Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , » Indonesia Bangsa Puasa Bag. 2

Indonesia Bangsa Puasa Bag. 2

Untuk menyikapi semua ini, seharusnya aku su'udhan saja pada bangsa ini. Kalau tadi aku menyebut bangsa ini suka terlambat, maka kali ini kita menyebutnya bangsa ini gemar fleksibel laksana air tadi. Karena memang bangsa ini bangsa air. Anda bisa lihat sendiri dalam sejarah, bangsa Indonesia di jajah londo sampai kurun tiga setengah abad, tetapi segi bahasa saja kita tidak terpengaruh sama sekali dengan cas cis cus ala Belanda. Berbeda dengan Malaysia yang bahasa keduanya adalah bahasa mantan penjajahnya. 

Berarti walaupun air kadang bisa kecampuran capucino, tetapi sesungguhnya siapa yang menjajah atau dijajah. Air atau capucino. Air bisa saja dijajah teh, kopi, sirup, atau apapun jenis yang mencampurinya, tetapi tetap saja, ketika air kembali mejadi rintik hujan. Ia tetap bening dan murni tak terjajah apapun. 

Air pura-pura terjajah dengan apapun, tetapi sesungguhnya yang larut bukan air, tetapi yang mencampurinya. Tidak ada istilah air larut dalam gula kan? Yang ada gula larut dalam air. Karena bangsa ini bangsa air, maka boleh saja bangsa ini dicap sebagai apapun yang sifatnya jelek-jelek. Termasuk ‘bangsa terlambat’ itu. Tetapi sesungguhnya bangsa ini tidak larut dalam kejelekan, justru kejelekanlah yang larut dalam bangsa ini. Suatu saat bangsa ini menjadi murni kembali semurni rintik hujan. 

Siaran dari corong stasiun Pekalongan sudah memberi aba-aba, kereta yang sudah satu jam dinanti segera tiba. Penumpang harap siap untuk naik kereta yang mempunyai delapan gerbong ini. Aku selaku penumpang juga ikut mempersiapkan diri. Aku berdiri menyaksikan berbondong penumpang turun di stasiun ini. Ada beberapa diantaranya anak-anak, ibu-ibu, dan nenek-nenek. Aku lihat deretan gerbong sudah sedemikian padat penumpang, beberapa diantaranya berdiri di tengah-tengah antara bangku kereta. Aku mencari-cari nomor bangku 19D, seperti tertera di karcis ku. 

Aku heran saja, ternyata bangku nomorku sudah diisi penumpang, terus aku konvirmasi kepada penumpang yang duduk dibangku 19D, dia menunjukkan nomor yang sama seperti nomor bangku ku. Dalam hati aku jadi agak bingung dan sebenarnya bercampur kesal, tapi mau menyalahkan siapa, dan untuk apa menyalahkan. Yang membuatku semakin kesal: beberapa penumpang menuduhku membeli karcis lewat para calo. Sudah jatuh tertimpa tangga lagi. Tapi aku harus selalu ingat bahwa ana shaimun, aku harus menahan diri. Bangsaku selalu mengajariku untuk berpuasa. 

Ya udah, dari pada tidak ada jalan lain menuju solusi, aku mencari sela-sela ruang yang bisa ditempati untuk duduk atau sekedar bersandar. Tapi dalam hati tetap saja tidak puas dan merasa penasaran. Aku berniat akan menanyakan perihal overlap ini kepada petugas kereta yang memakai pakaian biru-biru bertopi itu. Tapi ketika ku tannya, petugas selalu mengelak dan katanya “itu urusan petugas stasiun yang memberikan kesalahan nomor” katanya dengan nada agak tinggi. Untuk kesekian kalinya aku harus menahan diri dari nafsu amarah. 

Suhu di dalam gerbong kereta semakin panas. Jerit bayi berumur belum genap satu tahun memekakkan telinga. Ibunya duduk di lantai depan bangku sambil mengipas-kipaskan koran yang dibelinya dari pedagang keliling dengan harga seribu perak. Wajahnya ibu muda itu begitu sayu, kelelahan tampak dari matanya yang terpaksa dibelalakkan terus menerus. Bagaimanapun anak yang ada di depannya adalah buah hati yang dicintainya. Jiwa seorang ibu, yang tak akan tega buah hatinya menjerit tersakiti. 

“Cup…cup…cup….sayang…jangan nangis dong sayang…. Ibu disini…” nada kalimatnya begitu melindungi, tetapi manusia disekitarnya tak punyai empati. Mereka masih saja menebarkan tawa yang mengusik tidur sang belia. Aku tak tega mendengar jerit tangis bayi seiring jerit bel kereta yang memekik. Namun jerit itu tak ditangkap nuraninya oleh orang-orang sekelilingnya, terutama kaum Adam. Mereka masih saja menyalakan rokok dengan tanpa dosa. Bahkan tidak hanya satu dua orang yang mengumbar polutan beracun itu, hampir manusia yang berjenis kelamin laki-laki menenteng batang berapi. 

Mungkin saja Ibu muda menahan diri (berpuasa) untuk tidak menjerit; mengumpat mereka; meminta orang-orang disekitarnya agar mengerti sedikit jeritan bayi tentang udara yang tak sedap dihirup; suara yang mengganggu tidur buah hatinya. Ibu muda itu hanya mampu berpuasa untuk tidak nyepatani, atau mendoakan orang-orang bebal itu agar mereka ditimpa sesuatu, padahal posisi ibu itu sebagai madzlum yang dijamin kemustajaban doanya. Mungkin dalam kearifan hati ibu itu berujar “memaafkan adalah lebih baik bagimu…” 

Kereta mulai beringsut meninggalkan Pekalongan, terus berjalan seiring para penjaja yang menawarkan minuman, makanan, koran, bantal, bahkan tak sungkan menawarkan bir. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, bir-bir itu ditenteng, dijajakan dimuka umum. Bahkan beberapa anak muda yang duduk bergerombol tak jauh dari persemayamanku terlihat menenggak tuak. Tawa mereka tak berkesudahan, tawa mereka bukan seperti tawa Mbah Surip yang bikin orang tersenyum; tawa mereka membuat orang-orang muak. 

Beberapa lampu gerbong mati. Tentu membuat gerak manusia semakin tak leluasa, kecuali gerakan copet. Keadaan juga semakin pengap tanpa cahaya. Tapi yang menjadi saya bangga, diantara mereka tak menampakkan keluh kesahnya tentang keadaan yang sama sekali tak nyaman itu, entah sebenarnya hati mereka. Aku terpaksa tidur di jalanan. Di dekat para petugas kereta bercengkrama. Aku tidur hanya beralas dua lembar koran. Jelas tidurku tak nyenyak. Karena jalanan itu selalu di penuhi hilir mudik pedagang yang suaranya selalu menawarkan daganganya. 

Orang-orang itu adalah manusia-manusia tangguh yang sepertinya mempunyai berlipat cadangan tenaga. Aku tak bisa menghitung sudah berapa kali pedagang ibu-ibu dengan berkilo dagangannya hilir mudik layaknya menjalankan ritual ibadah sai. Bahkan lebih payah dari sai yang bagian ritual haji itu. Aku sendiri tak bisa membayangkan susahnya melewati deretan manusia yang dengan gaya masing-masing menjadi penghalang ritualnya untuk menjajakan dagangannya. Sungguh luar biasa perjuangan manusia Indonesia dalam mengais rizki. 

Mereka semua berpuasa untuk tidak mengeluh…karena senyum selalu menghiasi wajah-wajah mereka…alhamdulillah aku hidup diantara bangsa yang berpuasa itu.

Selamat mudik Sobat MRO. Hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan, bertemu dengan keluarga di hari nan indah dan menyenangkan.



Ahmad Saifullah Ahsa
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger