Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Menjadi Bapak Yang Hangat dan Peduli (1)

Menjadi Bapak Yang Hangat dan Peduli (1)

Tujuan dari keseluruhan eksistensi kita adalah membawa anak-anak lahir ke dunia.” (Naguib Mahfudz)



Peran orang tua, terutama bapak, dalam mendidik putra-putrinya telah dimulai bahkan sejak mengumandangkan azan pertama di dekat telinganya, beberapa saat setelah persalinan. Dan, tidak pernah berakhir hingga hembusan napas yang terakhir. Setiap orang tua adalah ro’in atau pemimpin, yang nantinya dimintai pertanggung jawaban atas anak-anaknya. Ibarat kertas yang masih kosong, kita memegang masing-masing sebuah pencil dan step. Buatlah sketsa, berikan warna. Selanjutnya, biarkan dia menyempurnakan gambar dirinya sendiri. Anak sebagaimana orang tuanya adalah juga manusia. Bukan sebuah mesin bergerak yang bisa deprogram dengan menginstall software.



Anak-anak kita barangkali adalah satu-satunya ‘barang’ titipan yang dapat membawa kebahagiaan, keceriaan, rejeki, dan keharmonisan di rumah tangga. Maka tak heran, jika banyak cara ditempuh, medis ataupun nonmedis, oleh sebuah keluarga yang tak kunjung mendapat karunia tersebut. Namun, tak jarang pula ada keluarga yang menyia-nyiakan keberadaan mereka. Merenggut masa kanak-kanak mereka dengan eksploitasi yang tidak manusiawi. Hanya karena alasan sulitnya mencari ekonomi. Bahkan ada yang tega menjual mereka demi keserakahan pribadi.


Pada saat si kecil lahir, dalam keadaan selamat, timbul sebuah perasaan bahagia dan syukur yang meluap-luap. Sehingga hampir setiap saat, kita mendekapnya, sering-sering mengecup keningnya, dan menatapnya dengan pandangan mata yang seolah mengisyaratkan sebuah janji untuk tidak akan pernah berpaling darinya satu menit pun. Namun, ketika si kecil mulai tumbuh, yang sebetulnya semakin membutuhkan kehadiran kita, ia justru semakin sering diabaikan. Bahkan ketika si kecil sudah agak lebih besar perhatian orang tua, terutama dari bapak, akan semakin surut intensitasnya. Berganti kunjungan-kunjungan rutin, di sela-sela kelehalan bekerja, sebagai bentuk formalitas saja.


Pola kehidupan seperti ini, terutama, banyak terjadi di perkotaan yang menuntut biaya hidup relative lebih tinggi. Sementara godaan untuk meniti karier sulit untuk dielakkan, baik oleh suami maupun istri. Sehingga, tak jarang anak-anak justru lebih kenal pembantu atau baby sitter ketimbang ibu dan bapaknya sendiri. Belum lagi ditambah tren perceraian yang belakangan seakan-akan telah menjadi gaya hidup sebagian orang. Lalu, kasus kekerasan dalam rumah tangga yang keberadaannya, oleh pakar sosiolog, dikatakan seperti fenomena gunung es: terlihat kecil di permukaan, tapi besar menjulang di kedalaman. Maka ujungnya anak-anaklah yang menjadi korban. Apalagi tradisi berdiskusi dan mengomunikasikan persoalan keluarga masih teramat lemah di negeri ini.


Namun, bukan berarti hal itu hanya selalu terjadi di perkotaan. Di desa-desa sekalipun, terutama karena minimnya informasi, tak sedikit keluarga yang terkesan tak acuh terhadap masa perkembangan putra-putrinya. Berawal dari sebuah anggapan bahwa anak adalah semata-mata urusan ibu. Sementara ia juga harus telaten mengurus pengeluaran belanja, menyiapkan makanan bergizi untuk keluarga, dan menghadirkan suasana nyaman di rumah. Maka mau tak mau si Kecil harus berbagi kasih sayang dengan prabot rumah tangga. Belum lagi ketika masa panen tiba, tetap istri harus ikut repot. Karena tak mungkin semuanya dapat dikerjakan sendiri oleh suami. Lagi-lagi anak-anaklah yang akan terabaikan.


Ini belum berkaitan dengan porsi pendidikan keagamaan yang seharusnya sudah mereka enyam sejak dini. Karena selama ini kebanyakan orang tua selalu berpikir bahwa belajar itu otomatis terhenti ketika anak keluar dari pintu sekolahan, dan mengaji hanya cukup di surau dan masjid saja. Sementara rumah yang merupakan tempat anak-anak kita menghabiskan sebagian besar waktunya, sama sekali jauh dari unsur-unsur pendidikan. Lebih-lebih ketika bapak dan ibu tidak bisa menjadi suri tauladan.


Penulis adalah Assatidz dari Ponpes Langitan
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger