Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Home » , » Manfaat Membaca Surat Yaa Siin Bag. 2

Manfaat Membaca Surat Yaa Siin Bag. 2


Berikut ini akan saya kutip sebuah pernyataan dari salah seorang ulama salaf, yaitu al-Imam Abdurrahman bin Mahdi, yang sudah barang tentu dihafal oleh banyak kalangan tertentu .



Al-Imam Abdurrahman bin Mahdi berkata: "Ahlussunnah akan menulis apa saja, baik menguntungkan maupun merugikan mereka. Tetapi ahli bid'ah hanya akan menulis apa yang menguntungkan saja."



Dalam sebuah diskusi di Mushalla Nurul Hikmah Perum Dalung Permai Denpasar, ada salah seorang  berbicara. Menurutnya, bagaimana seandainya hadits-hadits yang diamalkan oleh kaum Muslimin itu hadits dha'if?



Dalam kesempatan tersebut, saya menyampaikan, seandainya hadits-hadits tentang keutamaan surat Yasin itu dha'if, maka hal tersebut tidak menjadi persoalan. Sebab para ulama sejak generasi salaf yang saleh telah bersepakat mengamalkan hadits dhaif dalam konteks fadhail al-amal.



Syaikhul Islam al-Imam Hafidz al-Iraqi berkata, "Adapun hadits dha'if yang tidak maudhu' (palsu), maka para ulama telah memperbolehkan mempermudah dalam sanad dan periwayatannya tanpa menjelaskan kedha'ifannya, apabila hadits tersebut tidak berkaitan dengan hukum dan akidah, akan tetapi berkaitan dengan targhib dan tarhib seperti nasehat, kisah-kisah, fadhail al-a'mal dan lain-lain. 

Adapun berkaitan dengan hukum-hukum syar'i berupa halal, haram dan selainnya, atau akidah seperti sifat-sifat Allah, sesuatu yang jaiz dan mustahil bagi Allah, maka para ulama tidak melihat kemudahan dalam hal itu. Diantara para imam yang menetapkan hal tersebut adalah Abdurrahman bin Mahdi, Ahmad bin Hanbal, Abdullah bin al-Mubarak dan lain-lain. Ibn Adi telah membuat satu bab dalam mukaddimah kitab al-Kamil dan al-Khathib dalam al-Kifayah mengenal hal tersebut." (Al-Hafidz al-lraqi, at-Tabshirah wa at-Tadzkirah juz 1 halaman 291).



Sebagai bukti bahwa hadits-hadits dha'if itu ditoleransi dan diamalkan dalam konteks fadhail al-a'mal dan sesamanya, kita dapati kitab-kitab para ulama penuh dengan hadits-hadits dhaif, termasuk kitab-kitab Syaikh Ibn Taimiyah, Ibn Qayyim al-Jauziyah, dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi pendiri aliran Wahhabi.



Dalam catatan sejarah, orang yang pertama kali menolak hadits dha'if dalam konteks fadhail al-a'mal dan sesamanya adalah Syaikh Nashir al-Albani, ulama Wahhabiyah dari Yordania, dan kemudian diikuti oleh sebagian orang di Indonesia seperti Hakim Abdat, Yazid Jawas, Mahrus Ali, dan lain-lain. Tentu saja, pandangan Syaikh al-Albani menyalahi pandangan para ulama sebelumnya termasuk kalangan ahli hadits.



Ust. Idrus Ramli
Adv 1
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger