Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Home » » Waktu Tak Akan Terulang

Waktu Tak Akan Terulang

“Rezeki yang tidak diperoleh hari ini, masih diharapkan perolehanya lebih banyak esok hari, tetapi waktu yang berlalu hari ini tidak mungkin kembali esok.” Ali Bin Abi Thalib.

Waktu tidak akan pernah terulang kembali, dia memang tidak kenal kompromi, tidak akan perduli bahkan sangat apatis, tidak mau tahu dengan segala bentuk polah tingkah manusia di bumi. Dia akan terus berjalan dan tetap akan mengalami keberlangsungan yang akan menggerogoti kontrak kehidupan seluruh mahkluk di muka bumi, sekalipun seluruh mahkluk dibumi dan langit berdemo menuntut siklus waktu direplay walau hanya sedetik pun, dia akan tetap berjalan dan berputar, hingga bumi berguncang, langit diporak porandakan, gunung-gunung diterbangkan, hamparan samudra dimuntahkan atas kehendak-Nya.

Kehadiran waktu diciptakan bukan tanpa tujuan, ketika para sahabat Nabi menanyakan perubahan bulan dari sabit ke purnama, kemudian ke sabit lagi dan menghilang. Mereka bertanya kepada Nabi mengapa demikian, maka al-Quran menjawab, “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas,” QS. al- Israa': 17. Jawaban al-Quran ini mengisyaratkan bahwa, peredaran dan pergantian waktu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh manusia. Sebab keberadaan manusia di pentas bumi, tidak ubahnya seperti bulan yang semula tidak ada dan akan kembali tidak ada.

Waktu tak pernah terulang kembali, dia tidak bisa diputar kembali, oleh karenanya pemanfaatan dan pengisian waktu adalah sesuatu yang mutlak. Malik Bin Nabi seorang pemikir Islam dari Aljazair mengumpamakan waktu seperti sungai yang mengalir keseluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota dan desa. Membangkitkan semangat manusia atau bahkan meninabobokanya. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya.

Al-Quran menggunakan beberapa kata untuk menggunakan dan menjelaskan suatu masa tertentu yang lazim disebut “waktu”, penyebutannya ada yang bersifat umum dan ada yang dibatasi. Diantaranya adalah “ad-dahr”, Istilah ini digunakan untuk masa atau saat yang panjang dan relatif lama yang dilalui oleh alam raya dalam kehidupan dunia ini, yakni sejak diciptakannya sampai hancur leburnya alam ini. Kata ini kemudian digunakan untuk masa yang panjang, lantas dipinjam untuk menyebut tradisi yang langgeng sepanjang hayat.

Hal ini berbeda dengan “zaman”, kata ini tidak hanya menunjukan masa yang panjang, tapi juga untuk masa-masa yang pendek.

Kata lainya adalah ”ajal”, yaitu masa tertentu yang ditetapkan bagi sesuatu. Kata ini digunakan untuk menunjukkan waktu berakhirnya sesuatu, seperti berakhirnya waktu kontrak umur manusia dan sebuah peradaban masyarakat.

Kemudian “waqt”, kata ini digunakan dalam arti batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan kegiatan. Karena itu, Al-Quran sering kali menggunakannya dalam konteks kadar tertentu dari suatu masa, an-Nisa: 103. Dari sini kemudian lazim disebut pagi, siang, sore dan malam.

Yang ketiga adalah ”Al-asr”, kata ini biasa digunakan untuk waktu menjelang terbenamnya matahari.

Dari uraian singkat diatas, meski dalam Indonesianya hanya dikenal “waktu”, namun istilah diatas memberi kesan yang berbeda. Kata”ad-dahr” memberi kesan bahwa, segala sesuatu pernah tiada dan keberadaanya menjadikan ia terikat oleh waktu.

Kata “ajal”, memberi kesan bahwa segala sesuatu ada batas waktu berakhirnya sehingga sebenarnya tidak ada yang abadi didunia ini kecuali Allah sendiri, sedangkan “waqt”, memberi kesan tentang keharusan adanya pembagian teknis mengenai masa yang dialami seperti detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun, oleh karena itu dalam budaya tertentu ada istilah ulang tahun dan tahu baru.



Penulis Adalah Santri Ponpes Lirboyo
Adv 1
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger