Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Home » » Pemuda Yang Tumbuh Dalam Ibadah Kepada Allah (Refleksi Sumpah Pemuda)

Pemuda Yang Tumbuh Dalam Ibadah Kepada Allah (Refleksi Sumpah Pemuda)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan manusia yang Allah akan menaungi mereka dibawah naungan-Nya, di masa tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, laki-laki yang hatinya terpaut di masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah; berjumpa dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang perempuan yang terpandang dan cantik, kemudian ia berkata, “sungguh aku takut kepada Allah”, orang yang bersedekah dengan suatu sedekah kemudian ia menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan orang yang mengingat Allah saat sendirian lalu air matanya mengalir.” (HR Bukhari Muslim).

Kelak pada hari kiamat, Allah akan mengumpulkan seluruh makhluk-Nya, baik yang terdahulu atau yang terakhir, “Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga).” (QS. An-Najm [53]: 31). Hari yang sangat panjang, sangat dahsyat dan sangat berat. Hari yang Allah peringatkan darinya dan perintahkan hamba-hamba-Nya agar bersiap diri menyambutnya.

Allah berfiman, “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” (QS. Al-Hajj [22]: 1-2). Allah juga berfirman, “Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban.” (QS. Al-Muzzammil [73]: 17)

Dari al-Miqdad bin al-Aswad ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Matahari akan didekatkan kepada makhluk-makhluk-Nya hingga berjarak satu mil saja. Dan manusia dalam keringatnya sesuai dengan amal-amal mereka. Ada yang mencapai mata kaki, ada yang mencapai lutut, ada yang mencapai pinggangnya dan ada yang keringatnya sampai ke mulutnya.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat manusia akan berkeringat hingga keringatnya meleber di tanah sejauh tujuh puluh hasta. Keringat itu hingga menutup telinga-telinga mereka.” (HR Bukhari Muslim).

Dari tujuh golongan dalam hadis Nabi diatas, kita akan mengambil beberapa pelajaran dari sabda Nabi, “Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah”

Ia adalah pemuda yang Allah berikan taufik kepadanya dari sejak ia tumbuh rajin beramal shaleh dan Allah berikan kecintaan kepadanya. Allah jadikan hatinya benci terhadap perbuatan-perbuatan buruk dan Allah bantu untuk meninggalkannya. Demikian semua itu ada pada pemuda tersebut baik dengan sebab didikan yang baik, lingkungan yang kondusif atau yang lainnya. Allah telah menjaganya dari kenyataan yang terjadi pada banyak pemuda-pemuda yang lain berupa senda gurau dan permainan, mensia-siakan shalat, tenggelam dalam hafa nafsu dan kelezatan dunia. Allah memuji pertumbuhan yang diberkahi ini dengan firman-Nya, “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi [18]: 13)

Ketika darah muda menjadi pendorong yang kuat kepada hawa nafsu, maka menjadi perkara yang menakjubkan, jika ada seorang pemuda yang membiasakan dirinya dengan ketaatan dan sungguh-sungguh di dalamnya. Oleh karena itulah ia layak menjadi salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah.

Ia adalah manusia yang sadar bahwa masa mudanya akan dipertanggungjawabkan, untuk apa ia habiskan. Ia adalah manusia yang mematuhi wasiat Nabinya Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam ketika beliau berwasiat, “Pergunakanlah perkara yang lima sebelum datang yang lima: masa mudamu, sebelum datang masa tuamu, masa luangmu, sebelum datang masa sibukmu, masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu, masa sehatmu, sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu, sebelum datang masa miskinmu.” (HR Hakim)

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bergeser dua kaki anak Adam pada hari kiamai dari sisi Tuhannya hingga ditanya tentang lima hal: umurnya, pada apa ia habiskan. Masa mudanya, pada apa ia gunakan. Hartanya, dari mana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan. Dan apa yang telah ia amalkan dari ilmunya.” (HR Tirmidzi)

Pemuda adalah tonggak penopang Umat. Ia adalah generasi masa datang. Dari mereka lah bangunan umat ini akan terbentuk. Dari mereka lah akan lahir para ulama, para reformis, pada mujahid dan peran-peran lain dalam bangunan masyarakat. Jika mereka baik, lingkungannya akan mendapat kebaikan di dunia dan akhirat. Allah berfirman, “Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur [52]: 21)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda, “Jika seorang anak Adam mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang saleh yang mendoakan untuknya.” (HR Muslim)

Diantara contoh pemuda yang konsisten dengan ketaatan kepada Tuhannya adalah pemuda para sahabat. Seperti Usamah bin Zaid, yang pernah didaulat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi pemimpin pasukan kaum muslimin yang bergerak ke negeri Syam. Saat itu umurnya belum mencapai tujuh belas tahun. Dan diantara pasukan yang dipimpinnya ada para pembesar sahabat. Hingga Abu Bakar meminta izin kepada Usamah bin Zaid agar Umar diperintahkan untuk tinggal bersamanya di Madinah dan Usamah pun mengizinkannya.

Begitu juga Ali bin Abi Thalib yang pernah tidur di tempat tidur Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam ketika Nabi berhijrah ke Madinah. Ali merelakan dirinya jika sampai terbunuh demi Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.

Lalu Jafar bin Abi Thalib yang pernah menjadi panglima perang pasukan kaum muslimin dalam perang mu`tah yang terkenal, menggantikan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu yang terbunuh dalam perang tersebut. Maka Jafar membawa panji kaum muslimin dan mengambil pedangnya seraya berkata:

يا حَبَّذَا الجَنَّةُ وَاقْتِرَابُهَا طَيِّبَةٌ وَبَارِدٌ شَرَابُهَا
والرُّومُ رُومٌ قَدْ دَنَا عَذَابُهَا عَلَيَّ إِنْ لاقَيْتُهَا ضِرَابُهَا

Wahai surga yang dekat … yang indah dan sejuk minumannya
Dan Romawi adalah Romawi yang telah dekat kehancurannya … atasku, jika aku menemukannya aku akan menghalaunya.

Kemudian pasukan musuh memotong tangan kanannya. Maka ia pegang panji itu dengan tangan kirinya. Lalu musuh memotong tangan kirinya. Maka ia memeluk panji itu dengan dadanya hingga musuh menyerbunya dan membunuhnya.

Abdullah bin Umar berkata, “Kami mencari Jafar bin Abu Thalib diantara orang-orang yang terbunuh. Dan kami menemukannya dengan sembilan puluh lebih luka di jasadnya, baik karena sabetan pedang atau tusukan tombak.” (HR Bukhari)

Allah berfirman, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab [33]: 23)

Diantara pemuda teladan juga adalah Muhammad bin Al-Qasim yang pernah menaklukkan negeri Sind dan Hindi. Umurnya saat itu belum mencapai tujuh belas tahun, sebagaimana yang dihikiyatkan dalam buku-buku sejarah.

Seorang penyair berkata:

عُبَّادُ لَيْلٍ إِذَا جَنَّ الظَّلامُ بِهِمْ كَمْ عَابِدٍ دَمْعُهُ فِي الخَدِّ أَجْرَاهُ
وَأُسْدُ غَابٍ إِذَا نَادَى الجِهَادُ بِهِمْ هَبُّوا إلى المَوْتِ يَسْتَجْدُونَ رُؤْيَاهُ
يَا رَبِّ فَابْعَثْ لَنَا مِنْ مِثْلِهِمْ نَفَرًا يُشَيِّدُونَ لَنَا مَجْدًا أَضَعْنَاهُ

Para ahli ibadah di malam hari ketiga gelap menutupi … betapa banyak ahli ibadah yang air matanya mengalir di pipi.
Dan para singa hutan ketika jihad menyeru mereka … mereka lari berhamburan menuju kematian seraya mengharapnya.
Wahai Rabb, utuslah kepada kami orang-orang seperti mereka … orang-orang yang akan mengangkat kembali kemulian kami setelah kami merendahkannya.

Dan diantara pemuda teladan di zaman sekarang adalah para pemuda yang memadati masjid-masjid, madrasah-madrasah dan universitas-universitas untuk menuntut ilmu syar’i. Mereka berdakwah kepada agama Allah, memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka antusias dengan halaqah-halaqah tahfidz Al-Quran al-Karim.

Sungguh pemandangan ini adalah fenomena yang menyejukkan hati. Dan umat kita akan tetap baik hingga hari kiamat. Sumpah pemuda, sumpahmu kepada bangsa tapi ingatlah sumpahmu kepada Allah SWT untuk tetap menghamba padaNya. Wallahu'alam.


Artikel kiriman Adiyanto
Adv 1
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger