Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , » Qiyamullail Tak Berhenti Setelah Ramadhan Usai

Qiyamullail Tak Berhenti Setelah Ramadhan Usai


Ramadhan dengan segala kemuliaannya telah lewat dari usia kita, dan tidak kita ketahui apakah masih akan jumpa dengan Ramadhan yang akan datang atau tidak , telah lewat malam-malam tarawih, telah lewat buka puasa bersama dan kemuliaan Lailatul Qadr dan lainnya, namun penjiwaan dalam menjiwai rahasia kemuliaan Ramadhan akan membekas di hari-hari setelah Ramadhan . Kemuliaannya tidak sirna , pahala-pahalanya tidak sirna, dan tarbiyah ruhiyah jasadiyah (didikan pada ruh dan jasad) yang ada pada bulan Ramadhan akan berlanjut di hari-hari lainnya jika kita menjaganya, yaitu kita akan mudah melakukan puasa sunnah karena sudah terbiasa puasa sebulan , kita akan terbiasa qiyamullail untuk shalat tahajjud karena sudah terbiasa bangun sahur .


Demikian indahnya Allah, Allah Maha Tahu bahwa orang-orang banyak sulit untuk bangun tahajjud karena sibuknya dalam pekerjaan sehari-harinya, maka Allah jadikan puasa Ramadhan ada waktu untuk makan sahur, untuk apa? Agar nanti setelah Ramadhan mereka lebih mudah sampai pada kemuliaan tahajjud , ruku’ dan sujud berduaan dengan Allah SWT semata, mensucikan mengagungkan namaNya. 

Dan Allah SWT berfirman dalam hadits qudsiy riwayat Al Imam Bukhari dan Muslim, Bahwa Allah SWT menyeru di sepertiga malam terakhir pada hamba-hambaNya, “ Barangsiapa yang memohon pengampunan Ku maafkan, barangsiapa yang bertaubat Ku terima taubatnya “ seruan itu memanggil semua mereka yang mau bertamu kepada Allah di sepertiga malam terakhir . Namun tidaklah para pencinta Allah yang bangun malam untuk shalat tahajjud, meninggalkan kasurnya ranjangnya dan istirahatnya untuk Sang Maha yang paling berhak dicintai, terkecuali orang yang dicintai Allah. 

Dawamkan bangun shalat malam walaupun bukan di waktu sahur, barangkali waktu bangun sahurnya ada yang jam dua atau jam tiga, paling tidak setiap hari bangunnya jam setengah empat atau jam empat setel alarm nya, baca zikir yang diajarkan Rasul SAW kepada Sayyidatuna Fatimah Az Zahra’ RA riwayat Shahih Al Bukhari, sebelum tidur Rasul SAW mengajarkan membaca :


سُبْحَانَ اللهِ 33 , اَلْحَمْدُلِلهِ 33 , اَللهُ أَكْبَرْ 33


dan diakhiri dengan bacaan :


لَاإِلهَ إِلَّاالله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهْ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ


Kalau tidak hafal bacaan itu, boleh diganti dengan membaca “ Allahu Akbar “ 34 kali (Allahu akbar ditambah sekali). Maka orang yang melakukannya sebelum tidur , saat bangun ia akan bangun dengan segar tidak akan bangun dengan lesu, tapi mereka yang lupa atau tidak melakukannya barangkali saat bangun, malas untuk bangun. Ketika ia bangun ia akan merasakan tubuhnya lebih segar dari keagungan rahasia kalimatullah al ‘ulya SWT yang mengantarnya sebelum tidur. Kalau lupa, nah itulah barangkali ketika kita bangun jam tiga atau setengah empat kemudian kita tidur lagi karena malas.


Demikian malam-malam agung Ramadhan telah larut, tapi malam-malam agung di sisa usia kita masih menanti setiap malam, maka ambillah satu dua menit, sepuluh duapuluh menit untuk bersama Allah sebelum waktu subuh. 

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul SAW tidak pernah meninggalkan shalat witir sepanjang usia beliau baik beliau sedang di rumahnya atau sedang safar ( dalam perjalanan ), bahkan beliau melakukan shalat witir di atas tunggangannya. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari dan tentunya juga di perbolehkan di dalam Mazhab As Syafi’i dan lainnya, boleh melakukan shalat sunnah ketika sedang dalam perjalanan di atas kendaraannya sambil duduk , kalau shalat fardhu tentunya harus menghadap kiblat, kalau shalat sunnah boleh kiblatnya kemana saja asal sedang dalam perjalanan bukan di rumah, kalau sedang safar keluar Jakarta sedang di bis, di pesawat, shalat sunnah kiblatnya kemana saja. Boleh shalat dhuha, shalat witir, shalat apa saja daripada diam saja lebih baik shalat sunnah asalkan dalam keadaan wudhu’, kalau tidak bisa wudhu’ maka tayammum untuk shalat sunnah.


Ketika Rasul SAW sakit beliau melakukan shalat witir sambil duduk, tidak meninggalkan shalat witir sepanjang usianya. Semoga Allah SWT memuliakan kita dengan kemuliaan shalat witir.




Habib Munzir Al Musawwa
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger