Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Nikmatnya Orang Yang Memakmurkan Masjid

Nikmatnya Orang Yang Memakmurkan Masjid

Allah SWT berfirman, “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Maka, merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. At Taubah: 18) 

Muhtadiin (orang-orang yang mendapat petunjuk). Itulah gelar yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang memakmurkan masjid-Nya. Sungguh suatu nikmat yang luar biasa bila kita termasuk orang-orang yang memakmurkan masjid dan mendapat anugerah gelar muhtadiin.

Untuk memperoleh gelar langsung dari Allah itu, kita harus memenuhi syarat yang tersebut dalam ayat Al Quran di atas. Pertama, kita harus beriman kepada Allah. Artinya, kita mengakui dalam hati, mengikrarkan dengan lisan, serta membuktikannya dengan perbuatan bahwa hanya Allah swt. sajalah sembahan kita selamanya.

Kedua, kita juga mengimani hari akhir itu pasti ada. Artinya, kita harus meyakini 100% bahwa hidup tidak hanya di dunia ini saja, tapi masih ada kehidupan lain setelah mati, yaitu akhirat. Di sanalah amal perbuatan kita di dunia akan dihitung dan kemudian mendapat balasan yang sesuai dengan kadar amal itu. Jika dominan kebaikannya, maka surga imbalannya. Jika sebaliknya, maka neraka balasannya.

Kemudian, kita punharus memenuhi syarat ketiga dan keempat, yaitu mau menunaikan salat dan membayar zakat. Yang terakhir, kita sebagai manusia tidak takut kepada siapa pun, kecuali kepada Allah swt. semata. Itulah lima syarat yang harus kita penuhi jika ingin disebut oleh Allah sebagai pemakmur masjid dan mendapat karunia berupa gelar muhtadiin tadi.

Sebagai muslim kita tentu ingin mendapat hadiah muhtadiin langsung dari Allah tersebut. Sebab, kita sadar betapa mahalnya petunjuk Allah itu. Hidayah adalah hak prerogatif-Nya. Hanya Allah yang berhak memberikannya. Orang tua yang dengan tekun membimbing anaknya tiadk bisa menjamin petuahnya itu bermanfaat bagi buah hatinya jika tidak atas hidayah-Nya. Para dai atau penceramah pun tidak memiliki garansi jamaah bisa memetik hikmah dari mau’izhah hasanah yang disampaikan tanpa hidayah-Nya pula. Bahkan, seorang rasul sekali pun tidak mempunyai hak untuk memberikan hidayah itu kepada umat atau orang-orang yang dicintainya.

Mereka semua hanyalah penyampai ajaran-ajaran Allah. Mereka hanyalah muballighiin yang berharap Allah berkenan memberikan hidayah-Nya kepada audien. Jadi, hidayah itu sampai atau tidak sepenuhnya tergantung kepada Allah yang Maha Berkehendak.

Nah, sebagai orang yang beriman, kita hendaknya berusaha maksimal demi hidayah Allah. Salah satunya adalah dengan memakmurkan masjid. Di sinilah, kita dituntut berbuat yang terbaik untuk masjid. Maka, kita harus memiliki jurus khusus dalam membuat masjid itu meriah, sumringah, penuh kegiatan dakwah, serta aktivitas lain yang limashlahatil ummah (untuk kebaikan umat).

Selama ini, yang kita tahu memakmurkan masjid itu hanya membangun masjid semegah dan seindah mungkin. Setelah itu berhenti sampai di situ. Itu belum cukup karena kita hanya memakmurkan masjid sesaat. Mana mungkin kita mendapat julukan muhtadiin?

Kita harus melangkah lebih jauh dalam memakmurkan masjid. Kita merawat fisik masjid. Kita juga harus mengikuti kegiatan kerohanian di dalam masjid. Misalnya, melakukan jamaah salat lima waktu di dalamnya, beriktikaf, mengaji, pengajian rutin, maupun pengajian akbar pada hari-hari besar Islam, dan sebagainya. Makin banyak aktivitas syiar Islam, makin makmurlah masjid itu karena penuh dengan kegiatan yang padat dan manfaat bagi umat.

Takmir sebagai pengelola masjid memang mendapat tugas yang berat dalam hal ini. Mereka dituntut berpikir keras menemukan inovasi baru dalam berkhidmat kepada jamaah. Misalnya, tema-tema siraman rohani dan khotbah Jumat harus disesuaikan dengan kondisi nyata jamaah dalamkeseharian sehingga bisa jadi pedoman mengantisipasinya. Mereka dituntut peka menyelami aspirasi jamaah, baik soal kualitas para dai, khotib, penceramah, maupun mutu pelayanan masjid terhadap umat.

Jadi, kita semua, baik jamaah maupun takmir masjid harus berlomba-lomba mencapai gelar muhtadiin tadi sesuai dengan posisi dan tugas masing-masing. Semoga kita semua kompak dalam memakmurkan masjid Allah. Dia akan “mewisuda” kita dengan gelar “muhtadiin”. Amin.





Pengirim : Saiful Asyhad
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger