Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Sifat Pemaaf Rasul SAW Bag. 1

Sifat Pemaaf Rasul SAW Bag. 1

“Ambillah maaf, dan suruhlah yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang jahil.” (QS Al-A`raf: 199).
 

Menatap keluhuran diri Nabi Muhammad SAW adalah sebuah keutamaan bagi setiap mus­lim. Maka tataplah dengan tatapan cinta dan kekaguman, seraya menyambangi ke­luhuran sikap beliau ini dalam kehi­dupan kita. Berikut ini hadits-hadits yang mengetengahkan perilaku keluhuran. Tetapi sebelumnya marilah kita perhati­kan ayat Al-Qur’an berikut ini:


“Ambillah maaf, dan suruhlah yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang jahil.” (QS Al-A`raf: 199).


Ada tiga hal yang terkandung dalam ayat ini, yang diperintahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yakni memberi maaf, menyuruh berbuat baik, dan menjauh dari orang yang jahil.


Kata khudz al-‘afw (ambillah maaf) merupakan kalimat perintah, dalam arti ambillah apa yang dianugerahkan Allah dan manusia, tanpa bersusah payah dan menyulitkan diri. Dengan kata lain, ambil­lah yang mudah dan ringan dari perlaku­an dan tingkah laku manusia. Terimalah dengan tulus apa yang mudah mereka lakukan, jangan menuntut terlalu banyak atau yang sempurna sehingga mem­be­ratkan mereka, agar mereka tidak anti­pati dan menjauhimu, dan hendaklah eng­kau selalu bersikap lemah lembut serta memaafkan atas kesalahan dan kekurangan mereka.


Kata ‘urf sama dengan ma’ruf, yakni sesuatu yang dikenal dan dibenarkan masyarakat, yang didukung nalar yang sehat, serta tidak bertentangan dengan ajaran agama. Adapun kata jahilin, yang merupakan bentuk jamak dari jahil, ber­makna bukan sekadar seseorang yang tidak tahu, tetapi juga pelaku yang ke­hilangan kontrol dirinya, sehingga me­lakukan hal-hal yang tidak wajar karena dorongan nafsu, kepentingan sesaat, dan kepicikan pandangan, yang meng­abaikan nilai-nilai ajaran Ilahi.


Pada ayat ini Allah Ta’ala memerin­tah­kan kepada Nabi SAW dalam me­lang­kah di jalan dakwah untuk siap meng­hadapi segala bentuk hambatan yang menantang perasaan sebagai ma­nusia. Dalam Tafsir Ash-Shawi disebut­kan, tatkala ayat ini turun, Nabi bertanya kepada Jibril tentang maksud ayat ini. Lalu Jibril menghadap Allah dan me­nyampaikan apa yang dimaksud Allah, dengan ucapan, “Wahai Muhammad, Tu­hanmu menyuruhmu untuk menyam­bung silaturahim orang yang memutus­kan (silaturahim denganmu), memberi orang yang menolakmu, dan memaafkan orang yang menyakitimu.” Sayyidina Ja’far Ash-Shadiq berkata tentang ayat ini, “Tidak ada ayat yang lebih luas maknanya tentang kemuliaan akhlaq daripada ayat ini.”


Ash-Shawi mengatakan, jika kata jahilin ini ditujukan pada kaum kafir, ayat ini telah dinasakh dengan ayat qital (pe­rang). Artinya, orang-orang kafir (jahilin) ini layak diperangi sesuai ayat qital. Adapun jika ditujukan kepada orang-orang yang lemah agamanya dan ka­langan Arab yang awam, sedangkan me­reka bersikeras dengan sikapnya yang mengabaikan ajakan Nabi, perin­tah ayat ini sebagaimana isinya, yakni berpaling.



Al Kisah merujuk Kitab Tafsir Shawi
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger