Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Idul Adha, Mengubah Mental Kapitalis Menuju Jiwa Sosial (2)

Idul Adha, Mengubah Mental Kapitalis Menuju Jiwa Sosial (2)

Indikator apa yang bisa dilihat dari keberhasilan pembelajaran Idul Adha dalam upaya peningkatan strata ekonomi kemasyarakatan?

Kalaupun dilakukan penilaian secara jujur pada peningkatan strata ekonomi itu tidak logis. Akan tetapi kalau itu mendorong semangat berkurban dan kaum muslimin punya kesungguhan, maka tentu ada nilai keberhasilan yang bisa dilihat. Yang menjadi permasalahan adalah kalau masyarakat yang miskin itu kemudian menjadi mustad’afiin, itu memang perlu dibantu. Tapi permasalahan akan menjadi rumit kalau miskin karena malas…, sementara Islam tidak menghendaki kemalasan. Kalau kemalasan itu hilang kemudian berubah menjadi keterpercayaan (siddiq), amanah (dapat dipercaya), kejujuran dan semangat tinggi dalam diri umat Islam, maka ini yang menjadi nilai plus menuju kebangkitan ekonomi Islam.

Sementara pelaku ekonomi syariah itu sendiri masih belum murni, malah pelaku ekonomi syariah adalah orang non muslim. Mungkin kita bisa melihat kemapanan ekonomi masyarakat madinah di zaman Rasul. Analisa bapak tentang cara Rasul mengangkat strata ekonomi mereka?

Pelaku ekonomi yang non muslim, ini jika informasi itu benar, karena belum ada data tentang nilai-nilai yang menginformasikan. Berapa jumlah bankir seluruhnya dan berapa jumlah non muslim. Kalau kemudian yang jumlah non muslim menduduki jumlah yang lebih, itu masuk akal. Karena peningkatan religius nasabah terhadap Islam, mereka mengetahui keharaman bunga bank, maka kemudian mereka berbondong-bondong berpindah menuju ekonomi syariah. Sehingga momentum perpindahan menuju ekonomi syariah dilihat langsung oleh pelaku ekonomi kapitalis dan dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi kapitalis dunia. 

Di zaman rasulullah, dunia masih sangat sederhana dan tidak ada kompetisi materialisme belum ada, akan tetapi tampak bahwa penekanannya adalah pengorbanan para sahabat. Kita lihat sahabat Abu Bakar yang hartanya hampir habis untuk perjuangan, begitu juga sahabat Umar dan sahabat Ali. Apalagi Nabi sendiri apakah nabi seorang yang kaya? Kesempatan untuk kaya ada, akan tetapi nabi tidak mau kaya. 

Zaman sekarang ini terbalik, reputasi seseorang belum sampai puncaknya, yang dikejar-kejar adalah kekayaan. Sehingga dahulu filosofinya li I’laai kalimatillah dan sekarang itu sulit diwujudkan karena kompetisi materialisme sudah keblabasan.

Mungkin ada filosofi tersendiri tentang cara pembelajaran Rasul kepada sahabatnya?

Dari pribadi nabi sendiri, nabi bukanlah ekonom atau orang yang punya gairah untuk kaya. Rasul kadang kala masih mau menjahit pakaian sendiri itu buktinya. Akan tetapi prinsip kejujuran, amanah lebih mendominasi pada kepribadian beliau. Beliau diajak berdagang, akan tetapi prinsipnya adalah keterpercayaan yang dibangun dari kejujuran. 

Sekarang manajemen paling modern sendiri pun semisal Ary Ginanjar Agustian dengan ESQ (Emosional Spiritual Quation) mendasarkan pada keterpercayaan. Karena keterpercayaan konsumen itu berangkat dari kejujuran. Itulah nilai yang bisa diambil pada kepribadian rasul sebelum diangkat menjadi rasul, yaitu siddiq, amanah, Tabligh, fathonah.

Seperti apa konsep kemakmuran yang anda cita-citakan, atau mungkin telah anda tekuni dalam sebuah instansi?

Terus terang saja, kemakmuran itu adalah alat untuk ibadah, jadi bukan kemakmuran yang tanpa batas. Sebab kemakmuran yang tanpa batas itu larinya adalah hedonisme (menikmati dunia tanpa batas), akibatnya akan terjerumus pada perbuatan fakhis dan mungkar. Kalau kemakmuran menurut saya adalah sebatas kemakmuran yang bisa digunakan untuk sarana ibadah, kemudian memperjuangkan Islam dan menolong golongan yang lemah. 

Umat Islam sekarang harus bangkit, merubah kondisi sosialnya menjadi lebih baik, semangat dalam bekerja, akan tetapi bukan untuk takatsur (kekayaan tanpa batas). Kalau kita lihat orang-orang yang kaya di timur tengah pemalas, yang miskin malah menyetorkan diri untuk bom bunuh diri. Inilah kemudian yang diwaspadai oleh Nabi, bahwa jumlah orang Islam banyak, akan tetapi seperti buih di lautan. Wabah yang menggejala adalah hubbun dunya wa karohiyatil maut (cinta dunia takut mati).



Oleh Prof. DR. Imam Bawani MA
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger