Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , » Ummat Islam Berhak Mempertahankan Kesucian Agamanya (Tanggapan Atas Kasus Provokasi Ahmadiyah Kepada Kaum Muslimin)

Ummat Islam Berhak Mempertahankan Kesucian Agamanya (Tanggapan Atas Kasus Provokasi Ahmadiyah Kepada Kaum Muslimin)

Aliran sesat Ahmadiyah yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad Al Kadzab adalah Nabi setelah Nabi Muhammad SAW dan membawa Tadzkirah sebagai Kitab Suci setelah Kitab Suci Al Qur’an, jelas merupakan penodaan sekaligus penghinaan terhadap kesucian agama Islam. Karena itu umat Islam berhak mempertahankan kesucian agamanya dari penghinaan dan penodaan oleh Ahmadiyah.

Faktanya, ajaran Ahmadiyah sungguh-sungguh telah merusak dan menodai ajaran Agama Islam. Ini jelas tidak termasuk pengertian dari kebebasan beragama dan berkeyakinan dalam prinsip HAM maupun konstitusi. Umat Islam tentu mempunyai hak asasi untuk membela, memelihara, melindungi, mempertahankan kesucian ajaran agama dan keyakinannya dari segala bentuk rongrongan dan penodaan dari pihak lain.

Hanya ada dua pilihan bagi segelintir pengikut Ahmadiyah di Indonesia, yakni menjadi agama tersendiri di luar Islam atau dibubarkan oleh pemerintah. Kalau tidak mau dibubarkan, seharusnya para pengikut Ahmadiyah memproklamirkan dirinya menjadi agama baru diluar Islam, seperti agama Sikh di India, Druz di Lebanon, dan Baha’i di Iran. Apakah itu namanya Agama Ahmadiyah, Agama Mirza, atau apapun silahkan. Yang penting jangan penyebut dirinya Islam, sebab selama ini pengikut Ahmadiyah hanya menjadi duri dalam daging bagi umat Islam, karena tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir.

Kalau Ahmadiyah memiliki Nabi dan Kitab Suci sendiri yakni Mirza Ghulam Ahmad dan Tadzkirah, maka agama Sikh, Druz dan Baha’i juga memiliki Nabi dan Kitab Suci sendiri. Sampai sekarang kita tentu masih banyak yang tidak mengetahui mengapa Ahmadiyah yang jelas-jelas kafir karena tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir dan punya Kitab Suci sendiri, tetap menyebutnya sebagai sebagai Islam.

Seperti di Pakistan, Ahmadiyah diakui sebagai kelompok minoritas di luar Islam, sehingga mereka bebas melaksanakan ibadahnya. Mereka menamakan tempat ibadahnya sebagai Mosque Ahmadiyah. Mereka tetap dibolehkan adzan tetapi dilarang disuarakan keluar. Namun karena para pimpinan pusat Ahmadiyah merasa tidak nyaman terus berada di Pakistan, maka mereka ramai-ramai memindahkan kantor pusatnya di London, Inggris.

Dalam kasus Ahmadiyah ini, haruslah dipahami bahwasannya kebebasan Beragama dan Berkeyakinan memang merupakan bagian pokok dari prinsip HAM yang dijamin oleh konstitusi. Namun kebebasan beragama dan berkeyakinan sebagaimana kebebasan lainnya hanya dibatasi pada empat hal yaitu Ketertiban Umum, Kesusilaan, Agama dan Hukum (Pasal 28J ayat (2) UUD 1945 Jo. Pasal 70 UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM). 

Perkara ini tidak murni konflik agama, tetapi lebih dipicu oleh arogansi sekelompok Jamaah Ahmadiyah yang memprovokasi umat Islam, sehingga perlu ada evaluasi terhadap SKB No.3 tertanggal 4 Januari 2008 tentang larangan Ahmadiyah. Materi evaluasi tentu mencakup tingkat ketaatan Ahmadiyah terhadap SKB tersebut.

Maraknya penyerangan masyarakat terhadap Jamaah Ahmadiyah belakangan ini, sebagian besar disebabkan karena Jamaah Ahmadiyah sendirilah yang sering melanggar SKB tersebut dan melakukan provokasi (menantang ummat Islam). Harus diketahui bahwa Jamaah Ahmadiyah selama ini cenderung semakin militan dan berani menantang warga hingga membangkang SKB, tidak lain karena adanya provokasi berbagai LSM dan tokoh tertentu yang selalu mengeksploitasi kebebasan dalam beragama (Liberalisasi agama).

Karena itu tututan mundur kepada Menteri Agama dan Pencabutan SKB Tiga menteri yang akhir-akhir ini marak didengungkan sebagai biang kerok masalah Ahmadiyah, tidaklah proporsional dan tendensius. Bisa dibayangkan kalau SKB tidak ada, maka masyarakat semakin leluasa melakukan penyerangan, nanti yang di salahkan Menteri Agama dan aparat keamanan yang selama ini telah berusaha.

Apakah memang ada grand design dari pihak luar yang tidak menyukai Islam, agar Ahmadiyah terus menyebut dirinya sebagai Islam? Wallahu' alam. Namun kalau mereka diingatkan begitu, mereka malah menantang berdebat dengan mengatakan, "Mana yang lebih benar pemahamannya mengenai Al Qur’an".



Dr. Saharuddin Daming, SH., MH. (Komnas HAM) dan Abdul Fatah (Kepala Pusat Kerukunan Kementerian Agama)

Ingin tahu Sejarah Kelam Ahmadiyyah? download penjelasan dari Buya Yahya yang pernah meneliti Ahmadiyah hingga ke negeri asalnya di India.
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger