Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , » Macam - Macam Sedekah Bag. 2

Macam - Macam Sedekah Bag. 2

Banyak cara yang bisa kita lakukan dalam hidup ini agar kita termasuk ke dalam kelompok orang yang bersedekah, meskipun harta tidak kita miliki. Hal ini karena sedekah memang tidak hanya bisa dilakukan dengan memberikan harta kepada orang lain. Pada tulisan yang lalu, ada tiga bentuk sedekah yang bisa kita lakukan, yakni bekerja dengan tangan sehingga kita bisa memenuhi nafkah diri dan keluarga, membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan dan melakukan amar makruf nahi munkar. Melalui tulisan yang singkat ini, ada beberapa hal lagi hal yang harus kita lakukan dalam hidup ini untuk mendapatkan nilai sedekah.
 

1. Perkataan Yang Baik.
 

Berbicara merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Karena itu, dunia ini tidak pernah sepi dari aktivitas berbicara. Adanya aktivitas berbicara membuat suatu kejadian bisa diinformasikan, ilmu pengetahuan bisa diajarkan dan nilai-nilai kebenaran atau kebaikan bisa disebarluaskan. Namun, dengan aktivitas bicara keburukan, kebathilan atau kemunkaran juga bisa diinformasikan, kesombongan bisa ditunjukkan dan permusuhan antar sesama manusia bisa terjadi di seluruh dunia.
 

Bagi seorang mukmin yang ingin memiliki kepribadian yang terpuji, ia akan selalu berusaha berbicara dalam kerangka kebaikan dan kebenaran. Karenanya, hal ini menjadi ukuran keimanan seseorang, dalam satu hadits Rasulullah saw bersabda:

  مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا اللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.
 

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim).
 

Manakala seseorang sudah berbicara yang baik, maka ia telah menunjukkan salah satu manfaat dari keberadaannya sebagai manusia, sehingga berbicara yang baik termasuk dalam kategori sedekah yang pada dasarnya setiap kita bisa melakukannya. Rasulullah saw bersabda:

وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
 

Perkataan yang baik adalah sedekah (HR. Bukhari dan Muslim).
 

Karena itu, bila manusia tidak bisa berbicara yang baik, disamping hal itu berbahaya bagi orang lain, sebenarnyan juga amat berbahaya bagi dirinya sendiri, karena memang dosa terbesar atau terbanyak dari sekian dosa yang dilakukan manusia adalah dosa yang bersumber dari lisannya, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ أَكْثَرَ خَطَايَا اِبْنِ آدَمَ فِى لِسَانِهِ
 

Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya (HR. Thabrani).
 

2. Berlaku Adil.
 

Secara harfiyah, adil artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya. Karena itu, adil adalah memberikan hak kepada setiap orang yang berhak dan menghukum orang yang bersalah sesuai dengan tingkat kesalahannya. Menegakkan keadilan merupakan salah satu perintah Allah swt yang sangat penting, sebagaimana firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS An Nisa [4]:58).
 

Manakala kita bisa berlaku adil kepada orang lain dalam kehidupan ini, maka kitapun termasuk orang yang bersedekah meskipun harta tidak kita miliki, Rasulullah saw bersabda:

يَعْدِلُ بَيْنَ اْلإِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ
 

Berlaku adil antar dua orang adalah sedekah (HR. Bukhari dan Muslim).
 

Bersikap dan bertindak secara adil memang menjadi sesuatu yang amat dibutuhkan. Dalam kehidupan manusia, baik satu orang dengan orang lain, kelompok dengan kelompok hingga negara dengan negara, kadangkala terjadi perselisihan, namun hal ini tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Karena itu, perselisihan harus ditengahi atau didamaikan oleh seorang penengah yang adil sehingga kedua kelompok yang bertikai dapat mewujudkan kedamaian, Allah swt berfirman: Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (QS Al Hujurat [49]:9).
 

Namun, sebelum jauh melangkah untuk berlaku adil di tengah-tengah masyarakat, seorang muslim amat ditunjuk untuk berlaku adil terhadap anggota keluarganya sendiri, misalnya berlaku adil terhadap anak.
 

Apabila orang tua mempunyai anak, apalagi lebih dari satu, maka sebagai orang tua haruslah bersikap dan berlaku adil terhadap setiap anaknya itu, termasuk kepada anak yang berbeda jenis kelaminnya. Meskipun demikian, berlaku adil kepada anak bukanlah berarti sama jumlahnya dalam pemberian, tapi harus sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Rasulullah saw bersabda:

إتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوْا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ
 

Bertaqwalah kepada Allah dan berlaku adillah diantara anak-anakmu (HR. Muslim).
 

Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw juga bersabda:

 سَوُّوْا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ ِفى الْعَطِيَّةِ وَلَوْ كُنْتُ مُفَضِّلاُ أَحَدٌا لَفَضَّلْتُ النِّسَاءَ
 

Persamakan diantara anak-anakmu dalam pemberian, dan seandainya aku boleh memberikan kelebihan kepada salah satu diantara mereka, pasti akan aku berikan kepada anak peremuan (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
 

Selain berlaku adil kepada anak, seseorang juga harus berlaku adil kepada isterinya, apalagi bila beristeri lebih dari satu, baik adil dalam bentuk memberikan nafkah, pembagian waktu maupun perhatian, Allah swt menekankan hal ini dalam firman-Nya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya (QS An Nisa [4]:3).
 

3. Mendamaikan Orang Yang Bermusuhan.
 

Bermusuhan merupakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan dalam kehidupan kita. Jangankan bila hal itu terjadi pada kita, terjadinya pada orang lain saja membuat kita amat prihatin. Salah satu dampak negatif yang kita rasakan dari terjadinya permusuhan adalah tidak adanya ketenangan dan keamanan. Karena itu, permusuhan antar seseorang atau kelompok tidak boleh kita biarkan terus berlangsung, harus dilakukan upaya mendamaikan siapapun yang berselisih dan bermusuhan. Bila ini kita lakukan, maka kitapun akan mendapatkan salah satu dari sedekah yang paling utama, Rasulullah saw bersabda:

  أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ
 

Sedekah yang paling utama adalah mendamaikan orang yang bermusuhan (HR.Thabrani dan Bazzar).
 

Karena hal ini merupakan sedekah yang paling utama, maka mendamaikan orang yang bermusuhan menjadi sedekah yang paling disukai oleh Allah swt dan Rasul-Nya sebagaimana disebutkan dalam satu hadits:

  يَا أَبَا أَيُّوْبَ, أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى صَدَقَةٍ يُحِبُّهَا اللهُ وَرَسُوْلُهُ؟ تُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ إِذَا تَبَاغَضُوْا وَتَفَاسَدُوْا
 

Wahai Abu Ayyub, maukah kamu aku tunjukkan suatu sedekah yang Allah dan Rasul-Nya mencintainya?. Perbaiki hubungan antara manusia bila mereka saling benci dan merusak (HR. Thabrani).
 

Dengan demikian, semakin kita pahami betapa besar peluang kita untuk bisa bersedekah seandainya kita tidak punya harta untuk disedekahkan.
 



Drs. H. Ahmad Yani
Email: ayani_ku@yahoo.co.id
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger