Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Home » , » Jihad Bebas Pulsa atau Pulsa Pemium??

Jihad Bebas Pulsa atau Pulsa Pemium??

Al ‘arif billaah Syaikh Zaini ‘Abdul Ghani –populis disapa Tuan Guru Ijai- itu ‘Ulama Besar dengan kualitas terhimpunnya syari’at, thariqat dan haqiqat, hafal Qur’an berikut tafsirnya (tafsir dari Imam Jalalain). Sifat lembut, ramah, sabar dan penyantun beliau amat kuat hingga dicintai segenap lapis masyarakat. ‘Ulama yang ’arif billaah –ber-ma’rifat pada Allah- ini berwasiat kepada umat agar murah hati, murah harta, manis muka dan tidak menyakiti orang lain.

Setahu saya, tidak ada orang –kecuali bego- yang menyangsikan tingginya ‘ilmu dan maqam Syaikh Zaini ‘Abdul Ghani. Meski demikian beliau tak mengajarkan tindakan mengagresi atau menyuruh meledakkan bom C4 atau TNT rakitan di resort tertentu melawan musuh-musuh Islam. Ternyata, musuh yang dilawan Sang Syaikh adalah kebodohan umat sendiri pada ‘ilmu agamanya dan renggangnya pertautan ruhani umat kepada Kanjeng Nabi saw. Syaikh Zaini ‘Abdul Ghani menghidupkan ‘ilmu agama dan menebar mahabbah (kecintaan) ke Kanjeng Nabi saw. Beliau berjihad tidak dengan mengangkat senjata melainkan dengan mengangkat pengajaran dan mahabbah.

Jihad Sang Syaikh merealisasi pesan Qur’an, “Wa tujaahiduuna fii sabilillaahi bi amwaalikum wa anfusikum (dan berjihadlah kamu sekalian di jalan Allah dengan harta dan jiwamu). Beliau berjihad tanpa mengenal lelah atau sakit, meski badan kurang sehat beliau tetap mengajar. Harap tahu, tiap mau menghadiri majelis ‘ilmu atau majelis-majelis yang membesarkan dan memuliakan Islam beliau lebih dulu menyantuni majelis tadi dengan harta beliau. Badan dan jiwa diserahkan untuk berjihad, harta pun beliau serahkan buat berjihad.

Tuan Guru Ijai ‘ulama yang dahsyat dan dekat dengan kita baik masa maupun tempatnya. Periode hidup Tuan Guru Ijai (1942-2005) belum lewat jauh dari masa kita, mukim beliau (di Martapura Kalimantan) juga dekat dari tempat kita, sama-sama Indonesia. Keutamaan hidup beliau tak akan layu sebagai teladan terutama bagi para da’i dan ustadz kontemporer. Kebajikan Tuan Guru Ijai adalah teladan yang segar, dahsyat dan dekat.

Sore selesai ngaji nahwu-sharaf itu serasa saya mendapat durian runtuh –rejeki besar tiba mendadak- tambahan ‘ilmu dari Guruku. Sambil duduk lesehan di lantai pondok, tiba-tiba Pak Kyai ngendika (menyatakan), “Mengajar ‘ilmu agama –sepanjang niyatnya tepat dan tak malpraktek- pahalanya besar. Da’i dan ustadz pun merasa dirinya telah mendeposit pahala dari pengajarannya. Memang pahalanya gede, termasuk bershadaqah. Hanya saja, da’i atau ustadz berjihad mengajar ‘ilmu tapi ia sendiri tidak mengeluarkan hartanya untuk berjihad berarti ia telah menyelisihi perintah Allah, ‘Wa tujaahiduuna fii sabilillaahi bi amwaalikum wa anfusikum’.” Kenapa da’i atau ustadz merasa aman atas deposit pahalanya pada hal ia belum mengeluarkan harta buat jihad? Itu pertanyaan saya setelah menyerap pernyataan Guruku. Saya lalu menyelami teladan Syaikh Zaini ‘Abdul Ghani yang giat mengeluarkan hartanya untuk jihad.

“Ada da’i atau ustadz yang owel (pelit) mengeluakan hartanya. Itu hal yang amat buruk,” Guruku bergumam dengan prihatin. Mereka owel harta dan enggan bershadaqah karena menganggap aktivitasnya mengajar ‘ilmu sudah termasuk bershadaqah. Lebih buruk lagi –fenomenanya kian menguat nih- da’i atau ustadz yang mengharap shadaqah (honor) dari aktivitasnya mengajar risalah agama. Pak Kyai sempat menyebut –secara anonim- da’i dan ustadz wajah mereka ada penampakan enggan mengeluarkan harta. Sampeyan (Anda) jangan membantah –wong saya tidak mengada-ada- Pak Kyai dikaruniai Allah bisa menatap wajah ruhani otentik orang. Beliau memiliki visi ruhani sedemikian rupa hingga selubung artifisial dan realisasi spiritual orang akan ter-enkripsikan. Batasan-batasan material yang melingkupi spiritual akan terceraikan dan wajah ruhani otentik orang pun tersingkapkan.

Saya takjub mengenangi ‘ulama salaf. Para Guru itu setia meneladani Kanjeng Nabi saw, gigih berjihad melawan musuh –kebodohan umat pada ‘ilmu agama- dengan tak kenal lelah badannya dan tombok hartanya. Tombok harta buat berjihad pun kiranya ‘tak masuk akal’ bila di-audit oleh standart akunting dunia. Saya dan beberapa sahabat santri sering terlibat brain-storming (curah pandangan), “Kita para santri datang ke pondok. Pak Kyai memberi kita pengajaran ‘ilmu, memberi pula –jumlahnya puluhan hingga seratusan- jamuan setiap hari. Pak Kyai memfasilitasi tapi para santri tak dipungut uang, tidak ada SPP. Kita nyantri dengan bebas bea, semua beliau tanggung. Koq, bisa ya, Pak Kyai menanggung pengeluaran dan tombok harta sebanyak ini?” Saya tertegun.

Tulisan ini menuang renungan dan contoh ‘ulama salaf berjihad dengan totalitas, jiwa-raga dan harta. Jihadnya ‘ulama salaf bukannya tidak dengan harta alias jenis ‘bebas pulsa’ justru memilih mengeluarkan harta yang banyak –pulsa premium- buat berjihad. Kenyataan ini akan memaksa kita merasa kecil di hadapan Guru-Guru dahsyat itu. Siapa merasa besar?


Ditulis oleh laxamana hsin bo, Pondok Pesantren Roudlotul Fatihah, Kampung Santri, Kulon Gunung Sentono, Pleret, Bantul, Yogyakarta
Adv 1
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger