Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Menjaga Ahlak Mulut Bag. 2

Menjaga Ahlak Mulut Bag. 2

Dari Jabir RA, bahwasanya Rasul­ullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat duduk bersamaku pada hari Kiamat di antara kalian adalah orang-orang yang paling baik akhlaqnya. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh duduk bersamaku di antara kalian pada hari Kiamat adalah tsartsarun (orang-orang yang banyak bi­cara), mutasyaddiqun (orang yang suka berpanjang lebar, menunjukkan kefasih­an dalam bicara), dan mutafaihiqun.’

Para sahabat berkata, ‘Ya Rasulul­lah, sungguh kami tahu arti tsartsarun dan mutasyaddiqun. Tapi apa arti muta­fayhiqun?’.

Beliau menjawab, ‘Yakni orang yang angkuh, sombong, dan berlagak menun­jukkan kepandaiannya serta melemah­kan pihak lain’.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi)


Hadits ini diriwayatkan At-Tirmidzi dalam kitab Kebaikan dan Silaturahim bab Keluhuran Akhlaq.


Abdullah bin Al-Mubarak rahimahul­lah mendeskripsikan secara singkat mak­na akhlaq yang baik sebagai kera­mahan dan keceriaan muka, mender­makan dan mengerahkan segala ke­mam­puan demi kebaikan, dan mence­gah keburukan.


Tentang kedudukan orang yang ber­akhlaq mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya sampai di sini sudah cukup. Yang pen­ting di sini, seyogianya seorang muslim menghindarkan diri dari sifat-sifat ang­kuh dan sombong dalam pergaulan, ter­utama dalam berbicara. Orang-orang ada­kalanya suka menonjolkan kealiman, kefasihan, dan kepiawaiannya dalam merangkai kata, demi membuat manusia takjub dan tujuan duniawi lainnya. Itu dapat menunjukkan kesombongan.


Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani suatu ketika ditanya, “Wahai Imam, apa yang menyebabkan majelismu dihadiri dan disimak banyak orang?”


Beliau menjawab, “Katakanlah se­suatu yang terbetik di hatimu secara jujur dan sederhana saja. Hindari berpanjang kalam dalam menunjukkan kehebatan dirimu demi membuat orang lain takjub.


Al-‘Aquli berkata dalam syarah kitab Al-Mashabih, sebagaimana dikutip Ibn ‘Allan dalam kitab Dalil Al-Falihin, Hadits ini muncul karena sebuah realitas bahwa orang-orang mukmin pada sisi keiman­an­nya memang patut dihargai dan saling mengasihi namun adakalanya mereka saling mengklaim keutamaan dalam sifat-sifat kebaikan dan cabang-cabang keimanan. Yang merasa utama lalu mengunggulkan diri­nya dalam kebaikan dan membedakan yang lain dengan keburukan. Maka me­reka jadi dibenci pada sisi itu. Lalu se­bagian mereka lebih dibenci pada se­bahagian yang lain. Sehingga ada se­orang yang disukai pada satu sisi namun dibenci pada sisi lain. 

Hal inilah yang mendasari Rasul­ullah SAW untuk men­cintai orang-orang yang beriman seutuh­nya dan seluruh­nya, terutama dari sisi keimanan mereka yang berakhlaq mulia, sebagaimana kebencian beliau kepada mereka yang bermaksiat, namun lebih mem­benci me­reka yang bermaksiat de­ngan keburukan akhlaq.




Al Kisah
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger