Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
MRO Updates :
Home » » Ujian Allah Kepada Hamba-hambaNya

Ujian Allah Kepada Hamba-hambaNya

"Wa idzib talaa ibraahiima rabbuhuu bi kalimaatin fa atammahunna qaala innii jaa'iluka lin naasi imaaman qaala wa min dzurriyyatii qaala laa yanaalu 'ahdizh zhaalimiin" (Dan (Ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman, Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia". Ibrahim berkata (berdoa), "Dan dari keturunanku (juga)!". Allah berfirman: "JanjiKu (ini) tidak diperoleh orang-orang yang zalim" (QS. Al Baqarah, 2:124).

Betapa sangat luar biasa makna yang terkandung dalam ayat 124 surah Al Baqarah ini. Di awal ayat Allah Subhana Wa Ta'ala menyatakan: "Ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya". Pada ayat ini dinyatakan, "Ibtalaa" dalam arti "bala". Apa yang sering kita sebut dengan ujian, cobaan atau musibah semuanya adalah "bala" yang biasanya menurut ukuran hawa nafsu manusia adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.

Dalam kehidupan masyarakat, biasanya pemahaman yang dimaksud musibah itu selalu identik dengan yang tidak disukai oleh hawa nafsu, misalnya, orang yang jatuh miskin dikatakan sedang kena musibah, orang tidak punya keturunan dikatakan pula sedang terkena musibah, nyaris kita tidak pernah mendengar ada orang kaya dikatakan sedang terkena musibah, atau ketika seseorang memperoleh jabatan tidak ada yang lalu mengucapkan ikut berduka cita, biasanya malah yang kita saksikan orang datang untuk mengucapkan selamat, padahal, mungkin jabatan itulah yang akan mengantarkan yang bersangkutan ke neraka jahannam.

Pemahaman yang keliru semacam ini sudah harus kita luruskan, karena "bala" tidak selalu terkait dengan sesuatu yang tidak kita senangi. Bahkan sebenarnya jika kita kaji lebih mendalam, ujian kekayaan itu jauh lebih berat dibanding ujian kemiskinan. Jika seseorang jatuh miskin atau sakit maka ujian yang dihadapinya hanya tinggal bersabar. Justru yang lebih berat adalah ujian seseorang yang dilimpahkan kekayaan atau kesehatan jasmani,karena dengan kekayaan atau kesehatannya ia bisa berbuat apa saja termasuk berbuat maksiat.

Bagi kita sebenarnya, apa pun yang Allah anugerahkan, baik kemiskinan, kekayaan, sakit maupun sehat itu semua adalah ujian. Lulus atau tidaknya kita dalam menghadapi ujian kehidupan di dunia ini akan kita ketahui pada saat sakaratul maut nanti. Bukan hanya kita manusia biasa, para nabi pun diberikan "bala", bahkan dalam hadits Rasul menyatakan, ujian para nabi jauh lebih berat dibanding manusia biasa, karena Allah akan menguji seseorang sesuai dengan kadar keimanannya, makin sholeh seseorang makin berat ujiannya.

Pada lanjutan ayat dinyatakan bahwa Nabi Ibrahim diuji oleh "Rabb"nya (Tuhannya), Allah Subhana Wa Ta'ala menyebut Dzat-Nya dengan "Rabb", tidak dengan Allah atau Asmaaul Husna lainnya untuk memberikan tekanan pada makna Tauhid, Allah sebagai pencipta, pemelihara dan pendidik. Di mana dengan "bala" tersebut dalam ayat, Allah sedang mendidik hamba-Nya, Ibrahim. Salah satu prinsip yang harus kita pegang teguh adalah bahwa selama kita hidup di jalan Allah, "bala" apa pun yang menimpa diri kita adalah bentuk kasih-sayang Allah sebagai pelindung, pemelihara dan pendidik. Sebaliknya, orang yang tidak hidup di jalan-Nya, maka "bala" tersebut pasti bagian dari azab-Nya yang menjadikan mereka orang-orang yang merugi di dunia dan akhirat.

Di dalam ayat ini Allah Subhana Wa Ta'ala menyatakan, ujian yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim itu adalah "bi kalimaatin" (dengan firman-firman-Nya) dalam bentuk syariat dan hukum Allah yang berawal dari "perintah dan larangan, lakukan atau jangan lakukan". Para ahli tafsir bersilang pendapat perihal apa "kalimah" yang disampaikan kepada Nabi Ibrahim. Ada yang mengatakan kalimat-kalimat itu ada "Sepuluh", dan ada juga para ulama menyatakan mencapai "Empat puluh".

Menurut Abdullah bin Abbas, yang "Sepuluh" tersebut terdapat pada surah At Taubah ayat 112: "Mereka itu ialah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang berpuasa, yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu". Ujian yang dimaksud di sini dalam bentuk syariat yang Allah sampaikan kepada kita melalui Al Qur'an lewat Rasul Shallahu 'Alaihi Wa Sallam kemudian diperjelas dengan hadits, ujiannya adalah akankah kita beriman atau tidak.

Yang "Sepuluh" lagi terdapat dalam surah Al Mu'minuun ayat 1-10: "Sungguh berbahagia orang-orang mukmin, yaitu orang-orang yang khusyu' di dalam shalat mereka, dan orang-orang yang berpaling dari pekerjaan sia-sia, dan orang-orang yang mengeluarkan zakat, dan orang yang menjaga kehormatannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahayanya, maka sesungguhnya mereka tiadalah tercela, tetapi barangsiapa yang menghendaki selain yang demikian itu, maka mereka itulah yang melampaui batas, dan orang-orang yang memelihara amanah dan janji mereka, dan orang-orang yang memelihara shalat mereka".

Sebagian lagi menurut mereka ada pada surah Al Ahzab ayat 35: "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut Allah, Allah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar".

Sebagian ulama kemudian menambahkan yang termasuk ke dalam kalimah yang menjadi ujian bagi Nabi Ibrahim dan ummatnya terdapat dalam surah Al Ma'aarij ayat 22-34: "Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. Dan orang-orang yang di dalam hartanya, ada hak yang ditentukan. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang (miskin) yang tidak mau meminta. Dan orang-orang yang membenarkan hari pembalasan. Dan orang-orang yang takut terhadap Tuhannya. Sesungguhnya azab Tuhannya tidak ada seorang pun yang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isterinya atau hamba-hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka (dalam hal itu) tidak tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janji-janjinya. Dan orang-orang yang melaksanakan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya"

Terlepas dari perbedaan para ulama perihal apakah 10 atau 40 ayat atau aturan yang ditetapkan Allah kepada Nabi Ibrahim yang pasti ada "bala" dalam bentuk lain yang secara khusus Allah ujikan kepada Nabi Ibrahim yaitu ketika beliau harus menghadapi kekuatan zalim dari penguasa Raja Namrudz, sehingga beliau harus mengalami ujian dibakar hidup-hidup. Dan yang paling berat "bala" bagi Nabi Ibrahim adalah tatkala Allah perintahkan beliau menyembelih putranya, Ismail. Apa pun bentuknya "bala" yang menimpa seseorang yang hidup di jalan Allah hal itu pasti karunia-Nya. Allah Subhana Wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah", kemudian mereka beristiqomah (berketetapan hati) maka malaikat-malaikat turun kepada mereka (lalu berkata), "Janganlah kamu takut dan janganlah kamu berduka cita, dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan (Allah) kepadamu. Kamilah pelindung-pelindung kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat, dan di dalamnya kamu memperoleh apa yang diinginkan dirimu dan kamu memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan dari yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Fushshilat, 41:30-32).

Nabi Ibrahim menjalankan syariat Allah semata-mata karena cintanya kepada Allah (QS. An Najm, 53: 37). Hasil ujian yang sangat berat yang dapat dilalui dengan senantiasa hidup di jalan-Nya, maka pantaslah Nabi Ibrahim mendapat kedudukan yang mulia dan luar biasa pula, dinyatakan dalam lanjutan ayat: "Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pempimpin bagi manusia". Lalu Nabi Ibrahim pun memohon: "Dan dari keturunanku (juga)!"

Pada penghujung ayat dinyatakan : Allah berfirman, "Janjiku (ini) tidak diperoleh orang-orang yang zalim". Yang mengisyaratkan bahwa tidak ada jaminan untuk mendapatkan pertolongan Allah kendati seseorang keturunan nabi sekalipun, di mana arti setiap pelanggaran atau penyimpangan terhadap aturan Allah, siapa pun pelakunya tidak akan mendapat pertolongan Allah Subhana Wa Ta'ala . Wallahu a'lam bish-shawab.



KH. Athian Ali, MA
Share this article :

Poskan Komentar

 
Managed by Remaja Musholla RAPI | Supported by Twitter @mushollarapi | Powered by Blogger