Adv 1
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Topic Update »
Bagikan kepada teman!

Rasulullah Membalas Sindiran Dengan Senyuman


Rasul SAW bahkan sering membalas sindiran orang dengan senyuman. Misalnya ketika seorang Badui yang ikut mendengarkan taushiyah beliau tiba-tiba nyeletuk, “Ya Rasul, orang itu pasti orang Quraisy atau Anshar, karena mereka gemar bercocok tanam, sedang kami tidak.”

Saat itu Rasul tengah menceritakan dialog antara seorang penghuni surga dan Allah SWT yang mohon agar diizinkan bercocok tanam di surga. Allah SWT mengingatkan bahwa semua yang diinginkannya sudah tersedia di surga.

Karena sejak di dunia punya hobi bercocok tanam, iapun lalu mengambil beberapa biji-bijian, kemudian ia tanam. Tak lama kemudian biji itu tumbuh menjadi pohon hingga setinggi gunung, berbuah, lalu dipanenkan. Lalu Allah SWT berfirman. “Itu tidak akan membuatmu kenyang, ambillah yang lain.”

Ketika itulah si Badui menyeletuk, “Pasti itu orang Quraisy atau Anshar. Mereka gemar bercocok tanam, kami tidak.”

Mendengar itu Rasul tersenyum, sama sekali tidak marah. Padahal, beliau orang Quraisy juga.

Suatu saat justru Rasulullah yang bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian mengapa aku tertawa?.”

“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,” jawab para sahabat.

Maka Rasul pun menceritakan dialog antara seorang hamba dan Allah SWT. Orang itu berkata, “Aku tidak mengizinkan saksi terhadap diriku kecuali aku sendiri.”

Lalu Allah SWT menjawab, “Baiklah, cukup kamu sendiri yang menjadi saksi terhadap dirimu, dan malaikat mencatat sebagai saksi.”

Kemudian mulut orang itu dibungkam supaya diam, sementara kepada anggota tubuhnya diperintahkan untuk bicara. Anggota tubuh itupun menyampaikan kesaksian masing-masing. Lalu orang itu dipersilahkan mempertimbangkan kesaksian anggota-anggota tubuhnya.

Tapi orang itu malah membentak, “Pergi kamu, celakalah kamu!” Dulu aku selalu berusaha, berjuang, dan menjaga kamu baik-baik,” katanya.

Rasulpun tertawa melihat orang yang telah berbuat dosa itu mengira anggota tubuhnya akan membela dan menyelamatkannya. Dia mengira, anggota tubuh itu dapat menyelamatkannya dari api neraka. Tapi ternyata anggota tubuh itu menjadi saksi yang merugikan, karena memberikan kesaksian yang sebenarnya (HR Anas bin Malik).

Hal itu mengingatkan kita pada ayat 65 surah Yasin, yang maknanya, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka, dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”




Al Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Al Aydrus
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Setengah Abad Nurussalam Besito Hadirkan Pawai Santri dan Pengajian Umum


Tak terasa Yayasan Nurussalam Besito yang menaungi Lembaga Pendidikan Nurussalam dibawah Lembaga Ma’arif NU telah berumur setengah abad. Yayasan yang pada tahun 1984 mulai membangun Madrasah Aliyah Nurussalam di Jl. Raya No. 5 Besito tersebut telah menghasilkan banyak lulusan santri yang tersebar di berbagai profesi, termasuk menduduki beberapa posisi penting dalam pengabdiannya untuk agama, bangsa, dan negara, khususnya di Kabupaten Kudus.

MA Nurussalam sendiri berdiri pada tahun 1984 (1404 H) yang pada tanggal 29 Juli 1984 (16 Syawal 1404) memilih drs. Aminuddin Mawardi sebagai kepala seklah pertama yang kemudian dilanjutkan oleh Bapak Syakur Abdullah di periode selanjutnya.

Oleh karena itu, MA Nurussalam sebagai ujung tombak dari Yayasan Nurussalam pun selalu dilibatkan dalam berbagai acara termasuk peringatan setengah abad Yayasan Nurussalam ini. Salah satu acara yang dilaksanakan untuk memeriahkan setengah abad Nurussalam adalah pawai santri yang dimotori oleh MA Nurussalam.


Pawai Santri yang berlangsung pada hari Ahad 17 Februari 2019 dilaksanakan di sepanjang Jl. Gebog Besito. Tidak hanya melibatkan para santri/ siswa dari Yayasan Nurussalam saja, tetapi dari Lembaga pendidikan NU lainnya di Kecamatan Gebog juga dilibatkan. Salah satunya adalah MI NU Tsamrotul Wathon yang menampilkan Marching Band.

Pawai berlangsung tertib dengan pengaalan aparat kepolisian dan juga melibatkan Banser Kecamatan Gebog. Para peserta pawai menampilkan berbagai busana. Ada yang berbusana khas Kudus, sementara itu para siswi MA Nurussalam ada juga yang memakai pakaian adat Kudus lengkap dengan topi khasnya. Ada juga santri yang menggunakan busana dari bahan Koran bekas yang dibentuk seperti sayap. Pawai santri tersebut dinikmati oleh para penduduk di sekitar Jalan Besito – Gebog dan menjadi tontonan menarik. Pesan yang dibawa oleh para santri dalam pawai tersebut adalah bagaimana menghargai jasa para pahlawan khususnya para ulama NU.

Pawai berlangsung dari pagi hingga siang hari jelang dhuhur. Mengambil start dan finish di MA NU Nurussalam, pawai tersebut setidaknya melibatkan ratusan santri di Kecamatan Gebog.


Menjadi Puncak Acara Peringatan Setengah Abad Nurussalam adalah Pengajian Umum. Pengajian umum yang juga dimaksudkan untuk Haul Syaikh Abdul Qadir Al Jilany tersebut akan dihadiri oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya dan Habib Ali Zainal Abidin beserta Az Zahir Pekalongan.

Acara yang akan berlangsung Senin 18 Februari 2018 mulai ba’da Isya di Lapangan Desa Besito, Gebog ini juga akan menghadirkan KH. Abdullah Sa’ad dan Prof. DR. Ahmad Rofiq dari MUI Jawa Tengah.




Sumber foto: Pak Misbahul Munir
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Ketika Rasulullah Tersenyum

Saat menikahkan putri bungsunya, Sayyidah Fatimah Az Zahrah, dengan sahabat Ali bin Abi Thalib, Baginda Nabi Muhammad SAW tersenyum lebar. Itu merupakan peristiwa yang penuh kebahagiaan.


Hal serupa juga diperlihatkan Rasulullah SAW pada peristiwa Fathu Makkah, pembebasan Makkah, karena hari itu merupakan hari kemenangan besar bagi kaum muslimin. “Hari itu adalah hari yang penuh dengan senyum panjang yang terukir dari bibir Rasulullah SAW serta bibir seluruh kaum muslimin” tulis Ibnu Hisyam dalam kita As Sirah Nabawiyyah.



Rasulullah SAW adalah pribadi yang lembut dan penuh senyum. Namun, beliau tidak memberi senyum kepada sembarang orang. Demikian istimewanya senyum Rasul sampai-sampai Abu Bakar dan Umar, dua sahabat utama beliau, sering terperangah dan memperhatikan arti senyum tersebut.



Misalnya mereka heran melihat Rasul tertawa saat berada di Muzdalifah di suatu akhir malam. “Sesungguhnya Tuan tidak biasa tertawa pada saat seperti ini,” kata Umar. “Apa yang menyebabkan Tuan tertawa?” Pada saat seperti itu, akhir malam, Nabi biasanya berdoa dengan khusyu’.



Menyadari senyuman beliau tidak sembarangan, bahkan mengandung makna tertentu, Umar berharap, “Semoga Allah menjadikan Tuan tertawa sepanjang umur”.



Atas pertanyaan diatas, Rasul menjawab, “Ketika iblis mengetahui bahwa Allah mengabulkan doaku dan mengampuni umatku, dia memungut pasir dan melemparkannya kekepalanya, sambil berseru, ‘celaka aku, binasa aku!’ Melihat hal itu aku tertawa.” (HR Ibnu Majah)



Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menulis, apabila Rasul dipanggil, beliau selalu menjawab, “Labbaik”. Ini menunjukkan betapa beliau sangat rendah hati. Begitu pula, Rasul belum pernah menolak seseorang dengan ucapan “tidak” bila diminta sesuatu. Bahkan ketika tak punya apa-apa, beliau tidak pernah menolak permintaan seseorang. “Aku tidak mempunyai apa-apa,” kata Rasul, “Tapi, belilah atas namaku. Dan bila yang bersangkutan datang menagih, aku akan membayarnya.”



Banyak hal yang bisa membuat Rasul tertawa tanpa diketahui sebab musababnya. Hal itu biasanya berhubungan dengan turunnya wahyu Allah. Misalnya, ketika beliau sedang duduk-duduk dan melihat seseorang sedang makan. Pada suapan terakhir orang itu mengucapkan. “Bismillahi fi awalihi wa akhirihi.” Saat itu beliau tertawa. Tentu saja orang itu terheran-heran.



Keheranan itu dijawab beliau dengan bersabda, “Tadi aku lihat setan ikut makan bersama dia. Tapi begitu dia membaca basmalah, setan itu memuntahkan makanan yang sudah ditelannya.” Rupanya orang itu tidak mengucapkan basmalah ketika mulai makan.



Suatu hari Umar tertegun melihat senyuman Nabi. Belum sempat dia bertanya, Nabi sudah mendahului bertanya, “Ya Umar, tahukah engkau mengapa aku tersenyum?”

“Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu,” jawab Umar.

“Sesungguhnya Allah memandang kepadamu dengan kasih sayang dan penuh rahmat pada malam hari Arafat, dan menjadikan kamu sebagai kunci Islam,” sabda beliau.




Al Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Al Aydrus
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Hot Threads

Live Streaming


Sholawat Asyghil


ﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠﻰَ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ، ﻭَﺃَﺷْﻐِﻞِ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺑِﺎﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ

ﻭَﺃَﺧْﺮِﺟْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻨِﻬِﻢْ ﺳَﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﻭَﻋﻠَﻰ ﺍﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﺃَﺟْﻤَﻌِﻴﻦ


Allohumma Sholli 'Alaa Sayyidinaa Muhammadin, Wa Asyghilidz Dzoolimiina Bidz-Dzoolimiina Wa Akhrijnaa Min Baynihim Saalimiin Wa 'Alaa Alihi Wa Shohbihii Ajma'in

Ya Allah, berikanlah shalawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang zhalim agar mendapat kejahatan dari orang zhalim lainnya, selamatkanlah kami dari kejahatan mereka. Dan berikanlah shalawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger