Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Melestarikan Nilai-Nilai Ramadhan Bag. 2

Nilai ibadah Ramadhan ketiga adalah bersikap jujur. 

Ketika kita berpuasa Ramadhan, kejujuran mewarnai kehidupan kita sehingga kita tidak berani makandan minum meskipun tidak ada orang yang mengetahuinya. Hal ini karena kita yakin Allah SWT yang memerintahkan kita berpuasa selalu mengawasi diri kita dan kita tidak mau membohongi Allah SWT dan tidak mau membohongi diri sendirikarena hal itu memang tidak mungkin, inilah kejujuran yang sesungguhnya. Karenaitu, setelah berpuasa sebulan Ramadhan semestinya kita mampu menjadiorang-orang yang selalu berlaku jujur, baik jujur dalam perkataan, jujur dalamberinteraksi dengan orang, jujur dalam berjanji dan segala bentuk kejujuran lainnya.


Dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita sekarang ini, kejujuran merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Banyak kasus di negeri kita yang tidak cepat selesai bahkan tidak selesai-selesai karena tidak ada kejujuran, orang yang bersalah sulit untuk dinyatakan bersalah karena belum bisa dibuktikan kesalahannya dan mencari pembuktian memerlukan waktu yang panjang, padahal kalau yang bersalah itu mengaku saja secara jujur bahwa dia bersalah, tentu dengan cepat persoalan bisa selesai. 

Sementara orang yang secara jujur mengaku tidak bersalah tidak perlu lagi untuk diselidiki apakah dia melakukan kesalahan atau tidak. Tapi karena kejujuran itu tidak ada, yang terjadi kemudian adalah saling curiga mencurigai bahkan tuduh menuduh yang membuat persoalan semakin rumit. Ibadah puasa telah mendidik kita untuk berlaku jujur kepada hati nurani kita yang sehat dan tajam, bila kejujuran ini tidak mewarnai kehidupan kita sebelas bulan mendatang, maka tarbiyyah (pendidikan) dari ibadah Ramadhan kita menemukan kegagalan, meskipun secara hukum ibadah puasanya tetap sah.


Keempat adalah memiliki semangat berjamaah. 

Kebersamaan kita dalam proses pengendalian diri membuat syaitan merasa kesulitan dalam menggoda manusia sehingga syaitan menjadi terbelenggu pada bulan Ramadhan. Hal ini diperkuat lagi dengan semangat yang tinggi bagi kita dalam menunaikan shalat yang lima waktu secara berjamaah sehingga di bulan Ramadhan inilah mungkin shalat berjamaah yang paling banyak kita laksanakan, bahkan melaksanakannya juga di masjid atau mushalla.


Disamping itu, ibadah Ramadhan yang membuat kita dapat merasakan lapar dan haus, telah memberikan pelajaran kepada kita untuk memiliki solidaritas social kepada mereka yang menderita dan mengalami berbagai macam kesulitan, itupun sudah kita tunjukkan dengan zakat yang kita tunaikan. Karena itu, semangat berjamaah kita sesudah Ramadhan ini semestinya menjadi sangat baik, apalagi kita menyadari bahwa kita tidak mungkin bisa hidup sendirian, sehebat apapun kekuatan dan potensi diri yang kita miliki, kita tetap sangat memerlukan  pihak lain. Itu pula sebabnya, dalam konteks perjuangan Allah SWT mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjamaah, yang saling kuat menguatkan sebagaimana firman-Nya:


Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh (QS Ash Shaf [61]:4)


Nilai ibadah Ramadhan kelima adalah melakukan pengendalian diri. 

Puasa Ramadhan adalah pengendalian diri dari hal-hal yang pokok seperti makan dan minum. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang pokok semestinya membuat kita mampu mengendalikan diri dari kebutuhan kedua dan ketiga, bahkan dari hal-hal yang kurang pokok dan tidak perlu sama sekali. Namun sayangnya, banyak orang telah dilatih untuk menahan makan dan minum yang sebenarnya pokok, tapi tidak dapat menahan diri dari hal-hal yang tidak perlu, misalnya ada orang yang  mengatakan: “saya lebih baik tidak makan daripada tidak merokok”, padahal makan itu pokok dan merokok itu tidak perlu. “


Kemampuan kita mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak benar menurut Allah dan Rasul-Nya merupakan sesuatu yang amat mendesak, bila tidak,  kehidupan ini akan berlangsung seperti tanpa aturan, tak ada lagi halal dan haram, tak ada lagi haq dan bathil, bahkan tak ada lagi pantas dan tidak pantas atau sopan dan tidak. Yang jelas, selama manusia menginginkan sesuatu, hal itu akan dilakukannya meskipun tidak benar, tidak sepantasnya dan sebagainya. Bila ini yang terjadi, apa bedanya kehidupan manusia dengan kehidupan binatang, bahkan masih lebih baik kehidupan binatang, karena mereka tidak diberi potensi akal, Allah SWT berfirman (yang artinya):


Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tapi) tidak dipergunakannya  untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang  ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS Al A’raf [7]:179).


Dengan demikian, harus kita sadari bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan dan latihan, keberhasilan ibadah Ramadhan justru tidak hanya terletak pada amaliyah Ramadhan yang kita kerjakan dengan baik, tapi yang juga sangat penting adalah bagaimana menunjukkan adanya peningkatan taqwa yang dimulai dari bulan Syawal hingga Ramadhan tahun yang akan datang.



Buletin Madinatul Ilmi
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Melestarikan Nilai-Nilai Ramadhan Bag. 1

Setelah Ramadhan kita akhiri, bukan berarti berakhir sudah suasana ketaqwaan kepada Allah SWT, tapi justru tugas berat kita untuk membuktikan keberhasilan ibadah Ramadhan itu dengan peningkatan ketaqwaan kepada Allah SWT, karenanya bulan sesudah Ramadhan adalah Syawwal yang artinya peningkatan. Disinilah letak pentingnya melestarikan nilai-nilai Ibadah Ramadhan.

Sekurang-kurangnya, ada lima nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan, paling tidak hingga Ramadhan tahun yang akan datang.

Pertama, tidak gampang berbuat dosa. 

Ibadah Ramadhan yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya membuat kita mendapatkan jaminan ampunan dari dosa-dosa yang kita lakukan selama ini, karena itu semestinya setelah melewati ibadah Ramadhan kita tidak gampang lagi melakukan perbuatan yang bisa bernilai dosa, apalagi secara harfiyah Ramadhan artinya membakar, yakni membakar dosa. Kalau dosa itu kita ibaratkan seperti pohon, maka bila sudah dibakar, pohon itu tidak mudah tumbuh lagi, bahkan bisa jadi mati, sehingga dosa-dosa itu tidak mau kita lakukan lagi.

Dengan demikian, jangan sampai dosa yang kita tinggalkan pada bulan Ramadhan hanya sekadar ditahan-tahan untuk selanjutnya dilakukan lagi sesudah Ramadhan berakhir dengan kualitas dan kuantitas yang lebih besar. Kalau demikian jadinya, ibarat pohon, hal itu bukan dibakar, tapi hanya ditebang cabang-cabangnya sehingga satu cabang ditebang tumbuh lagi tiga, empat bahkan lima cabang dalam beberapa waktu kemudian. Dalam kaitan dosa, sebagai seorang muslim jangan sampai kita termasuk orang yang bangga dengan dosa, apalagi kalau mati dalam keadaan bangga terhadap dosa yang dilakukan, bila ini yang terjadi, maka sangat besar resiko yang akan kita hadapi dihadapan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka bisa masuk ke dalam syurga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan (QS Al A’raf [7]:40).

Kedua hati-hati dalam bersikap dan bertindak. 

Selama beribadah Ramadhan, kita cenderung berhati-hati dalam melakukan sesuatu, hal itu karena kita tidak ingin ibadah Ramadhan kita menjadi sia-sia dengan sebab kekeliruan yang kita lakukan. Secara harfiyah, Ramadhan juga berarti mengasah, yakni mengasah ketajaman hati agar dengan mudah bisa membelah atau membedakan antara yang haq dengan yang bathil. 

Ketajaman hati itulah yang akan membuat seseorang menjadi sangat berhati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku. Sikap seperti ini merupakan sikap yang sangat penting sehingga dalam hidupnya, seorang muslim tidak asal melakukan sesuatu, apalagi sekadar mendapat nikmat secara duniawi.

Kehati-hatian dalam hidup ini menjadi amat penting mengingat apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT, karenanya apa yang hendak kita lakukan harus kita pahami secara baik dan dipertimbangkan secara matang, sehingga tidak sekadar ikut-ikutan dalam melakukannya, Allah SWT berfirman (yang artinya):

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS Al Isra [17]:36).



Buletin Madinatul Ilmi
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Ayo Membangun Indonesia (2)

Puasa dan Idul Fitri agar bermakna terhadap upaya menjadikan Indonesia bangkit, harus mampu melahirkan sikap solidaritas sosial atau kemauan berjuang dan berkorban yang tinggi. Membangun bangsa tidak akan berhasil jika tidak terdapat orang-orang yang rela berjuang dan berkorban. 

Sejarah bangsa ini membuktikan secara jelas tentang hal itu. Indonesia berhasil meraih kemerdekaan dari penjajah, adalah sebagai buah dari adanya kesediaan para pejuang termasuk di garda depan adalah peran para ulama-ulama kita yang ikhlas mengorbankan apa saja yang ada padanya. 

Demikian pula, Rasulullah Muhammad SAW tidak akan mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madani yang damai dan berperadaban jika tidak ditempuh melalui perjuangan dan pengorbanan yang berat.

Dan selaras dinamika yang ada, pemerintah sudah seharusnya untuk terus menerus memegang teguh pada prinsip memperjuangkan kemakmuran dan kemahslahatan rakyat. Dalam kaidah fikih dikatakan,”tasharruf al-imam ‘ala al-ra’iy manuthun bi al-mashlahah,” bahwa kebijakan pemerintah wajib ditaati selama kebijakan tersebut berpijak pada kebijakan yang memberikan kebaikan bagi banyak rakyat. Imam Syafi’i menggambarkan hubungan rakyat dan penguasa ibarat hubungan wali dengan anak yatim.

Puasa dan hari raya Idul Fitri selayaknya melahirkan sifat-sifat profektif, seperti amanah, adalah, istiqamah dan salam.
Sifat-sifat itu sangat diperlukan untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan maju. Lebih daripada itu, puasa dan Idul Fitri seharusnya berhasil melahirkan suasana batin yang pandai bersyukur, ikhlas, tawakkal dan istiqamah. Di sinilah, pentingnya memahami dan meresapi kata-kata “al-dinu huwa al-nashihah lillahi wa li rasulihi wa lil mu’minin”, bahwa agama ada nasehat.



Akhirnya, melalui momentum Idul Fitri ini, marilah kita bersama-sama menyadari betapa pentingnya semua komponen bangsa ini bersigap dan bertekad untuk ikut berpartisipasi secara aktif dalam membangun bangsa demi terwujudnya impian Indonesia menjadi “negeri yang berperadaban adiluhung” (madinah al-fadhilah).





Prof. DR. KH. Said Aqil Siroj, MA.
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Ayo Membangun Indonesia (1)

Menghayati inti ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan menyadari persoalan bangsa yang pada saat ini serta memperhatikan bagaimana perjuangan Rasulullah dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera melalui ajaran Islam (Islam tamaddun), maka dalam suasana Idul Fitri ini akan tepat kiranya jika kita gunakan sebagai momentum untuk membangun Indonesia ke depan yang lebih cerah. Puasa dan Idul Fitri sudah seharusnya dijadikan sebagai momentum untuk membangun gerakan kebangkitan bangsa ke depan, bukan sekedar ritual atau banalitas tahunan bagi umat Islam.

Puasa dan Idul Fitri seyogyanya mampu melahirkan persepsi dan kesadaran yang benar terhadap persoalan bangsa yang sesungguhnya. Persoalan bangsa Indonesia yang kita hadapi sekarang ini sesungguhnya, bukanlah sebatas menyangkut satu bidang misalnya masalah ekonomi atau seperti yang dilontarkan banyak pengamat, kita tengah mengalami krisis enerji dan pangan, melainkan lebih mendasar dan luas dari sebatas itu. “Laisa minna ma lam yahtamma bi amril muslimin”, bahwa tidak termasuk umatku mereka yang tidak peduli terhadap urusan umat Islam.

Memang membangun ekonomi adalah penting, akan tetapi bukanlah segala-galanya. Bangsa yang berperadaban tinggi selalu dibangun di atas dasar keyakinan, jiwa atau spritualitas yang dalam serta akhlak yang luhur. Keadaan ekonomi yang kurang baik, di tengah-tengah negeri yang subur seperti Indonesia, sesungguhnya merupakan akibat dari lemahnya iman, spritualitas, keterbatasan ilmu dan akhlak yang disandangnya. Betapa pentingnya aspek-aspek ini untuk membangun peradaban, maka ayat-ayat Al-Quran pada fase awal yang diterimakan kepada Rasulullah adalah menyangkut ilmu pengetahuan (yakni dalam bentuk perintah membaca, Iqra’), larangan berbuat angkara murka dan sebaliknya, beliau diperintah untuk membangun akhlaq yang mulia (bu’itstu li utammima makarimal akhlaq). Dikatakan bahwa “al-dinu husnul khulq” bahwa agama identik dengan kebaikan budi pekerti.

Puasa dan Idul Fitri harus mampu membangkitkan jiwa optimisme yang kuat terhadap kehidupan hari esok yang lebih baik. Akhir-akhir, muncul dari kalangan luas rasa pesimisme yang berkelebihan terhadap keadaan negeri ini. Barangkat dari suasana pesimisme itu, bangsa ini dilabeli dengan identitas yang sedemikian rendah, seperti disebutnya sebagai bangsa yang terpuruk, bangsa korup, bangsa yang carut marut, bangsa yang berada pada titik nadir dan istilah-istilah lain yang kurang sedap. Istilah-istilah seperti itu bisa jadi akan melahirkan mental bangsa yang inferior, (‘adamul tsiqoh) tidak percaya diri dan selalu berharap pada uluran pertolongan bangsa lain. Bangsa Indonesia sesungguhnya tidak semalang itu.

Sebaliknya, bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang beruntung, memiliki tanah kepulauan yang luas lagi subur, samudera dan lautan yang luas, aneka tambang, serta penduduk berjumlah besar. Semua itu adalah karunia Allah, yang seharusnya selalu disyukuri dan dijadikan modal untuk membangun kemakmuran bersama. 



Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Syaikh Abdul Qadir Al Jilany: Ibadah Harus Disertai Ilmu


Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany mengatakan, “Berbahagialah orang yang mengakui nikmat Allah SWT di hadapan-Nya dan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada-Nya. Lalu, dia juga melepaskan dirinya dari segala sebab dan kekuatan dirinya. Orang yang berakal adalah orang yang tak pernah menghitung-hitung amalnya kepada Allah SWT dan tidak mengharap balasan dari-Nya dalam segala hal.

Sungguh celaka, jika engkau beribadah kepada Allah SWT tanpa disertai ilmu, engkau bersikap zuhud tanpa ilmu, dan engkau mengambil dunia tanpa ilmu. Itulah sesungguhnya hijab dalam hijab, murka dalam murka. Engkau tak mampu membedakan antara yang baik dan buruk. Engkau tak mampu memisahkan apa yang bermanfaat bagimu dan apa yang membahayakan dirimu.

Ingatlah bahwa semua itu adalah akibat dari kebodohan dirimu terhadap hukum Allah. Sebab engkau telah meninggalkan sikap berbakti kepada para guru, guru amal dan guru ilmu, yang menunjukkan jalan kepada Allah. Engkau telah menjadikan berbicara sebagai nomer satu, sedangkan beramal sebagai nomer dua. Padahal, dengan amal kalian sampai (wushul) kepada Allah SWT.

Tidaklah akan sampai orang yang ingin mencapai sesuatu kecuali dengan ilmu, dengan sikap zuhud dalam perkara dunia, serta berpaling dari dunia, baik hati dan badannya. Orang yang bersikap zuhud akan mengeluarkan dunia dari tangannya.

Orang yang zuhud yang kuat dalam kezuhudannya akan mengeluarkan dunia dari hatinya. Mereka zuhud dalam perkara dunia dengan hatinya sehingga sikap zuhud menjadi watak mereka, lahir dan batin. Pada saat itu, padamlah api tabiatnya, pecahlah hawa nafsunya, tenahlah jiwanya, dan dia terhalang dari keburukan.”



Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Lima Golongan Manusia Terkait Ilmu

Rasulullah SAW menjelaskan lima golongan manusia terkait ilmu, yang celaka adalah golongan kelima.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ (رواه بيهقى)

Nabi SAW bersabda: (1) Jadilah engkau orang berilmu, atau ( 2) Orang yang menuntut ilmu, atau (3) Orang yang mau mendengarkan ilmu, atau (4) Orang yang menyukai ilmu. Dan Janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka (HR. Baihaqi).

Di dalam Riwayat tersebut, Rasul SAW memerintahkan umatnya untuk menjadi:

Aliman (orang berilmu).

Kita hidup di dunia ini wajib mencari ilmu kapanpun dan dimanapun, kalau kita menjadi orang Alim(berilmu) hidup kita tidak akan tersesat dan wibawa kita sangat tinggi di mata masyarakat.

Muta’ammilan (orang yang menuntut ilmu, murid, pelajar, santri).

Jika kita tidak bisa melakukan point yang pertama jadilah orang yang kedua yaitu menjadi orang yang mencari ilmu.

Mustami'an ( Orang yang mau mendengarkan ilmu).

Jika kesulitan melakukan yang pertama dan yang ke dua maka kita bisa melakukan yang ke tiga yaitu menjadi orang yang mendengarkan ilmu.

Muhibban (Orang yang menyukai)

Konteks orang menyukai dalam hal kebaikkan sangatlah penting bagi kehidupan kita. Terkadang kita tidak suka dengan seseorang yang melakukan kebaikkan padahal kita tidak melakukan itu.

Dan Rasul SAW melarang kita untuk menjadi orang yang kelima yakni Fatahlik (Orang merusak)

Janganlah kita menjadi orang yang ke lima yaitu merusak, tidak menjadi orang berilmu, tidak menjadi orang yang menuntut ilmu, tidak menjadi orang yang mendengarkan kebaikkan, tidak menjadi orang yang suka dengan kebaikkan, malah menjadi orang perusak.



Kang Imam
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Ziarah Walisongo Melahirkan Budaya Malu Kepada Allah

Saya pernah ditanya, “Bib, keistimewaannya ziarah walisongo apa?”

Saya jawab, “Isin! (Malu)”

Jawaban saya masih dikejar, “Lho, bukannya istimewanya ada pada berkah?”.

“Bukan. Terlalu tinggi itu buat saya.” Tandas saya.

Anda lihat, Sunan Ampel misalnya, sudah berapa ratus orang yang berdzikir di makam beliau tiap hari? Makam Sunan Kalijaga, berapa ratus orang yang sudah menyebut nama Allah di sana tiap malam? Sunan Muria, sudah berapa ribu orang yang membaca Qur'an dan membaca shalawat di sana (Muria)? 

Saya sendiri saja masih susah mengajak anak-anak sehabis maghrib untuk berkumpul dan memperkenalkan ajdad (leluhur), berdoa, berdzikir, dan membaca Quran. Bagaimana bisa seramai di makam para auliya` Allah Walisongo? Padahal mereka sudah wafat ratusan tahun yang lalu, dan saya masih hidup.

Berziarah, selain melahirkan budaya malu seperti tadi, seharusnya berfungsi memperkenalkan siapa yang ada di makam tersebut kepada anak-anak kita. Seharusnya bukan Walisongo saja, tapi perkenalkan juga siapa Kiai Sentot Prawirodirjo, siapa Kiai Diponegoro, siapa Jenderal Sudirman, karena kita semakin lupa dengan para pahlawan negeri ini. Lihatlah bendera kita, merah putih, ia berdiri tegak bukan secara gratis! Ada darah dan nyawa para pahlawan yang harus dibayar untuk “membeli” bendera itu. Coba kita kenalkan para pahlawan itu setiap habis maghrib.

Ibarat kita sudah merdeka ini, seperti ada hidangan di meja di depan kita dan kita tinggal melahapnya saja. Tapi bukannya melahap, eh malah sibuk ribut sendiri, saling sikut, mau diadu domba. Makam Sunan Ampel saja, yang sudah wafat ratusan lalu, masih sanggup mempersatukan masyarakat sekarang yang masih hidup. Pintu makam selalu dibuka, semua orang dapat menziarahi, apapun warna kulitnya, apapun partainya, dan di kanan-kiri banyak orang berjualan, pendapatan mereka bertambah, ada pekerjaan yang dapat menyambung hidup mereka. Muka kita mau ditaruh dimana, wong orang yang sudah mati saja masih bisa begini, tapi kita yang masih hidup tidak bisa apa-apa.


Mauidhoh Habib Luthfi Bin Yahya dalam Haul Sunan Ampel
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Pengemis Yang Dulu Itu Aku..!

Dikisahkan dalam Kitab Al-Mustathraf Fi Kulli Fann Mustazhraf yang disusun oleh Syihabuddin Abu al-Fath Muhammad al-Absyihi al-Muhalla (lahir 1388 M, wafat 1446 M, seorang tokoh dari Mesir yang bermazhab Syafi'i dan hafal al-Qur'an sejak berusia 10 tahun), bahwa dahulu ada sepasang suami istri yang hidup berkecukupan. Suatu ketika, saat pasangan suami istri tersebut sedang duduk di meja makan dan bersiap-siap untuk makan siang, hingga tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk oleh seorang pengemis. Sang istri ingin memberinya makanan, akan tetapi suaminya kemudian menghardik dan mengusir pengemis tersebut.
 
Beberapa tahun setelah kejadian itu, kegiatan usaha Si Suami mengalami kebangkrutan. Kekayaannya sirna, selain itu, karena perangainya yang buruk, ia juga bercerai dengan istrinya. Sang wanita kemudian menikah lagi dengan seorang pria yang baik perangainya dan hidup berkecukupan.

Suatu ketika, wanita itu tengah bersiap menikmati hidangan ayam panggang di meja makan bersama suami barunya. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk oleh seorang pengemis, berbeda dengan sikap suami pertamanya, suami keduanya ini berkata kepada sang istri, “Tolong berikan makanan kita kepadanya". Wanita itu mematuhi kata suaminya. Setelah memberikan makanan kepada si pengemis, wanita itu duduk kembali di meja makan sambil menangis tersedu sedu.

"Apa yang membuatmu menangis?" tanya suaminya

Sang istri pun berkata, "Pengemis barusan, ternyata adalah mantan suamiku. Dahulu, kami juga pernah didatangi oleh pengemis ketika tengah menikmati hidangan, lalu ia menghardik dan mengusir pengemis itu. Sekarang, ternyata ia justru menjadi pengemis"

Suaminya tersenyum dan berkata dengan lembut, "Tahukah engkau, pengemis yang dulu diusir oleh mantan suamimu itu adalah, aku"

Allah `Azza wa Jalla berfirman dalam QS Ali `Imran 26 - 27 :

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah, "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)."


Sayyid Machmud BSA
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Rahasia Di Balik Cobaan (3)

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ.

"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)".

Uraian di ataslah kira-kira adalah yang dikehendaki oleh imam Ibnu ‘Athoillah dalam hikmahnya. Aplikasi Sebenarnya hikmah di atas telah teraplikasikan dalam kehidupan para kekasih Allah SWT setiap harinya. Hal ini bisa kita ketahui dari beberapa ungkapan mereka, diantaranya adalah:

a. Imam Abu al-Qosim al-junaidi pada satu kesempatan berkata, "Aku tidak pernah merasa kenyang dengan segala sesuatu yang datang padaku dari dunia ini, karena dunia adalah tempat kesusahan, cobaan dan fitnah. Maka, dunia dan seisinya adalah sesuatu yang jelek dan berbahaya. Karenanya dunia pasti datang kepadaku dengan segala sesuatu yang aku benci, dan jika ia datang kepadaku dengan sesuatu yang aku senangi maka itu hanya sesuatu yang berlebihan."

b. Imam Abu Turab Ra berkata, "Wahai para manusia, sesungguhnya engkau mencintai tiga perkara padahal sebenarnya ketiganya bukan hakmu. Pertama nafsu, padahal sebenarnya ia adalah untuk kesenangannya (hawa). Kedua, ruh padahal sebenarnya ia adalah milik Allah. Ketiga, harta padahal nanti hartamu akan dimiliki oleh ahli warismu. Engkau mencari dua perkara, padahal engkau tidak akan pernah mendapatkannya, yakni kesenangan dan kenyamanan sedang keduanya hanya ada di surga.

Maka hal yang wajib dilakukan oleh seorang hamba adalah tidak menjadikan dirinya nyaman di dunia dan tidak mempunyai kecenderungan terhadap sesuatu yang menjadikan kita bahagia dan nyaman didunia.

Kita harus belajar dan berusaha untuk mengamalkan dan mengimplemetasikan sabda baginda Nabi Muhammad SAW: dunia adalah penjara bagi orang mu'min dan surga bagi orang kafir. Kebiasaan seorang hamba untuk menghadapi cobaan di dunia akan menjadikan dia merasa ringan dalam segala hal yang mereka hadapi dan temui, ia pun akan merasa nyaman saja ketika kehilangan sesuatu yang disenangi olehnya. 

Hendaknya seorang murid (orang yang menghendaki jalan akherat) menghadapi apa saja yang ia temui dengan penuh kesabaran, pasrah dan ridlo terhadap qodlo' allah SWT, maka insya allah sebentar lagi akan tampak jelas rahmat allah atas dirinya dan menyebabkan ia mendapat pahala dari Allah SWT. Waallahu ‘alam bis showab.



Pengajian Kitab Hikam bersama KH. Muh.. Wafi Maimun Zubair
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Rahasia Di Balik Cobaan (2)

Tentu tidak masuk akal bagi orang berakal dan punya pandangan mata hati yang tajam. Andaikan kehidupan dunia hanya dipenuhi kenikmatan dan kebahagiaan saja maka hal itu akan menimbulkan kecintaan seorang hamba terhadap dunia dan selalu ingin hidup didalamnya. Ia merasa bahwa dunia ini rumahnya, ia lalai bahwa sebenarnya tempat tinggalnya adalah di akherat, ia selalu memperbaiki dan menghiasi kehidupan dunia ini, sementara ia lupa akan rumahnya yang di akherat nanti.

Hal ini semua adalah akibat adanya persepsi bahwa dunia mestinya hanya diisi dan dipenuhi dengan kenikmatan dan kebahagiaan saja. Irama kehidupan dunia yang kadang dimainkan dengan lagu-lagu yang bersenandung kebahagiaan dan kadang dimainkan dengan lagu-lagu yang bersenandung kesusahan adalah satu bentuk rahmat dan kasih sayang allah SWT terhadap hambanya. Karena Dia tidak ingin melihat hambanya terpesona dan nyaman dengan irama-irama keindahan dunia ini dan lupa bahwa nanti masih ada kehidupan yang kekal dan abadi yang membutuhkan bekal yang tentunya juga lebih banyak.

Dalil-dalil Dua poin di atas merupakan hal yang tidak bisa kita pungkiri. Karena keduanya merupakan penjelasan (Syarh) atas hikmah yang disampaikan Ibnu ‘Athoillah diatas. Dan dua poin ini bisa menjawab dan mengurangi kesusahan dan kegelisahan kita melihat kehidupan dunia yang diiringi irama susah dan senang.

Akan tetapi yang menjadi pertanyaan, mana dalil yang menguatkan dan membenarkan dua poin di atas? Atau apakah kedua poin di atas hanya merupakan renungan dan angan-angan yang merupakan kreasi akal dan fikiran Ibnu ‘Athoillah saja? Tentu jawabnya ada dalil dari al-Qur'an dan Hadis yang mendukung dan membenarkan dua poin di atas. Al-Qur'an telah mengingatkan kita akan hal ini dalam beberapa ayatnya, coba saja kita perhatikan dan renungi surat Ali Imron ayat 186 di bawah ini:

لتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ.

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan"

Dalam salah satu ayat al-Qur'an ada satu keterangan yang lebih jelas dan mengumpulkan semua keterangan di atas, yakni dalam surat al-Mulk ayat 1-2 yang berbunyi:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ.

"Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun".

Jadi, jika kita telah mengetahui bahwa kehidupan di dunia adalah tempat taklif, cobaan dan ujian maka kita harusnya yakin bahwa kehidupan akhirat adalah tempat untuk memperoleh pahala dan pembalasan.



Pengajian Kitab Hikam bersama KH. Muh Wafi Maimun Zubair
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Rahasia Di Balik Cobaan (1)

لا تستغرب وقوع الأكدار ما دامت في هذه الدار فإنها ما أبرزت إلا ما هو مستحق وصفها وواجب نعتها

"Janganlah menganggap aneh akan adanya beberapa problematika, selama engkau masih di dunia ini. Karena tidak akan ada di dunia ini kecuali sesuatu yang sudah pasti dan harus ada"

Uraian Dalam hikmah di atas Imam Ibnu ‘Athoillah bermaksud merespon peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita dari masa ke masa. Yaitu, kenapa Allah swt menjadikan kita hidup di dunia harus menghadapi beberapa cobaan dan problematika? Kenapa pula di balik kebahagiaan yang kita rasakan di dunia, pasti selalu diiringi dengan musibah? 

Jawabnya adalah di balik semua itu ada banyak hikmah yang bisa kita petik, yang secara ringkas bisa kita simpulkan menjadi dua poin. Pertama, Allah menjadikan dunia ini sebagai tempat cobaan atau bisa dikatakan sebagai tempat ujian bagi manusia. Manusia, di samping telah diberi amanat oleh Allah SWT sebagai kholifah, juga di bebani tanggungan berupa Ubudiyyah (penghambaan) pada Allah secara Ikhtiyari (atas kemauan manusia sendiri), sebagaimana allah mewajibkan bagi makhluk-makhluk-Nya yang lain untuk menghamba kepadanya tetapi secara Qohri (terpaksa).

Praktik ubudiyah bisa terealisasikan dengan adanya ketundukan total terhadap semua hukum yang telah ditetapkan oleh Allah swt serta ridlo akan taqdir-Nya, baik berupa nikmat atau cobaan, serta meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa semua yang terjadi adalah berdasar kehendakNya. Kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa manusia memang disiapkan oleh Allah sebagai mukallaf atau orang yang siap menerima beban dan tanggung jawab dari Allah SWT. 

Coba kita bayangkan jika manusia di dunia ini hanya mendapatkan nikmat saja, tidak pernah mendapatkan musibah sama sekali. Mereka selalu senang dan bahagia, tidak pernah merasakan kesusahan sedikit pun, maka akan muncul sebuah pertanyaan singkat, "Mana bukti kehambaan manusia? Bagaimana sebuah penghambaan bisa tampak darinya, Sedang ia selalu berada dalam kesenangan dan kenikmatan." Ya, pertanyaan di atas sangat layak untuk dilontarkan. Karena penghambaan merupakan buah dari taklif, sedang sesuatu tidak bisa dikatakan taklif jika tidak mengandung masyaqqoh (kepayahan).

Orang yang berakal sehat, malah akan merasa aneh jika membayangkan bahwa dunia ini hanya dipenuhi kesenangan dan kenikmatan belaka. Karena masyaqqoh yang merupakan implementasi dari ubudiyyah tidak bisa tampak dalam dunia seperti yang disebut tadi, sehingga ia akan kehilangan kesempatan untuk menghambakan dirinya atau bercumbu (Munajat) dengan kekasih satu-satunya, yakni Allah SWT.

Kehidupan yang hanya dipenuhi oleh berbagai kenikmatan dan kesenangan sangat membingungkan bagi orang yang berakal dan punya mata hati. Doa adalah buah dari rasa faqir (butuh), lemah dan Khosyyah (ketakutan) kita akan segala siksa, musibah dan ancaman terhadap diri kita.

Sehingga hal itu akan mendorong kita untuk berdoa dan meminta kepada Dzat yang maha kaya, maha kuat untuk melindungi kita. Lalu bagaimana bisa manusia berdoa sedang ia tidak pernah menghawatirkan apa pun atas dirinya.

Dengan kepadaian akal dan ketajaman mata hati manusia, maka akan timbul sebuah respon dan sikap yang baik terhadap adanya beberapa Taklif dan macam-macam cobaan ataupun kenikmatan dari allah SWT, sikap yang kami maksud diatas adalah sabar, jika yang memang yang kita terima adalah musibah dan cobaan, dan sikap syukur, jika yang kita terima adalah kesenangan dan kenikmatan. 

Kedua, jika kita mau merenung, kita akan tahu bahwa kehidupan dunia ini adalah sebuah area atau medan terjal yang dipenuhi dengan rintangan, untuk menuju ke suatu tempat yang kekal dan abadi, yakni akirat. Allah SWT pun sudah menetapkan bahwa pintu yang kita lewati untuk menuju ke alam keabadian tersebut hanya satu, tidak ada yang lain. Hal itu tak lain adalah kematian. Jadi, kematian adalah akhir dari episode kehidupan manusia di dunia ini.

Dan kematian bukanlah ketiadaan sebagaimana disangka oleh sebagian orang, akan tetapi perpindahan dari satu kehidupan menuju ke kehidupan yang lain. Jika kita sudah tahu bahwa kehidupan dunia tidak kekal, maka apakah masuk akal jika kemudian kehidupan dunia ini hanya dipenuhi dengan kenikmatan dan kebahagiaan saja? Padahal kehidupan ini bisa dikatakan lebih mirip dengan kondisi orang yang singgah di suatu tempat dan tentunya tidak lama.


Pengajian Kitab Hikam bersama KH. MUh. Wafi Maimun Zubair
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Ajaran Kasih Syaikh Abdul Qadir Jilany

Syaikh Abdul Qadir Jilany mengatakan:

"Ingatlah Rabbmu, Azza wa Jalla dalam keadaan sunyi atau ramai. Jadikan Dia sebagai pusat perhatianmu, seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, yakinlah bahwa Dia melihatmu.

Barangsiapa yang berdzikir dengan hatinya, berarti ia telah mengingat-Nya. Sedangkan yang tidak berdzikir dengan hatinya, ia tidak mengingat-Nya.

Lisan itu tanda bagi hati dan pengikutnya. Sering-seringlah mendengar nasihat, sebab bila hati tidak mendengar nasihat, akan menjadi buta. Sunngguh, hakikat tobat adalah mengagungkan perintah-Nya dalam segala hal.

Maka, salah seorang ulama berkata, "Segala kebaikan itu ada dalam dua kalimat saja: 'Mengagungkan Allah dan sayang kepada makhluk-Nya.' Setiap orang yang tak mengagungkan perintah Allah dan tidak menyayangi makhluk-Nya, berarti ia orang yang jauh dari Allah."

Allah Azza wa Jalla pernah berfirman kepada Musa AS.:

"Berkasih sayanglah agar Aku menyayangimu. Sesungguhnya Aku Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Barangsiapa yang menyayangi, maka Aku pun menyayanginya dan akan memasukkannya ke surga-Ku."

Maka beruntunglah orang-orang yang memiliki sifat kasih sayang pada sesama."



Kitab Al-Fath Ar-Rabbani wa Al-Faidh Ar-Rahman
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Mata Rasulullah Pun Berlinang

Pada saat malam Takbiran, Sayyidina Ali ibn Abi Thalib terlihat sibuk membagi-bagikan gandum dan Kurma. Beliau bersama istrinya, Sayyidah Fathimah az-Zahra, Sayyidina Ali menyiapkan tiga karung gandum dan dua karung Kurma. Terihat, Sayyidina Ali memanggul gandum, sementara istrinya Sayyidah Fatimah menuntun Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein. Mereka sekeluarga mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni.

Esok harinya tiba Shalat ‘Idul Fitri. Mereka sekeluarga khusyuk mengikuti Shalat jama’ah dan mendengarkan khutbah. Selepas khutbah ‘Id selesai, keluarga Rasulullah SAW itu pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri.

Sahabat beliau, Ibnu Rafi’i bermaksud untuk mengucapkan selamat ‘Idul Fitri kepada keluarga putri Rasulullah SAW. Sampai di depan pintu rumah, alangkah tercengang Ibnu Rafi’i melihat apa yang dimakan oleh keluarga Rasulullah itu.

Sayyidina Ali, Sayyidah Fatimah, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein yang masih balita, dalam ‘Idul Fitri makanannya adalah gandum tanpa mentega, gandum basi yang baunya tercium oleh sahabat Nabi itu.

Seketika itu Ibnu Rafi’i berucap Istighfar, sambil mengusap-usap dadanya seolah ada yang nyeri di sana. Mata Ibnu Rafi’i berlinang butiran bening, perlahan butiran itu menetes di pipinya.

Kecamuk dalam dada Ibnu Rafi’i sangat kuat, setengah lari ia pun bergegas menghadap Rasulullah SAW.

Sesampainya tiba di depan Rasulullah, “Ya Rasulullah, ya Rasulullah, ya Rasulullah, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ibnu Rafi’i. “Ada apa wahai sahabatku?” tanya Rasulullah.

“Tengoklah ke rumah putri baginda, ya Rasulullah. Tengoklah cucu baginda Hasan dan Husein.”

“Kenapa keluargaku?”

“Tengoklah sendiri oleh baginda, saya tidak kuasa mengatakan semuanya.”

Rasulullah SAW pun bergegas menuju rumah Sayyidah Fatimah. Tiba di teras rumah, tawa bahagia mengisi percakapan antara Sayyidina Ali, Sayyidah Fatimah dan kedua putranya.

Mata Rasulullah pun berlinang. Beliau menangis melihat keluarga putri tercinta dan dua cucunya yang hanya makan gandum basi dihari Raya Idul Fitri.

Di saat semua orang berbahagia, di saat semua orang makan yang enak-enak. Keluarga Rasulullah SAW penuh tawa bahagia dengan hanya makan gandum yang baunya tercium tak sedap.

“Ya Allah, Allahumma Isyhad...Ya Allah, Allahumma Isyhad... (Ya Allah saksikanlah, saksikanlah) Di hari ‘Idul Fitri keluargaku makanannya adalah gandum yang basi. Mereka membela kaum papa, ya Allah. Mereka mencintai kaum fuqara dan masakin. Mereka relakan lidah dan perutnya mengecap makanan basi, asalkan kaum fakir-miskin bisa memakan makanan yang lezat. Allahumma Isyhad, saksikanlah ya Allah, saksikanlah,” bibir Rasulullah berbisik lembut.

Sayyidah Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, sang ayah sedang berdiri tegak. “Duhai ayahnda, ada apa gerangan ayah menangis?”

Rasulullah tak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Surga untukmu, Nak...Surga untukmu.”

Demikianlah, menurut Ibnu Rafi’i, keluarga Rasulullah SAW pada hari ‘Idul Fitri menyantap makanan yang basi dan bau.

Ibnu Rafi’i berkata, “Aku diperintahkan oleh Rasulullah SAW agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap ‘Idul Fitri dan aku pun simpan kisah itu dalam hatiku. Namun, selepas Rasulullah SAW wafat, aku takut dituduh menyembunyikan Hadits, maka aku ceritakan hal ini agar menjadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin.”



Musnad Imam Ahmad
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Larangan Berbuat Dzalim

Dari Abu Musa Al Asy'ari ra, Rasulullah SAW bersabda " Sesunguhnya Allah akan menangguhkan orang yang Dzalim sampai jika Allah mengadzabnya Allah tidak melepaskannya", kemudian beliau membaca ayat " Demikianlah Adzab Rabbmu jika dia Mengadzab penduduk suatu negeri yang dzalim, Sesungguhnya adzab -Nya sangatlah pedih dan Menyakitkan" Surat Hud Ayat 102 (Muttafaqun 'Alaih).

Hadist tersebut berbicara tentang Kedzaliman. Dzalim dari segi bahasa Arab yaitu seoarang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, seorang melakukan perkara atau pekerjaan yang tidak boleh dikerjaan, dan dzalim yang paling besar adalah berbuat Syirik.

Berbuat dzalim adalah Dosa besar didalam kondisi apapun terutama di balan Rajab ini, karna bulan Rajab adalah bulan yang dimuliakan oleh Alloh SWT. Dari 4 bulan yang mulia maka Alloh Berkata Agar tidak berbuat dzalim Di Bulan Rajab.

Seorang yang banyak beribadah meski banyak namun ia berbuat dzalim maka ia orang yang Bangkrut, dan Rasul berkata siapa orang yang paling Bangkrut ia Adalah Orang yang nanti di akhirat membawa Pahala Shalat, zakat, puas, dan lainnya, namun ia Membawa Perbuatan dzalim, maka Pahala Zakat, shalat dibagi-bagi atas perbuatan dzalimnya. Dan dia masih berada Dalam perhitungan maka dosa seorang akan di timpakan kepadanya,sampai pahalanya habis.

Dan Seseorang tidak Boleh berkumpul dengan orang yang Dzalim. Ketika ada seorang dzalim berada dalam kehausan maka apakah ia pantas mendapatkan ,maka tidak karna ia selalu dalam kedzaliman dan tidak pantas mendapatkan bantuan. Dan orang dzalim Selalu diberi kesempatan untuk berbuat dzalim agar orang yang dzalim perbuatan hingga semakin besar dosanya, maka Allah SWT Menangguhkannya atas perbuatan Dzalim.

Orang yang dekat dengan orang yang sholeh, orang baik, namun ia berbuat dzalim maka ia akan mendapatkan SiksaNya. Dan berhati-hatilah terhadap orang yang teraniaya karna doanya Di qobul oleh Alloh tanpa Adanya penghalang. Orang yang terdzalimi matanya terbuka, maka Allah SWT tidak pernah tidur dan selalu mendengar rintihan orang-orang yang Terdzalimi



Kajian Kitab Hadist Qutuful Falihin oleh Al Ustad Al Habib Imran Al Idrus
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Muhasabah Pergantian Tahun

Sebagai seorang muslim, kita harus mampu memaknai setiap waktu. Sehingga, hari ini adalah waktu yang tepat untuk muhasabah dari apa yang telah dilakukan pada masa lalu dan direncanakan untuk masa depan. Hal ini Allah terangkan dalam Alquran di surat Al Hasyr ayat 18:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini memerintahkan seorang muslim untuk memperhatikan apa yang diperbuat, seperti bermuhasabah pada awal tahun baru. Selain itu, ayat ini juga menjelaskan bahwa kehidupan adalah proses dan harus ada penilaian agar proses ini mencapai hasil terbaik.

Mengenai menilai diri ini, Rasulullah pernah bersabda dalam hadistnya bahwa orang cerdas adalah orang yang pandai menilai dirinya sendiri sebagai dasar untuk beramal bagi kehidupan akhiratnya. Selain itu, ada pepatah menarik dari Umar bin Khatab, yaitu hisablah dirimu sebelum dirimu dihisab.

Kita sudah sepatutnya merenungkan tentang bagaimana kita menjalani kehidupan. Hal ini Allah tegaskan dalam surat Faathir ayat 32:

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

Dalam kitab tafsir, ayat tersebut menerangkan bahwa manusia terbagi menjadi 3 golongan, yaitu

1. Golongan yang lebih banyak nilai kesalahan daripada kebaikan. Golongan ini adalah mereka yang menganiaya dirinya sendiri.

2. Golongan pertengahan, yang antara nilai kebaikan dan kesalahan sama. Golongan yang derajatnya sedang-sedang saja. Memiliki cirri-ciri cermat, berhati-hati, menjauhi larangan, dan hal yang sifatnya sunnah jarang dilakukan.

3. Golongan yang nilai kebaikannya jauh lebih banyak daripada keburukannya. Manusia termasuk golongan ini sangat aktif melakukan kebaikan, memiliki ruhyat, dan menjalankan hal yang sunnah dan wajib.

Kita harus mengetahui termasuk ke dalam golongan apakah kita? Setelah mengetahui, kita diberi kebebasan untuk melakukan sesuatu dengan bebas. Meskipun begitu, Allah memberikan kita petunjuk. Hal ini termaktub dalam surat Asy Syams ayat 8 hingga 10 berikut:

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Setelah kita melakukan bagi diri sendiri, selanjutnya adalah bermuhasabah terhadap keluarganya. Hal ini dijelaskan dalam surat At Tahrim ayat 6 berikut:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Kemudian, muhasabah selanjutnya adalah terhadap umat. Bagaimana pun, kita sebagai muslim merupakan umat terbaik. Hal ini sesuai dengan surat Ali Imran ayat 110:

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.



Prof. DR. Suwarno
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Waspada Terhadap Bencana

Syekh Abdul Qadir Al-Jilany mengatakan bahwa Manshur Ibn Abdullah pernah mengatakan, "Aku pernah mendengar Abu Ali Ar-Rudzabari berkata, "Bencana masuk melalui tiga pintu yaitu mental yang nista, terjebak pada kebiasaan buruk, dan persahabatan yang kotor."

Lalu, aku bertanya, "Apa itu mental yang nista?"

Dia menjawab, "Makan sesuatu yang haram."

Aku bertanya lagi, "Apa itu kebiasaan buruk?"

"Melihat dan mendengar sesuatu yang haram serta menggunjing orang lain," jawabnya.

"Lalu, apa yang dimaksud dengan persahabatan yang kotor?" tanyaku.

"Menuruti hawa nafsu," jawabnya.

An-Nashrabadzi mengatakan, "Penjaramu yang sesungguhnya adalah dirimu sendiri. Jika engkau dapat keluar dari belenggu diri, maka engkau akan menikmati kedamaian selamanya."

Syekh Abdul Qadir Al-Jilany menjelaskan bahwa salah satu bencana yang menjebak diri sendiri adalah kecenderungan diri sendiri untuk menganggap indah sebuah pujian, nama baik, dan sanjungan manusia. Sebab, seseorang boleh jadi mampu menanggung beban berat ibadah, tapi ibadahnya sarat dengan riya dan kemunafikan. Tandanya adalah ia merasa malas ketika kehilangan semua itu (pujian, nama baik dan sanjungan) dan berganti dengan celaan manusia terhadapnya.



Kitab Al-Ghunyah Lithalibi Thariq Al-Haqq
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Download File Audio

Sholat

Adab

Keluarga dan Pernikahan

 
Musholla RAPI, Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011 - Musholla RAPI Online
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger