Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , » Balas Budi

Balas Budi

Dalam hidup ini, kita merasakan banyak orang yang berbuat baik kepada kita, baik lahir maupun batin. Karena itu, bagus apabila kita mau membalas budi baik orang lain sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Begitulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw kepada siapa saja, apalagi kepada keluarga dekatnya.

Fatimah binti Asad adalah isteri dari Abu Thalib, ibu dari Ali bin Abi Thalib dan Ja’far bin Abi Thalib. Ketika Muhammad saw kecil ditinggal mati oleh kakeknya, maka pengasuhan dilakukan oleh Abu Thalib dan Fatimah binti Asad berperan besar dalam mengurus dan mendidik Nabi Muhammad saw semasa kecil hingga dewasa dengan sebaik-baiknya.

Abu Thalib sebenarnya hidup serba kekurangan. Namun setelah Nabi Muhammad saw tinggal bersamanya, keberkahan itu terasa sekali sehingga meskipun makanan dan minuman sedikit, tapi bisa mencukupi seluruh anggota keluarga, bahkan semua merasa kenyang, Ini semua hampir tidak bisa dipercaya oleh Fatimah, tapi kenyataannya memang demikian. Perhatian dan kasih sayang dicurahkan oleh Fatimah dalam mengasuh Nabi Muhammad saw, apalagi setelah mendengar banyak orang membicarakan tentang kebaikan dan kemuliaan Muhammad kecil. Karena itu, wajar saja kalau Nabi merasa berutang budi kepada Fatimah dan keluarganya.

Rasulullah saw memang mengajarkan kepada kita agar siapapun yang berbuat baik kepada kita sedapat mungkin kita balas kebaikannya itu, apalagi kalau bisa membalas dengan kebaikan yang lebih baik lagi. 

Suatu ketika kota Makkah mengalami kondisi sulit, terjadi krisis ekonomi yang membuat orang yang banyak harta sedikit mengalami kesulitan, apalagi kesulitan yang dihadapi orang-orang sulit yang tentunya jauh lebih sulit. Hal ini menjadi pikiran Muhammad muda terhadap kondisi keluarga Abu Thalib. Karenanya beliau mencoba mencari jalan keluar atas masalah yang dihadapinya. 

Sebagai pemuda yang memiliki tanggungjawab, beliau mencoba berbicara kepada salah seorang pamannya, yakni Abbas yang hidup berkecukupan. “Wahai paman, paman Abu Thalib memiliki tanggungan keluarga yang cukup banyak, bagaimana kalau kita meringankan bebannya. Aku menanggung satu anaknya dan paman Abbas menanggung satu anaknya?”. 

Mendengar tawaran yang baik itu, Abbas menyambutnya dengan senang hati dan menyetujuinya. Ketika hal itu disampaikan kepada Abu Thalib, beliau juga merasa senang. Maka Ali bin Abi Thalib menjadi tanggungan Nabi Muhammad saw, sedangkan Ja’far menjadi tanggungan Abbas. Dalam perkembangannya, ketika Nabi Muhammad saw menjadi Rasul, Ali termasuk orang yang pertama beriman kepadanya.

Perkembangan kaum muslimin yang semakin banyak membuat orang-orang kafir Quraisy menjadi kesal. Mereka memusuhi kaum muslimin, bahkan sampai memboikotnya sehingga kesulitan demi kesulitan semakin dirasakan. Dalam kondisi sulit seperti itu, sebagian sahabat akhirnya berhijrah yang pertama ke Hasbasyah yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalin. Fatimah merasakan kesedihan yang dalam karena harus berpisah dengan anak yang dicintainya. Permusuhan orang kafir semakin memuncak sehingga kaum muslimin harus berhijrah lagi ke Madinah dan Fatimah merupakan salah seorang yang ikut serta.

Bagi Nabi, Fatimah binti Asad sudah dianggap seperti ibunya sendiri, karenanya beliau sering mengunjungi dan memberinya hadiah, karenanya para sahabat amat menghormatinya. 

Penghargaan dan penghormatan Rasulullah saw kepada Fatimah ditunjukkan hingga kematiannya. Beliau mendo’akan, ikut memandikan, ikut pula mengkafani, menshalat sampai menguburkannya, beliau masuk ke liang lahat untuk menguburkan jasad Fatimah dengan tangannya sendiri, suatu penghormatan yang amat besar.

Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:
1. Setiap orang seharusnya bisa berbuat baik kepada siapa saja, apalagi kepada kerabatnya.
2. Kebaikan orang lain sedapat mungkin kita balas dengan kebaikan juga, apalagi bila dibalas dengan kebaikan yang lebih baik lagi, ini merupakan salah satu tanda syukur kita kepada Allah SWT.



Drs. H. Ahmad Yani
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger