Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Kesalehan Terhadap Alam

Kesalehan Terhadap Alam


Dalam Ramadhan kita banyak kesempatan untuk menikmati materi dakwah yang amat baik. Kebanyakan dakwah tersebut mendorong kita untuk meningkatkan kesalehan bersifat personal yang meliputi ibadah mahdhah (ritual) seperti shalat, tadarrus, selawat, dan mempelajari agama Islam.

Juga banyak materi dakwah tentang kesalehan sosial seperti menolong orang yang membutuhkan –baik materi, tenaga maupun pikiran, aktif dalam organisasi nirlaba dengan niat tulus.

Seseorang bisa mempunyai kesalehan personal dan kesalehan sosial, tetapi tidak mempunyai kesalehan profesional. Dia taat menjalankan ibadah mahdhah dan membantu orang lain serta masyarakat yang membutuhkan, tetapi dia menyalahgunakan kekuasaaan dan memanipulasi profesi untuk keuntungan pribadi/kelompok. Menurut saya kalau tidak mempunyai kesalehan profesional, kesalehan personal dan kesalehan sosial tidak punya nilai.
Ada kesalehan lain yang perlu disampaikan dalam dakwah kita, yaitu kesalehan terhadap alam. Kesalehan ini hanya dikenal di kalangan yang amat terbatas. Apakah membahas kesalehan terhadap alam itu sesuatu yang wajar atau mengada-ada?

Islam mengajarkan kita untuk memelihara alam. Firman Allah dalam surat Ar-Rum ayat 41; Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan manusia , supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Firman Allah dalam surat Al-A’raf  ayat 56; “Dan, janganlah kamu  berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harapan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”.

Rasulullah dalam pesan kepada tentara Islam yang akan berperang menekankan etika peperangan Islam yang juga mencakup larangan menebang pohon di tempat daerah kita memperoleh kemenangan, kecuali diperlukan.

Melakukan sesuatu yang berakibat timbulnya bencana –lonsong atau banjir- seperti menebang pohon secara berlebihan dan tidak menanmnya kembali, jelas dapat kita masukkan dalam tindakan yang dilarang oleh dua ayat di atas. Upaya mencegah terjadinya bencana yang berakibat fatal itu tentu juga bernilai ibadah.

Tindakan lain yang sering kita saksikan yang termasuk dilarang oleh kedua ayat di atas adalah sembarangan membuang limbah membahayakan dari industri atau RS. Kita saksikan bahwa banyak sungai yang airnya tidak aman lagi untuk digunakan. Tetapi jarang sekali kita mendengar dakwah yang menyentuh tindakan yang sebenarnya melanggar larangan agama itu.

Salah satu isu utama internasional adalah perubahan iklim akibat pemanasan global. Ratusan ilmuwan dari berbagai negara terlibat dalam panel Pemerintah Antar Pemerintah Mengenai Perubahan Iklim (IPCC) yang menghasilkan pengkajian internasional paling komperehensif dan menyeluruh mengenai suatu pokok persoalan ilmiah yang pernah dilakukan. Tindakan mendesak diperlukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, terutama CO2, guna mencegah terjadinya kerusakan lebih parah.

Kerusakan meluas akibat naiknya permukaan air laut dan semakin sering terjadinya gelombang panas, banjir dan kekeringan, akan terjadi dengan kenaikan sedikit suhu rata-rata dunia. Akibatnya, es di kutub mencair yang menyebabkan permukaan air laut naik beberapa cm pertahun. Dalam beberapa puluh tahun akan makin banyak daratan yang tergenang air.

Salah satu persyaratannya ialah bahwa penggundulan hutan tropis yang menjadi sumber dari 20 persen emisi gas rumah kaca harus dihentikan dalam satu atau dua dekade ini. International Energy Agency mengemukakan, tindakan yang kuat dan tegas perlu dilakukan guna mencegah agar emisi global CO2 tidak lagi meningkat.

Syukur sejumlah negeri Islam mempunyai kepedulian terhadap masalah itu. Oktober 2008 di Kuwait diselenggarakan pertemuan untuk membahas tema “Islam dan Perubahan Iklim” . 

Di Indonesia sejumlah ilmuwan Islam juga berupaya menumbuhkan kesadaran di kalangan ulama dan cendikiawan Islam Indonesia bahwa ajaran Islam amat memandang penting ikhtiar menjaga kelestarian alam seperti pesan (paling tidak) di dalam dua ayat di atas.

Sebagai khalifatullah fi al ardl kita harus menjaga kelestarian alam supaya tidak rusak dan tetap bermanfaat bagi anak cucu kita. Ternyata, kita tidak mampu menjaganya, yang berarti kita kurang mensyukuri alam Indonesia sebagai nikmat Allah. Padahal, para ulama dan cendikiawan muslim di Indonesia fasih sekali dalam menyampaikan ayat di dalam surat Ibrahim tentang pentingnya bersyukur.

Pesan ayat itu adalah; “apabila kamu bersyukur, akan ditambah kenikmatan itu dan apabila kamu tidak bersyukur , sungguh azab Allah itu sangat pedih”. Karena kita tidak bersyukur dengan tidak memelihara alam itu, kini kita bisa merasakan azab berupa banjir akibat alam yang rusak dan kesulitan air akibat pencemaran air. Persepsi kita tentang bersyukur perlu ditinjau kembali.

Pada 1950-an Indonesia mempunyai hutan seluas 152 juta ha. Jumlah itu turun menjadi 119 juta ha pada 1985 dan kini hanya sekitar 86 juta ha. Dalam 64 tahun luas hutan berkurang 66 juta ha atau 4,8 kali luas Pulau Jawa dan Bali. Kini baru ada sedikit kesadaran untuk menanami kembali hutan yang telah gundul itu.

Memang sudah ada kesadaran dari sejumlah ulama dan pesantren tentang pentingnya kesalehan terhadap alam. Sudah ada yang ikut dalam kegiatan menanam kembali hutan, tetapi masih perlu upaya yang sungguh-sungguh serius untuk menumbuhkan kesadaran itu yang seluas-luasnya. 


KH. Solahuddin Wahid (Gus Sholah)
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger