Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Tanya Jawab Bab Thoharoh (Bersuci)

Tanya Jawab Bab Thoharoh (Bersuci)


Bab Thoharoh (Bersuci)
    Kumpulan tanya jawab tentang Thoharoh 
Tanya: Najiskah tanah yang menempel di kaki?
Jawab: Tanah tersebut dihukumi suci selama tidak yakin tanah itu najis. Jika yakin tanah basah itu terkena najis maka jika najisnya banyak maka tidak di ma'fu, jika sedikit maka dima'fu. (Asybah Wa Nadzoir, Al Majmu', Raudlatut Thalibin)

Tanya: Bagaimana cara mensucikan barang elektronik atau benda lainnya yang terkena najis?
Jawab:(1) Menurut madzhab Hanafiy : Benda yang terkena najis bisa suci sebab keringnya dari sinar matahari atau hawa panas lainya itu terkhusus pada tanah bumi yang terkena najis dan benda yang menetap pada bumi contoh pohon dan lainnya. Namun apabila najisnya berada pada benda padat yang tanpa pori-pori (seperti pedang, kaca,cermin dan benda lainnya termasuk benda elektronik), maka benda itu bisa disucikan dengan mengusapnya hingga menghilangkan bekas najisnya. (2) Menurut Syafiiyyah : Untuk bersuci dari hadats dan najis hanya bisa menggunakan air mutlaq. Jadi tidak bisa mensucikan najis dengan selain air mutlaq ( contoh debu, batu, perabot menyamak, matahari, angin, api dan lainnya) - Kitab Fiqih Empat Madzhab

Tanya: Bagaimana hukum wudhu jika mengenakan pakaian yang najis?
Jawab: Kalau hanya bajunya yang mutanajjis dan wudhu' nya dengan air suci mensucikan, maka Wudhunya tetap sah (Kitab Kasyifatus Saja Syarah Syafinatun Naja)

Tanya: Bagaimana hukum khitan menggunakan laser?
Jawab: Pada hakikatnya praktek tersebut bukan khitan, namun sudah menggugurkan kewajiban khitan apabila tidak ada sisa qulfah yang mungkin dipotong. kecuali kalau qulfah kembali lagi atau ada qulfah yang menutupi bagian hasyafah.
فتاوي ابن الصلاح ص 274 مسئلة صبي غير مختون شمر غرلته ثم ربطها بخيط فتركها مدة فشمرت الغرلة وتقلصت وانقطع الخيط فصار كهيئة المختون وصار بحيث لا يمكن ختانه فهل يجزئ ذلك وما الحكم اجاب رضي الله عنه القدر الواجب في الختان القطع الذي يكشف فينظر في هذا المذكور فان كان قصر بحيث لا يمكن قطع غرلته ولا شيئ منها الا بقطع غيرها فقد سقط عنه وجوب ذلك وان كان القطع بعد ممكنا فان كانت بدون ذلك اما في بعضها وهي حشفة قد انكشفت بأسرها فقد سقط وجوب ختانه الا ان يكون تقلص الغرلة واجتماعها بحيث يقصر عن المقطوع في طهارته و جماعه والذي يظهر حينئذ وجوب قطع ما امكن قطعه منها حتى يلتحق بالمختون وان لم تكن الحشفة قد انكشفت بأسرها فيجب امن الختان كله او بعض ما يكسف في حالة الامكان المذكور والله اعلم

Tanya: Bagaimana hukum sholatnya, apabila ketika sholat bisul pecah? 
Jawab: Kejadian tersebut tidak membatalkan shalat, dengan catatan pecah sendiri dan tidak bercampur dengan lainnya
 و يعفى عن دم نحو برغوث و دمل و ان كثر بغير فعله
 "dima'fu dari darah kutu dan bisul walaupun banyak tanpa dilakukan oleh dirinya sendiri (tidak disengaja)"...
 قوله (ودمل) و فصد و حجم و قروح و بواسير و نحو ذلك (و ان كثر) الدم في ذلك و لو تفاحش فى الصورة الاولى على المعتمد مالم يختلط باجنبي مطلقا هذا اذا كان الكثير ( بغير فعله) فلا يعفى عن ذلك اذا كان بفعله نهاية الزين ٤٢

Tanya: Bagaimana hukum kencing berdiri? 
Jawab: Beberapa keterangan menyebuntukan seperti berikut ini 
Musnad Ahmad :
 حدّثنا عبدالله حدَّثني أبي حدثنا محمد بن أبي عدي عن شعبة عن سليمان عن إبراهيم عن همام بن الحارث: «أن جريراً بال قائماً ثم توضأ ومسح على الخفين وصلى فسألته على ذلك؟ فذكر عن النبيّ صلى الله عليه وسلّم أنه فعل مثل ذلك». 
Shahih Ibnu Hibban : 
أخبرنا محمدُ بنُ عبد الله بن الجنيد بِبُست ، قال: حدثنا قتيبةُ بنُ سعيد ، قال: حدثنا أبو عوانةَ ، عن الأعمش ، عن أبي وائِل ، عن حُذيفة قال : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ أَتَى سُباطَةَ قَوْمٍ، فَبَالَ قائماً، ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ، فَتَوَضَّأَ وَمَسَحَ على خُفَّيْهِ. قال أبو حاتم: عدمُ السبب في هذا الفعل هو عدمُ الإِمكان، وذاك أن المصطفى،أَتَى السباطة، وهي المَزبلة، فأراد أن يبول، فلم يتهيأ له الإِمكان، لأن المرء إذا قعد يبولُ على شيء مرتفع عنه ربما تفشَّى البولُ، فرجع إليه، فَمِنْ أَجلِ عدمِ إمكانِهِ من القُعود لحاجةٍ بال ، قائماً
Intinya Makruh Kencing sambil berdiri jika tak ada 'udzur, meskipun ada hadits yang menceritakan nabi pernah kencing berdiri, namun nabi kencing berdiri karena ada beberapa kemungkinan, misal karena sakit yang tidak memungkinkan beliau kencing sambil duduk, untuk memulihkan sakit tulang nya (meniru tradisi orang arab) atau beliau tidak mungkin duduk karena banyaknya najis di tempat itu... 
Hasyiyah Bujairomi 'alal Khotib :
 [أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى سُبَاطَةَ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا] . وَالسُّبَاطَةُ كَالْكُنَاسَةِ لَفْظًا وَمَعْنَى, وَعِبَارَةُ بَعْضِهِمْ: وَيُكْرَهُ أَنْ يَبُولَ قَائِمًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ لِمَا رُوِيَ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: مَا بُلْت قَائِمًا مُنْذُ أَسْلَمْت, وَلا يُكْرَهُ ذَلِكَ لِلْعُذْرِ لِمَا رَوَى [النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى سُبَاطَةَ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا لِعُذْرٍ] , وَقَدْ رُوِيَ مِنْ وَجْهٍ غَيْرِ قَوِيٍّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: [أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَالَ قَائِمًا مِنْ جُرْحٍ كَانَ بِمَأْبَضِهِ] بِهَمْزَةٍ سَاكِنَةٍ وَبَعْدَهَا بَاءٌ مُوَحَّدَةٌ مَفْتُوحَةٌ ثُمَّ ضَادٌ مُعْجَمَةٌ مَكْسُورَةٌ وَهُوَ بَاطِنُ الرُّكْبَةِ. وَفِي الْحَدِيثِ ثَلاثَةٌ أَوْجُهٍ: أَحَدُهَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَهُ لِمَرَضٍ مَنَعَهُ مِنْ الْقُعُودِ. وَالثَّانِي: أَنَّهُ اسْتَشْفَى بِذَلِكَ مِنْ مَرَضٍ وَهُوَ وَجَعُ الصُّلْبِ جَرْيًا عَلَى عَادَةِ الْعَرَبِ كَمَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ, وَالْعَرَبُ تَسْتَشْفِي بِالْبَوْلِ قِيَامًا. وَالثَّالِثُ: أَنَّهُ لَمْ يَتَمَكَّنُ مِنْ الْقُعُودِ فِي ذَلِكَ الْمَكَانِ لِكَثْرَةِ النَّجَاسَةِ, فَكَأَنَّهُ بَالَ قَائِمًا مِنْ عُلُوٍّ إلَى أَسْفَلَ 

Tanya: Bolehkah kencing dan berwudhu di kamar mandi? 
Jawab: Kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah menghukumi makruh kencing di kamar mandi berdasarkan hadits dari Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah salah seorang diantara kamu kencing di tempat mandinya kemudian mandi atau dalam riwayat lain kemudian wudhu di tempat tersebut karena sesungguhnya umumnya ganguan (was-was) itu dari situ”[Hadits riwayat Abu Daud I/29, Tirmidzi I/33] 
Pelarangan tersebut dengan ketentuan bila dia tidak menemukan jalan lain/tempat lain baginya untuk kencing, atau kamar mandinya berupa dataran keras yang dapat memberikan praduga bagi orang yang mandi akan terkena sesuatu dari percikan kencingnya sehingga menimbulkan rasa was-was baginya.(Hasyiyah ‘Aabidiin I/230, Mughni al-Muhtaaj I/42, Kissyaaf alQinaa’ I/62-63, dan Ma’aalim as-sunan I/22) Keterangan dalam Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah 43/152-153. Wallaahu A'lamu Bis showaab. 

Tanya: Wajibkah seorang yang mimpi melakukan adegan jima' (seks) tetapi tidak mengeluarkan mani (tidak mimpi basah)? 
Jawab: Tidak wajib mandi (Syarah Kaasyifatus Sajaa, halaman 23) oleh Mbah Jenggot PISS KTB 

Tanya: Bagaimana hukumnya tempat yang terkena najis berupa cairan, dan belum sempat disucikan sampai hilang bekas najisnya? 
Jawab: Najisnya tetap ada, itu yang dinamakan najis hukmiyyah, najis secara hukumnya saja dan cara mensucikannya bila memang bentuk, bau, rasa dan warnanya sudah tidak ada cukup disiram dengan air suci (Ust. Masaji Antoro). 

Tanya: Apa bedanya mani, madzi, dan wadi? 
Jawab: Perbedaan antara mani, madzi dan wadi sebagai berikut : 
Mani adalah cairan putih keluar dengan tersendat-sendat disertai syahwat serta menyebabkan loyo setelah keluarnya. Hukumnya suci dan wajib mandi. 
Ciri-ciri mani ada 3, yaitu keluar disertai syahwat (kenikmatan), keluar dengan tersendat-sendat, jika basah baunya mirip adonan kue dan jika kering mirip putih telur. Jika didapatkan salah satu dari tiga ciri di atas, maka disebut mani. 
Hal ini berlaku pada laki-laki dan perempuan. 
Madzi adalah cairan putih lembut dan licin keluar pada permulaan bergejolaknya syahwat. Istilah madzi untuk laki-laki, namun jika keluar dari perempuan dinamakan qudza. Hukumnya najis dan membatalkan wudhu tapi tidak wajib mandi. 
Wadi adalah cairan putih keruh dan kental, keluar setelah melaksanakan kencing atau ketika mengangkat beban berat. Hukumnya seperti madzi yaitu najis dan membatalkan wudhu’ tapi tidak wajib mandi. 
1. Jika cairan keluar mengandung salah satu ciri-ciri mani, maka dihukumi mani. Namun jika tidak ada dan keluarnya pada mulai gejolaknya syahwat atau sesudah syahwat, maka dihukumi madzi. 
2. Jika ragu yang keluar mani atau madzi, maka boleh memilih antara menjadikannya mani sehingga wajib mandi, atau menjadikannya madzi sehingga hukumnya najis, tidak wajib mandi namun batal wudhu’nya. Paling afdholnya menggabung keduanya yaitu mandi janabah dan menyucikan tempat yang terkena cairan tersebut. 
3. Wanita juga mengeluarkan mani dengan ciri-ciri sebagaimana di atas. Namun menurut imam Al-Ghozali, mani wanita hanya bercirikan keluar disertai syahwat (kenikmatan) Oleh Mbah Jenggot merujuk pada التقريرات االسديدة في المسائل المفيدة ص )115-116 

Tanya: Bolehkah beristinja' dengan kertas tissue? 
Jawab: boleh dan tidak makruh. Keterangan di ambil dari
 يجوز الإستنجاء بأوراق البياض الخالى عن ذكر الله كما فى الإيعاب 
Diperbolehkan istinja’ dengan menggunakan kertas-kertas putih yang tidak terdapat tulisan asma Allah seperti dalam keterangan kitab al-Ii’aab (Bughyat al Musytarsyidin 2)
 أما الورق الذي لايصلح للكتابة فإنه يجوز الإستجمار به بدون كراهة 
Sedang istinja’ memakai kertas yang tidak pantas untuk ditulisi maka boleh tanpa dimakruhkan (Al Madzahib al Arba’ah I/ 9) 
Syarat istinja’ dengan tissu dan sejenisnya hendaklah dilakukan sebelum kotoran kering, dan kotoran itu tidak mengenai tempat lain selain tempat keluarnya. Jika kotorang itu sudah kering atau mengenai tempat selain tempat keluarnya, maka tidak sah lagi istinja’ dengan tissu, tetapi wajib dengan air. (Ust. Masaji dan Mbah Jenggot di PISS KTB) 

Tanya: Bagaimana hukumnya jika kencing menghadap kiblat? 
Jawab: Dari Ibnu Umar, ia berkata: Pada suatu hari aku naik ke rumah Hafshah, lalu aku melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam buang air dengan menghadap kea rah Syam, membelakangi Ka’bah. (HR Jama’ah, Nailur Authar Hadist No. 86)
 وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : { نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِبَوْلٍ فَرَأَيْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ بِعَامٍ يَسْتَقْبِلُهَا } . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ 
Dan Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam melarang menghadap Kiblat ketika kencing, tetapi aku melihat dia sebelum wafat kurang dari setahun, ia menghadap kiblat. (HR Imam yang lima kecuali An-Nasai, Nailur Authar Hadist No. 87)
 وَعَنْ مَرْوَانَ الْأَصْفَرِ قَالَ : { رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ يَبُولُ إلَيْهَا فَقُلْتُ : أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَلَيْسَ قَدْ نُهِيَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ : بَلَى ، إنَّمَا نُهِيَ عَنْ هَذَا فِي الْفَضَاءِ فَإِذَا كَانَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ شَيْءٌ يَسْتُرُكَ فَلَا بَأْسَ } . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد 
Dari Marwan al Anshar, ia berkata: Aku melihat Ibnu Umar menderumkan kendaraanya dengan menghadap kiblat, lalu ia kencing dengan menghadap kiblat, lalu aku bertanya: Wahai Abi Abdirrahman, tidaklah yang demikian itu dilarang? 
Maka ia menjawab, tetapi yang dilarang adalalah jika ia ditanah lapang, bila antara kamu dan kiblat ada sesuatu (penghalang) yang menutupimu, maka tidaklah mengapa. (HR Abu Dawud) 
Intinya adalah kita tidak diperbolehkan menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat di tempat terbuka, sedangkan jika tertutup atau terhalang oleh dinding maka diperbolehkan kita menghadap dan membelakangi Kiblat. (PISS KTB)
    demikian
Share this article :

Komentar baru tidak diizinkan.
 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger