setiap desa di Jawa Barat terdapat satu tempat ibadah," cetus Ketua FUUI, KH Athian Ali M Dai.

Di daerah Arjasari Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, saja terdapat enam titik pemurtadan. Modusnya, tempat kursus disulap menjadi rumah ibadah serta rumah tinggal menjadi tempat ibadah. Upaya itu berhasil menarik perhatian warga kampung yang hidupnya serba pas-pasan.

"Mereka (orang yang melakukan pemurtadan) lebih perhatian dibanding orang Islam. Mana ada orang Islam ngasih bantuan. Malah di sini yang sering Bantu adalah orang gereja," tutur seorang ibu setengah baya, warga Arjasari Banjaran, dengan wajah sesal. Ia juga mengaku pernah mendapatkan bantuan senilai hampir Rp 1 juta.

Sebagai orang yang tak mampu, ibu yang tak mau disebut namanya itu, mengaku lebih tertarik dengan langkah orang-orang Kristen yang langsung memberikan kebutuhan masyarakat. Hal itu, kata dia, tak pernah diberikan dari saudara-saudaranya yang beragama Islam.

"Jangan salahkan kalau umatnya pindah agama," papar perempuan sembari menggerutu. Ia mengaku selama beberapa bulan bersama sekitar 10 warga pernah berpindah agama, tetapi setelah sekitar dua bulan kembali ke Islam. "Kalau yang lain, saya mah tidak tahu, masih murtad apa tidak?"

"Yang paling banyak praktik pemurtadan ini memang dilakukan dengan pengalihfungsian lahan," kata Bambang Somantri, salah seorang fungsionaris FUUI. Ia mencontohkan, di Kecamatan Kiara Condong, Bandung, ada balai pengobatan yang berubah menjadi tempat ibadah.

Selain itu, ada pula modus pemurtadan yang berlindung di balik lembaga pelatihan keterampilan. Mereka membuka jasa keterampilan menjahit dan menyulam bagi kaum ibu. "Sekarang di sana sudah ada yang dimurtadkan hingga belasan orang. Kalau dibiarkan, ini akan terus bertambah," ungkap Bambang prihatin.

Bahkan, di Taman Kopo Indah 2, Kecamatan Margahayu, aksi pemurtadan dilakukan dengan cara membuka sekolah. Anak-anak yang tak mampu diberi beasiswa. Target mereka adalah anak-anak usia taman kanak-kanak. Hal itu sempat terjadi di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Ada pula pemurtadan yang dilakukan dengan cara dipacari atau dinikahi. Menurut data FUI, di kawasan Muara Rajeun dekat Pusdai Kota Bandung, ada perempuan Muslimah dimurtadkan dengan cara dipacari terlebih dahulu. Bahkan, ada pula dengan modus pengobatan.

Menurut Kiai Athian, mereka melakukan berbagai cara, mulai cara yang halus hingga yang kasar. Mulai pemberian sembako, membuka koperasi beras, membangun peternakan domba, serta menggunakan pendekatan dengan uang. "Semua cara mereka lakukan agar misi berhasil," imbuh Athian.

Ada juga yang mengajak ummat Islam merayakan natal bersama. Misi tipu muslihat Natal itu nampak jelas dalam brosur yang memakai nama samaran “Al-Barokah.” Bagi umat Islam yang awam, brosur lipat ini sangat menarik. Lihat saja, pada halaman depan tertulis judul “Allahu Akbar Maulid Isa Alaihissalam” yang dihiasi dengan kaligrafi khat Arab “Maulidun Nabiyyi ‘Iisaa ‘Alaihissalaam.” Tanpa wawasan yang memadai, kaum awam akan mengira brosur full colour ini sebagai bacaan Islam penguat akidah. Yang lebih mengecoh lagi, brosur empat halaman ini mencantumkan lima nas Arab ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi.

Mulanya brosur Kristen “Al-Barokah” mengutip hadits shahih Muslim yang menyatakan bahwa yang bisa menyelamatkan manusia masuk surga bukanlah amal shalih, melainkan rahmat Allah. “Nabi Muhammad bersabda: “Tak seorang pun di antara kalian dimasukkan ke dalam sorga oleh amalnya dan tidak pula diselamatkan dari neraka. Begitu pula aku, kecuali dengan rahmat Allah” (Hadits Shahih Muslim). Hadits ini diparalelkan dengan ayat Al-Qur'an surat Maryam ayat 21 yang menyatakan bahwa kelahiran Nabi Isa adalah rahmat dari Allah SWT.

Dengan kesimpulan demikian, lantas penginjil penulis brosur tersebut mengajak umat Islam untuk bersuka cita dalam damai Natal, menyambut kelahiran Yesus Kristus sebagai rahmat Allah, satu-satunya penebus dosa yang sanggup membawa manusia memasuki surga-Nya.

Umat Islam tidak akan membantah Nabi Isa sebagai rahmat Allah, sesuai dengan nas Al-Qur'an. Tapi keyakinan ini tidak serta-merta membuat umat Islam beralih masuk Kristen untuk menjadi pengikut Yesus. Karena dalam Al-Qur'an surat Ali Imran 49 dan Az-Zukhruf 59, Allah SWT membatasi misi kenabian Yesus hanya terbatas untuk bani Israel. Bukankah Bibel juga mengonfirmasi misi Yesus hanya untuk domba yang hilang dari umat Israel (Matius 10:5-6, Matius 15:24).

Ajakan penginjil kepada umat Islam untuk merayakan Natal kelahiran Yesus sang Juru Selamat ini tentu sesat dan menyesatkan, akibat keliru menerapkan logika silogis. Menurut Al-Qur'an, Nabi Isa bukanlah satu-satunya rahmat Allah. Para nabi adalah rahmat dari Allah, dan di antara semua nabi itu, hanya ada satu nabi pamungkas untuk seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), yaitu Nabi Muhammad SAW.

Parahnya lagi, baru-baru ini situs Wikileaks juga membocorkan rencana beberap negara non muslim untuk mensekulerkan muslim di Indonesia. Salah satu negara yang terungkap di situs tersebut ialah negara China. Jika hal ini dibiarkan, maka jangan heran jika semakin banyak masyarakat muslim Indonesia akan kehilangan identitasnya sebagai seorang muslim.

Inilah tantangan yang harus dihadapi umat Islam. Jika ulama, tokoh ormas, para dai, dan lembaga zakat, infak, dan sedekah tak segera merangkul umat yang ada di wilayah pinggiran, akan lebih banyak lagi yang berpindah keyakinan karena imingi-iming sembako.



Heri Ruslan dalam Republika dan A. Ahmad Hizbullah MAG yang dimuat Shodiq Ramadhan dalam Suara Islam, serta dari berbagai sumber termasuk berita tentang Wikileaks yang disearch oleh Admin mushollarapi
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger