Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , » KH. Syafiq Nashan dan Pondok Pesantren An Nur Al Islami Jekulo Kudus

KH. Syafiq Nashan dan Pondok Pesantren An Nur Al Islami Jekulo Kudus

Bersahaja dan moderat itulah beberapa kesan saat bertemu dengan KH. Syafiq Nashan, ketua MUI Kudus dan pengasuh Pondok Pesantren Annur Al Islami di Jekulo, Kudus. Beliau tak segan datang bertandang ke rumah-rumah kerabatnya, meski itu jaraknya jauh. Apalagi kalau ada yang hajatan, beliau sebisa mungkin menyempatkan diri datang. KH. Syafiq juga punya interest tinggi dalam dunia pendidikan. Beliau aktif mengajar di berbagai lembaga pendidikan. Antara lain, di STAIN Kudus, dan Ponpes yang didirikannya pada 1993, An-Nur Al-Islamy. Beliau juga sosok yang "kober ngopeni umat", juga aktif di MUI dan IPHI. Beliau bersama sahabat-sahabatnya di MUI Kudus lah yang mewacanakan Kudus sebagai Kota Modern yang religius.

Nama KH. Syafiq Nashan memang tak bisa dilepaskan dari Pondok Pesantren Annur Jekulo. Masyarakat Desa Jekulo adalah masyarakat agamis yang dapat dibuktikan dengan adanya kehidupan keberagaman yang sudah ada sejak dahulu. Kehidupan keberagaman masyarakat Desa Jekulo diawali oleh para ulama atau kyai yang telah mempelajari ilmu-ilmu agama Islam baik melalui pondok pesantren dan madrasah, ini bisa dilihat dari beberapa pondok pesantren yang berdiri di Desa Jekulo Kudus. Sepulang mereka dari tempat menimba ilmu agama Islam, tumbuh gagasan untuk mengembangkan ajaran agama Islam dengan mendirikan lembaga pendidikan Islam.

Latar belakang berdirinya Pondok Pesantren An-Nur Jekulo Kudus berawal dari kenyataan mengenai urgensinya lembaga pendidikan Islam itu sendiri, serta banyaknya santri yang mengaji dan belajar di rumah beliau Bapak KH. Syafiq Nashan. Setiap tahun orang yang belajar di rumah beliau semakin bertambah sehingga tempat yang dijadikan belajar dan mengaji tidak muat. Dalam rangka menyebarkan dan mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam, maka dibangunlah “pondok pesantren” untuk menyiapkan tempat belajar dan tempat mengaji bagi masyarakat yang menginginkannya, yang sampai sekarang eksistensinya diakui masyarakat Desa Jekulo.

Di samping keinginan KH. Syafiq Nashan dalam mendidirikan Pondok Pesantren An-Nur Jekulo Kudus dengan latarbelakang diatas, juga dibantu dan dipelopori oleh beberapa tokoh. Pendirian Pondok Pesantren An-Nur Jekulo Kudus dimulai dirintis pada bulan Maret tahun 1993 M./Rabius Tsani tahun 1414 H. Adapun para tokoh itu adalah H. Umar,  H. Mahsun, H. Selamet, dan Pardiman

Di samping para tokoh itu juga dibantu para sesepuh (orang yang dituakan) Desa Jekulo Kecamatan Jekulo.

Tujuan didirikannya Pondok Pesantren An-Nur Jekulo Kudus adalah:
1. Mendidik dan membina santri untuk berperilaku dengan akhlakul karimah.
2. Membekali santri dengan ilmu agama (Fiqih Hadits dan lain-lain), karena santri akan terjun dalam masyarakat yang tidak lepas dari masalah-masalah agama dan masalah-masalah sosial.
3. Melatih santri untuk hidup bermasyarakat.
4. Melatih santri untuk menjalankan syari’at agama.

KH. Syafiq Nashan memprioritaskan agar Pondok Pesantren An Nur Al Islamy Kauman Jekulo Kudus menekankan pada pembentukan pribadi mukmin-muslim yang berakhlaqul-karimah, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran bebas. Kriteria atau sifat-sifat utama ini merupakan motto pendidikan di Pondok Pesantren An Nur Al IslamyKauman Jekulo Kudus.

Berakhlaqul-karimah :
Berakhlaqul-karimah merupakan landasan paling utama yang ditanamkan oleh Pondok ini kepada seluruh santrinya dalam semua tingkatan, dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi.


Berbadan Sehat :
Tubuh yang sehat adalah sisi lain yang dianggap penting dalam pendidikan di Pondok ini. Dengan tubuh yang sehat para santri akan dapat melaksanakan tugas hidup dan beribadah dengan sebaik-baiknya


Berpengetahuan Luas :

Para santri di Pondok ini dididik melalui proses yang telah dirancang secara sistematik untuk dapat memperluas wawasan dan pengetahuan mereka. Santri tidak hanya diajari pengetahuan, lebih dari itu mereka diajari cara belajar yang dapat digunakan untuk membuka gudang pengetahuan. Kyai sering berpesan bahwa pengetahuan itu luas, tidak terbatas, tetapi tidak boleh terlepas dari berakhlaqul-karimah, sehingga seseorang itu tahu untuk apa ia belajar serta tahu prinsip untuk apa ia manambah ilmu;


Berpikiran Bebas :

Berpikiran bebas tidaklah berarti bebas sebebas-bebasnya (liberal). Kebebasan di sini tidak boleh menghilangkan prinsip, teristimewa prinsip sebagai muslim mukmin. Justru kebebasan di sini merupakan lambang kematangan dan kedewasaan dari hasil pendidikan yang telah diterangi petunjuk Ilahi (hidayatullah). Motto ini ditanamkan sesudah santri memiliki akhlaqul-karimah dan sesudah ia berpengetahuan luas;
  
Seluruh kehidupan di Pondok Pesantren An Nur Al Islamy Kauman Jekulo Kudus juga didasarkan pada nilai-nilai yang dijiwai oleh suasana-suasana yang dapat disimpulkan dalam  Jiwa Santri. Jiwa Santri adalah nilai-nilai yang mendasari kehidupan Pondok Pesantren An Nur Al Islamy Kauman Jekulo Kudus yang terdiri dari:


Jiwa Keikhlasan :

Jiwa ini berarti sepi ing pamrih, yakni berbuat sesuatu bukan karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Segala perbuatan dilakukan dengan niat semata-mata untuk ibadah, lillah. Kyai ikhlas medidik dan para pembantu kyai ikhlas dalam membantu menjalankan proses pendidikan serta para santri yang ikhlas dididik. Jiwa ini menciptakan suasana kehidupan pondok yang harmonis antara kyai yang disegani dan santri yang taat, cinta dan penuh hormat. Jiwa ini menjadikan santri senantiasa siap berjuang di jalan Allah, di manapun dan kapanpun;


Jiwa kesederhanaan :

Kehidupan di pondok diliputi oleh suasana kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif atau nerimo, tidak juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam jiwa kesederhanan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani maju dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup dan tumbuhnya mental dan karakter yang kuat, yang menjadi syarat bagi perjuangan dalam segala segi kehidupan;


Jiwa Berdikari :

Berdikari atau kesanggupan menolong diri sendiri merupakan senjata ampuh yang dibekalkan pesantren kepada para santrinya. Berdikari tidak saja berarti bahwa santri sanggup belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri, tetapi pondok pesantren itu sendiri sebagai lembaga pendidikan juga harus sanggup berdikari sehingga tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain. Inilah Zelp berdruiping systeem (sama-sama memberikan iuran dan sama-sama memakai). Dalam pada itu, Pondok tidaklah bersifat kaku, sehingga menolak orang-orang yang hendak membantu. Semua pekerjaan yang ada di dalam pondok dikerjakan oleh kyai dan para santrinya sendiri, tidak ada pegawai di dalam pondok;


Jiwa Ukhuwwah Diniyyah :

Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwwah diniyyah. Tidak ada dinding yang dapat memisahkan antara mereka. Ukhuwah ini bukan saja selama mereka di Pondok, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan ummat dalam masyarakat setelah mereka terjun di masyarakat;


Jiwa Bebas :

Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar masyarakat. Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi segala kesulitan. Hanya saja dalam kebebasan ini seringkali ditemukan unsur-unsur negatif, yaitu apabila kebebasan itu disalahgunakan, sehingga terlalu bebas (liberal) dan berakibat hilangnya arah dan tujuan atau prinsip. Sebaliknya, ada pula yang terlalu bebas (untuk tidak mau dipengaruhi), berpegang teguh kepada tradisi yang dianggapnya sendiri telah pernah menguntungkan pada zamannya, sehingga tidak hendak menoleh ke zaman yang telah berubah. Akhirnya dia sudah tidak lagi bebas karena mengikatkan diri pada yang diketahui saja. Maka kebebasan ini harus dikembalikan ke aslinya, yaitu bebas di dalam garis-garis yang positif, dengan penuh tanggungjawab; baik di dalam kehidupan pondok pesantren itu sendiri, maupun dalam kehidupan masyarakat. Jiwa yang meliputi suasana kehidupan Pondok Pesantren itulah yang dibawa oleh santri sebagai bekal utama di dalam kehidupannya di masyarakat. Jiwa ini juga harus dipelihara dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.


Kini, perjumpaan indah dengan Yai Syafiq Nashan tinggallah kenangan. Beliau wafat pada hari Senin tanggal 21 Sya'ban 1436 H bertepatan dengan tanggal 8 Juni 2015. Semoga jasa-jasa beliau dalam berjuang untuk agama islam, kota Kudus, dan Negeri Indonesia dapat mengantarkan beliau menjadi ahli surga. Aamiin



Dari berbagai sumber, diantaranya website PP Annur Al Islami Jekulo
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger