Adv 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
MRO Updates :
Home » » Filosofi Tradisi Kupatan (Badha Kupat) di Kota Kudus

Filosofi Tradisi Kupatan (Badha Kupat) di Kota Kudus


Kupatan merupakan salah satu tradisi Jawa yang berlangsung satu Minggu setelah hari raya Idul Fitri. Dinamakan kupatan karena sebagian besar masyarakat jawa membuat kupat (ketupat) pada hari raya ke-8.

Tradisi ini sangat terasa jika kita berada di kota Kudus, Jepara, Pati, Demak, Kendal dan daerah-daerah yang lain terutama Pantura. Karena di hari kupatan (hari ke-8 bulan syawal)  masyarakat Kudus, Jepara dan sekitar merayakan kupatan dengan mengunjungi tempat-tempat tertentu, misalnya Bulusan di Kudus, pantai Kartini dan Bandengan di Jepara. Tempat tersebut sampai sekarang masih menjadi tempat favorit untuk menghabiskan hari raya kupatan.

Di Kudus, Daerah Bulusan menurut cerita rakyat merupakan tempat di mana sunan Muria mengeluarkan fatwa (”sabdo / dawuh”) : “jeg kulo wonten mriki sampun wonten”. Kata-kata inilah yang konon menjadi nama daerah Jekulo (Jeg Kulo) yang sekarang menjadi nama sebuah kecamatan dan desa di kabupaten Kudus. Konon dulu Bulus-bulus (kura-kura) itu jelmaan orang-orang yang tidak nurut dawuh sunan Muria, yang setiap lewat daerah situ, sunan Muria memberikan makanan pada bulus-bulus itu. Namun sekarang bulusnya sudah tidak ada.

Selain itu, di Colo, kecamatan Dawe Kudus sejak tahun 2009 adalah tahun ketiga memperingati kupatan dengan merayakan upacara seribu Kupat yang telah tercatat dalam rekor Muri. Di mana kupat yang berjumlah seribu tersebut di arak sekeliling desa Colo menuju makam Sunan Muria, kemudian dibacakan doa oleh ulama dan kemudian dibagikan kepada masyarakat, biasanya masyarakat yang saling berebut ketupat karena dipercaya membawa berkah.

Asal Usul dan Filosofi Kupatan

Tidak diketahui persis kapan mulai tumbuh dan berkembangnya tradisi kupatan dan apa makna filosofi dari perayaan tradisi tersebut. Ada yang berpendapat bahwa kupatan merupakan hari rayanya orang yang berpuasa 6 hari pada satu Minggu setelah lebaran hari pertama (tanggal 2-7 Syawwal). Pendapat lain mengatakan bahwa kupatan adalah berasal dari kata kupat singkatan dari “ngaku lepat”, artinya adalah mengaku salah. Kupatan berarti ngaku kalepatan, mengakui banyak kesalahan. Apapun makna dan filosofinya, kupatan merupakan bagian tradisi yang penuh dengan makna khususnya Jawa. Dan kupatan telah menjadi hari raya ke-2 di bulan Syawwal setelah Idul Fitri. Secara sosiologis, seolah kupatan telah mengajarkan arti pentingnya saling bertemu dan saling mengakui kesalahan serta memaafkan satu dengan yang lainnya.

Ketupat atau tradisi Jawa-nya kupatan bukan hanya sebuah tradisi Lebaran dengan menghidangkan ketupat, sejenis makanan atau beras yang dimasak dan dibungkus daun janur berbentuk prisma maupun segi empat. Sebab, kupatan memiliki makna dan filososi mendalam. Tradisi kupatan berangkat dari upaya-upaya walisongo memasukkan ajaran Islam. Karena zaman dulu orang Jawa selalu menggunakan simbol-simbol tertentu, akhirnya para walisongo memanfaatkan cara tersebut. Sehingga tradisi kupatan menggunakan simbol janur atau daun kelapa muda berwarna kuning. 

Karena janur biasa digunakan masyarakat Jawa dalam suasana suka cita. Umumnya, dipasang saat ada pesta pernikahan atau momen menggembirakan lain. Janur dalam bahasa Arab berasal dari kata ”Ja a Nur” atau telah datang cahaya. Sebuah harapan cahaya menuju rahmat Allah, sehingga terwujud negeri yang makmur dan penuh berkah. Sedangkan isinya, dipilih beras baik-baik yang dimasak jadi satu sehingga membentuk gumpalan beras yang sangat kempel. Ini pun memiliki makna tersendiri, yakni makna kebersamaan dan kemakmuran.

Dari sisi bahasa, kupat berarti mengaku lepat atau mengakui kesalahan. Bertepatan dengan momen Lebaran, kupat mengusung semangat saling memaafkan, semangat taubat pada Allah, dan sesama manusia. Dengan harapan, tidak akan lagi menodai dengan kesalahan di masa depan. Kupat dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari kafi. Yakni, kuffat yang berarti sudah cukup harapan. Sehingga dengan berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadan, kemudian Lebaran 1 syawal, dan dilanjutkan dengan puasa sunnah enam hari syawal, maka orang-orang yang kuffat merasa cukup ibadahnya, sebagaimana hadis nabi, hal demikian bagaikan puasa satu tahun penuh.



H. Ahmad Izzuddin, M.Ag, Dosen Pasca Sarjana S.2 IAIN Walisongo
Share this article :

Poskan Komentar

 
Managed by Remaja Musholla RAPI | Supported by Twitter @mushollarapi | Powered by Blogger