Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Memaafkan Dalam Jual Beli dan Hutang Piutang

Memaafkan Dalam Jual Beli dan Hutang Piutang

قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى

(صحيح البخاري)


Sabda Rasulullah SAW, “Allah menyayangi orang yang pemaaf dalam jual dan beli, dan pemaaf pada utang piutangnya” (Shahih Bukhari) .


Kalau ia membeli, tidak terlalu sangat banyak menawar, kalau ia menjual tidak terlalu banyak mengambil untung dan tidak menipu pembelinya. “..wa izaaqtadha” dan ketika mereka saling melunasi hutang piutang. Ketika mereka mempunyai hutang kepada orang lain dengan sifat baiknya, ia datangi orang yang ia pinjam uangnya dan ia kembalikan dengan baik , dengan sopan dan dengan mulia. Atau sebaliknya jika ia orang lain berhutang padanya maka ia meminta atau menagihnya dengan sopan dan baik. 

Orang – orang yang seperti ini dicintai oleh Allah, disayangi Allah. Allah berfirman “wailullilmuthaffifiin; alladzina idzaktaaluu a’lannasi yastawfuun; waidza kaaluuhum awwazanuuhum yukhsiruun; ala yadhunnu ulaaika annahummab’utsun; liyawmin a’dhim; yaumayaquumunnaasu lirabbil a’lamin” (QS. Al Muthaffifiin : 1-5). Allah Swt berfirman : Celakalah orang yang berbuat dhalim dalam timbangan perdagangannya (Qs. Al-Muthaffifiin : 1). Kalau mereka yang belanja, mereka meminta timbangan itu seadil – adilnya, jangan sampai ada berat yang sampai mendhalimi. Jika mereka sendiri yang menjual maka mereka mengurangi timbangannya (Qs. Al-Muthaffifiin : 2), celakalah mereka, kata Allah Swt. Apakah mereka tidak mengira bahwa kelak akan berdiri di satu hari yang sangat dahsyat (Qs. Al-Muthaffifiin : 4-5). Hari yang sangat agung, hari dimana Allah Swt menjadikan manusia itu berdiri satu persatu menghadap-Nya, disaat itu betapa meruginya para pedagang yang berbuat dhalim. Kalau mendhalimi timbangan saja seperti itu, bagaimana mendhalimi penjual dengan penipuan.


Rasul SAW menuntun kita kepada seindah – indah tuntunan, kepada semulia – mulia bimbingan dan inilah bimbingan Nabi kita Muhammad SAW. Dan Rasul SAW sebaik – baik orang yang beramal. Ketika beliau SAW meminjam kepada orang lain, mestilah beliau SAW sendiri yang mengembalikannya atau dengan sebaik – baik cara. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, bagaimana Rasul SAW meminjam uang kepada seorang yahudi (seorang yang diluar Islam) maka orang yahudi itu, padahal sudah tahu bahwa Rasulullah SAW itu adalah orang yang amanah masih meminta jaminan dan Rasulullah SAW memberikan jaminan baju besinya. Untuk apa uang itu, untuk menjamu tamunya. Demikian indahnya budi pekerti Sayyidina Muhammad SAW.


Dan beliau SAW adalah yang paling sempurna akhlaknya. Sehingga diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika beliau SAW berjalan menemukan sebutir kurma yang terjatuh di tanah, seraya mengambilnya dan berkata “lawla antakuna shadaqah la..” kalau bukan takut karena ini kurma shadaqah (karena shadaqah tidak boleh dimakan oleh Rasul SAW, namun boleh oleh muslimin lainnya) aku akan memakannya, kata Sang Nabi SAW. Dari menghargai rezki yang ada di muka bumi yang asal muasalnya dari Allah. Ini hukumnya luqatah (barang temuan yang tidak berharga). Jadi kalau kita menemukan barang yang tidak ada harganya boleh diambil, tapi kalau barang yang berharga tidak boleh diambil dan waktu penantiannya adalah 1 tahun kalau barang itu barang berharga. Diambil, dipegang saja, dicari orang yang memilikinya atau diumumkan selama 1 tahun. Kalau 1 tahun tidak datang juga pemiliknya, boleh dipakai tapi kalau pemiliknya datang harus dikembalikan atau diganti dengan uang. Demikian hadirin – hadirat, barang temuan.


Demikian Sang Nabi SAW bersabda diriwayatkan didalam Shahih Bukhari. Rasul SAW bersabda “akan datang satu masa kepada manusia ini dimana ia tidak perduli lagi apa – apa yang masuk kepadanya, Apakah dari hal yang halal atau dari hal yang haram”. Ia sudah tidak mau lagi bedakan, mana itu halal mana itu haram. Akan datang masa itu, kata Nabi SAW. Dan masa itu telah datang kepada kita.


Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ketika bagaimana indahnya Sang Nabi SAW memberikan tarbiyah kepada para sahabat dengan seindah – indahnya tuntunan. Abdullah bin Amr bin Ash alaihimaa ridhwanallah, sampai kabar kepada Sang Nabi SAW bahwa Abdullah bin Amr bin Ash ini sepanjang malam shalat malam sambil membaca Alqur’an. Siang hari puasa, tiap hari ia lakukan seperti itu. Maka Rasul SAW memanggilnya “apakah engkau betul (shalat sepanjang malam) di malam hari berapa banyak kau membaca Alqur’an?” ia berkata “aku khatam Alqur’an setiap malamnya, wahai Rasulullah”. “Lalu siang hari?”, “siang hari aku puasa setiap harinya wahai Rasulullah”. Rasul SAW berkata “jangan kau perbuat!, bacalah Alqur’an 1 bulan sekali khatam (1 hari = 1 juz)” itu yang terbaik dan yang sunnah untuk kita. 

Orang – orang yang mempunyai kesibukkan dan lainnya disunnahkan untuk membaca 1 juz 1 hari bila mampu. Rasul SAW mengajarinya, 1 bulan 1X khatam dan berpuasalah 3 hari setiap bulannya. Maka Abdullah bin Amr bin Ash berkata “Wahai Rasulullah, aku mampu lebih dari itu wahai Rasulullah”. Maka Rasul SAW terlihat wajahnya berubah, sudah diberi saran malah didebat saran Sang Nabi SAW. Maka Rasul SAW berkata “kalau begitu 1 minggu 3 hari puasanya”, ia menjawab “ya Rasulllah aku bisa lebih dari itu”. Terus ia meminta dan meminta, sampai akhirnya Rasul SAW berkata “kalau begitu 1 hari puasa 1 hari tidak, yaitu puasa Nabi Daud as, dan tidak ada yang lebih dari itu”. Maksudanya Rasul SAW tidak memberi izin untuk puasa lebih dari puasa Nabiyullah Daud as yaitu sehari puasa sehari tidak puasa, besoknya puasa besoknya tidak puasa. Itu sudah puasa yang terbanyak bagi umat Nabi Muhammad SAW.


Sampai tak lama kemudian Rasul SAW wafat dan sampai khilafah dan sampai Abdullah bin Amr bin Ash meriwayatkan hadits ini jauh setelah wafatnya Sang Nabi SAW. Ia berkata “coba kalau aku terima saran Sang Nabi SAW itu dari awal, jangan sampai tidak, apa artinya ibadahku yang sedemikian banyak kalau seandainya ibadahku itu menyinggung perasaan Rasulullah SAW”. Coba kalau dari awal aku terima saran Sang Nabi SAW sehingga Sang Nabi SAW gembira kepadaku, sehingga Sang Nabi SAW menyayangiku karena menerima wasiatnya SAW, coba itu maka jauh lebih berharga daripada ibadahku, yang ibadah – ibadah sunnahnya SAW. Walau ia berjuang dengan puasa Nabiyullah Daud nya atau berjuang dengan amalan ibadah lainnya, belum tentu ia menemukan kesempatan menggembirakan hati Sang Nabi Muhammad SAW.


Habib Munzir Al Musawwa
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger