Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Dimanakah Allah?

Dimanakah Allah?

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Dinar bahwa pada satu hari dia berjalan dengan Khalifah Umar Ibn al-Khattab RA dari Medinah menuju ke Mekah. Di tengah perjalanan mereka berjumpa dengan seorang anak gembala, yang sedang turun dari tempat pengembalaan kambing-kambing yang banyak. Khalifah ingin menguji sampai di mana anak gembala itu bersifat amanah. Antara keduanya terjadi percakapan sebagai berikut:



Khalifah: Wahai pengembala, juallah kepadaku seekor anak kambing ternakan mu ini.


Pengembala: Aku ini hanya seorang budak/hamba.


Khalifah: Katakanlah saja nanti kepada tuanmu, anak kambing itu telah dimakan serigala.


Pengembala berkata: Fa inalllah? Kalau begitu dimana Allah

Amat pendek jawabannya, Fainallah (Di mana Allah). Mendengar jawaban tersebut bercucuranlah air mata Khalifah Umar RA lantaran terharu. Lalu Khalifah pun pergi bersama-sama pengembala itu menjumpai yang empunya ternak itu. Ditebuskannya kemerdekaan anak pengembala itu dan lalu berkata Dengan kalimah ini, Fainallah, telah memerdekakan kamu di dunia ini. Semuga kalimah ini pula akan memerdekakan kamu di akhirat kelak.



Bagi Khalifah Allah dan bagi anggota jemaah muslimin di kala itu umumnya pertanyaan yang sependek itu sudah cukup untuk menggerakkan dhamir/hati, meremangkan bulu ruma. 

Fa inallah? Itu sudah cukup memancing ingatan mereka kepada bunyi jawaban seperti termaktub dalam surah al-Hadid ayat ke 4 yang mafhumnya ..Dan dia(Allah) berserta kamu di mana pun kamu berada. Dan melihat apa yang kamu perbuat (Kitab Fikhud-dakwah).



Kisah yang sama:



Dr. As-Sayyid Muhammmad Nuh dalam bukunya Taujihat Nabawiyah ala ath-Thariq menceritkan tentang kisah seorang guru, Abu Al-Qasim Al-Junaid dengan murid-muridnya yang mana beliau coba hendak menguji sejauh mana keyakinan mereka tentang perasaan selalu diawasi oleh Allah SWT.



Besoknya Abu Al-Qasim memberitahu murid-muridnya supaya pergi ke padang lapang yang sunyi sepi. Guru meminta murid-muridnya masing-masing membawa anak seekor burung. Dan burung tersebut hendaklah disembelih di mana-mana sahaja tempat asalkan tiada dilihat oleh sesiapapun. Selepas burung tersebut disembelih mereka masing-masing diminta menyerahkannya untuk dimasak dan dimakan bersama-sama.



Mereka pun berangkat ke tempat yang telah ditetapkan. Pada keesokakan harinya murid-murid Abu Qasim pun datang dan membawa bersama-sama mereka anak burung yang telah disembelih seperti yang telah diperintah oleh guru mereka, Abu Al-Qasim, kecuali seorang muridnya yang datang dengan anak burung yang masih hidup-tidak disembelihnya, lalu gurunya pun bertanya kepadanya, "Kenapa tidak disembelih burung tersebut seperti yang diperintah?.  

Jawab sang murid, "Mana mungkin saya dapat menyembelih tanpa diketahui oleh sesiapa pun."



Ketika saya hendak menyembelih burung ini, Dzat tetap bersama saya. Ketika saya naik ke bahagian atas rumah saya, saya dapati Dzat Yang Maha Esa bersama saya. Dan jika saya pergi ke tempat yang kosong, Dzat Yang Maha Esa juga bersama saya 

Mendengar jawaban muridnya tersebut si guru pun bertanya kepada muridnya itu, Siapakah yang dimaksudkan dengan Dzat itu? 

Si murid tersebut menjawab dengan tegas, Allah.  Tanpa berlengah-lengah murid tersebut dipeluk erat-erat oleh gurunya, sambil berkata kepadanya Engkau benar, wahai anakku



Document Aswaja
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger