Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Kewajiban Zakat Fitrah Bag. 2

Kewajiban Zakat Fitrah Bag. 2

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, dimana Rasul SAW bersabda “Ana awla bil mu’minina min anfusihim”, Aku (Nabi SAW) lebih awla daripada orang mukmin atas diri mereka sendiri. Kok bisa Rasul SAW mengatakan “aku lebih awla daripada orang orang mukmin atas diri mereka sendiri”. Kenapa? 

Karena firman Allah. Allah Swt berfirman “Annabiyyu awla bil mu’minina min anfusihim” (QS. Al Ahzab:6). Nabi SAW itu lebih utama, lebih patut didahulukan dari orang mukmin atas diri mereka sendiri, maka Rasul SAW berkata “Ana aula bil mu’minina min anfusihim”. Seakan akan kalau tidak kita ikuti sabda Beliau (SAW) yang selanjutnya ucapan ini sombong.  

Aku (Nabi SAW) yang lebih utama dari orang mukmin atas diri mereka sendiri, Tapi lihat ucapan (hadits beliau SAW) selanjutnya “..barang siapa yang wafat masih meninggalkan hutang dan dia tidak punya uang atau harta untuk bisa membayar hutangnya, aku (Nabi SAW) yang akan menyelesaikan hutangnya”. 

Berapa banyak orang – orang muslimin yang wafat yang tidak mampu membayar hutangnya. Ahli warisnya atau tidak punya harta waris, mereka datang kepada Nabi SAW. Rasulullah SAW yang membayar hutang mereka. Subhanallah!! Inilah orang yang paling dermawan dari semua yang dermawan.


Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam kitabnya Fathul Bari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan menukil beberapa hadits lainnya bahwa sebelum Fatah Makkah, baru malam selasa yang lalu kita bahas fatah makkah. Sebelum fatah makkah Rasul SAW tidak mau menyolatkan jenazah yang masih punya hutang. Jadi kalau jenazah seseorang yang wafat, Rasul SAW bertanya “ini masih punya hutang?”, kemudian dijawab “masih ada”. Rasul SAW tidak mau sholat. Kalau sudah selesai hutangnya atau ada orang yang bilang “aku yang menanggung”, baru Rasul SAW mau menyolatkannya. 

Ini bukan karena Rasul SAW benci atau menghina jenazah itu, tapi Rasul SAW tidak mau ada 1 jenazah masuk ke dalam kuburnya masih membawa hutang, ia dihimpit oleh bumi. Demikian indahnya Nabiyyuna Muhammad SAW, tidak rela beliau ada 1 jenazah yang masuk ke dalam kubur dihimpit oleh bumi.


Maka Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam kitabnya Fathul Bari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan bahwa hal seperti ini dipertanyakan kepada kita. Setelah fatah makkah Rasul SAW baru mengatakan “siapa yang punya hutang datang padaku, kalau tidak bisa bayar hutang”.Tapi sebelumnya beliau (Nabi SAW) tidak mau menyolatkan jenazah. Dipertanyakan bagaimana dengan kita? jika ada jenazah yang wafat orang susah punya hutang, disholatkan atau tidak? Jika tidak ada yang mau membayar hutangnya.
 
Maka Imam Ibn Hajar mengatakan tetap disholatkan. Apakah ia dihimpit bumi? Imam Ibn Hajar Al Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari mengatakan “tidak, ia bebas”. Karena apa? selama ia tidak punya harta, ia orang susah lalu wafat dan hartanya tidak cukup untuk melunasi hutangnya, ia tidak dihimpit bumi. Kenapa? karena orang – orang fuqara itu punya hak dari baitul maal. Zaman sekarang tidak ada baitul maal.
 
Baitul maal itu kira – kira Departemen Keuangan, semua orang fuqara dapat santunan. Itu baitul maal di zaman Rasul SAW. Zaman sekarang tidak ada baitul maal. Nah oleh sebab itu kalau seandainya di zaman itu ada orang wafat, miskin tidak punya hutang yang membayar baitul maal, setelah wafatnya Rasul SAW. Oleh sebab itu zaman sekarang tidak ada baitul maal maka orang yang wafat meninggalkan hutang dan belum mampu melunasi hutang daripada sisa hartanya, temannya tidak ada yang mau membayarnya maka ia tidak dihimpit bumi. Karena apa? karena tidak ada baitul maal. Demikian dijelaskan di dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Bukhari


Dan Rasul SAW selalu menginginkan keberkahan bagi umatnya (Nabi SAW), Maka ketika penduduk Madinah yaitu Anshar, Nabi SAW yang terkena beban dengan datangnya Muhajirin kepada mereka sehingga orang – orang anshor membagi setengah harta mereka untuk muhajirin. Ketiban susah, kasarnya begitu. Turut punya saudara baru harus membagi harta mereka. Harta dibagi, rumah mereka untuk saudara – saudara mereka yang datang bersama Rasulullah SAW dari Makkah. 

Maka Rasul SAW mendoakan mereka, mereka yang berkorban di doakan oleh Nabi SAW. Allahumma bariklahum fii mikyaalihim, wa muddihim, wa shaa'ihim…. Rasul SAW mendoakan orang Madinah “wahai Allah berkahi mereka pada timbangannya, timbangan perdagangannya, pada muddnya, pada sha’ nya”.  

Maksudnya dalam perdagangannya, di dalam bermasyarakatnya limpahi keberkahan. Doa itu sampai sekarang Madinah Al Munawwarah tidak pernah dilimpahi kemiskinan. Doa Nabiyyuna Muhammad SAW untuk Madinah dan juga Doa Nabiyullah Ibrahim As untuk Makkah.


Maka Makkah dan Madinah tidak pernah ditimpa kemiskinan sampai saat ini. Kenapa awal awalnya? awal awalnya orang orang yang membela beliau (Nabi SAW), orang orang yang mencintai beliau (Nabi SAW). Orang orang Anshor adalah orang orang yang menerima Nabi SAW saat Nabi SAW terusir dari semua tempat. Semua orang tidak mau kedatangan Rasul SAW karena takut nanti orang orang kuffar quraisy akan datang memerangi mereka. Maka hanya orang Madinah yang membuka pintu untuk Sang Nabi SAW dan para Muhajirin, maka mereka hijrah ke Madinah Al Munawwarah. Didoakan oleh Rasul SAW sehingga beliau bersabda riwayat Shahih Bukhari “Tanda orang yang beriman adalah mencintai anshar, dan tanda orang munafik adalah benci kaum Anshar”, (Shahih Bukhari) kata Rasul SAW. Alangkah indahnya orang orang yang mencintai Nabi Muhammad SAW, dibela oleh Rasul SAW. Anshor penduduk Madinah di masa itu. Dan tanda orang orang yang munafik adalah orang orang yang benci kepada Anshor. Demikian pembelaan dan penghormatan Sang Nabi SAW bagi mereka mereka yang membela Rasulullah SAW.


Akhir dari penyampaian saya adalah beberapa hari lagi kita akan sampai pada Idul Fitri, Rasul SAW bersabda diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa beliau tidak keluar Idul Fitri sebelum sarapan dulu beberapa butir kurma dengan angka yang ganjil. Demikian sunnahnya, kita hiasi hari hari kita dengan sunnah Sayyidina Muhammad SAW. Orang yang paling berlemah lembut kepada semua orang.


Diiriwayatkan oleh Hujjatul Islam wa Barakatul Anam Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Al Ghazali, yang kita kenal dengan Nama Imam Al Ghazali dalam kitabnya mukasyifatul quluub “barangsiapa yang membaca Subhanallah Wabihamdih 300X di hari Idul Fitri dan diniatkan pahala untuk muslimin muslimat maka Allah Swt akan mengirimkan cahaya cahaya ke pekuburan muslimin muslimat dan saat ia wafat, Allah penuhi kuburnya dengan 1000 cahaya”. Orang yang menbaca subhanallah wabihamdih 300X di hari Idul Fitri dan diniatkan pahalanya untuk muslimin muslimat maka pahalanya akan ditebarkan pada muslimin muslimat dan saat ia sendiri yang wafat, Allah berikan kuburnya 1000 cahaya. 

Ini kemuliaan yang diajarkan oleh Nabiyyuna Muhammad SAW dan pula Imam Ghazali menukil satu hadits Rasul SAW “barangsiapa yang menghidupkan malam Idul Fitri (malam ied), memakmurkannya, mensyiarkannya maka Allah akan hidupkan hatinya disaat semua hati dalam keadaan mati. Ini tafsir haditsnya banyak, ada yang mengatakan di saat semua orang gundah ia akan tetap tenang. Ada yang mengatakan di saat semua orang itu wafat dan dikuburkan, ia tetap hidup dengan rahmat Allah, ada yang mengatakan di saat yaumal qiyamah ia tetap diberi ketenagan oleh Allah Swt karena ia memakmurkan malam Idul Fitri.



Habib Munzir Al Musawwa
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger