Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Beri Makan Saudaramu

Beri Makan Saudaramu

Dalam Islam, ajaran memberi makan merupakan puncak dari kesempurnaan agama seseorang. Dalam sebuah hadis Nabi saw, disebutkan: 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
Diceritakan dari Abdullah bin 'Amru bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah saw. "Islam manakah yang paling baik?" Nabi saw. menjawab: "Kamu memberi makan dan memberi salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal". (HR. Bukhari).

Dalam al-Qur’an, Allah juga memuji orang-orang yang suka memberi makan orang lain. Mereka diberi julukan sebagai al-abrar, yakni orang-orang yang berbakti. Dalam QS. Al-Insan/78:8

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.

Beberapa keterangan dalam ayat-ayat al-Qur’an menguatkan betapa agama Islam sangat menganjurkan memberi makan orang miskin. Bahkan dalam QS. Al-Ma’un/107:3, disebutkan bahwa orang yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin termasuk katagori pendusta agama. Sedangkan dalam beberapa jenis sanksi bagi mereka yang melanggar atau tidak dapat melaksanakan beberapa kewajiban agama, memberi makan termasuk salah satu jenis sanksinya. Pembayaran fidyah misalnya bagi mereka yang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan, adalah ajaran untuk memberi makan. 

Traktir juga Yang Miskin

Salah satu kebiasaan baik yang telah berlangsung dalam masyarakat adalah mentraktir makan teman atau kolega baik pada momen tertentu atau spontanitas. Dalam perayaan-perayaan tertentu seperti hari raya atau syukuran pernikahan, aqiqah, atau sunatan, biasanya juga disajikan aneka makanan untuk disantap bersama. Sayangnya pesta-pesta semacam ini boleh jadi melalaikan atau melupakan golongan miskin dan fakir yang seharusnya menjadi prioritas. 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ بِئْسَ الطَّعَامُ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى إِلَيْهِ الْأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْمَسَاكِينُ
Dari Abu Hurairah bahwa dia berkata; Seburuk-buruk jamuan adalah jamuan pesta pernikahan, apabila yang diundang ke pesta tersebut hanya orang-orang kaya saja dengan mengabaikan orang-orang miskin. (HR. Muslim).

Umroh vs Gizi Buruk

Dengan melihat kondisi masyarakat yang saat ini masih banyak mengalami kesulitan dalam hal konsumsi maka menghidupkan dan mengkampanyekan gerakan memberi makan orang miskin layak didahulukan daripada memperbanyak umrah dan haji. Bukankah menjadi sebuah ironi manakala kuota haji dan umrah terpenuhi maksimal sementara ada masyarakat sekitar yang mengkonsumsi nasi aking. Belum lagi terdata berapa banyak anak balita yang mengalami gizi buruk di tengah limpahan anggaran negara yang mencapai 1000-an triliun. 

Maka janganlah seorang muslim berpuas diri dengan shalat dan hajinya, tanpa menengok kondisi saudara-saudaranya sesama anak Adam yang kesulitan memenuhi kebutuhan akan makan. Sudah saatnya memberi perhatian lebih kepada amalan sosial mengimbangi amalan ritual. Jangan sampai seorang muslim gelagapan ketika mendapat pertanyaan Allah sebagaimana dalam hadis qudsi berikut: 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلَانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي قَالَ يَا رَبِّ وَكَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِي فُلَانٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ اسْتَسْقَاكَ عَبْدِي فُلَانٌ فَلَمْ تَسْقِهِ أَمَا إِنَّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ وَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Hai anak Adam! Aku sakit, mengapa kamu tidak menjenguk-Ku?" Jawab anak Adam; "Wahai Rabbku, bagaimana mengunjungi Engkau, padahal Engkau Tuhan semesta alam?" Allah Ta'ala berfirman: "Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sakit, mengapa kamu tidak mengunjunginya? Apakah kamu tidak tahu, seandainya kamu kunjungi dia kamu akan mendapati-Ku di sisinya?""Hai, anak Adam! Aku minta makan kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku makan?" Jawab anak Adam; "Wahai Rabbku, Bagaimana mungkin aku memberi engkau makan, padahal Engkau Tuhan semesta alam?" Allah Ta'ala berfirman: "Apakah kamu tidak tahu, bahwa hamba-Ku si Fulan minta makan kepadamu tetapi kamu tidak memberinya makan. Apakah kamu tidak tahu seandainya kamu memberinya makan niscaya engkau mendapatkannya di sisi-Ku?" "Hai, anak Adam! Aku minta minum kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku minum?" Jawab anak Adam; "Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi Engkau minum, padahal Engkau Tuhan semesta alam?" Allah Ta'ala menjawab: "Hamba-Ku si Fulan minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya kamu memberinya minum, niscaya kamu mendapatkannya di sisi-Ku." (HR Muslim).

Oleh karena itu, berilah makan saudaramu. 


Dr . Saifudddin Zuhri, MA.
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger