Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Tanya Jawab Bab Haji dan Umroh

Tanya Jawab Bab Haji dan Umroh


Bab Haji dan Umroh
    Kumpulan tanya jawab tentang haji 
Tanya: Jika sekarang ini seseorang hanya mampu membayar ongkos umroh, sementara haji menunggu antrian yang lama sekali, apakah dia berkewajiban melaksanakan umroh sekarang (tidak perlu menunggu hingga mampu berhaji dengan BPIH)?
Jawab: orang tersebut berkewajiban melakukan umrohtetapi tidak harus sekarang karena kewajiban umroh tersebut bersifat tarakhi (boleh ditunda) dengan syarat ada azm (niat kuat) untuk melakukannya di waktu yang akan datang kecuali jika dinadzari, takut lumpuh, atau uang nya takut habis. Jika demikian, ia wajib umroh sekarang (LBM NU Kudus)

Tanya: Jika seseorang mampu membayar ongkos haji, tetapi ia malah gunakan untuk umroh sehingga berakibat tidak bisa haji, apakah masih ada tanggungan kewajiban haji?
Jawab: Tindakannya mendaftar umroh waktu itu adalah benar, karena dia sudah punya kewajiban umroh disamping seandainya mendaftar hajipun tidak bisa langsungberangkat mengingat antrian yang sangat panjang, dan oleh karenanya ia tidak mempunyai tanggungan haji (LBM NU Kudus)

Tanya: Orang yang sudah membayar ONH kemudian meninggal sebelum berangkat haji, apakah uangnya digunakan untukmenghajikan atau dikembalikan ke ahli waris?
Jawab: Uang ONH tersebut dikembalikan ke ahli waris dan menjadi milik ahli waris, kecuali jika almarhum pada tahun sebelumnya sudah tamakkun (memiliki kesempatan berhaji) namun sengaja menundanya. Jika demikian, maka harta warisannya harus digunakan terlebih dahulu untuk badal haji (LBM NU Kudus)

Tanya: Bagaimana hukum baca Talbiyah di selain ihrom? 
Jawab: Dalam kitab al Umm juz II halaman 169, cetakan Daar Al Fikr, Beirut , 2/155 maktabah syamilah
 وروى أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بن مَسْعُودٍ لقى رَكْبًا بِالسَّاحِلِ مُحْرِمِينَ فَلَبَّوْا فَلَبَّى بن مَسْعُودٍ وهو دَاخِلٌ إلَى الْكُوفَةِ وَالتَّلْبِيَةُ ذِكْرٌ من ذِكْرِ اللَّهِ عز وجل لَا يَضِيقُ على أَحَدٍ أَنْ يَقُولَ 
diriwayatkan bahwasanya Abdullah bin Mas'ud bertemu kafilah di tepi pantai dalam keadaan mereka ihram. Maka mereka bertalbiyah, dan Ibnu Mas'udpun bertalbiyah. Talbiyah adalah sebuah dzikir dari dzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla, tidak membatasi seseorang untuk mengucapkannya.

Tanya: Boleh engga yah kita melaksanakan ibadah haji memakai uang pinjaman (dari bank misalnya)? 
Jawab: Hasyiyah assarqowi juz 1 hal 460 menyatakan:
 فمن لم يكن مسبطيع فمن لم يجب عليه الحج لكن إذافعله أجزأه 
Orang yang tidak mampu maka tidak wajib haji akan tetapi jika ia melaksanakannya maka hajinya sah. 
Dalam Nihayah almuhtaj juz 3 hal 233 juga dijelaskan:
 فيجزئ الحج الفقيروكل عاجزحيث اجتمع فيه الحرية والتكليف كمالوتكلف المريض حضورالجمعة 
Maka hukumnya mencukupi (ijza) haji orang faqir dan setiap orang yg tidak mampu selama dalam dirinya terkumpul sifat merdeka dan mukallaf seperti bila orang sakit memaksakan diri shalat jum'at.

Tanya: apa Hukumnya memanggil seseorang dengan sebutan "Pak/ Bu Haji" sedangkan orangg yang di panggil belum berhaji? 
Jawab: Memanggil “pak haji” dengan tujuan ta’dhim (memuliakan) sementara yang bersangkutan belum melaksanakan ibadah haji hukumnya harom. 
 وقع السؤال مما يقع كثيرا فى مخاطبة الناس بعضهم مع بعض من قولهم لمن لم يحج يا حاج فلان تعظيم...ا له هل هو حرام ام لا والجواب عنه ان الظاهر الحرمة لانه كذب الى ان قال نعم ان اراد بيا حاج فلان المعنى اللغوى وقصد به معنى صحيحا كان اراد بيا حاج يا قاصد التوجه الى كذا كالجماعة او غيرها فلا حرمة اهـ ع ش . (حاشية الجمل ص372جز2

Tanya: Bolehkah membayar Dam (denda) haji di Indonesia? 
Jawab: DAM (Denda pelanggaran dalam ibadah haji) yang bersifat harta benda (menyembelih kambing atau shadaqah pada 6 fakir miskin 3 Sho'/7,50 kg) hanya boleh diberikan pada fakir miskinnya tanah haram dan tidak boleh di pindah kedaerah lain (indonesia misalnya). Keterangan dari :
 ويجوز أن يدفع لكل منهم مدا أو أكثر أو أقل إلا دم نحو الحلق فيتعين لكل واحد من ستة مساكين نصف صاع كما مر فإن عدموا من الحرم أخر الواجب المالي حتى يجدهم ولا يجوز نقله بخلاف الزكاة إذ ليس فيها نص صريح بتخصيص البلد بخلاف هذا 
Bagi setiap mereka boleh diberikan satu mud, lebih banyak atau lebih sedikit kecuali DAM akibat mencukur rambut maka bagi setiap seorang dari enam miskin tersebut wajib diberikan separoh sho’ (1,25 Kg) seperti pada keterangan yang telah lewat. Bila mereka (fakir miskin) tidak diketemukan di tanah haram maka kewajiban yang bersifat harta benda tersebut wajib diundur hingga mereka diketemukan dan tidak diperkenankan memindahkan DAM kedarah lain berbeda dengan masalah zakat karena dalam zakat tidak diketemukan dalil nash yang jelas dalam ketertentuan daerah dikeluarkannya harta benda berbeda dengan masalah DAM ini. Al-Minhaj al-Qawiim I/625 
* (فرع) قال القاصي حسين في الفتاوي لو لم يجد في الحرم مسكينا لم يجز نقل الدم إلى موضع آخر سواء جوزنا نقل الزكاة أم لا لانه وجب لمساكين الحرم كمن نذر الصدقة على مساكين بلد فلم يجد فيه مساكين يصبر حتى يجدهم ولا يجوز نقله بخلاف الزكاة على أحد القولين لانه ليس فيها نص صريح بتخصيص البلد بها بخلاف الهدى 
Cabang: Berkata alQaadhi al-Husaain dalam Kitab Fataawanya “Bila ditanah haram tidak diketemukan orang miskin tidak diperkenankan memindahkan DAM (denda pelanggaran dalam haji) ke tempat lain baik menurut pendapat ulama yang memperbolehkan memindahkan zakat atau tidak, karena DAM hanya wajib diberikan pada fakir miskinnya tanah haram seperti halnya saat seseorang bernadzar bersedekah pada faki miskinnya suatu daerah (yang telah ia tentukan) kemudian ia tidak menemukan fakir miskin didaerah tersebut maka ia wajib bersabar dan menunggu hingga menjumpai mereka. Dan tidak boleh dipindahkan dipindah kedaerah lain berbeda dengan masalah zakat yang ada pendapat ulama yang membolehkan memindahnya karena dalam zakat tidak diketemukan dalil nash yang jelas dalam ketertentuan daerah dikeluarkannya harta benda berbeda dengan masalah DAM ini. Al-Majmuu’ alaa Syarh al-Muhaddzab VII/500 (Ust. Masaji Antoro).

Tanya: Hewan hadyu (sembelihan denda/ dam haji) itu apa saja ? umur hewan hadyu itu berapa ? Selanjutnya dagingnya untuk apa ? 
Jawab: Hewan yang bisa digunakan sebgai hadyu (Sembelihan denda / DAM haji) sama seperti yang untuk qurban : unta, sapi, wedus / kambing /domba. Sembelihannya diberikan kepada orang-orang miskin tanah Haram (Makkah). 
Umur hewan yang dijadikan qurban ato aqiqoh : Kambing domba = 1 tahun kambing kacang = 2 tahun Unta = 5 tahun Sapi = 2 tahun
 .وهي أى الأضحية اسم لما يذبح من النعم أى التي هي الإبل والبقر والغنم فشرط الأضحية أن تكون من النعم التي هي هذه الثلاثة__ويجزئ فيها الجذع من الضأن وهو ماله سنة وطعن في الثانية والثني من المعز وهو ما له سنتان و طعن في الثالثة والثني من الإبل ما له خمس سنين و طعن في السادسة والثني من البقر ما له سنتان و طعن في الثالثة. الباجوري ٢/٢٩٧-٢٩٥ 
Dalam masalah kambing ada pendapat yang mencukup umur 6 bulan untuk domba dan 1 tahun untuk kambing kacang :
 .ولا يجزئ من الضأن الا الجذع وهو من الغنم ما له سنة على الأصح___و قيل ما له ستة أشهر وقيل ثمان وأما الثني من المعز فما له سنتان على الأصح___وقيل ما له سنة و دخل في الثانية. كفاية الأخيار ٢/٢٣٦

Tanya: Bolehkah seorang wanita pergi haji tidak dengan suaminya, jika suaminya telah memberi ijin?
Jawab: Tidak boleh menjadikan lelaki lain menjadi mahram haji bagi seorang perempuan. Ikatan mahram hanya bisa disebabkan oleh hubungan nasab, radla’ atau mushaharah. Apabila seseorang perempuan tidak mempunyai mahram, maka wajib haji bersama dengan suaminya atau sekelompok wanita yang adil dengan syarat aman dari fitnah. Jika perempuan tersebut tidak mendapatkannya, maka untuk haji fardlu, dia boleh bersamaan dengan seorang perempuan lain yang adil atau seorang lelaki yang tidak punya alat kelamin dan tidak punya syahwat atau sendirian jika dia yakin aman dari fitnah. Dasar Pengambilan Hukum adalah 
I’anat al Thalibin II hal 282
 (قوله) أن يخرج معها محرم اي بنسب او رضاع او مصاهرة ولو فاسقا 
I’anat al Thalibin II hal 283
 أي وجوب الحج ولو قال وشرط للاستطاعة في المرأة الخ لكان أولى قوله مع ما ذكر أي من وجدان الزاد والراحلة وأمن الطريق وغيرها مما تقدم وقوله أن يخرج معها محرم أي بنسب أو رضاع أو مصاهرة ولو فاسقاً لأنه مع فسقه يغار عليها من مواقع الريب وقوله أو زوج أي ولو فاسقاً لما تقدم وألحق بهما جمع عبدها الثقة إذا كانت هي ثقة أيضاً والأجنبي الممسوح الذي لم يبق فيه شهوة للنساء قوله أو نسوة ثقاة الخ 
Bujairimi ala al Khatib II hal 371
 وَخُرُوجُ نَحْوِ زَوْجِ امْرَأَةٍ كَمُحْرِمِهَا وَعَبْدِهَا أَوْ نِسْوَةٍ ثِقَاتٍ مَعَهَا لِتَأْمَنَ عَلَى نَفْسِهَا وَلِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ [لا تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ يَوْمَيْنِ إلا وَمَعَهَا زَوْجُهَا أَوْ مَحْرَمٌ] وَيَكْفِي فِي الْجَوَازِ لِفَرْضِهَا امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ وَسَفَرُهَا وَحْدَهَا إنْ أَمِنَتْ 
I’anat al Thalibin II hal 284
 ولها أيضاً أن تخرج وحدها إذا تيقنت الأمن على نفسها كما في المغنى وعبارته تنبيه ما جزم به المصنف من اشتراط النسوة هو شرط للوجوب أما الجواز فيجوز لها أن تخرج لاداء حجة الاسلام مع المرأة الثقة على الصحيح في شرحي المهذب ومسلم 
(Mbah jenggot PISS KTB) 

Tanya: Bolehkah melontar jumrah dengan batu yang telah digunakan untuk melempar (musta'mal)? 
Jawab: boleh tapi makruh
 ويكره أخذ حصى الجمار من حل لعدوله عن الحرم المحترم ومن مسجد كما ذكره لأنها فرشه ومن حش بفتح المهملة أشهر من ضمها وهو المرحاض لنجاسته وكذا من كل موضع نجس كما نص عليه في الأم ومما رمى به لما روي أن المقبول يرفع والمردود يترك ولولا ذلك لسد ما بين الجبلين فإن رمى بشيء من ذلك أجزأه قال في المجموع فإن قيل لم جاز الرمي بحجر رمى به دون الوضوء بماء توضأ به قلنا فرق القاضي أبو الطيب وغيره بأن الوضوء بالماء إتلاف له كالعتق فلا يتوضأ به مرتين كما لا يعتق العبد عن الكفارة مرتين والحجر كالثوب في ستر العورة فإنه يجوز أن يصلي فيه صلوات 
Kemakruhan pengambilan batu saat melempar jumrah : 
1. Mengambil batunya dari tanah halal karena memindahkan batunya ketanah haram 
2. Diambil dari masjid karena termasuk alas dan bagian dari masjid 
3. Diambil dari tempat pembuangan kotoran dan setiap tempat najis karena kenajisannya 
4. Dari batu yang telah terlemparkan karena dalam sebuah riwayat “Yang diterima terangkat, yang tertolak tertinggal” dan karena bila yang demikian dilarang tentuanya kedua bukit tempat pelemparan jumrah akan tertutup batu karenanya bila melempar dengan mengambil batu darinya sudah mencukupi.
Imam Nawawi berkata dalam kitab al-Majmu’ “Kenapa diperbolehkan melempar dengan batu yang telah terlempar dan hal demikian tidak diperbolehkan dalam masalah wudhu dengan menggunakan air yang telah dibuat wudhu ? 
 Al-Qadhi Abu Thayyib dan lainnya berargumen “Sesungguhnya wudhu telah merusakkan air sebagaimana hamba sahaya yang telah dibebaskan sebagai penebus kaffaarat tidak dapat digunakan sebagai penebus kembali sedangkan batu pelemparan jumrah ibarat pakaian sebagai penutup aurat yang diperbolehkan untuk digunakan shalat berulang-ulang. (Mughni al-Muhtaaj I/500) 

Tanya: Bagaimana hukum jamaah haji yang meninggal dalam perjalanannya? 
Jawab: Sudah gugur kewajibannya 
Raudloh al Thalibin III hal 33
 وإذا تأخر بعد الوجوب فمات قبل حج الناس، تبين عدم الوجوب لتبين عدم الإمكان، وإن مات بعد حج الناس، استقر الوجوب ولزم الإحجاج من تركته. 
Al Mizan al Kubro 29
 واتفقوا علي من لزمه الحج فلم يحج ومات قبل التمكن من أدائه سقط عنه الفرض
    demikian

Share this article :

Komentar baru tidak diizinkan.
 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger