Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Ramadhan: Sabar dan Kecerdasan emosi (2)

Ramadhan: Sabar dan Kecerdasan emosi (2)

Ciri-ciri pertama dari kecerdasan emosi ini sudah tercakup di dalam konsep sabar menurut Islam. Dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra dikatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah." (HR. Bukhari).

Dengan kata lain, orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan emosinya. Walaupun Rasulullah tidak secara khusus menyebutkan kata sabar di dalam hadith ini, tapi para ulama menjelaskan hadith ini dalam konteks kesabaran. Orang yang mampu mengendalikan emosinya adalah orang yang sabar. Ketika ia berhadapan dengan situasi yang mendorongnya merespon dengan emosi negatif, maka dalam situasi semacam itu ia tetap mampu memilih respons emosi yang positif.

Ini seperti yang digambarkan oleh Abdullah bin Mas'ud ketika ia berkata, "Seakan-akan aku memandang Rasulullah SAW menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudian ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, 'Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (HR. Bukhari) Orang-orang semacam ini adalah orang-orang yang kuat, orang-orang yang sabar, dan orang-orang yang memiliki kecerdasan emosi tinggi.

Ciri yang kedua dari kecerdasan emosi adalah ’kemampuan dalam menunda pemuasan.’ Orang yang cerdas emosinya, memiliki kemampuan untuk menunda pemuasan dirinya. Sementara orang yang tidak cerdas secara emosi, cenderung ingin memuaskan dirinya sesegera mungkin.

Orang-orang yang mau menunda pemuasan dirinya, melakukan hal itu karena mereka ingin mendapatkan kepuasan yang lebih sempurna di masa depan. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan cara menunda pemuasan yang ada saat ini. Oleh karenanya, orang yang cerdas secara emosi memiliki potensi lebih besar dalam meraih keberhasilan dalam hidup.

Mari kita ambil permisalan. Seorang anak memutuskan untuk belajar dan menahan keinginannya nonton TV demi meraih keberhasilan di masa depan. Nonton TV merupakan kepuasan yang segera. Namun dengan menahan diri, ia hendak meraih kepuasan yang lebih besar lagi di masa depan.

Seorang pekerja memutuskan untuk hidup hemat dan menabung, walaupun sebenarnya ia bisa menghabiskan uangnya untuk membeli makanan yang enak-enak atau membeli berbagai kesenangan lainnya. Itu semua merupakan pemuasan diri yang segera. Namun ia memutuskan untuk menundanya demi kepuasan yang lebih besar. Ia menabung dan setelah uangnya banyak ia menginvestasikannya, sehingga ia bisa meraih penghasilan lebih besar suatu saat nanti.

Sekumpulan anak SD di sebuah sekolah di Amerika pernah dites dengan sekeranjang permen marshmallow. Mereka boleh langsung mengambil permen yang lezat tersebut, tapi mereka hanya akan mendapatkan satu buah saja. Adapun yang mau menunggu sepuluh menit akan mendapatkan dua permen.

Sebagian anak langsung berhamburan ke depan dan mengambil satu permen. Mereka mencari pemuasan yang segera. Namun ada sebagian anak yang memilih untuk menunggu sepuluh menit. Mereka menunda pemuasan diri demi kepuasan yang lebih besar: mendapatkan dua buah permen. Nama-nama anak itu dicatat berikut pilihan mereka. Perkembangan hidup mereka diamati. Anak-anak yang mampu menunda pemuasan diri, dengan kata lain anak-anak yang memiliki kecerdasan emosi lebih, terbukti lebih sukses di sekolah dan di dunia kerja.

Perhatikan baik-baik ciri yang kedua di atas. Bukankah ini juga bagian dari konsep kesabaran. Kesabaran juga membimbing seseorang untuk menunda pemuasan diri yang segera demi kepuasan yang lebih besar.

Seorang Muslim diarahkan untuk bersabar dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketika melakukan itu, ia terhalang dari pemuasan diri yang segera. Tapi semua itu dilakukan demi mencapai kepuasan yang lebih besar dan lebih abadi. Ia dilarang memuaskan diri dengan meminum khamr, karena dengan itu ia akan meraih kepuasan yang lebih sempurna, yaitu kesehatan pikiran dan jiwa.

Ia dilarang memuaskan lidahnya dengan berkata dusta atau membicarakan orang lain, karena dengan itu ia akan mendapatkan kepuasan yang lebih besar berupa kepercayaan dan persahabatan yang tulus. Ia diperintah bersabar mengerjakan shalat dan puasa, karena dengan itu ia akan mendapat kepuasan yang sangat besar berupa ketenangan, kebersihan jiwa, kesehatan, dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Seorang Muslim memang diperintah bersabar dan menunda pemuasan dirinya, karena agama ini hendak membimbingnya pada kepuasan yang lebih indah dan lebih sempurna.

Ketika seorang berpuasa di bulan Ramadhan, ia terpaksa bersabar dan menunda pemuasan yang segera berupa makan di saat perutnya terasa lapar dan minum tatkala ia merasa haus. Namun, pada akhirnya ia akan mendapatkan kepuasan dan kegembiraan yang lebih tinggi dan agung. Rasulullah SAW bersabda, ”... Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan (farhatain), yaitu kegembiraan tatkala ia berbuka dan kegembiraan tatkala ia bertemu dengan Rabb-nya....” (Muttafaq ’alaihi).

Coba perhatikan bagaimana rasanya ketika kita berbuka puasa setelah seharian menahan haus dan lapar. Bukankah rasanya nikmat sekali? Bukankah kepuasannya jadi berlipat ganda? Belum lagi kepuasan jangka panjang lainnya yang akan ia raih: kesehatan tubuh, dan juga perjumpaan dengan Rabb-nya di surga kelak.

Berdasarkan penjelasan di atas kita bisa menyimpulkan bahwa puasa di bulan Ramadhan merupakan suatu sarana penting dalam melatih kesabaran. Melatih kesabaran secara otomatis juga berarti melatih kecerdasan emosi. Karena orang yang sabar adalah orang yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi.

Ketika berpuasa seorang Muslim diarahkan untuk bersabar dan menahan/mengendalikan emosinya. Ketika berpuasa ia juga dibimbing untuk menunda pemuasan dirinya. Ini semua juga merupakan ciri-ciri kecerdasan emosi. Melalui ibadah Ramadhan ini, seharusnya kaum Muslimin bisa membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih sabar. Seharusnya ia bisa keluar dari bulan Ramadhan sebagai pribadi yang lebih cerdas secara emosi.

Dengan demikian, melalui bulan Ramadhan seorang Muslim seharusnya mampu membentuk kepribadiannya menjadi seorang yang siap untuk meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam hidup. Karena Ramadhan mempersiapkan diri kita untuk menjadi pribadi yang berprestasi dan siap menghadapi tantangan dan kesulitan hidup. Semua itu akan bisa diraih sekiranya kita menjalaninya dengan pemahaman dan kesungguhan. Wallahu a’lam bis showab


Ust. Alwi Alatas
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger