Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Haji dan Kopyah Putih

Haji dan Kopyah Putih

Politik Belanda menerapkan hukuman bagi siapa saja yang memakai kopyah putih sedangkan dia belum haji maka didenda sekian gulden (kalau tidak salah dengar 25 gulden). Begitupun sebaliknya. Itu politik Belanda atas gerakan Diponegoro dan Sentot Prawirodirjo, serta membludaknya jamaah haji asal Indonesia pada saat itu. Bahkan Belanda sampai meminta konsul Jeddah untuk membatasi kuota jamaah haji Indonesia.

Menghadapi politik semacam itu, ada kiyai top yang luar biasa menjawab tantangan itu. Namanya Sayyid Syaikh Muhammad Affandi bin Maulana Muhammad Malik bin Ilyas Kedungparuk Purwokerto. Semua kapal disewa dan diborongnya sekian milyar untuk ukuran sekarang. Setelah diborong Mbah Affandi membuka kuota haji seluas-luasnya bagi siapa saja dan gratis asal membawa bekal sendiri-sendiri. Saat inilah dibutuhkan kiai-kiai yang demikian.

Ada seorang habib tampannya luar biasa, kaya raya tiada duanya, yakni Habib Umar bin Yahya. Saking tampannya setiap kali berangkat Jum'atan banyak warga dan wanita-wanita yang berjejer menyambutnya dengan menaburi bunga-bunga. Banyak madrasah dan pesantren disumbangnya tidak terhitung. Beliau memiliki empat istri, semua berasal dari keturunan orang hebat, diantaranya putri sultan Cirebon, putri sultan Banten (yang kemudian menurunkan Habib Hasyim bin Yahya), putri Sanghai (dari dinasti terakhir China).

Kyai Abbas Jamil Buntet dan Kiai Sholeh Gedongan adalah diantara anak-didik Habib Umar bin Yahya. Juga para muridnya adalah para ulama dari Jawa Timur dan luar Jawa. Hampir tidak ada santrinya yang mentah. Itulah keadaan ulama pada waktu itu, bukan saja ngayomi wilayah maqamnya tapi juga wilayah duniawinya. Apa dikira yang seperti itu bukan orang tasawuf? Sangat tasawuf!

Santri Habib Umar bin Yahya rata-rata pakai imamah (serban). Itu adalah syiar. Tapi terkadang mereka merasa takut jika memakai serban atau kopyah putih. Selesai ngaji imamah atau kopyah putihnya diganti dengan kopyah hitam. Demi menjaga sunnah Nabi SAW. Begitulah kenapa Habib Luthfi bin Yahya terkadang saat ngaji atau hendak ceramah sering melepas kopyahnya. Karena sedang menjaga kesunnahan memakai kopyah putih dari kemakruhan merokok.

Sultan Agung di Keraton Jogja, supaya orang menjaga adat-istiadat budaya Jawa, meskipun ada sisi negatifnya, setiap yang berkunjung wajib bagi laki-laki memakai baju bebek (khas Jawa) dan kemben untuk wanita. Ini salah satu syiar untuk menjaga budaya Jawa, lalu bagaimana lagi jika menjaga syiar sunnah Nabi SAW.

Sebenarnya serban itu bukan pakaian ulama, hanya saja ulama memakainya karena sunnah Nabi SAW. Tidak ada identitas pakaian ulama. Identitas ummat Islam adalah mengikuti sunnah Nabi SAW. Orang yang belum mengetahui adab dan sunnah Nabi SAW adalah diantaranya orang yang berserban atau selendang hijau sambil membawa kitab tapi tangannya sambil merokok.



Ngaji Ramadhan Bersama Habib Luthfi Bin Yahya, dikutip oleh Ust. Syaroni As-Samfuriy
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger