Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , » Hindari Rasisme Hargai Orang Lain

Hindari Rasisme Hargai Orang Lain

Allah SWT berfirman dalam surah Al Hujuraat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Serta janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.”

Untuk diketahui, ayat ini turun karena ada segelintir orang menghina sahabat Nabi semisal Bilal, `Ammar bin Yasir, Salman Al Farisi, Mus`ab bin `Umair, Shuhaib Al Rumi, sebagai golongan orang-orang yang melarat. Mereka menganggap golongan Abu Lahab, Abu Jahal adalah lebih mulia. Mereka lupa kemuliaan itu adalah dengan iman. Berkata seorang penyair :

لَقَدْ رَفَعَ الإِسْلاَمُ سَلْمَانَ فَارِسٍ *وَقَدْ وَضَعَ الشِّرْكُ النَّسِيْبَ أبَاَ لَهَبٍ

Sungguh Islam telah mengangkat derajat kemulian Salman Al Farisi

Sedang kemusyrikkan telah meluluhlantakan kemulian nasab si Abu Lahab

Sudah saatnya kita tanggalkan sikap menghina seseorang tersebab kesukuan, kebangsaan, warna kulit, dan tampilan luarnya. Toh, yang wajahnya tampan dan cantik, paling tidak untuk sekarang ini, belum tentu berlanjut di kemudian hari. Begitu pula yang kini merasa sehat belum tentu besok juga demikian.

Di lain kesempatan, Rasul SAW bersabda, “Cukup sebagai perbuatan jelek bagi seseorang itu dengan menghina saudaranya yang muslim”.
 
Di antara sahabat-sahabat Nabi ada yang disebut Ashhabus Suffah, mereka tidak punya rumah, pekerjaan tidak ada, tidurnya di pelataran masjid –meminjam istilah orang sekarang- “kaum gelandangan”. Tapi bagaimana Allah berpesan kepada Nabi tentang mereka:

“Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.(QS.[18]: 28)

Alih-alih Rasul menghina orang, sekelas makanan pun tak pernah menjadi sasaran hinaan beliau. Semua yang keluar dari mulut Rasul adalah bersih, penuh dengan samudera hikmah, tidak ada cacian sama sekali. Diriwayatkan:

مَا عَابَ النَّبِيُّ طَعَامًا قَطُّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

“Nabi sama sekali tidak pernah menghina satu makanan. Bila beliau suka beliau makan, bila tidak beliau tinggalkan (tidak memakannya).”

Ketika Rasul masuk ke salah satu rumah istrinya, beliau bertanya : “Apakah ada makanan?”
“Oh, ada ya Rasulullah, roti gandum
”Apa ada kuanya?”.
“Tidak ada.”
“Apa yang ada?”
“Hanya cukak.”
Rasul berkata, “Kua yang paling nikmat adalah cukak.”

Memang Islam tidak merestui penghinaan kepada siapa saja. Islam mengajarkan untuk menghargai orang lain. Islam juga memerintahkan untuk melihat kebaikan bukan pada siapa dirinya di masa lalu.

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ قَدْ تَابَ مِنْهُ لَمْ يَمُتْ حَتىَّ يَعْمَلَهُ (حديث)

“Barangsiapa menjelek-jelekkan saudaranya perbuatan dosa yang ia sudah taubat darinya, tidaklah ia mati sampai ia melakukan dosa tersebut.”

Seperti terlampir dalam altar sejarah manusia agung yaitu Sayyidina Hasan ra. di mana ia pernah berjalan melewati sekelompok kaum dhu`afa yang sedang makan. Orang miskin tersebut sembari berbasa-basi mewarkan makan kepada Hasan. Hasan turun dari kendaraannya, makan bersama mereka. Kaum dhu`afa kaget tidak kepalang. Pikir mereka, “Orang yang sangat mulia sudi benar duduk bersama kita.”

Akhirnya, Hasan mengundang mereka untuk datang ke rumahnya keesokan harinya. Esok harinya sudah dipersiapkan makanan yang lezat sebagai bentuk penghargaan Hasan kepada kaum dhu`afa yang telah menghargai Hasan. Beliau ingin membalas kebaikan mereka atas dirinya.

Pernah Siti Aisyah duduk bersama Nabi kemudian lewat seorang wanita yang postur tubuhnya pendek. Begitu datang, Siti Aisyah mencibir postur tubuh si wanita tadi, “Perempuan ini pendeknya segini, wahai Rasul.” Nabi tidak suka pernyataan Aisyah dan memberi tanggapan serius, “Bekas omonganmu jika ditunjukkan hakikatnya dengan kamu ludahkan ke lautan, maka lautan tersebut akan mengeluarkan bau anyir.”

Perhatikan tanggapan serius Nabi tersebut. Celakanya, cacian sekarang dijadikan “madzhab”. Namanya “madzhab” mencaci. Yang dicaci adalah para  sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali; yang dicaci adalah kaum shalihin, Imam Ghazali, Syekh Abdulkadir Al Jailani. Makanan saja tidak boleh dicaci apalagi Sayidina abu Bakar dan sahabat lainnya.



Habib Ali Akbar bin Agil
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger