Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Topic Update »
Bagikan kepada teman!

Karang Taruna dan GP Ansor Siap Semprotkan Eco Enzym ke Udara Desa Bae


Kasus Covid 19 yang meningkat tajam di Kudus membuat berbagai pihak berusaha untuk meminimalisir peredaran virus yang menjadi pandemi saat ini. Tak terkecuali para pemuda di Desa Bae yang tergabung daam Karang Taruna Tunjung Seto dan GP Ansor.

Bekerjasama dengan pemerintah desa Bae, Karang Taruna dan GP Ansor Bae akan melakukan penyemperotan Eco Enzym ke udara di wilayah Desa Bae.

Menurut salah satu koordinator, Ansori, menyatakan kegiatan penyemperotan Eco Enzym tersebut dalam rangka menyambut Hari Lingkungan Hidup sekaligus usaha untuk membuat lingkungan menjadi lebih sehat, terutama di saat pandemic Covid seperti ini.

Menurutnya, Jika setiap hari di rumah kita masing-masing bisa semprotkan larutan Eco enzyme ke udara dengan diencerkan perbandingan 1:1000, dapat mengurangi semua polutan di atmosfer kita. Salah satunya Nitrogen oksida(N2O) yang mempunyai efek pemanasan global 296 kali lebih besar daripada karbon dioksida ( CO2 ) dan juga beberapa polutan lainnya seperti sulfur dioksida ( SO2 ),  nitrogen monoksida(NO), Nitrogen Dioksida(NO2), Amonia(NH3), hidrogen sulfida (H2S).

Penyemprotan Eco Enzym tersebut akan dilaksanakan serentak pada 3 Juni 2021 setelah sholat isya. Penyemperotan akan dilakukan di setiap gang di Desa Bae serta beberapa titik tertentu. Menurut Ansori, penyemprotan Eco Enzym ini juga bertujuan untuk membunuh bakteri-bakteri di udara serta sebagai anti polusi.


komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Makna Idul Fitri

Idul Fitri terdiri dari dua kata. Pertama, kata ‘id yang dalam bahasa Arab bermakna `kembali’, dari asal kata ‘ada. Ini menunjukkan bahwa Hari Raya Idul Fitri ini selalu berulang dan kembali datang setiap tahun. Ada juga yang mengatakan diambil dari kata ‘adah yang berarti kebiasaan, yang bermakna bahwa umat Islam sudah biasa pada tanggal 1 Syawal selalu merayakannya (Ibnu Mandlur, Lisaanul Arab).

Dalam Alquran diceritakan, ketika para pengikut Nabi Isa tersesat, mereka pernah berniat mengadakan ‘id (hari raya atau pesta) dan meminta kepada Nabi Isa agar Allah SWT menurunkan hidangan mewah dari langit (lihat QS Al Maidah 112-114). Mungkin sejak masa itulah budaya hari raya sangat identik dengan makan-makan dan minum-minum yang serba mewah. Dan ternyata Allah SWT pun mengkabulkan permintaan mereka lalu menurunkan makanan.(QS Al-Maidah: 115).

Jadi, tidak salah dalam pesta Hari Raya Idul Fitri masa sekarang juga dirayakan dengan menghidangkan makanan dan minuman mewah yang lain dari hari-hari biasa. Dalam hari raya tak ada larangan menyediakan makanan, minuman, dan pakaian baru selama tidak berlebihan dan tidak melanggar larangan. Apalagi bila disediakan untuk yang membutuhkan.

Abdur Rahman Al Midani dalam bukunya Ash-Shiyam Wa Ramadhân Fil Kitab Was Sunnah (Damaskus), menjelaskan beberapa etika merayakan Idul Fitri. Di antaranya di situ tertulis bahwa untuk merayakan Idul Fitri umat Islam perlu makan secukupnya sebelum berangka ke tempat shalat Id, memakai pakaian yang paling bagus, saling mengucapkan selamat dan doa semoga Allah SWT menerima puasanya, dan memperbanyak bacaan takbir. Kata yang kedua adalah Fitri. Fitri atau fitrah dalam bahasa Arab berasal dari kata fathara yang berarti membedah atau membelah, bila dihubungkan dengan puasa maka ia mengandung makna `berbuka puasa’

(ifthaar). Kembali kepada fitrah ada kalanya ditafsirkan kembali kepada keadaan normal, kehidupan manusia yang memenuhi kehidupan jasmani dan ruhaninya secara seimbang. Sementara kata fithrah sendiri bermakna `yang mula-mula diciptakan Allah SWT` (Dawam Raharjo, Ensiklopedi Alquran: hlm 40, 2002). Berkaitan dengan fitrah manusia, Allah SWT berfirman dalam Alquran: “Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu?.

Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (QS. Al A`râf: 172).” Ayat ini menjelaskan bahwa seluruh manusia pada firtahnya mempunya ikatan primordial yang berupa pengakuan terhadap ketuhanan Allah SWT. Dalam hadis, Rasulallah SAW juga mempertegas dengan sabdanya: “Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah: kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi (HR. Bukhari).” Hadits ini memperjelas kesaksian atau pengakuan seluruh manusia yang disebutkan Alquran di atas.

Kendati dalam literatur-literatur Islam klasik, Idul Fitri disebut sebagai Idul Ashgar (hari raya yang kecil) sementara Idul Adhha adalah Idul Akbar (hari raya yang besar), umat Islam di Tanah Air selalu terlihat lebih semarak merayakan Idul Fitri dibandingkan hari-hari besar lainnya, bahkan hari raya Idul Adha sekalipun. Momen Idul Fitri dirayakan dengan aneka ragam acara, dimulai dengan shalat Id berjamaah di lapangan terbuka hingga halal bi halal antarkeluarga yang kadang memanjang hingga akhir bulan Syawal.

Dalam terminologi Islam, Idul Fitri secara sederhana adalah hari raya yang datang berulang kali setiap tanggal 1 Syawal yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Artinya, kata fitri disitu diartikan `berbuka atau berhenti puasa` yang identik dengan makan-makan dan minum-minum. Maka tidak salah apabila Idul Fitri pun disambut dengan pesta makan-makan dan minum-minum mewah yang tak jarang terkesan diada-adakan oleh sebagian keluarga.

Terminologi Idul Fitri seperti ini harus dijauhi dan dibenahi, sebab selain kurang mengekspresikan makna Idul Fitri sendiri, juga terdapat makna yang lebih mendalam lagi. Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai `kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci` sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang Muslim yang selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.

Idul Fitri berarti kembali pada naluri kemanusian yang murni, kembali pada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari seluruh praktik busuk yang bertentangan dengan jiwa manusia yang masih suci. Kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak islami. Inilah makna Idul Fitri yang asli.

Adalah kesalahan besar apabila Idul Fitri dimaknai dengan `perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum` sehingga yang tadinya dilarang makan siang, setelah hadirnya Idul Fitri akan balas dendam., atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan. Kemudian, karena Ramadhan sudah usai maka kemaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan. Ringkasnya, kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena umat yang saleh musiman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrian dan nilai ketakwaan.


Ust. Nur Faizin Muhith, Ponpes Langitan

komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

UPZIS Lazis NU Ranting Bae Salurkan Santunan Ke Yatama, Dhuafa, dan Guru Ngaji


Jelang Idul Fitri 1442 H, NU Care Laziz NU UPZIS Ranting Desa Bae berbagi kebahagiaan dengan sejumlah anak yatim piatu, para dhuafa, dan guru ngaji. Pengurus UPZIS Ranting Desa Bae menyelenggarakan santunan guna mendistribusikan zakat, infaq, dan shodaqoh dari warga NU khususnya di daerah Bae dan Kabupaten Kudus yang telah mempercayakan penyalurannya pada Lazis NU.

Melalui acara Ramadhan Berbagi, UPZIS Ranting Desa Bae berhasil menyalurkan zakat, infaq, dan shodaqoh kepada sejumlah yatama, dhuafa, dan guru-guru ngaji di lingkungan desa Bae. Acara penyerahan santunan tersebut berlangsung di Masjid Tarbiyatul MUttaqin dukuh Karangdowo Bae pada 27 Ramadhan 1442 H bertepatan dengan hari Ahad 9 Mei 2021.

Raut Bahagia terpancar dari para yatama, dhuafa, dan guru ngaji yang tahun ini mendapatkan santunan. Acara tersebut selain dihadiri oleh para pengurus dan relawan Lazis NU juga dihadiri tokoh-tokoh NU Ranting Bae beserta perwakilan dari badan-badan otonom NU Bae yang ikut membantu jalannya acara. Acara tersebut juga diselenggarakan dengan protocol Kesehatan selama pandemic Covid 19 mewabah.

Para penerima santunan berharap acara seperti ini dapat rutin terselenggara setiap tahun. Apalagi menjelang Idul Fitri dimana banyak kebutuhan yang diperlukan. Acara ini juga diharapkan dapat membantu perekonomian dhuafa serta menyenangkan para yatama menyambut Idul Fitri.

NU Care Lazis NU UPZIS Ranting Desa Bae terus membuka kesempatan bagi siapa saja untuk menyalurkan zakat, infaq, dan shodaqoh melalui rekening Bank Muamalat nomor 5060013498 atas nama UPZIS LazisNU Ranting Bae.


Sumber foto: Ansori

komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Mbah Sya’roni Ahmadi Kudus Wafat


Innalillahi wa innailaihi rajiun, berita duka menyelimuti Kabupaten Kudus. Hari ini 27 April 2021 atau bertepatan dengan 15 Ramadhan 1442 H, ulama kharismatik Kudus, Romo KH. Sya’roni Ahmadi wafat. Ulama yang dikenal dengan keluasan dan keluwesan ilmunya tersebut dikabarkan wafat sekitar pukul 09.00 WIB pagi ini.

Beliau wafat setelah sempat dirawat pada tanggal 26 April 2021 di Rumah Sakit Islam Kudus. Ulama yang sering disapa Mbah Sya’roni oleh para santrinya tersebut wafat pada usia 89 tahun.

Mbah Sya’roni dikenal luas oleh masyarakat melalui pengajian tafsir qur’annya. Beliau sering membahas kitab-kitab tafsir seperti Jalalain dan Ash Showwy. Selain itu beliau juga membuka pengajian untuk kitab-kitab lainnya. Biasanya, Ketika Ramadhan tiba beliau rutin mengisi tafsir Jalalain di Masjid Al Aqsha Menara Kudus.

Menurut kabar yang kami peroleh, pemakaman akan dilakukan siang ini, 27 April 2021 (15 Ramadhan 1442H). Beliau akan dimakamkan di Komplek Pemakaman Yanbu’ul Qur’an sekomplek dengan makam guru beliau, Romo KH. Arwani Amin.

Kabar wafatnya Mbah Sya’roni mengejutkan banyak pihak. Setahun terakhir ini apalagi semenjak pandemi, beliau memang meliburkan pengajian-pengajiannya. Kenangan akan kebaikan dan ilmu Mbah Sya’roni tentu melekat kuat di anatra kami para jamaah Musholla RAPI. Apalagi sering kali kami mengambil rekaman pengajian beliau dan membagikannya untuk jamaah lainnya.

komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Arti Kata Ramadhan


Ramadhan, dalam Bahasa Arab terdiri dari lima (5) huruf yaitu:

1. Ra’ yakni Ridhwanuh (Ridha nya Allah SWT )

Ridho Allah akan sepenuhnya ditampung oleh orang yang berpuasa secara lahir maupun bathin, syariat, thoriqoh maupun hakikat. Maka, di bulan Ramadhan ini melimpahlah Ridha Allah

2. Mim yakni Mahaabatuhu (Cintanya Allah)

Cintanya Allah yang turun dengan sepenuhnya bagi orang yang berpuasa. Maka, sudah seharusnya kita menyambut cinta itu dengan menahan diri dari rasa cinta pada selain Allah

3. Dhad yakni Dhomanuhu (Jaminan Allah SWT)

Jaminan Allah kepada siapa pun di bulan ini yang berdo’a, beribadah, bermunajat, dijamin diterima, karena semua pintu syurga dibuka oleh Allah

4.  Alif yakni Ulfatuhu (Kasih Sayang Allah SWT)

Kasih sayang Allah yang mencurah pada para hamba-Nya yang berpuasa.

5.  Nun yakni Nuuruhu (Cahaya Allah SWT)

Cahaya Allah memancar penuh di bulan suci dengan ditandai turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan 30 juz di malam Lailatul Qadar,  yang dinilai lebih baik ketimbang seribu bulan cahaya. 

Allah SWT berfirman dalam Hadist Qudsy, "Setiap amal manusia kembali padanya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu hanya untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya sendiri”

Rasulullah SAW bersabda, “Syurga senantiasa berias diri dari tahun ke tahun ketika memasuki bulan suci Ramadhan. 

Bila malam pertama tiba dari bulan Ramadhan, menghembuslah angin dari bawah Arasy, yang disebut dengan angin Mutsirah. 

Daun-daun syurga saling bertepuk, dahan-dahan dipangkas, lalu terdengarlah lonceng berbunyi yang tak pernah terdengar oleh orang yang mendengar karena indahnya. 

Sedangkan bidadari-bidadari bersolek hingga mereka berada di bawah kemuliaan syurga. 

Mereka lalu memanggil-manggil: Adakah yang melamar kepada Allah lalu mengawini mereka ?

Lalu mereka bertanya kepada Malaikat Ridhwa, “Malam apakah ini?”

Lalu Malaikat Ridhwan menjawab, “Wahai bidadari-bidadari kebajikan, inilah malam dari bulan Ramadhan, pintu-pintu syurga dibuka bagi orang-orang yang berpuasa dari kalangan umat Muhammad SAW “

Lantas Allah SWT memerintahkan, 

“Wahai Ridhwan bukalah semua pintu syurga!

Wahai Malik, tutuplah semua pintu neraka Jahim dari orang-orang yang berpuasa dari umatnya Muhammad SAW

Wahai Jibril, turunlah ke muka bumi, belenggulah kedurhakaan syetan-syetan dengan berbagai belenggu. Lalu buanglah mereka ke tengah lautan hingga tidak bisa merusak lagi atas ummat Kekasih-Ku Muhammad SAW yang sedang berpuasa”

Nabi SAW melanjutkan, “Allah berfirman, setiap malam di bulan Ramadhan tiga kali:

Adakah orang yang memohon?, Aku akan memberikan permintaannya

Adakah orang yg taubat? , Aku menerima taubatnya

Adakah orang yg meminta ampunan? , maka Aku akan mengampuninya. "



Ngaji Kitab Ghunyah at-Thalibin asSyekh  Abdul Qadir al-Jilany bersama Sayyid Machmud BSA

komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Ramadhan, Bank Sampah Tunjung Seto Bagi THR 60 Juta Lebih


Setiap bulan Ramadhan, ada rejeki tersendiri bagi para penabung sampah yang rutin menabung sampah di Bank Sampah Tunjung Seto. Pasalnya, Bank Sampah Tunjung Seto selalu bagi-bagi THR kepada para nasabahnya menjelang perayaan Idul Fitri seusai bulan Ramadhan. THR tersebut merupakan hasil simpanan tabungan sampah para nasabah selama satu tahun dari Ramadhan 1441 H hingga Ramadhan 1442 H.

Ketua Karang Taruna Tunjung Seto, Ansori, mengatakan bahwa  sama seperti tahun lalu, tahun ini hasil tabungan para nasabah selama satu tahun akan dibagikan sebelum lebaran tiba. Jika tahun lalu yang merupakan awal pandemic Covid 19 setiap nasabah diminta untuk mengambil di masing-masing coordinator setiap dukuh, maka pada tahun 1442 H ini, para nasabah nantinya akan mengambil THR sampahnya di Aula Balai Desa Bae.

Namun menurut Ansori, pengambilan THR Bank Sampah tersebut akan dibagi kedalam 6 waktu, sesuai dengan masing-masing posko tempat menabung para nasabah. Hal ini untuk menghindari tumpukan massa yang akanmengambil THR sampahnya. Selain itu, para nasabah yang akan mencairkan THR nya juga wajib memenuhi protocol kesehatan pandemic Covid 19.

Protokol kesehatan Covid 19 akan diterapkan bagi para nasabah maupun petugas dari Bank Sampah Tunjung Seto. Setiap nasabah yang akan mengambil hasil tabungannya diwajibkan menggunakan masker. Selain itu, nasabah yang akan megambil THR nya juga diwajibkan menggunakan hand sanitizer atau mencuci tangan di tempat yang telah disediakan petugas. 

THR bagi para nasabah Bank Sampah Tunjung Seto dapat diambil pada tanggal 25 April 2021 hari Ahad mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Tahun ini, Bank Sampah Tunjung Seto Desa Bae akan menggelontorkan dana sebesar Rp 63.361.000,00 untuk pembayaran THR bagi ratusan nasabahnya.

Sementara itu menurut salah satu petugas Pengolahan Data Bank Sampah Tunjung Seto, jenis sampah yang paling banyak ditabung oleh nasabah setahun belakangan adalah sampah kardus. Hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sampah jenis kardus memiliki persentase 42% dari seluruh sampah yang ditabung oleh nasabah, disusul sampah jenis plastic atom dan plastic kemasan makanan. Sedangkan untuk tabungan jelantah minyak rumah tangga masih dikisaran 2%.

komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Membaca Niat Puasa Setiap Selesai Tarawih

Setiap selesai shalat Tarawih, imam-imam shalat yang "ber-Madzhab" mengajak makmum untuk berniat puasa secara bersama-sama. Karena diulang-ulang terus tiap malam, sampai akhirnya kita hafal betul lafadznya tanpa harus menghafal :

نويت صوْم غد عن ادء فرض رمضان هذه السنة لله تعال 

“Nawaitush shauma ghadin ‘an a'da’i fardhi syahri Ramadana hadzis sanah lillahi ta’ala”.

"Aku berniat puasa esok hari menunaikan kewajiban Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala".

Dalam bahasa Jawa : “Niat ingsun poso ing dino sesok saking kang nekani fardhune wulan Ramadan ing tahun iki kerono Allah”.

Lafal niat ini tercantum di beberapa sumber primer (utama) madzhab Syafi’i, diantaranya kitab “Fathul Qarib” karya imam Muhammad bin Qasim al Ghazzi Asy Syafi’i (w 918 H).

Kenapa niat harus di ulang-ulang tiap malam ? Kenapa tidak cukup sekali saja di awal Ramadhan ?

Niat puasa Ramadan harus ada atau diperbaharui setiap hari sebelum terbitnya fajar shadiq, tidak cukup niat puasa di hari pertama saja untuk satu bulan. Ini merupakan madzhab dari Jumhur ulama’ (mayoritas ulama’), pendapat tentang waktu niatnya. Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan para pengikutnya menyatakan bahwa niat puasa harus dilakukan di malam hari, yaitu antara terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar. Jika niat dilaksanakan di luar waktu tersebut, maka hukumnya tidak sah. Akibatnya, puasa pun juga tidak sah.

Mereka berpegangan pada hadits riwayat Hafshah ra, bahwa Nabi bersabda: 

من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له 

Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya. (Hr Baihaqi, Daruquthni)

Hadits di atas secara jelas menegaskan ketidakabsahan puasa bagi orang yg tidak berniat di malam hari, lebih lanjut imam an Nawawi ( 676 H) berkata, “Madzhab kami (Syafi’iyyah), sesungguhnya setiap hari membutuhkan niat, baik niat untuk puasa Ramadhan, qadha’, kaffarat (tebusan), nadzar, dan tathawu’. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Ishaq bin Rahawaih, Dawud, Ibnul Mundzir dan Jumhur ulama’ dari Imam Ahmad dan Ishaq ada dua riwayat, namun yang paling shahih seperti (pendapat) madzhab kami.”

Jumhur menyatakan, bahwa puasa Ramadhan merupakan jenis ibadah tersendiri di tiap harinya. Tidak saling berkaitan antara sebagian dengan sebagian yang lain. Sebagian puasa tidak akan rusak dengan sebagian yang lain.

Adapun imam Malik (guru imam Safe'i), menyelisihi pendapat jumhur, dimana beliau memandang cukup untuk niat diwujudkan di hari pertama saja. Dalam mazhab Malikiyah kita diperbolehkan menggunakan niat puasa sebulan penuh milik Madzab Maliki dimana pendapat itu didasarkan pada penilaian bahwa puasa sebulan Ramadhan itu adalah sebuah kesatuan, tidak terpecah-pecah, sehingga layak disebut sebagai satu bentuk ibadah, dalam artian antara malam hari yang boleh makan minum dengan siang hari yang harus berpuasa, sudah merupakan suatau gaungan ibadah puasa. Dan juga kebiasaan dari manusia kalau manusia itu tempat salah dan lupa. Kadang ada yang bertanya kita lupa niat bagaimana hukumnya?

Dan untuk menghindari dari permasalahan tersebut maka Insya Allah saya akan memberitahu cara agar supaya kita tercegah dari kelupaan dalam niat, dan untuk diterima atau tidaknya itu hanyalah urusan dari Allah Azza Wa Jalla. Kita menggunakan niat beliau semata-mata hanya untuk mencegah kelupaan atau jika kita lupa niat puasa pada malam harinya maka puasa kita masih sah. Niat Imam Malik tersebut hanya untuk menutupi apabila kita lupa niat pada malam harinya.

Saya pribadi ikut pendapat jumhur ulama’, terkhusus Imam Syafi’i. Karena secara umum, pendapat jumhur lebih dekat kepada kebenaran serta lebih selamat. Bahkan hampir-hampir tidak didapatkan satupun pendapat jumhur yang lemah.

Disamping itu, ada hikmah besar yang dapat kita petik dalam “mentabyit niat” (mewujudkan niat di malam hari), agar jika seandainya seorang bangun kesiangan sampai masuk waktu subuh, maka puasanya tetap sah walaupun tanpa makan sahur karena dia telah memiliki niat di malam harinya. Lain hal nya seorang yang belum mewujudkannya di malam hari, maka puasanya tidak sah.

Sebagaimana ibada-ibadah lain, niat menjadi rukun yang mesti dilakukan dalam puasa Ramadhan. Niat adalah iktikad tanpa ragu untuk melaksanakan sebuah perbuatan. Kata kuncinya adalah adanya maksud secara sengaja bahwa setelah terbit fajar ia akan menunaikan puasa. Imam Syafi’I sendiri berpendapat bahwa makan sahur tidak dgn sendirinya dapat menggantikan kedudukan niat, kecuali apabila terbersit (khathara) dalam hatinya maksud utk berpuasa Meski niat adalah urusan hati, melafalkannya (talaffudh) akan membantu seseorang untuk menegaskan niat tersebut. Talaffudh berguna dalam memantapkan iktikad karena niat terekspresi dalam wujud yang kongkret.

Itulah mengapa sebab setiap selesai shalat Terawih, imam di kampung senantiasa mengajak makmum untuk berniat puasa secara bersama-sama dan diulang-ulang terus tiap malam, sampai akhirnya kita semua bisa hafal.

 

Ngaji Kitab Fathul Qarib bersama Sayyid Machmud BSA

komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Download File Audio

Populer Sepekan

Pojok Doa

Doa Ramadhan

الشهد ان لا اله الّا الله أستغفر الله أسألك الجنّة وأعوذ بك من النّار
 
Ashadu alla ilaaha illallaah, Astaghfirullah, As a luka Ridhoka Wal Jannah, Wa a'udzubika Minannar (Min sakhotika Wannar)

Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Saya memohon ampun kepada Allah, saya meminta surga dan berlindung kepada Allah dari siksa neraka

اللهمّ إنّك عفوّ تحبّ العفو فاعف عنّى

Allahumma Innaka Afuwwun (Karim), Tuhibbul 'Afwa Fa'fu Anni (Ya Kariim) 3x

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, maka berikanlah Maaf kepada saya
 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger