Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Tanya Jawab Bab Qurban, Aqiqah, Penyembelihan, Makanan, dan Halal Haram

Tanya Jawab Bab Qurban, Aqiqah, Penyembelihan, Makanan, dan Halal Haram


Bab Qurban, Penyembelihan, Makanan, dan Halal Haram
    Kumpulan tanya jawab tentang Qurban dan halal haram 
Tanya: Bagiamana hukum menjual petasan/ mercon untuk merayakan hari raya atau pernikahan?
Jawab: Jual beli sesuatu yang tampak jelas itu boleh, jika memang memenuhi berbagai persyaratan, seperti barang yang dijual itu suci, bisa dimanfaatkan, bisa diserahkan dan bagi yang bertransaksi mempunyai kuasa (terhadap barang tersebut) - Ibnu Qasim al-Ghazzi, Fathul Qarib dalam Hasyiyatul Bajuri, (Singapura: Sulaiman Mar’i, t. th), Jilid I, h. 340-341

Tanya: bagaimana hukum mengambil buah milik pemerintah (umum) dari pohon-pohon yang ditanam di pinggir jalan?
Jawab:  Hukum asalnya adalah tidak boleh. Namun, jika ada pembolehan dari pemerintah, misalnya untuk menebang pohon di pinggir jalan, tetapi dengan ijin terlebih dahulu. Jika pemerintah sudah tidak peduli atau diketahui kerelaannya, maka hukumnya boleh. Silahkan merujuk pada Khasiyah Al Jamil Juz 3

Tanya: Bagaimana hukum aqiqah yang uangnya berasal dari hutang (meminjam)??
Jawab: Boleh, asalkan mampu untuk melunasinya ketika jatuh tempo pembayaran (I'anah Thalibin Juz 3)  

Tanya: Apakah orang yang hendak berkurban dilarang memotong rambut dan memotong kuku seperti halnya orang yang akan haji? 
Jawab: Mayoritas ulama mengatakan disunnahkan tidak memotong kuku dan rambut bagi yang akan melaksanakan qurban. Sebagian ulama mengatakan itu perkara mubah. Pendapat tersebut berlandaskan pada hadist Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw mengirimkan qurban dari Madinah dan beliau tidak menjauhi apa yang harus dijauhi seorang yang berhaji sehingga disembelih. (HR. Bukhari Muslim)
Adapun hadist Ummu Salamah r.a. riwayat Muslim "Ketika kalian melihat hilal Dzul Hijjah, dan kalian ingin ber-qurban, maka hendaknya menjaga diri dari rambut dan kukunya” - sebagian riwayatkan mengatakan dan kulitnya – artinya adalah larangan makruh (nahyu karahah) dan tidak sampai pada tingkat haram mengingat adanya hadist pertama dan kedua amalan tersebut aslinya adalah sunnah dilakukan. 
Riwayat dari imam Ahmad dan sebagian ulama pengikut mazhab Syafii mengatakan hukumnya haram memotong rambut dan kuku orang yang hendak melaksanakan qurban dengan berlandasan pada hadist riwayat imam Muslim tersebut. 
Imam Nawawi menambahkan bahwa tujuannya adalah agar pembebasan dari neraka itu sempurna untuk seluruh badannya (Ust. Muhammad Ni'am)

Tanya: Berapa lama kita boleh menyimpan daging qurban? Ada yang bilang maximal 3 hari dan apa hukumnya? 
Jawab: Boleh menyimpan daging Qurban yang menjadi bagian dan haknya sampai tanpa batas, sesuai hadist berikut:
 وعن بريدة قال " قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كنت نهيتكم عن لحوم الأضاحي فوق ثلاثة لتسع ذوو الطول على من لا طول له فكلوا ما بدالكم وأطعموا وادخروا " - رواه أحمد ومسلم والترمذي وصححه 
Dari Buraidah ra Rasulullah saw bersabda "Dulu aku pernah melarang kalian menyimpan daging qurban lebih 3 hari untuk memudahkan para fakir miskin, tetepi sekarang makanlan, beri makan orang lain dan simpanlah. (HR Ahmad, Muslim, Timidzi dll) 
Imam Nawawi mengatakan itulah pendapat mayoritas ulama termasuk mazhab empat, bahwa boleh menyimpan daging Qurban tanpa batas. Bahkan beberapa ulama menggatakan itu ijma' ulama pada masa Tabi'in. 
Ada riwayat dari Ali ra dan Ibnu Umar ra mengatakan bahwa hukum tersebut tidak berubah dan tetap diharamkan setelah 3 hari, namun ini pendapat langka. Wallahu a'lam bissowab (Ust. Muhammad Niam)

Tanya: Dalam sebuah keluarga siapakah yang kena wajib qurban? 
Jawab: Kurban disunahkan bagi siapa saja orang muslim, yang mampu, mukallaf (baligh dan berakal), dan tidak dalam keadaan haji. 
Dalam prakteknya, kebanyakan yang melaksanakan adalah kepala rumah tangga. Itu karena, kebanyakan, ia yang mempunyai pemasukan keuangan. Jadi, kalaupun kepala rumah tangganya sudah berkurban, ia tetap disunahkan untuk berkurban mewakili anggota keluarganya. 
Dalam riwawat Tirmidzi [1505] dari Atha’ bin Yasaar berkata, aku bertanya kepada Abu Ayub Al-Anshari bagaimana pelaksanaan qurban pada masa Nabi saw. Beliau menjawab: Pada zaman itu lelaki melaksanakan Qurban dengan satu ekor kambing untuk dirinya dan keluarganya, lalu mereka memakan dan menyedekahkannya. 
Tapi itu tak menutup kemungkinan jika si istri, misal, punya uang sendiri untuk membeli kambing, ya silahkan saja. Demikian juga, misalnya ada salah seorang anaknya yang mampu membeli kambing sendiri, ya tak apa-apa. 
Kalau misalnya, anggota keluarganya 8 orang, sementara ia baru mampu membeli 2 ekor kambing, ya kurbannya untuk 2 orang dulu. Yang belum kebagian, kurbannya tahun-tahun berikutnya. Bergantian. Atau, misal saja, keluarganya cuma 3 orang, kaya raya, tiap tahun bisa berkurban, juga tak apa-apa. 
Mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa kurban itu disunahkan tiap tahun. Bisa juga dalam berkurban, kalau sulit/tidak menemukan kambing, bergabung dengan orang lain untuk membeli sapi. Seekor untuk bertujuh. Jadi, kalau satu ekor kambing itu untuk satu orang, satu ekor sapi untuk 7 orang, Wallahua'lam bisshawaab. (Ust. Arif Hidayat) 

Tanya: Apabila hari penyembelikan Qurban bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran bayi, apakah mencukupi untuk tujuan aqiqah juga? Bolehkah menggabung Qurban dengan Aqiqah? 
Jawab: Ada dua pendapat ulama tentang masalah tersebut. 
Pendapat pertama mengatakan: Qurban juga mencukupi Aqiqah. Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Ahmad dan Abu Hanifah dan beberapa ulama seperti Hasan Basri, Ibnu Sirin, Qatadah dan lain-lain. Ini masalah manggabung dua niat dalam satu ibadah yang sejenis maka sah, seperti seseorang yang masuk ke masjid lalu dia niat sholat tahiyatul masjid dan sunnah rawatib maka sah dan mendapatkan pahala keduanya, begitu juga seorang yang melakukan haji tamattu’ ketika menyembelih dam dia meniatkan qurban, maka dia mendapatkan keduanya. Banyak sekali contohnya, termasuk juga sholat ied pada hari Jum’at, maka diperbolehkan tidak sholat Jum’at. 
Pendapat kedua mengatakan tidak sah. Ini pendapat Imam Syafi’I dan Imam Malik. Pendapat kedua ini juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Alasannya karena keduanya mempunyai tujuan yang berbeda dan sebab yang berbeda, itu mirip dam tamattu’ dan fidyah, maka tidak bisa saling mencukupi dan harus dilaksanakan sendiri-sendiri. Qurban adalah tebusan untuk diri sendiri sedangkan Aqiqah adalah tebusan untuk anak yang lahir, dengan menggabungkannya, akan mengaburkan tujuannya. Ini berbeda dengan menggabung dua sholat sunnah, karena tahiyatul masjid bukanlah sholat yang menjadi tujuan utama, itu hanya pelengkap masuk masjid sehingga bisa terlaksana bersama dengan sholat lainnya. 
Dipersilahkan ikut pendapat yang diyakini. Wallahu a’lam (Ust. Muhammad Ni'am)

Tanya: Bagaimana Niat Berqurban dan doa menyembelih hewan? 
Jawab: Shighot niatnya bisa seperti ini: 
qurban wajib: nawaitu an udlokhi 'an nafsi fardlon lillahi ta'ala 
qurban sunnah: nawitu an udlokhi 'an nafsi sunnatan lillahi ta'ala 
Niat qurabn untuk orang banyak (qurban sapi/ kerbau): nawaitu an udokhi 'an parmin, wa paimin, wa bejo, wa katijo, wa suradi, wa ngatini , wa sumini sunnatan lillahi ta'ala. 
Kalau pengen lebih singkat, bisa semacam ini: nawaitu an udokhi 'an haaulaa'i sunnatan lillahi ta'ala. 
Maksud qurban wajib adalah qurban yg sebelumnya di niati nadzar. Sedang qurban sunnah adalah qurban yang sebelumnya tidak diniati nadzar. 
Doa Menyembelih: Allhumma Hadza minka wa ilaika fa taqobbal hadzihil udlkhiyyah ni'matan minka 'alayya wa taqorrobtu biha ilaika fa taqobbalha [Hasyiyah Bajuri Juz 2]
 الشافعية قالوا : يسن في الأضحية كونها سمينة سواء كان سمنها بفعله أو بفعل غيره وأن لا تكون مكسورة القرن ولا فاقدته وأن تذبح بعد صلاة العيد وأن يكون الذابح مسلما وأن يكون الذبح نهارا ويكره ليلا إن لم يكن لحاجة وإلا فلا كراهة وأن يطلب لها موضعا لينا لأنه أسهل لها وأن يوجه مذبحها للقبلة وأن يتوجه هو إليها أيضا . وأن يسمي الله تعالى ويكره تعمد ترك التسمية كما تقدم ويسن أن يصلي ويسلم على النبي صلى الله عليه و سلم وأن يكبر ثلاثا بعد التسمية وأن يقول : اللهم هذا منك وإليك . فتقبل مني . وأن تذبح الغنم والبقر . وتنحر الإبل وأن لا يبين رأسها . ويسن قطع الودجين ويسن أن تكون الإبل عند النحر قائمة معقولة رجلها اليسرى والغنم والبقر مضجعة على جنبها الأيسر وأن يحد المدية ويكره أن يحدها والذبيحة تنظر إليه كما يكره أن يذبح واحدة والأخرى تنظر

Tanya: Menjelang lebaran, si Budi menyembelih seekor ayam miliknya. Ketika disembelih pada tebasan yang pertama, si ayam tidak mati padalah urat kerongkongannya sudah putus. 3 hari kemudian si ayam disembelih untuk kedua kalinya. Stelah menunggu 6 jam, Akhirnya si ayam mati juga. Halalkah ayam si Budi itu? 
Jawab: Boleh dan halal dimakan dagingnya selagi jarak sembelihan pertama dan kedua tidak lama, bila keduanya berjarak maka disyaratkan adanya keberadaan kehidupan (hayat al-mustaqirrah) pada hewan yang ia sembelih.
 ويشترط في قطع ذلك ان يكون دفعة واحدة فلو قطع باكثر كما لو رفع السكين فاعادها فورا او القاها لكللها واخذ غيرها او سقطت منه فاخذها او قلبها وقطع ما بقي وكان فورا حل ولا يشترط وجود الحياة المستقرة في دفعة الفعل الثاني الا ان طال الفصل بين الفعلين فلا بد من وجود الحياة المستقرة اول الفعل الثاني
Dan disyaratkan dalam pemotongan tersebut dengan sekali potongan maka bila dipotong dengan lebih banyak seperti bila ia mengangkat pisau kemudian ia kembalikan secepatnya atau ia letakkan pisau tersebut karena tumpul dan ia ambil pisau lainnya atau pisaunya terjatuh kemudian segera ia ambil atau ia ganti dan ia memotong bagian yang tersisa serta yang demikian dilakukan secepatnya maka halal daging hewan sembelihannya.
Dan tidak disyaratkan adanya keberadaan kehidupan dalam ulangan pemotongan yang kedua kecuali bila jarak antara dua pemotongan tersebut lama maka disyaratkan adanya keberadaan kehidupan saat memulai pemotongan yang kedua (Tanwiir al-Quluub Hal. 237) 


Tanya: Bagaimana hukum memakan keong sawah (Tutut/ Ko'ol)? 
Jawab: Keong sawah (pila ampullacea) adalah sejenis siput air yang mudah dijumpai di perairan tawar Asia tropis, seperti di sawah, aliran parit, serta danau. Hewan bercangkang ini dikenal pula sebagai keong gondang, siput sawah, siput air, atau tutut. Bentuknya agak menyerupai siput murbai, masih berkerabat, tetapi keong sawah memiliki warna cangkang hijau pekat sampai hitam. Sebagaimana anggota Ampullariidae lainnya, ia memiliki operculum, semacam penutup/pelindung tubuhnya yang lunak ketika menyembunyikan diri di dalam cangkangnya. Hewan ini dikonsumsi secara luas di berbagai wilayah Asia Tenggara dan memiliki nilai gizi yang baik karena mengandung protein yang cukup tinggi. 
Adapun hukum mengkonsumsinya adalah halal (kitab Al-Madzahibul Arba’ah Juz II Halaman 3) .

Tanya: Bagaimana hukum memakan belut? 
Jawab: Imam Baghowi berkata merujuk ayat " Uhilla Lakum Shoydul Bahri Wa Tho'aamuhu " Sesungguh nya belut ( sidat ) adalah Halal yang telah disepakati , dan kesepakatan ini adalah Qoul nya Abu Bakar, 'Umar, Ibnu 'Abbas, Zaid bin Tsabit, dan Abu Huroiroh Radhiallaahu 'Anhum.
Dan Syuraih, Hasan dan 'Atho berkata : Ini adalah madzhab Imam Malik, dan lebih jelas lagi dalam Madzhab Imam Syafi'i, Yang di maksudkan hewan berbentuk seperti ular ini adalah hewan yang tidak bisa hidup kecuali di air saja, Dan adapun Ular yang mampu hidup di darat dan di air, maka itu mengandung racun dan memakannya haram, Dan Ibnu 'Abbas di tanya (oleh seseorang) tentang belut/ sidat, maka dia berkata : Hewan itu di haramkan oleh orang yahudi, dan kami tidak mengharamkannya (Kitab Hayaatul Hayawaan Al-Kubroo - Imam Damiry) 

Tanya: Bagaimana hukum memakan kura-kura? 
Jawab: Haram memakan kura-kura baik kura-kura darat maupun laut yang biasa dikenal dengan nama penyu karena mereka bisa hidup di darat dan di laut. 
Namun, Ulama-ulama Hanabilah dan Malikiyah berpendapat halal memakan kura-kura laut (penyu) setelah disembelih terlebih dahulu. Adapun kura-kura darat maka menurut qaol rojih ulama Hanabilah hukumnya haram. (Madzahib al Arba'ah : 2/7)

Tanya: Apakah boleh si pemotong qurban untuk mengambil bagian kaki dan kepala qurban itu ? 
Jawab: Yang dimaksud si pemotong qurban dalam hal ini tentu adalah orang yang diwakilkan untuk memotong atau menyembelihnya bukan pemilik qurban itu sendiri. Jika si pemotong diberikan kaki dan kepala atau kulit sebagai upah pemotongan, maka hukumnya tidak boleh. Karena dengan demikian berarti bagian itu dijual. Sedang orang yang menjual bagian qurbannya maka tidak ada udhiyah / qurban baginya, atau dengan kata lain tidak sah qurbannya. Adapun memberikan si pemotong kepala dan kaki atau kulit tadi sebagai shadaqah atau hadiah yang tidak dikaitkan dengan pemotongan, sedang upahnya dibayar tersendiri dan ditanggung yang berqurban, maka boleh dan tidak ada larangan padanya.
Dalam kitab Busyral Karim (II/128) disebutkan, "Tidak boleh menjual sedikitpun bagian dari qurban dan tidak boleh memberikan si pemotong bagian qurban sebagai upahnya walaupun kulit. Tetapi ongkos atau upah pemotongan itu ditanggung oleh orang yang berqurban".
Oleh karena itu sebaiknya bagi panitia Qurban, selain menerima qurban juga memberitahukan bahwa orang yang berqurban harus membayar upah pemotongannya.

Tanya: Bolehkah orang yang sudah menerima daging qurban kemudian menjualnya kepada orang lain?.
Jawab: bagi orang yang berqurban, tidak boleh menjual sedikitpun bagian dari qurbannya. Adapun orang yang menerima qurban, jika dia adalah faqir miskin maka setelah qurban itu berada di tangannya jadilah itu haknya seperti daging biasa. Oleh karenanya boleh orang yang faqir atau miskin tadi menjualnya, tetapi harus dijual kepada orang islam.
Adapun orang kaya, jika mereka dikirimi atau diberikan qurban, maka dia hanya boleh mempergunakan daging tadi sebagai makanan atau jamuan atau disedekahkan kepada orang lain. Tidak boleh dia menjualnya. (Busyral Karim II/128)

Tanya: Yang diharamkan untuk makan daging qurban/aqiqah yang wajib atau nadzar, apakah khusus bagi orang yang qurban/aqiqah saja, ataukah juga keluarganya yang masih wajib dinafkahi?
Jawab: Yang diharamkan adalah orang yang qurban/aqiqah wajib atau nadzar dan juga orang yang wajib dinafkahinya, termasuk anak dan isterinya. (Al Baajuri II/300)

Tanya : daging qurban wajib setelah diterima oleh yang berhak kemudian diberikan kembali kepada orang yang qurban, apakah orang yang qurban tidak boleh memakan daging tersebut? 
Jawab: Boleh, karena daging itu sudah dimiliki oleh orang yang berhak tadi, dan setelah dimilikinya maka dia berhak menggunakan daging itu untuk apapun. Jadi jika diberikan lagi kepada orang yang berkurban maka boleh-boleh saja dan boleh memakannya, karena sekarang daging itu sudah tidak menjadi daging kurban lagi, tetapi menjadi daging hibbah atau shodaqah. (Al Baajuri II/302)

Tanya : apakah dibolehkan memindahkan hewan qurban dari daerahnya orang yang berqurban ke daerah lain?
Jawab: Boleh, baik hewan tersebut sudah disembelih atau belum. (Kifaayatul Akhyar II/242, Itsmidul ‘Ainain hal.78)

Tanya: Bolehkan menjual tanduk dan kikil (teracak, jawa) dari hewan qurban wajib untuk ongkos orang yang mengurusinya?
Jawab: Tidak boleh, sekalipun dari hewan qurban sunnah. (Al Baajuri II/311, I’anatuth Thalibin II/333)

Tanya : Bolehkah aqiqah untuk salah seorang anak sekaligus diniati sebagai qurbannya anak tersebut? 
Jawab: kalau aqiqah dan qurbannya itu sama-sama sunnah dan kambingnya satu, dalam hal ini ada perbedaan pendapat, menurut imam Ibnu Hajar Al Haitami tidak boleh sedangkan imam Ar Romli mengatakan boleh. Begitu pula jika kambingnya dua atau lebih tapi diniati sekaligus, artinya tidak ditentukan mana yang untuk aqiqah dan mana yang untuk qurban, maka juga khilaf antara ulama seperti diatas. Tapi kalau kambingnya dua atau lebih dan masing-masing ditentukan, mana yang untuk aqiqah dan mana yang untuk qurban maka sah/ boleh, tidak ada khilaf antara ulama. Referensi: Al Baajuri II/304, Al Qulyubi IV/255, Itsmidul ‘Ainain hal.77

Tanya: Bolehkah kulit kambing kurban dimiliki (diambil) oleh sebagian orang dari panitia kurban, yang juga mereka telah memperoleh pembagian dagingnya? 
Jawab: Boleh kulit kambing diberikan kepada mereka, dalam hal ini yang dilarang baik dalam kurban wajib atau sunnah, adalah menjual sebagian daging atau kulit kurban atau menjadikan kulit atau kikilnya sebagai upah (ongkos) bagi yang mengurusi penyembelihan. (Al Baajuri II/302)

Tanya: Bagaimana hukumnya memakan burung bangau (kuntul)? 
Jawab: Setiap burung-burung air halal karena tergolong hal-hal yang nikmat kecuali burung bangau yakni burung yang berleher panjang yang memakan ular dan berbaris maka tidak halal karena menjijikkannya (Mughni al-Muhtaaj IV/302)
 فَرْعٌ وَتَحِلُّ أَنْوَاعُ الْحَمَامِ من كل ذَاتِ طَوْقٍ كَالْقُمْرِيِّ وَالدُّبْسِيِّ بِضَمِّ الدَّالِ وَالْيَمَامِ لِاسْتِطَابَتِهِ وَالْوَرَشَانِ بِفَتْحِ الْوَاوِ وَالرَّاءِ ذَكَرُ الْقُمْرِيِّ وَيُقَالُ له سَاقٌ حُرٌّ وَقِيلَ طَائِرٌ يَتَوَلَّدُ بين الْفَاخِتَةِ وَالْحَمَامَةِ وَالْقَطَا جَمْعُ قَطَاةٍ وَهِيَ طَائِرٌ مَعْرُوفٌ وَالْحَجَلِ بِالْفَتْحِ جَمْعُ حَجَلَةٍ وَهِيَ طَائِرٌ على قَدْرِ الْحَمَامِ كَالْقَطَا أَحْمَرُ الْمِنْقَارِ وَالرِّجْلَيْنِ وَيُسَمَّى دَجَاجُ الْبَرِّ وَهَذِهِ الثَّلَاثَةُ قال في الْأَصْلِ إنَّهَا أُدْرِجَتْ في الْحَمَامِ وَطَيْرِ الْمَاءِ كَالْبَطِّ وَالْإِوَزِّ وَالطَّيْرِ الْأَبْيَضِ لِأَنَّهَا من الطَّيِّبَاتِ لَا اللَّقْلَقِ هو طَيْرٌ طَوِيلُ الْعُنُق يَأْكُلُ الْحَيَّاتِ وَيَصِفُّ فَلَا يَحِلُّ لِاسْتِخْبَاثِهِ 
(Ust. Masaji Antoro)

Tanya: Apa hukumnya makan sembarangan tanpa ngecek kandungan (komposisi) makanan tersebut yang dimungkinkan (makanan sekarang) mengandung Lechitin babi? 
Jawab: Apabila tidak jelas bahwa makanan tersebut adalah makanan yang haram atau makanan yang terkena najis hukumnya halal apabila nyata jelas makanan tersebut terkena najis maka hukumnya haramm (Al Asybah wan Nadloir 487, Bugyatul Mustarsydin 15, I'anatut Tholibin I/105, Sirajut Tholibinn I/502).
 عبارة الأشباه والنظائر 47( والثالث ) ما يرجح فيه الاصل على الاصح وضابطهان يستند الاحتمال الى سبب ضعيف وامثلته لاتكاد تحصر منها الشئ الذى لا يتقين بنجاسته ولكن الغالب فيه النجاسة كاوانى وثياب مدنى الخمر والقصابين والكفار المتدينين بها كا المجوس ومن ظهر اختلاطه بالنجاسة وعدم اخترازه منها مسلمل كان او كافرا كما فىشرح المهذب عن الامام........ الى ان قال وفى جميع ذلك قولان اصحهما الحكم بالطاهرة استصحابا للاصل اهـعبارة بغية المسترشدين ص 15(مسئلة) خذ قائدة ينبغى الاعتناء بها لكثرة فروعها ونفعها وهى كل عين لم تتيقن نجاستها لكن غلبت النجاسة فى جنسها كثياب الصبيان وجهلة الجزارين والمتدينين من الكفار بالنجاسة كاكلة الخنازير ارجح القولين فيها العمل بالاصل وهو الطهارة نعم يكره استعمال كل ما احتمل النجاسة على قرب وكل عين تيقنا نجاستها ولو بمغلظ ثو احتمل طهارتها ولو على بعد لاتنجس مالاقته فحينئذ لايحكم بنجاسة دكاكين الجزارين والحوتيت وزوارتهمالتى شوهدت الكلاب تلحسها اولايحكم بنجاسة اللحم او الحوت الموضوع عليها ومالاقاه من ابدان الناس الا ان شوهد ملاقتها للنجاسة فتكون البقعة التى لحسها الكلب نجسة وكذا مالاقاها يقينا بمشاهدة اواخبار عدل مع الرطوبة قبل احتمال طهرها بمرور سبع جريات بماء بتراب طهور ولايتعدى حكمها لباقى الدكان فضلا عن غيره وكل لحم وحوت وغيرهما خرج من تلك الاماكن محكوما بطهارته الا ما تيقنملاقاته لنفس المحل المتنجس ولم يشق ويعم الابتلاء به والا ما عفى عنه ايضا قاله ابو قصام وخالفه ابن حجر وفى النهاية والضابط ان كل ما يشق الاحتراز عنه غالبا يعفى عنه.عبارة اعانة الطالبين 1/105ذا ثبت اصل فى الحل اوالحرمة اوالطهارة اوالنجاسة فلايزال الا باليقين فلو كان معه اناء من الخل او لبن المأكول اودهنه فشك فى تخمره لم يحرم التناول. Wallahu A'lamu Bis showaab (Ust. Salim Ridho)

Tanya: Haramkah orang yang berkurban ikut memakan daging kurbannya? 
Jawab:Yang diharamkan memakan adalah berupa kurban atau aqiqah yang wajib disebabkan oleh nadzar misalnya, kalau ia memakannya maka ia harus mengganti daging tersebut untuk diserahkan pada fakir miskin, sedang bila kurban atau aqiqahnya berupa sunnat (bukan karena nadzar) maka baginya malah sunah memakan sedikit dagingnya.
 وَيَحْرُمُ اْلأَكْلُ مِنْ اُضْحِيَةٍ أَوْ هَدْيٍ وَجَبَا بِنَذْرِهِ. (قوله وَيَحْرُمُ اْلأَكْلُ الخ) أَيْ وَيَحْرُمُ أَكْلُ الْمُضَحِّيْ وَالْمُهْدِيْ مِنْ ذَلِكَ فَيَجِبُ عَلَيِهِ التَّصَدُّقُ بِجَمِيْعِهَا حَتَّي قَرْنِهَا وَظِلْفِهَا فَلَوْ أَكَلَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ غَرَمَ بَدَلَهُ لِلْفُقَرَاَء [إعانة الطالبين 2/333] 
“Haram makan daging hewan kurban atau hadiah yang wajib sebab nadzar. Kalimat ‘haram makan dst.’. Haram bagi orang yang kurban dan yang berhadiah, makan hewan kurban dan hadiahnya. Ia wajib menyedekahkan semuanya, termasuk tanduk dan kukunya. Andaikan ia memakan sedikit saja maka ia harus menggantinya untuk diserahkan kepada fakir.” (I’anah al-Thalibin II/333) 

Tanya: Bagaimana hukumnya membagikan daging kurban ke non muslim? 
Jawab: Ulama berbeda pendapat, ada yang Mutlaq tidak boleh (baik untuk qurban sunnah maupun wajib), seperti dijelaskan Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfatul-Muhtaj:
 ( وَلَهُ ) أَيْ الْمُضَحِّي عَنْ نَفْسِهِ مَا لَمْ يَرْتَدَّ إذْ لَا يَجُوزُ لِكَافِرٍ الْأَكْلُ مِنْهَا مُطْلَقًا وَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ الْفَقِيرَ وَالْمُهْدَى إلَيْهِ لَا يُطْعِمُهُ مِنْهَا وَيُوَجَّهُ بِأَنَّ الْقَصْدَ مِنْهَا إرْفَاقُ الْمُسْلِمِينَ بِأَكْلِهَا فَلَمْ يَجُزْ لَهُمْ تَمْكِينُ غَيْرِهِمْ مِنْهُ 
Dalam Al-Majmu’ (Syarhul Muhadzab) disebuntukan, boleh memberikan sebagian kurban sunah kepada kafir Dzimmi yang miskin. Tapi ketentuan ini tidak berlaku untuk kurban yang wajib.” (Hasyiyah Al Baijuri, 2/310). 
I’anatuth Tholibiin Juz 2 :
 ويشترط فيهم أن يكونوا من المسلمين. أما غيرهم فلا يجوز إعطاؤهم منها ش 
“Dan disyaratkan pada mereka adalah dari orang-orang Islam, adapun selain mereka maka tidak boleh memberikan kepada mereka dari kurban sedikitpun” Nihayatul Muhtaj bab kitab Udhhiyah :
 وَخَرَجَ بِمَا مَرَّ مَا لَوْ ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ أَوْ ارْتَدَّ فَلَا يَجُوزُ لَهُ الْأَكْلُ مِنْهَا كَمَا لَا يَجُوزُ إطْعَامُ كَافِرٍ مِنْهَا مُطْلَقًا ، وَيُؤْخَذُ مِنْ ذَلِكَ امْتِنَاعُ إعْطَاءِ الْفَقِيرِ وَالْمُهْدَى إلَيْهِ مِنْهَا شَيْئًا لِلْكَافِرِ ، إذْ الْقَصْدُ مِنْهَا إرْفَاقُ الْمُسْلِمِينَ بِالْأَكْلِ لِأَنَّهَا ضِيَافَةُ اللَّهِ لَهُمْ فَلَمْ يَجُزْ لَهُمْ تَمْكِينُ غَيْرِهِمْ مِنْهُ Yang memperbolehkan syaratnya harus Faqir banget
 قوله : ( وتعجب منه الأذرعي إلخ ) أي مما وقع في المجموع أي لأن القصد منها إرفاق المسلمين بأكلها لأنها ضيافة من الله فلا يجوز تمكين غيرهم منها وكلام الشارح يقتضي أن الذي في المجموع وتعجب منه الأذرعي هو إطعام المضحي لفقراء أهل الذمة والذي في شرح م ر امتناع ذلك منه ، وأن ما في المجموع إنما هو في إعطاء الفقير أو المهدى له شيئا منها للكافر وعبارته : وخرج بالمضحي عن نفسه ما لو ضحى عن غيره فلا يجوز له الأكل منها ، كما لا يجوز إطعام كافر منها مطلقا فقيرا أو غنيا مندوبة أو واجبة ويؤخذ من ذلك امتناع إطعام الفقير والمهدى إليه شيئا منها للكافر إذ القصد منها إرفاق المسلمين بأكلها ، لكن في المجموع أن مقتضى المذهب الجواز وفي ع ش على م ر . دخل في الإطعام ما لو ضيف الفقير أو المهدى إليه الغني كافرا فلا يجوز نعم لو اضطر الكافر ولم يوجد ما يدفع ضرورته إلا لحم الأضحية فينبغي أن يدفع له منه ما يدفع ضرورته ويضمنه الكافر ببدله للفقراء ولو كان الدافع له غنيا كما لو أكل المضطر طعام غيره فإنه يضمنه بالبدل ولا تكون الضرورة مبيحة له إياه مجانا .ا هـ Hasyiyah Bujairomi alaa al-Khothib XIII/244 
قال ابن المنذر أجمعت الامة على جواز اطعام فقراء المسلمين من الاضحية واختلفوا في اطعام فقراء أهل الذمة فرخص فيه الحسن البصري وأبو حنيفة وأبو ثور * وقال مالك غيرهم أحب الينا وكره مالك أيضا إعطاء النصراني جلد الاضحية أو شيئا من لحمها وكرهه الليث قال فان طبخ لحمها فلا بأس بأكل الذمي مع المسلمين منه هذا كلام ابن المنذر ولم أر لاصحابنا كلاما فيه ومقتضى المذهب أنه يجوز إطعامهم من ضحية التطوع دون الواجبة والله أعلم alMajmuu’ VIII/425;
 نقل النووي عن ابن المنذر قوله: [أجمعت الأمة على جواز إطعام فقراء المسلمين من الأضحية، واختلفوا في إطعام فقراء أهل الذمة فرخص فيه الحسن البصري وأبو حنيفة وأبو ثور. وقال مالك: غيرهم أحب إلينا. وكره مالك أيضا إعطاء النصراني جلد الأضحية أو شيئا من لحمها. وكرهه الليث قال: فإن طبخ لحما فلا بأس بأكل الذمي مع المسلمين منه]. ثم قال النووي :[ومقتضى المذهب أنه يجوز إطعامهم من أضحية التطوع دون الواجبة]. وقال الشيخ ابن قدامة: [ويجوز أن يطعم منها كافر، وبهذا قال الحسن وأبو ثور وأصحاب الرأي؛ لأنه طعام له أكله فجاز إطعامه للذمي كسائر الأطعمة ولأنه صدقة تطوع فجاز إطعامها للذمي والأسير كسائر صدقة التطوع]. والراجح من أقوال العلماء أنه يجوز إطعام أهل الذمة منها، وخاصة إن كانوا فقراء أو جيرانا للمضحي أو قرابته أو تأليفا لقلوبهم. الإهداء من الأضحية وأما الهدية من الأضحية فقد اتفق أهل العلم على أن الهدية من الأضحية مندوبة. وكثير من العلماء يرون أن يهدي ثلثاً منها كما مرَّ في حديث ابن عباس فإنه يجعل الأضحية أثلاثا؛ ثلث لأهل البيت وثلث صدقة وثلث هدية. ونقل هذا عن ابن مسعود وابن عمر وعطاء وإسحاق وأحمد وهو أحد قولي الشافعي. ويسن أن يجمع بين الأكل والتصدق والإهداء وأن يجعل ذلك أثلاثا وإذا أكل البعض وتصدق بالبعض فله ثواب الأضحية بالكل والتصدق بالبعض.(Mbah Jenggot PISS KTB)
    demikian
Share this article :

Komentar baru tidak diizinkan.
 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger