Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , » Minta Didoakan Orang Pintar

Minta Didoakan Orang Pintar

Pertama, mengapa doa tidak di­kabulkan. Kedua, masalah meminta di­doakan oleh orang lain. Ketiga, masa­lah yang terkait dengan yang kedua, yakni mendatangi seseorang yang di­sebut orang pintar, dukun, atau dengan istilah-istilah lain, apakah mengakibat­kan musy­rik ataukah tidak. Mari kita per­hatikan satu per satu persoalan ini.


Setiap orang bisa mencapai apa yang diinginkannya dan bisa pula tidak, apakah ia berdoa ataukah tidak. Berhasil atau ti­daknya apa yang kita inginkan di dunia ini bukanlah ukuran diterimanya amal iba­dah kita atau doa yang kita panjatkan. Yang jelas, kita diperintahkan untuk ber­doa kepada Allah SWT, dan doa yang kita panjatkan kepada Allah itu, jika dilakukan dengan keimanan, pasti Allah berkenan menerimanya. Allah SWT ber­firman dalam surah Al-Baqarah ayat 186 yang artinya, “Aku menerima doa seorang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” Allah SWT juga berfirman dalam su­rah Al-Mu’min ayat 60 yang artinya, “Ber­doalah kamu ke­pada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.”


Ibnu Athaillah pernah berkata di da­lam kitab Al-Hikam, “Apabila telah di­bukakan bagimu pintu bermohon, se­sung­guhnya telah dibukakan bagimu pin­tu penerimaan.” Hikmah tersebut sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Umar RA dari Nabi SAW, “Barang siapa di antara kalian telah dibukakan pintu doa, berarti telah dibukakan baginya pintu penerimaan.”


Mungkin Anda bertanya, bukankah suatu kenyataan bahwa banyak orang yang memohon sesuatu tetapi ia tidak men­dapatkan hasil sebagaimana yang diharapkannya? Apakah kesemuanya tergantung kehendak Allah? Memang hal tersebut tidak bisa disangkal. 

Akan tetapi diterimanya doa seorang hamba oleh Allah SWT, kemungkinannya bisa berma­cam-macam. Adakalanya diberi­kan me­nurut apa yang dimintanya, ada­kalanya diberikan dalam bentuk yang lain. Misal­nya, berdoa ingin mendapat­kan pekerja­an, tetapi yang didapatkan­nya adalah memperoleh  beasiswa me­lanjutkan kuli­ah. Adakalanya dipalingkan (dihindarkan) dari kejahatan atau musi­bah seharga doa­nya itu, atau disimpan oleh Allah bagi­nya sebagai pahala di akhirat nanti. De­ngan diperolehnya salah satu dari hal-hal itu, berarti Allah telah memperkenankan doa orang tersebut.


Diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada di muka bumi ini seorang mus­lim yang berdoa kepada Allah de­ngan suatu doa melainkan Allah berikan ke­padanya sesuai yang dimintanya, atau Allah palingkan kejahatan darinya se­harga doanya itu, selama ia tidak berdoa dengan suatu kedosaan atau memutus­kan tali kekeluargaan.”


Maka berkatalah seorang laki-laki dari suatu kaum, “Kalau begitu kami akan memperbanyak doa.”


Lalu Nabi bersabda, “Penerimaan Allah lebih banyak lagi.” (Hadis riwayat At-Tirmidzi).


Sedang menurut riwayat Al-Hakim da­lam Al-Mustadrak-nya dari riwayat  Abu Sa’id Al-Khudry ada tambahan, “Atau Allah simpankan untuknya pahala di akhi­rat seharga doa itu.”


Kemudian kami tambahkan di sini se­buah hadits yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abi Hurairah RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Dikabulkan bagi salah se­orang dari kalian selama ia tidak ingin ce­pat-ce­pat dengan mengatakan, ‘Wah, aku sudah berdoa, kok belum dikabulkan juga?’.”


Mengenai bolehnya minta didoakan oleh orang lain, hal tersebut berlaku di ka­langan salaf dan khalaf, karena me­mang ada dasarnya. Di antaranya, Ra­sulullah SAW pernah minta didoakan oleh Sayyidina Umar bin Al-Khaththab RA, sebagaimana diceritakan dalam hadits yang diriwayatkan Umar sendiri, “Aku pernah minta izin kepada Nabi SAW un­tuk melaksanakan umrah. Be­liau mem­berikan izin kepadaku seraya bersabda, ‘Jangan kau lupakan aku dalam doamu, wahai saudara yang ter­cinta.’ Beliau meng­ucapkan satu kalimat yang seandai­nya pun ditukar dengan dunia ini aku tidak akan senang.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi). Dalam ri­wayat lain dikatakan, “Ikut sertakanlah aku, wahai saudara tercinta, dalam doa­mu.”


Meskipun dalam hadits tersebut Ra­sulullah SAW meminta didoakan oleh Sayyidina Umar, sama sekali tidak berarti bahwa ia lebih mulia atau lebih utama daripada Rasulullah. Tak seorang pun yang mengatakan demikian. Hadits ter­sebut, di samping menunjukkan ke­ta­wadhu’an Rasulullah SAW, juga se­cara jelas menunjukkan bolehnya se­seorang meminta didoakan oleh orang lain, ter­utama orang-orang shalih.


Demikianlah, boleh-boleh saja kita da­tang kepada seseorang untuk minta didoakan atau minta diajari doa atau ama­liah tertentu, karena memang hal tersebut ada dasarnya. Orang yang se­ring dida­tangi masyarakat untuk diminta­kan doa­nya itu, jika ia bukan seorang kiai, misal­nya hanya seorang yang shalih, terka­dang disebut “orang pintar” atau istilah-istilah lain. Hal ini bisa me­nimbulkan ke­rancuan, karena orang-orang yang me­lakukan praktek-praktek yang melanggar ajaran agama juga sering disebut demi­kian. Karena itu, sebaiknya berhati-hati terhadap siapa orang yang kita hadapi itu. Jangan mu­dah percaya, tapi juga jangan mudah curiga. Periksalah dengan baik.


Sesungguhnya masalah nama tidak penting. Yang penting, perhatikanlah apa yang dilakukannya dan apa yang dibaca­nya. Syaratnya, kita harus benar-benar yakin bahwa yang dibaca oleh orang yang kita datangi itu atau yang diajarkannya kepada kita bukan bacaan-bacaan yang menyimpang, apalagi mengandung un­sur-unsur kemusyrikan. Karena itu, jika ada bacaan-bacaan yang aneh yang kita belum tahu atau tidak mengerti, sebaik­nya kita tanya kepada orang yang kita yakini pemahamannya tentang agama.


Syarat lainnya, kita harus meyakini bahwa segala sesuatu, termasuk doa yang kita panjatkan, bukan yang menye­babkan terwujudnya apa yang kita mak­sud, melainkan hanya merupakan peran­tara. Pada hakikatnya yang mewujudkan semuanya adalah Allah, bukan yang lain. Apa-apa yang dikehendaki Allah pasti ter­jadi, dan apa-apa yang tak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi.


Adapun mengenai syirik (pelakunya disebut musyrik) atau tidaknya suatu amal tergantung pada hati dan iktiqad orang yang melakukannya. Orang yang bertauhid tahu dan yakin bahwa Allah SWT sajalah yang memberi bekas (peng­aruh), adapun hal-hal lain hanyalah se­bab. Sedangkan bagi orang yang dangkal tauhidnya, kemusyrikan ini tidak perlu sampai pada doa atau amalan-amalan dan wirid-wirid, terkadang minum obat sakit kepala saja sudah cukup mem­buat­nya menjadi musyrik jika ia beriktikad atau berkeyakinan bahwa obat yang diminum­nya itulah pada hakikatnya yang benar-benar memberikan pengaruh dalam me­nyembuhkannya. Karena, yang menyem­buhkan hanyalah Allah, sedangkan obat hanya sebab.


Berbeda dengan orang yang bertau­hid, ia selalu dalam wiqayatullah (penja­gaan Allah) dari kemusyrikan, sekalipun ia menyandang keris berlekuk sembilan, misalnya. Maka jika seseorang menda­tangi orang yang shalih untuk minta di­doakan atau diajari doa-doa tertentu yang tidak bertentangan dengan ajaran agama dan ia meyakini bahwa Allahlah pada ha­kikatnya yang mengabulkan permohon­annya, itu tidak membuatnya menjadi musyrik. Syirik itu pada pokoknya me­rupa­kan urusan hati.




Sumber: Rubrik Tanya Jawab Al Kisah
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger