Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Mengenang Kisah Indah Nabi Yusuf AS (2)

Mengenang Kisah Indah Nabi Yusuf AS (2)

Muncullah kemudian gagasan untuk menghabisi Yusuf atau membuangnya ke tempat yang jauh dengan harapan bahwa perhatian Ya’qub akan terbagi juga kepada mereka. Bukankah setelah itu mereka masih bisa bertaubat, dan kembali menjadi orang-orang baik? Seorang diantara mereka kemudian berkata,”Jangan kalian membunuhnya. Kita lemparkan saja dia ke dasar sumur agar dipungut orang yang lewat atau dibawa pergi kelana.”

Mereka pun lalu datang kepada Ya’qub dan meminta agar Yusuf diijinkan pergi dan bermain bersama mereka keesokan harinya. Sebagai seorang nabi, Ya’qub memahami apa yang berada dalam benak putra-putranya. Ia katakan juga kepada mereka, betapa besar duka-lara yang akan dirasakannya jika mereka sampai lalai menjaga Yusuf sehingga menjadi mangsa serigala gurun. Tetapi, mereka pun meyakinkan sang ayah tentang kekuatan yang mereka miliki, dan Ya’qub pun akhirnya tak kuasa bertahan.

Yusuf dibawa pergi oleh saudara-saudaranya meninggalkan sang ayah dengan seribu duka. Di dasar sebuah sumur mereka meninggalkan bocah yang masih kecil ini tanpa pakaian sama sekali. Kemudian, tatkala malam tiba, mereka datang kepada sang ayah seraya menangis. Gamis yusuf yang telah mereka lumuri dengan darah domba mereka tunjukkan. Berita sedih yang mereka bawa serta adalah, Yusuf tewas diterkam serigala ketika mereka sedang asyik bermain dan meninggalkannya sendiri.

Seorang nabi seperti Ya’qub tentulah mendapat panduan Ilahi. Ya’qub yakin bahwa sesungguhnya Yusuf masih hidup. Ia pun berusaha menghadapi situasi ini dengan sabar, agar tidak membuat rasa cemburu semakin menjadi dan meluruskan niat mereka untuk kemudian benar-benar membunuh Yusuf. Tatkala melihat gamis putranya utuh tidak tercabik, Ya’qub mengerti bahwa darah yang melekat di sana pastilah palsu. Seharusnya gamis ini mereka cabik-cabik terlebih dahulu agar terkesan sungguh. Ya’qub yakin benar bahwa putra-putranya telah berdusta. Di dalam sebuah narasi, dikisahkan bahwa Ya’qub kemudian menutupi wajahnya dengan gamis ini seraya berkata, ”Serigala macam apakah yang telah menerkam putraku itu tanpa merusak gamis yang dipakainya sedikit pun?”

Kisah indah Al-Qur’an ini berlanjut dengan lewatnya serombongan musafir. Ketika seorang dari mereka mencoba menimba air, ia pun terkejut dan berteriak, ”Alangkah senangnya! Ada seorang anak muda di sumur ini!” mereka pun lalu membawa dan menyembunyikan Yusuf agar kelak dapat mereka jual. Di sebuah pasar budak, Yusuf, yang kelak menjadi nabi besar itu mereka jual cepat-cepat hanya dengan harga beberapa dirham saja sebelum perbuatan ini diketahui banyak orang.

Yusuf dibeli oleh seorang pejabat tinggi semacam Perdana Mentri yang disebut ’Al-Aziz.’ Kepada istrinya ia meminta agar menjaga Yusuf dengan baik karena boleh jadi ia akan berguna bagi mereka. Bahkan, mengangkat dia sebagai anak pun mereka rasakan pantas pula. Episode pertama kehidupan Yusuf berakhir dengan puncak dilemparkannya ia ke dasar sumur. Di tempat Al-Aziz inilah babak baru kehidupan Yusuf bermula. Di tanah ini pula Allah memantapkan dia dan mengajarinya berbagai ta’wil mimpi. Yusuf pun tumbuh menjadi seorang dewasa yang arif dan berilmu.

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِن

”Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” 

Yusuf kini tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan menawan. Maka tidaklah mengherankan jika kemudian hal ini membuat Zulaikha, istri Al-Aziz jatuh hati kepadanya. Dirayunya Yusuf dengan segala daya dan cara. Suatu kali, ditutupnya pintu agar dapat berdua saja dengannya seraya berkata, ”Kemarilah wahai Yusuf!”. Namun Yusuf adalah seorang pemuda yang tak mudah terperdaya oleh godaan. Mendengar ajakan Zulaikha, ia pun berkata, ”Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya tuanku telah memperlakukan aku dengan sangat baik. Orang-orang yang aniaya tentu tak akan beruntung.” (Yusuf: 23).

Namun Zulaikha tidak berhenti hanya sampai di situ. Nafsu birahi terhadap Yusuf muda yang tampan itu kiranya telah menggoda hatinya setiap waktu. Suatu kali, diburunya Yusuf menuju pintu. Ditariknya Yusuf dari arah belakang sehingga gamis yang dipakainya terkoyak. Ketika kemudian melihat suami perempuan ini berdiri di pintu, Zulaikha membalikkan arah peristiwa. Serta merta ia berkata, ”Apakah kiranya hukuman bagi laki-laki yang hendak berbuat mesum kepada istrimu kecuali penjara?”



Habib Husain Shahab
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger