Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Imam Abdurrahman bin Ali bin Muhammad ad Daiba'i, Ahli Hadis yang Sejarawan

Imam Abdurrahman bin Ali bin Muhammad ad Daiba'i, Ahli Hadis yang Sejarawan

Ulama banyak mengurai dan mengupas tentang sejarah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. mulai kelahiran, keadaan sebelum dan setelah hijrah, hingga perjuangan-perjuangan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Berbagai metode mereka lakukan, mulai yang paling ringkas hingga yang panjang lebar. Umumnya penulisan sejarah Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam yang berbentuk ringkas diperuntukkan bagi mereka yang hendak mengetahui sejarah ringkas Sang Kekasih. Namun kitab yang sedemikian bisa dibaca oleh mereka yang hendak melakukan perayaan Maulid. Karena selain bentuk penulisannya yang ringkas dan padat, gaya penulisannya pun tidak melulu sejarah, tapi juga diselingi syair-syair pujian untuk Sang Baginda Rasul Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Diantara kitab Maulid yang terkenal di seantero dunia dan telah banyak digunakan dalam perayaan Maulid Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam maupun dalam berbagai hajatan adalah kitab Ad-Dibâ’i (Maulid Diba'). Kitab ini telah menempati hati kaum muslimin-terutama di belahan nusantara-di seluruh dunia. Hal ini karena alur penulisan beliau yang tidak hanya melulu sejarah, isi kitabnya sangat kentara dengan berbagai pujian yang menunjukkan betapa besar rasa mahabbah penulis pada Sang Pujaan hati Shallallâhu ‘alaihi wasallam. 

Namun ironisnya kitab beliau, lebih dahulu terkenal daripada jati dirinya. Tidak banyak yang mengenal tentang jati diri beliau. Oleh karenanya marilah kita simak sepintas kisah teladannya:

Nama beliau adalah Wajîhuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar Ad-Diba‘i Az-Zabidi As-Syaibâniy as-Syafi’i. Kata “dîbâ’ “ merupakan julukan (laqab) kakeknya yang bernama Ali bin Yusuf ad-Dibâ’, dalam Bahasa Sudan berarti putih.

Beliau dilahirkan di kota Zabid (salah satu kota di Yaman Utara) saat sore menjelang hari Kamis 4 Muharam 866 H. Beliau diasuh oleh kakek dari ibunya yang bernama Syekh Syarafuddin bin Muhammad Mubariz yang juga seorang ulama besar yang tersohor di kota Zabîd saat itu, hal itu dikarenakan sewaktu beliau lahir, ayahnya sedang bepergian, namun setelah beberapa tahun kemudian baru terdengar kabar, bahwa ayahnya meninggal di daratan India. Selain berguru kepada kakeknya beliau juga berguru pada para ulama Zabid pada saat itu diantaranya ialah Imam al-Hâfizh as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafizh Thahir bin Husain al-Ahdal dan masih banyak lainnya. Akhirnya, lewat bimbingan sang kakek dan para ulama kota Zabidtersebut, ad-Diba’i tumbuh dewasa dengan penguasaan berbagai disiplin ilmu seperti ilmu Fikih, Qirâat, Gramatika Arab, Hisab, Farâidl, dan disiplin-disiplin ilmu yang lain.

Pada tahun 885 H. beliau berangkat ke Mekah untuk menunaikan Ibadah Haji. Sepulang dari Mekah, Beliau belajar ilmu Hadis dengan membaca Shahîh Bukhâri, Shahîh Muslim, Sunanut-Tirmidzi, dan Al-Muwattha‘ dibawah bimbingan syekh Zainuddîn Ahmad bin Ahmad As-Syarjiy. Ditengah-tengah sibuknya belajar Hadis, ad-Dîba’ menyempatkan diri untuk mengarang kitab Ghâyatul Mathlûb yang berisi tentang kiat-kiat umat muslim agar mendapat ampunan dari Allah Subhânahu wata‘âlâ.

Akhirnya berkat kegigihan dan keuletan beliau dalam belajar serta berkah dari para masyâyikhnya, beliau muncul sebagai seorang ulama Hadis yang terkenal dan memperoleh gelar al-Hâfizh (seorang yang menghafal 100.000 Hadis beserta sanadnya). Hari-hari beliau disibukkan dengan mengajar kitab Shahîh Bukhâri hingga beliau mengkhatamkannya lebih dari 100 kali.

Ad-Diba’i termasuk ulama yang produktif dalam hal tulis menulis. Terbukti, beliau memilki berbagai karangan baik di bidang Hadis, Tasawuf maupun Sejarah. Diantara karya-karyanya adalah kitab Maulid yang bernama Ad-Dîba’i. Di dalamnya berisi syair-syair sanjung madah atas Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Selain itu adalah Taysîrul Wushûl ilâ Jâmi‘il Ushûl min Hadîtsir-Rasûl, sebuah kitab yang berisi himpunan Hadis yang dinukil dari kutubus-Sittah, Bughyatul Mustafîd fî akhbâri madînatiz-Zabîd, tentang sejarah panjang kota Zabîd, Qurratul ‘Uyûn fi akhbâril Yaman al-Maimûn dan Fadhâilu Ahlil-Yaman, dua kitab yang membahas tentang seputar Yaman.

Beliau mengabdikan dirinya hingga akhir hayatnya sebagai pengajar dan pengarang kitab. Pada akhirnya ad-Diba’i wafat di kota Zabid pada pagi hari Jumat, 26 Rajab 944 H



Penulis berasal dari Ponpes Sidogiri
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger