Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Ayah Menikah Lagi, Anak Tidak Setuju

Ayah Menikah Lagi, Anak Tidak Setuju

Seorang ayah ingin menikah lagi setelah istri pertamanya meninggal. Namun anaknya tidak setuju dengan berbagai alasan. Ayah tetap terhadap keputusannya untuk menikah dengan perempuan yang menjadi pilihannya. Akibatnya hubungan antara ayah dan anak tidak harmonis. Ayah memilih untuk tinggal bersama istrinya dari pada bersama anaknya. Bagaimana seharusnya sikap ayah dan anak dalam pandangan Islam?

Pernikahan merupakan suatu ikatan suci antara seorang pria dan seorang wanita, dikatakan suci karena diatur oleh ketentuan agama. Ikatan suci yang dibuat itu berlandaskan pada persetujuan antara pihak yang menikah, dalam kasus ini Sang Ayah dengan calon istrinya, dan juga wali dari keluarga calon istrinya.

Oleh karenanya, jika masing-masing pihak yang akan menikah dan walinya telah bersepakat untuk melangsungkan pernikahan, anak tidak memiliki hak atau wewenang untuk menggagalkan terjadinya pernikahan.

Adapun keputusan ayah untuk menikah yang kedua kalinya, setelah kemangkatan istrinya yang pertama, adalah keputusan yang harus dihormati oleh anak. Sebab, seperti orang pada umumnya, sang ayah juga membutuhkan pendamping hidup sebagai curahan kasih sayang, sekaligus sebagai sarana pemenuhan kebutuhan biologisnya.

Bahkan, terdapat dalam Al-Qur’an anjuran untuk menikahkan bagi orang yang telah hidup sendiri, sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nuur, 32:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.”

Adapun keputusan ayah untuk bertempat tinggal bersama istrinya juga keputusan yang harus dihormati oleh anak. Sebab, bukankah hal ini untuk menghindari terjadinya konflik antara ayah dan istrinya dengan anak yang sedari awal tidak menyetujui ayahnya menikah lagi.

Dengan demikian, seorang anak haruslah bersikap dewasa dan dapat memahami kebutuhan ayahnya, karena menikah lagi adalah hal yang lumrah dan manusiawi bagi seorang yang telah ditinggal wafat oleh pasangannya.  

Menikah atau berkeluarga merupakan naluri kemanusiaan dan suatu kebutuhan yang pemenuhannya relatif mutlak diperlukan. Selain itu juga, menghormati perempuan yang dinikahi oleh ayahnya adalah bukan sebuah tawaran, tetapi mesti dilakukan bagi anak, sebab dia juga merupakan ibunya, walaupun berstatus sebagai ibu tiri. Wallahu 'alam


Share this article :

+ komentar + 1 komentar

Anonim
24 November 2013 17.44

intinya tidak ada pilihan bagi anak..tidak semudah itu menerima kenyataan bahwa bapak akan menikah lagi dan akan ada wanita pengganti yg harus disebut sbg ibu..

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger