Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Home » » Menakar Mental Para Pejabat

Menakar Mental Para Pejabat


Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW pernah menyatakan bahwa ada tiga jenis manusia dalam hubungannya dengan ibadah kepada Tuhan.

Pertama, jenis seorang hamba sahaya.

Ia melakukan ibadah karena takut perintah dan ancaman majikannya. Tidak ada keikhlasan dalam melakukan pengabdian kepada Tuhan kecuali hanya keterpaksaan struktural. Ia akan sangat rajin jika diiming-imingi oleh reward dan ditakut-takui dengan punishment. Jenis ini adalah jenis yang paling rendah dari seorang ’abid.

Kedua, jenis seorang pedagang, yaitu ibadahnya didasarkan kepada untung dan rugi.

Ketika ia melakukan amal ibadah tertentu, maka yang ada dalam benaknya adalah apa keuntungan yang akan didapat, berapa pahala yang oleh Tuhan. Jika perlu, dia menawar kepada Tuhan agar mendapatkan keuntungan pahala yang besar, dengan usaha yang sedikit. Istilah bisnis, sedikit modal, untung besar. Jenis orang seperti ini berada pada level tengah, karena memposisikan sejajar dengan Tuhan dengan transaksi-transaksi yang memungkinkan ia lakukan.

Ketiga, jenis orang yang merdeka (independen).

Ia melakukan ibadah karena kecintaannya kepada Tuhan bukan karena pengharapan kepada pahala dan takut siksa yang diancamkannya. Ia memiliki kesadaran spiritual yang dalam untuk menghamba kepada Sang Khaliq. Tidak ada terbersit sedikitpun untuk mengharapkan upah pahala, apalagi takut siksanya. Dalam level spiritual, orang jenis ini termasuk golongan khawash dengan level mahabbah. Seorang sufi yang paling terkenal dengan paham ini adalah Rabi’ah Al-Adawiyyah.

Penjenisan kualitas ibadah seorang hamba tersebut dapat dianalogikan kepada mentalitas aparat (pejabat dan karyawan) dalam sebuah kementerian, dan juga lembaga lainnya.

Pertama, adalah pejabat (dan karyawan) yang memiliki mental hamba sahaya.

Ia bekerja karena ada perintah dari atasan, atau karena ada iming-iming honor atau SPPD yang akan didapatkan. Dalam bekerja, ia berusaha menunjukkan sebaik mungkin di hadapan atasannya agar dinilai baik agar dapat dipromosikan, meskipun dia hanya berpura-pura karena memilik tujuan terselubung. Jika atasan tidak mengawasai dan ada perluang untuk korupsi, maka ia tidak segan-segan melakukannya demi keuntungan pribadi. Pada umumnya, pejabat (dan karyawan) yang memiliki mental seperti ini tidak terlalu peduli dengan tanggung jawab tugas dan fungsinya, namun yang dipikirkan adalah kepentingan pribadi, meskipun merendahkan dirinya sendiri. Jenis pejabat (dan karyawan) seperti ini masuk kategori yang paling buruk, dan rendah.

Kedua, pejabat yang memiliki mental pedagang.

Dalam melakukan tugas dan fungsinya, ia selalu akan mempertimbangkan untung dan ruginya bagi diri atau kelompoknya. Seberapa besar tenaga dan pikiran yang dilakukan, maka seberapa untung yang akan didapatkan berdasarkan hitung-hitungan angka. Sebagaimana mental pedagang, ia selalu mengukur dengan transaksi-transaksi yang memungkinkan untuk mendapatkan untung besar, dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Meskipun pejabat model seperti ini berpotensi merugikan negara, namun ia memiliki perhitungan (kalkulasi) ketika ingin melakukan penyelewengan kekuasaannya.

Ketiga, pejabat yang memiliki mental seorang yang merdeka (independen).

Ia memiliki tanggung jawab moral yang tinggi. Jabatan yang diembannya disadari sebagai amanah yang harus dijalankan secara profesional dan tanggung jawab. Tidak ada dalam benaknya untuk melakukan kecurangan atau korupsi, karena tugasnya semata-mata amanah yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Meskipun kesempatan ada dan memungkinkan aman dari jeratan hukum, namun karena kesadaran batinnya yang tinggi, ia tidak mau menyalahgunakan jabatannya untuk kepentingan diri dan atau kelompoknya. Golongan pejabat seperti ini termasuk level yang ideal. Prinsip yang ia pegang adalah: apa yang bisa saya berikan kepada negara, bukan negara akan memberikan apa kepada saya, bukan juga apa yang bisa saya berikan kepada partai/ golongan. Sayangnya, tipe pejabat seperti jarang ditemukan.

Berkaitan dengan uraian tersebut, menarik apa yang ditulis oleh Moeflich Hasbullah, dosen UIN bandung yang dimuat dalam rubrik opini republika, 12 Juli 2010. Hasbullah menguraikan tentang korupsi yang dilakukan oleh pejabat. Menurutnya, semua korupsi terjadi karena adanya peluang dan kesempatan yang terbuka. Ada lima kategori kesempatan yang mendorong seseorang melakukan korupsi.

Pertama, corruption by need.

Ini adalah korupsi skala kecil untuk memenuhi kebutuhan hidup. Misalnya, karyawan kecil menggunakan mobil dinas, telepon kantor, atau komputer untuk urusan pribadi; guru menggunakan uang sekolah untuk membayar listrik dan cicilan rumahnya yang nunggak; atau mahasiswa memakan uang kegiatan untuk bayar kos.

Kedua, corruption by gate.

Awalnya tidak berniat, tapi tiba-tiba pintu gerbang korupsi terbuka dengan ditawari, diajak, dan disuguhi tanda tangan.

Ketiga, corruption by read.

Korupsi yang dilakukan dengan membaca situasi, melihat-lihat kemungkinan, aman-tidaknya, apalagi dilakukan bersama atasannya.

Keempat, corruption by lead.

Korupsi jenis ini dilakukan melalui kedudukan, jabatan, dan posisi kepemimpinannya. Ini korupsi paling umum. Kedudukan sebagai pemimpin paling mudah membuka peluang seseorang untuk melakukan korupsi karena memiliki wewenang dan kekuasaan. Membuat mark up, rekayasa, penyelewengan, dan kongkalikong dilakukan karena kesempatan yang dimilikinya sebagai pemimpin.

Kelima, corruption by meat, yaitu memakan daging saudaranya sendiri.

Ini adalah korupsi yang paling jahat yang dilakukan dengan memotong dan merampok hak orang lain, bawahan, karyawan, guru, dan sebagainya untuk memperkaya diri.

Semoga apa yang diuraikan di atas dapat diambil hikmah demi untuk meningkatkan kualitas pengabdian kepada Allah, bangsa, dan negara. Semoga bisa membantu dalam rangka mewujudkan mentalitas pejabat yang lebih baik. Wallahu a’lam bish-shawab.



Thobib Al-Asyhar (penulis buku, kandidat doktor psikologi Islam UIN Jakarta)
Adv 1
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger