Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Topic Update »
Bagikan kepada teman!

Sambut Bulan Maulid 1448 H, Musholla RAPI Gelar Pekan Maulid


Kegiatan rutin tahunan Musholla RAPI kembali digelar mulai malam Jumat 13 Agustus 2026. Seperti bisanya awal bulan Rabiul Awwal, Musholla RAPI akan menyelenggarakan Pekan Maulid untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad. Agenda tahunan untuk tahun 1448 H ini akan dilaksanakan secara sederhana.

Kegiatan akan diawali dengan pembukaan Pekan Maulid pada malam Jumat 13 Agustus 2026 yaitu awal pembacaan Kitab Albarjany yang akan dilakukan hingga tanggal 12 Rabiul Awwal. Pembacaan Kitab Albarjany ini akan dilaksanakan selepas sholat isya kecuali pada tanggal 16 Agustus 2026 atau malam Tujuhbelasan. Menurut Khoirul sebagai salah satu panitia penyelenggara, khusus untuk malam Tujuhbelasan kegiatan pembacaan KItab Albarjanjy akan dilaksanakan selepas sholat maghrib mengingat warga biasanya sudah memiliki agenda untuk malam tirakatan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Menurutnya, diputuskan selepas maghrib agar tidak terjadi tupang tindih acara.

Acara yang diprediksi akan melibatkan ratusan peserta seperti pada tahun sebelumnya, akan dilaksanakan secara sederhana. Menurut Khoirul, untuk tahun ini kjonsepnya akan sama dengan tahun lalu. "Setelah dirembug bersama konco-konco, untuk tahun ini tidak ada pengajian gedhen. Acaranya seperti tahun lalu, mengingat kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja", imbuhnya.

Pada malam 12 Rabiul Awwal setelah pembacaan Albarjanjy direncanakan akan ada pengajian lesehan. Acara setiap malamnya akan disumbang makanan ringan secara bergiliran oleh jamaah putri. Ibu Inung sebagai koorinator jamaah putri, telah menerbitkan jadwal penyediaan makanan ringan untuk acara selama dua belas malam tersebut. Menurutnya, acara makan-makan sebagai bentuk kebersamaan tetap harus dilestarikan. "Makan-makan itu kan khasnya Musholla RAPI, jadi harus tetap ada. Untuk malam pertama hingga ke sebelas, ibu-ibu siap mengadakan. Untuk malam dua belas giliran bapak-bapak yang mengusahakan ya", paparnya disertai tawa.

Acara akan ditutup dengan Maulid Subuh, yang akan diselenggarakan pada 12 Rabiul Awal dan dilanjutkan sholat subuh berjamaah serta Sarapan Bareng.
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Rasul SAW Tetap Mengasihi Hamba Yang Maksiat

Rasul SAW adalah Sang Pembawa Tuntunan yang sempurna di dalam kesejahteraan. Sedemikian hebatnya tuntunan Sang Nabi SAW dan dahsyatnya tuntunan keluhuran yang beliau sampaikan, beliau menolak untuk mengajar setiap malam. Ketika para Sahabat meminta Rasul SAW untuk menjadikan majelis beliau setiap malam, beliau menolak. “Mukhofatan Assaaammmah ‘alaina”, takut para Sahabatnya itu bosan dengan tuntunan yang beliau sampaikan (demikian diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari).

Sedemikian hebatnya, orang yang paling sempurna akhlaknya, yang dengan melihat wajahnya tenang hati para Sahabat karena wajah yang paling sejuk dan paling ramah. Beliau masih tidak mau menyampaikan terlalu sering karena takut nanti mereka akan bosan. Betapa indahnya tuntunan Nabi Muhamamad SAW.

Dan beliau SAW mengajarkan banyak dari perbuatan – perbuatan yang sempurna di dalam menata para Sahabat dan kaum muslimin. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, Rasul SAW membagi – bagi hadiah kepada orang – orang yang banyak berbuat salah dan dosa, maka Sayyidina Sa’ad radiyallahu anhum “ya Rasulullah a’thirrajul innahu mukmin” (ya Rasulullah beri orang yang ini karena ia orang yang baik orang beriman orang shalih).

Saat Rasul SAW tidak memberi, maka Sa’ad RA berkata “ya Rasulullah innahu mukmin” (ini orang yang kau lewati justru orang yang baik), kau salah beri, yang diberi orang yang banyak menyimpang, justru yang diberi orang yang tidak banyak berbuat baik.

Maka Rasul SAW bersabda “ya Sa’ad inni athaithurrajul wa rajul ahab ilayya minhu, khashyathan an yakubbahullahu finnar..!” (Wahai Sa’ad, aku ini memberi orang itu dan aku lebih mencintai orang lainnya, aku memberi orang ini agar Allah tidak mencampakkannya di dalam api neraka, agar ia lebih baik lagi dari perbuatannya).

Oleh sebab itu ketika di dalam Surah ‘Abasa, Ibn Umi Maktum (yang buta) radiyallahu anhu menyela ucapan Sang Nabi SAW ketika berbicara kepada pembesar - pembesar quraisy. Rasul SAW sedang menjelaskan Islam dan mengajak mereka masuk Islam, Ibn Umi Maktum yang sudah masuk Islam menyela ucapan Sang Nabi SAW, maka Rasul SAW cemberut. Maka turunlah firman Allah “ ‘Abasa watawallaa, anjaahul a’ma” QS. ‘Abasa : 1-2 (ia (Muhammad) cemberut dan berpaling…) ketika datang seorang yang buta karena Allah SWT seakan – akan menegur sang Nabi SAW.

Ini bukan perbuatan salah pada diri beliau SAW, perbuatan Rasul SAW benar, karena tidak sepantasnya seorang muslim menyela ucapan seorang Rasulullah, dan Rasul SAW tidak mencela Ibn Umi Maktum dengan celaan dan ucapan tetapi Rasul SAW hanya cemberut saja sedangkan Rasul SAW tahu Ibn Umi Maktum buta (tidak melihat) maka cemberut beliau SAW tak akan menyinggung perasaannya.

Demikian indahnya budi pekerti Sang Nabi SAW untuk menunjukkan kepada para Sahabat yang lain bahwa menyela ucapan Rasulullah adalah hal salah, hingga beliau cemberut tapi beliau juga tidak mau menyakiti perasaan Ibn Umi Maktum yang buta, maka Rasul tidak mengucap apa – apa dan cemberutnya tidak dilihat oleh Ibn Umi Maktum.

Lalu bagaimana dengan teguran ayat itu?

Teguran ayat tersebut ditujukan kepada pembesar – pembesar quraisy bahwa Allah lebih menghargai iman seorang buta yang miskin daripada pembesar – pembesar quraisy yang semakin sombong dan kufur.



Habib Munzir al Musawwa
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Puasa 9 dan 10 Muharram

Asyura berasal dari kata ‘asyara, artinya bilangan sepuluh. Secara istilahi Puasa ‘Asyura adalah puasa yang dikerjakan pada tanggal 10 Muharram pada Kalender Islam Hijriyah. Hukum puasa Asyura adalah sunnah, maksudnya sangat dianjurkan dan berpahala bagi yang menerjakannya namun tidak berdosa bagi yang tidak mengerjakannya.


Hadits dari Siti Aisyah RA yang diriwayatkan Imam Bukhori:


كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ


Rasulullah SAW memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka. (HR Bukhari)


Diriwayatkan bahwa puasa ‘Asyura sudah dilakukan oleh masyarakat Quraisy Makkah pada masa jahiliyyah. Rasulullah SAW juga melakukannya ketika masih berada di Makkah maupun seteleh berada di Madinah.


Diriwayatkan juga bahwa ketika Nabi SAW datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Nabi Musa AS berpuasa pada hari ini. Rasulullah bersabda,


فَأَناَ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ


Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya. (HR Bukhari)


Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah pun sempat diprotes oleh umat Islam di Madinah: “Ya Rasulallah, hari itu (’Asyura) diagungkan oleh orang Yahudi.” Maksudnya, kenapa umat Islam mengerjakan sesuatu persis seperti yang dilakukan oleh umat Yahudi? 

Beliau lalu bersabda: “Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9.” Setelah itu, tidak hanya disunnahkan puasa pada tanggal 10 tapi juga tanggal 9 Muharram. Sayang, sebelum datang tahun berikutnya Rasulullah telah wafat.


Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan keinginan beliau untuk berpuasa pada tanggal 9 dimaksudkan agar tidak persis seperti yang dilakukan oleh umat pada masa Nabi sebelumya, yakni Yahudi dan Nashrani. (Fathul Bari 4: 245)


Sebagian ulama memberikan nama tersendiri untuk puasa sunnah di tanggal 9 Muharam ini, yakni puasa Tasu’a, dari kata tis’a artinya bilangan sembilan. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa puasa tanggal sembilan ini adalah bagian dari kesunnahan puasa asyura.



KH. A. Khoirul Anam
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Download File Audio

Sholat

Adab

Keluarga dan Pernikahan

 
Musholla RAPI, Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011 - Musholla RAPI Online
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger