Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Memasyarakatkan Syukur

Memasyarakatkan Syukur

Setiap manusia seharusnya selalu mengingat nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Nikmat yang ada di bumi dan seisinya telah disediakan Allah sebagai kelengkapan dan pelengkapan ciptaan-Nya. Air, tanah, udara dan semesta alam dengan penuh kasih dan sayangnya mengapa kehadiran kita didunia atas perintah-Nya, belum lagi kelengkapan anggota badan, sehingga kita dengan mudah menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi. Disadari atau tidak, apa yang ada pada diri manusia, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah nikmat yang telah diberikan Allah dan merupakan anugerah yang tiada tara nilainya.

“Karena itu ingatlah kamu kepada-ku. Niscaya Aku ingat kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-ku dan jangan kamu mengingkari-ku” (QS. Al-Baqarah: 152)

Bersyukur pada hakekatnya merupakan konsekuensi logis bagi seseorang makhluk seperti manusia kepada Allah, sebagai Tuhan yang telah menciptakan dan melimpahkan berbagai nimat. Namun, kerap sekali makhluknya terlupa bahkan melupakan-Nya.

Pada umumnya ada 3 hal yang sering membuat kita tidak bersyukur. 

Pertama kita sering memusatkan diri pada apa yang kita inginkan bukan pada apa yang kita miliki. Hal ini terjadi karena kita salah dalam melakukan penilaian. Kita sering mengukur suatu nikmat dari Allah dengan ukuran diri sendiri, artinya jika keinginan dipenuhi, maka ia kan mudah bersyukur sebaliknya jika belum dikabulkan, maka ia enggan untuk bersyukur.

Kedua, selalu melihat kepada orang lain yang diberikan lebih banyak nikmat, perilaku ini hanya menyuburkan rasa iri, hasud dan dengki kepada orang lain. Cobalah untuk melihat orang yang kurang beruntung, banyak disekitar kita yang tak bisa menikmati indahnya pandangan dunia, bahkan ada yang takbisa hanya untuk sekedar berjalan. Tidak jarang kita merasa orang lain lebih beruntung, kemanapun kita pergi, selalu ada yanglebih pandai, lebih tampan, lebih cantik dan lebih segalanyaaa dari kita. Rasullah menagajarkan “apabila seseorang diantara kamu melihat orang yang dilebihkan Allah dalam hal harta benda dan bentuk rupa, maka hendaklah ia melihat kepada orang-orang yang lebih rendah daripadanya”.

Ketiga, menganggap apa yang dimilki adalah hasil usaha sendiri, perilaku ini menumbuhkan sifat kikir, sombong dan melupakan Allah sebagai pemberi nikmat tersebut, padahal tidak ada satu nikmat pun yang dating dengan sendirinya. Melainkan Allah yang telah mengatur semuanya, kini mumpung Allah masih memberikan waktu, satu-satunya cara yang harus kita lakukan adalah mensyukuri semua nikmatnya dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 

Bukankah Sang Maha Pencipta telah berfirman, “Bersyukurlah kepadaku maka Aku akan tambahkan nikmat-ku dan janganlah kufur (congkak/sombong) karena siksaku teramat pedih”.

Pertanyaannya, dengan apa kita harus mewujudkan rasa syukur itu? Adapun manifestasi dari rasa syukur itu adalah: 

Pertama, hendaklah tertib menjalankan ibadah sebagai bagian terima kasih kita kepada Sang Pencipta, bukan lagi sebagai suatu yang membebani hidup kita, justru sebaliknya tetapi sangat mudah dan sangat murahnya, hanya dengan ketaatan, ketertiban dan kekhusyu’an ibadah.

Kedua, tekun belajar bukan lagi beban karena disuruh oleh orang tua, guru atau siapa pun, tetapi tekun belajar karena kita bersyukur atas anugerah otak yang telah diberikan kepada kita. Berprestasi dalam pendidikan adalah jawaban dari rasa terima kasih kita atas anugerah otak apabila kita tidak mengoptimalkan pengguna otak dengan tekun belajar, maka sang pencipta akan menghinakan kita baik didunia maupun diakhirat.

Sebelum semua terlambat marilah kita mengubah polah pikir tingkah laku dan amal perbuatan kita dengan bersyukur kepada Sang Pencipta agar kita dimuliakan saat hidup didunia dan dimuliakan ketika menghadap-Nya. Sebagaimana janji Sang Pencipta: “Allah akan meninggikan orang yang beriman dantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ” (Q.S. 58: 11)

Semoga kita semua termasuk diantaranya Amin…nah, selagi ada waktu yang diberikan oleh-Nya, sudahkah kita mensyukuri semua nikmat-Nya?


Riska Rismaya
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger