Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Ulama Yang Tolol Dan Si Tolol Yang Alim

Ulama Yang Tolol Dan Si Tolol Yang Alim

Anda berguru atau mencari sahabat orang bodoh yang tidak menuruti hawa nafsunya, lebih baik daripada berguru pada orang ‘alim yang merelakan dirinya untuk mengikuti hawa nafsunya. Lalu ilmu macam apa yang ada pada Ulama (cendekiawan) yang menuruti hawa nafsunya? Dan disebut kebodohan yang mana, jika orang itu tidak menuruti hawa nafsunya?

Inilah etika kita berguru atau bersahabat dengan seseorang, mestinya harus selektif agar berpengaruh positip dalam keseharian kita. Banyak orang pandai, alim, intelektual, tetapi sepanjang kepentingan-kepentingan dirinya lebih menonjol, sama sekali tidak patut untuk kita ikuti. Tidak peduli apakah dia ustadz, Kyai, cendekiawan muslim, ataukah seorang syeikh, manakala ia masih menuruti kepentingan nafsunya, sangat tidak layak untuk diikuti jejaknya.

Kepentingan nafsu itu seringkali justru dijadikan umpan syetan untuk berselingkuh dengan ilmu pengetahuan, kebenaran, agama, dan hal-hal yang suci. Artinya, mereka yang berselimutkan kesucian, keulamaan, kecendekiawanan, jika masih menuruti hawa nafsunya, seperti popularitas, riya’, takjub diri, ingin dipuji, takabur, egois, berarti ia tetap saja seorang yang bodoh.

Sebaliknya sama sekali tidak bisa disebut orang bodoh, jika seseorang mampu mengekang hawa nafsunya, kepentingan dirinya, egoismenya, iri dengkinya, walau pun ia tampak seperti orang bodoh, hakikatnya ia adalah orang yang pandai. Karena betapapun hebat ilmu seseorang, sepanjang ia masih senang dengan hawa nafsunya, ia tidak akan pernah menyelamatkan kita dunia hingga akhirat.

Hamba Allah yang mampu mengekang nafsunya, walau pun ia bodoh, pasti memiliki tiga karakter:

1. Sadar dirinya.
2. Tawadlu’ (rendah hati) pada sesama.
3. Mencari kebenaran dengan jujur.

Menurut Ammar, ra, jika tiga perkara berkumpul pada diri seseorang, maka ia telah benar-benar mengakumulasi keimanannya: Sadar diri, menyiramkan kedamaian bagi semesta, dan menginfakkan hartanya walaupun ia miskin.

Siapa yang bersahabat dengan manusia model ini, ia akan mendapatkan tiga hal pula: Meraih kebajikan-kebajikan tersebut sebagai anugerah, karena seseorang itu sangat erat kaitannya dengan keyakinan agama sahabat dekatnya. Ia juga meraih rasa ringan dalam hatinya, dan mendapatkan keselamatan dunia dan agamanya.

Sementara orang yang rela dengan hawa nafsunya, akan melahirkan tiga sifat negatif. Kesombongan, tidak sadar dirinya dan aktif dengan rasa kebanggaannya. Bersahabat atau berguru padanya bisa melahirkan tiga hal pula: Menjadi budaknya, memayahkan diri dan terputus (tidak sampai tujuannya) putus akhirnya. Karena ia mengklaim kebenaran dirinya, yang sesungguhnya tidak layak. Karena itu ia tidak akan sampai meraih Ridho Allah, tidak mendapatkan ampunan Allah, bahkan tidak mau kembali dalam segala hal kepada Allah. Karena ia ia tidak layak untuk dikasihi.

Kalau kebetulan ia seorang yang ‘alim atau intelektual muslim, maka ilmu pengetahuannya justru akan memperburuk kepribadiannya,. Sebaliknya kalau ia bodoh, maka kebodohannya menjadi bencana baginya dan bagi sahabatnya. Kalau dia pemimpin, sama sekali kepemimpinannya tidak bermanfaat bagi dunia, agama dan akhirat. Karenanya, Sahl bin Abdullah menegaskan, “Jauhi tiga kelompok manusia: Para pembaca Al-Qur’an yang penuh dengan gaya pamer; orang-orang Sufi yang bodoh dan orang-orang diktator yang alpa dengan dirinya sendiri.”

Padahal seorang sahabat itu diharapkan memberikan tiga hal: Nasehat, Kasih sayang dan pertolongan.

Hakikat kebodohan itu sendiri beredar pada tiga hal, yaitu :

1)    Lari dari kebenaran
2)     Mengikuti kebatilan
3)     Memutuskan aturan dengan cara yang salah.

Inilah yang akan menimpa orang yang rela menuruti hawanafsunya. Sebaliknya, hakikat pengetahuan (ilmu) juga beredar pada tiga hal:

1)    Beramal dengan benar
2)     Menjauhi kebatilan
3)     Memberikan porsi dengan kelayakannya.

Ketiga hal terakhir ini tentu tidak akan dijumpai kecuali pada mereka yang tidak rela pada nafsunya.



Kajian Al Hikam bersama Abah Furqon
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger