Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , » Keseimbangan Fitrah Manusia

Keseimbangan Fitrah Manusia

Bila kita bicara tentang Puasa dan Ramadhan yang telah berlalu, biasanya kita akan mengaitkannya dengan hawa nafsu. Memahami perihal hawa nafsu adalah hal yang penting, karena hawa nafsu membuat manusia bertindak tidak tepat. Padahal manusia diciptakan dengan fitrah untuk berada dalam titik proporsional yang tepat. Sekali saja manusia bertindak berlebihan, maka semuanya akan kelihatan tidak baik.

Misalnya orang yang suka memamerkan kekuatannya itu bukan berarti dia berani tapi justru itu karena dia sombong. Ada lagi orang yang tidak mau mengambil resiko bukan dikategorikan waspada tapi justru pengecut. Hawa nafsu lah yang membuat manusia terjebak dalam sifat-sifat sepetti angkuh atau pengecut ini. Justru manusia yang disebut berani dan bijaksana adalah manusia yang berada tepat di garis tengah fitrahnya. Hal ini juga berlaku bagi urusan harta benda seperti yang dikatakan Allah dalam sebuah ayatnya, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS Al-Furqaan : 67 )

Untuk itu Allah menurunkan Rasulnya sebagai contoh langsung bagi kita tentang apa yang seharusnya kita lakukan sehubungan dengan fitrah ini. Rasulullah sendiri memang contoh manusia yang mampu berdiri di tengah secara konsisten, hal itu disebutkan oleh Allah dalam ayatnya, “Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.(QS An Najm : 17 )

Itulah cara Rasulullah berdiri di tengah kehidupan, beliau selalu berdiri di tengah sesuai fitrah sebagai manusia. Cara berdiri Rasulullah inilah yang seharusnya juga dijadikan contoh oleh para pemimpin. Ini penting, sebab dewasa ini banyak sekali para pemimpin yang justu membawa rakyatnya ke dalam jurang atas nama agama dan kebaikan, padahal justru mereka membawa kita ke tempat yang berisi ketidakadilan, penderitaan bahkan neraka. Jadi alih-alih terbentuk masyarakat yang sejahtera, justru yang muncul adalah masyarakat yang saling memangsa satu sama lain. 

Untuk para pemimpin yang seperti itu, Allah sudah memberi pernyataan demikian, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS Al-Furqaan : 43-44 )

Lebih jauh dari itu, Allah juga sudah memperingatkan bagi kita semua, terutama bagi para pemimpin yang hanya mengikuti hawa nafsunya dan lupa pada fitrah untuk berhati-hati, “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (QS An-Naazi at : 37 Ayat39 )

Secara jelas, contoh pemimpin yang seperti ini adalah Firaun. Di masanya dia adalah pemimpin yang besar dan mengusai sebuah negara superpower tapi justru itu disalahgunakan olehnya. Kaum kaya justru disubsidi dan rakyat justru dijadikan sapi perahan. Maka dari itu tidak berlebihan jika Firaun oleh Allah dikategorikan sebagai orang yang terjebak oleh hawa nafsu.


“Pergilah kepada Fir’aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas. (QS Thahaa : 24 )

Maka dari itu pemimpin yang baik adalah mereka yang jelas-jelas takut pada Allah, salah satu indikator taktu pad Allah adlah dengan menjalankan perintah-Nya, dan seperti yang kita thau bahwa berlaku adil adalah salah satu perintah Allah juga. Bagi kita yang kemarin sudah berpuasa Ramadhan, tentu kita tahu bahwa puasa adalah instrumen yang sangat penting untuk melatih kita dalam meneggakkan keadilan. Pada akhirnya akan dicapai kesimpulan bahwa puasa adalah alat yang baik untuk melatih ketaqwaan, sebab menegakkan keadilan juga selalu diidentikkan dengan ketaqwaan.

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (QS Al-Maidah : 8 ).



Dr. Dadan Suryana
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger