Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Keutamaan Sholat Subuh (1)

Keutamaan Sholat Subuh (1)

Ash Shalatu Khairun Minan Naum Ash Shalatu Khairun Minan Naum”


Bisa dipastikan setiap menjelang fajar kita mendengar salah satu penggalan lafal kumandang adzan subuh yang syahdu dan merdu ini. Sayangnya, kebanyakan dari kita tidak segera beranjak bangun untuk menjawab panggilan atau seruan itu. Akan tetapi malah terus melanjutkkan nyenyaknya tidur dengan dibuai mimpi, sambil mengeratkan selimut kita. Sungguh beribu sayang, kita termasuk golongan orang yang merugi. Seandainya kita tahu bahwa, shalat fardhu yang paling utama adalah shalat subuh. Selain itu berbagai khasiat yang tidak terduga dan ternilai jika kita sungguh-sungguh dalam mengamalkannya. Niscaya kita akan berlomba dalam mengerjakannya.
 
“Seandainya manusia mengetahui pahala dalam adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya selain dengan diundi, tentu mereka saling mengundi. Seandainya mereka mengetahui pahala pada At-Tahjir (menuju shalat lebih awal), tentu mereka akan berlomba-lomba mendapatkannya. Dan seandainya mereka tahu pahala dalam shalat isya dan subuh, tentu mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus merangkak.” (H.R. Bukhari)
 
Dalam bahasa Arab arti subuh adalah awalnya siang, dan biasanya orang-orang Arab mengartikan waktu pertengahan malam yang terakhir hingga tengah hari (siang). Lazimnya disebut fajar, ketika gelapnya malam ditelan oleh sang surya. Subuh sendiri adalah salah satu tanda kebesaran Allah SWT. Allah SWT bersumpah atas nama fajar (subuh), tertera pada ayat pertama surah al-Fajr yang berbunyi, “Demi Fajar” (QS.Al-Fajr[89]:1). Ini menegaskan pada hati manusia yang ragu akan kekuasaan Rabb. Dan mendorong hati orang-orang mukmin untuk berdzikir dan bertasbih mengagungkan-Nya pada saat itu (shalat subuh).
 
Tetapi ada juga sesuatu yang harus dipahami oleh umat muslim, yakni larangan-larangan dalam shalat subuh. Rasulullah SAW dengan tegas melarang umatnya sembahyang sunat setelah shalat subuh. Alasan dari larangan ini adalah wujud antisipasi supaya umat islam, tidak melaksanakan sembahyang tepat pada saat orang kafir menyembah matahari. Dimana waktu itu matahari muncul diantara dua tanduk setan. Hal ini dengan gamblang dikemukakan oleh hadis Rasulullah SAW, sabda beliau, “Dan waktu shalat subuh adalah dari terbit fajar sebelum matahari terbit, kalau matahari sedang terbit maka berhentilah shalat karena matahari pada saat itu muncul diantara dua tanduk setan (HR Muslim)
 
Akan tetapi Rasulullah SAW mengetahui diantara umatnya, terlambat dalam mengerjakan shalat subuh walaupun seditkit. Hal ini bisa disebabkan karena seharian penuh disibukkan menyelesaikan pekerjaanya. Jika tidak malahan hampir semalam suntuk begadang karena kebetulan memperoleh rezeki ditengah malam. Alhasil waktu tidurnya terbatas ataupun seolah semalaman tidak cukup untuk membayar kelelahannya. Hingga subug hampir habis, dia tidak mendapati shalat berjama’ah. Maka selama dia masih menjumpai satu raka’at shalat subuh dan pada saat itu matahari belum terbit, dia dianggap telah menunaikan shalat subuhnya.
 
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, dari Abu Huraihah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menjumpai (menunaikan shalat) satu raka’at shalat subuh selama matahari belum terbit maka dia telah menunaikan shalat subuh, dan siapa yang menjumpai satu raka’at shalat ashar selama matahari belum tenggelam, maka ia telah menunaikan shalat ashar.” (HR Muslim)
 
Tapi bagaimanapun juga, alangkah indah dan beruntungnya kita jika bisa secara istiqomah menjalankan shalat subuh secara berjama’ah. Kita akan mendapat pahala yang berlipat ganda dibandingkan kita shalat sendiri. Ini tertuang dalam sebuah hadis, “Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh lima lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat subuh. Kemudian naiklah para malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka. Bagaimana hamba-hambaKu ketika kalian tinggalkan? mereka menjawab, “Kami tinggal mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga.”(H.R.Al-Bukhari)



Santya Herfian
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger