Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

Kewajiban Percaya Adanya Syafaat


قال المؤلف رحمه الله تعالى
وواجب شفاعة المشفع # محمد مقدما لا تمنع
وغيره من مرتضى الأخيار # يشفع كما قد جاء في الأخيار

"Dan wajib (pasti adanya) syafaat pada orang yang diberi syafaat, nabi Muhammad adalah orang yang dikedepankan yang tidak dicegah syafaatnya. Dan selain nabi Muhammad dari orang-orang pilihan yang diridloi itu bisa memberi syafaat sebagaimana telah datang dalam hadits-hadits"

Syafaat secara bahasa artinya:

طلب الخير من الغير للغير
"Meminta kebaikan dari orang lain untuk orang lain"

Sedangkan syafaat secara istilah adalah:

ان يطلب الشفعاء إسقاط العقاب من الله لأهل الكبائر من المسلمين
"Orang-orang yang memberi syafaat meminta digugurkannya siksa kepada Allah untuk para pelaku dosa besar". 

Orang yang bisa memberi syafaat adalah orang yang mendapatkan izin Allah untuk memberi syafaat. Mereka adalah seperti para nabi, para malaikat dan para wali. Orang yang berhak mendapatkan syafaat adalah pelaku dosa besar dari kaum muslim, sedangkan orang kafir tidak bisa mendapatkan syafaat.

Rasulullah bersabda:

شفاعتي لأهل الكبائر من امتي '
Syafaatku untuk pelaku dosa besar dari umatku'

Allah ta'ala berfirman:

وَلَا یَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ
"Dan mereka tidak memberikan syafaat kecuali untuk orang yang Allah ridloi (seorang muslim)" [Surat Al-Anbiya' 28].

Syafa'at adakalanya diberikan sebelum masuk neraka untuk membebaskan dari adzab neraka dan adakalanya setelah masuk neraka untuk meringankan dan memendekkan adzabnya di neraka. Syafa'at udzma adalah syafa'at yang hanya diberikan oleh Nabi Muhammad untuk seluruh umat, baik umat beliau maupun umat nabi sebelumnya, yaitu syafa'at untuk menyelematkan mereka dari panasnya terik matahari di mahsyar.

Rasulullah bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ تَدْنُو يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَبْلُغَ الْعَرَقُ نِصْفَ الْأُذُنِ فَبَيْنَا هُمْ كَذَلِكَ اسْتَغَاثُوا بِآدَمَ ثُمَّ بِمُوسَى ثُمَّ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Matahari akan didekatkan pada hari kiamat hingga keringat akan mencapai ketinggian setengah telinga. Karena kondisi mereka seperti itu, maka orang-orang pertolongan (syafaat) kepada nabi Adam, Musa, kemudian Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam". (HR al Bukhari)

Rasulullah bersabda:

مَنْ زَارَ قَبْرِي وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِي
"Barang siapa yang berziarah ke kuburku maka wajib baginya syafaatku"

Salah satu hal yang dirindukan oleh seorang muslim adalah berziarah ke makam Rasulullah di al Madinah al Munawwarah, di dalam Al Masjid an Nabawi. Hadits di atas menunjukkan keutamaan berziarah ke makam Nabi. Bahwa orang yang berziarah ke makam nabi akan mendapatkan syafaat beliau. Artinya Rasulullah meminta kepada Allah digugurkannya adzab neraka dari seorang pelaku dosa besar dari umat Islam. Wallahualam bisshowab.



Kajian Kitab Matan Jauharotut Tauhid oleh LDNU Kediri
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Belajar Pada Kepasrahan Seorang Anak

Salah seorang Sahabat pernah bercerita bahwa pada suatu hari ia masuk ke dalam salah satu masjid. Ketika itu ia melihat seorang anak laki-laki yang berumur kurang lebih sepuluh tahun sedang melakukan salat dengan khusyuknya. Setelah anak itu selesai melakukan salat, sahabi itu mendekatinya dan bertanya sesuatu kepadanya, dan terjadilah dialog antara keduanya.

"Siapa ayahmu, Nak?" tanya shahabat itu.

"Saya yatim piatu. Ayah dan ibu saya telah meninggal," jawab si anak itu.

Lalu ketika sahabat itu menawarkan diri untuk menjadi orang tua asuhnya, si anak menjawab, "Apakah tuan akan memberiku makan bila aku lapar? Memberiku minum bila aku kehausan? Memberiku pakaian bila aku memerlukannya? Dan menghidupkanku bila aku mati?"

Sahabat itu kaget atas pertanyaan terakhir. Sebab, menghidupkan seseorang setelah mati di luar kekuasaan manusia. Seakan-akan si anak itu mengemukakan argumentasi seperti yang terdapat dalam surat asy-Syu'araa' ayat 78-81

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (79) وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (80) وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (81

artinya, "Yaitu Tuhan, yang telah menciptakan aku, maka Dia menunjuki aku. Dan Tuhanku, Dia-lah yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku, dan Dia-lah yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku kembali."

Sahabat itu menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Adapun permintaanmu yang terakhir itu, menghidupkan sesudah mati, bukanlah kewenanganku. Aku tidak sanggup melakukannya."

Mendengar jawaban sahabat yang demikian, anak itu kemudian berpaling sambil berkata, "Kalau begitu silahkan tuan tinggalkan aku. Biarkanlah aku menghadap Allah yang menciptakan aku, yang memberi rezeki kepadaku, dan yang menghidupkan aku setelah mati."

Sahabat terdiam kagum melihat kecerdasan dan keimanan anak itu. Ia hanya bisa memandangnya berlalu dari hadapannya. Sungguh anak sekecil itu telah memiliki harta yang sangat mahal harganya, yaitu tauhid yang kuat.



http://www.facebook.com/note.php?note_id=390254853099 oleh Mbah Jenggot
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Allah Maha Kaya, Manusia Lemah Tak Berdaya

Sering kita terpana dan kagum kepada kehebatan, kekuasaan, atau kekayaan seseorang. Di saat yang sama kita nyaris tidak ingat akan kebesaran Allah. Padahal sesungguhnya sehebat-hebat manusia, mereka tetap fana. Tetap akan mati.

Kita lihat bagaimana para pemimpin/raja-raja yang hebat seperti Fir’aun, Iskandar Agung, Julius Cesar, Jengis Khan, Hitler, dan sebagainya sudah tiada. Tergeletak dalam kubur sebagai tulang-belulang yang tidak berdaya. Sebelum lahir mereka tiada. Saat lahir, mereka bayi yang tidak berdaya yang tidak akan hidup jika tidak diberi makan oleh orang tuanya. Saat tua mereka jadi lemah dan kemudian mati tak berdaya. Kerajaan mereka sudah dimiliki orang lain.

Sedang Allah Maha Kekal. Allah adalah Raja dari Segala Raja:

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

“Ketika mereka keluar dari kubur; tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. Lalu Allah berfirman: “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” [Al Mu’min 16]

Kita tahu jika bumi dan langit ini milik Allah. Namun sering kita lupa:

قُلْ لِمَنِ الأرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ

“Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”

Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” [Al Mu'minuun 84-85]

Hingga saat shalat kita sering malas-malasan. Sholat Dzuhur sering dikerjakan jam 14:00 lewat. Sementara Shalat Ashar jam 17:00 lewat. Padahal saat Shalat kita menghadap Allah Sang Maha Raja dari Segala Raja. Padahal jika diundang menghadap Presiden, sering seminggu sebelumnya kita sudah memikirkan apa yang akan dipakai, naik apa menghadap, dan sudah hadir 30 menit sebelum waktu pertemuan.

Kita juga sering terkagum-kagum pada orang “Terkaya” di dunia seperti Carlos Slim dan Bill Gates dengan jumlah lebih dari US$ 50 Milyar (Rp 450 trilyun lebih). Padahal kekayaan itu cuma dititipkan sementara kepada mereka. Saat mereka lahir, mereka telanjang tanpa punya apa-apa. Begitu pula saat mereka meninggal, mereka juga tidak akan membawa apa-apa selain apa yang melekat di badan. Itu pun akan membusuk dan pupus ditelan waktu.

 

Langit dan Bumi berikut isinya adalah ciptaan Allah. Milik Allah. Bukan milik mereka!

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya” [Yunus 31]

Allah Maha Besar. Sedang manusia amat lemah.

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru, dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah.” [Ibrahim 19-20]

Lihat bagaimana Allah dengan mudah menurunkan Tsunami yang menewaskan 200 ribu jiwa rakyat aceh beserta penduduk lainnya di Malaysia, Thailand, Burma, dan sebagainya. Lihat video Tsunami dan Gempa di Jepang dengan 8,9 skala Richter yang menewaskan ribuan orang di Jepang meski mereka sudah sungguh-sungguh membangun Tembok Laut (Sea Wall) dan Tembok Hijau (Green Wall) dari pepohonan untuk menangkal Tsunami:

Bagaimanakah nasib manusia seandainya Allah “menjatuhkan” bulan atau matahari ke bumi?

Allah Maha Kaya:

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [Al Hajj 64]

Oleh karena itu hendaklah kita menghormati Allah melebihi dari makhluk lainnya entah itu presiden, jutawan, dan sebagainya. Karena semua makhluk itu akan mati dan punah. Hanya Allah yang Maha Besar dan Maha Kekal.

Jalankan segala perintah Allah yang tercantum dalam Al Qur’an secara sungguh-sungguh. Dan jauhi segala larangannya.



Media Islam

comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Qadha dan Qadar (2)

Di Indonesia qadha dan qadar seringkali dipahami secara sederhana sebagai takdir atau ketentuan Allah. Takdir sendiri tidak hanya berkisar tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kematian dan kekinian, takdir berdasarkan waktunya ada empat macam:

1. Takdir Umum (Takdir Azali). 

Takdir yang meliputi segala sesuatu dalam lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Di saat Allah SWT memerintahkan al-Qalam (pena) untuk menuliskan segala sesuatu yang terjadi dan yang belum terjadi sampai hari kiamat. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadiid: 22)

“Allah-lah yang telah menuliskan takdir segala makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum diciptakan langit dan bumi. Beliau bersabda, ‘Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.” (HR Muslim)

2.  Takdir Umuri. 

Yaitu takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya ketika pembentukan air sperma (usia empat bulan) dan bersifat umum. Takdir ini mencakup rizki, ajal, kebahagiaan, dan kesengsaraan. Hal ini didasarkan sabda Rasulullah SAW. berikut ini:

“…Kemudian Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan untuk meniupkan ruhnya dan mencatat empat perkara: rizki, ajal, sengsara, atau bahagia... .” (HR Bukhari)

3.  Takdir Samawi. 

Yaitu takdir yang dicatat pada malam Lailatul Qadar setiap tahun. Perhatikan firman Allah berikut ini, “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (ad-Dukhaan: 4-5)

Ahli tafsir menyebutkan bahwa pada malam itu dicatat dan ditulis semua yang akan terjadi dalam setahun, mulai dari kebaikan, keburukan, rizki, ajal, dan lain-lain yang berkaitan dengan peristiwa dan kejadian dalam setahun. Hal ini sebelumnya telah dicatat pada Lauh Mahfudz.

4.  Takdir Yaumi. 

Yaitu takdir yang dikhususkan untuk semua peristiwa yang akan terjadi dalam satu hari; mulai dari penciptaan, rizki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, dan lain sebagainya. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (ar-Rahmaan: 29)

Takdir umuri, samawi dan yaumi semuanya merujuk kepada takdir azali yang telah tertulis di lauhul mahfudz.



Lazuardi Birru

comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Qadha dan Qadar (1)

Qadha menurut bahasa berarti ketetapan, perintah atau pemberitaan. Sedangkan menurut Imam Al-Zuhri qadha memiliki arti banyak dan semua pengertian yang berkaitan dengan qadha kembali kepada makna kesempurnaan.

"Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya'qub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." (QS Yusuf 68)

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS al-Israa`:23)

“Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” (QS al-Hijr: 66)

Adapun kata qadar berasal dari kata qaddara yuqaddiru taqdiiran yang berarti penentuan. Pengertian ini bisa kita lihat dalam Al-Qur'an surat Al-Fushilat ayat 10, "Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang orang yang bertanya."

Dari sudut terminologi, qadha adalah pengetahuan yang lampau, yang telah ditetapkan oleh Allah pada zaman azali. Adapun qadar adalah terjadinya suatu ciptaan yang sesuai dengan penetapan (qadha). Ibnu Hajar berkata, “Para ulama berpendapat bahwa qadha adalah hukum kulli (universal) ijmali (secara global) pada zaman azali, sedangkan qadar adalah bagian-bagian kecil dan perincian-perincian hukum tersebut.” (Fathul-Baari 11/477)

Segala hal yang terjadi baik itu anugerah atau bencana semuanya datang dari Allah SWT. Beriman atau mempercayai qadha dan qadar merupakan kewajiban semua umat Islam karena Allah telah menetapkan qadha dan qadar sebagai rukun Imam ke enam.

Ketetapan Allah telah dituliskan sejak di zaman ajali sebelum manusia diciptakan. Hal ini tercermin dari kalamullah Surat Al-Hadid ayat 22-23, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,”

Meskipun segala perkara yang berkaitan dengan kehidupan manusia sudah ditentukan oleh Allah SWT sejak sebelum manusia diciptakan, manusia tidak boleh berpasrah diri menyerahkan segala sesuatu kepada takdir. Manusia diberikan kesempatan untuk mendapatkan takdir yang lebih baik untuk dirinya dengan cara berusaha dan berdoa. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Tiada seorangpun dari kalian kecuali telah ditulis tempatnya di neraka atau di surga. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Bolehkah kami bertawakal saja, ya, Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, (akan tetapi) beramallah …karena setiap orang dimudahkan (dalam beramal).’ Kemudian, beliau membaca ayat ini, ‘Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah), bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil, merasa dirinya cukup dan mendustakan pahala yang terbaik, maka kami kelak akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar (al-Lail: 5-10).’” (HR Bukhari dan Muslim)



Lazuardi Birru

comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Shirat Al Mustaqim (2)

Diriwayatkan dalam kitab “Qomi`uttughyan” Lil Imam Nawawi Al-Bantani bahwa Umat Baginda Rasulullah SAW ketika menyeberang Shirat Al-Mustaqim ada Tujuh macam, yaitu:

1. Para Siddiqin, akan melewati Shirat Al-Mustaqim kecepatannya seperti kilat yang menyambar.

2. Para Ulama, akan menyeberang Shirat Al-Mustaqim dengan kecepatan seperti angin yang bertiup.

3. Para Wali Allah SWT, menyeberang Shirat Al-Mustaqim seperti burung di udara.

4. Para Syuhada pembela Islam, menyeberang Shirat Al-Mustaqim seperti kuda balap dengan waktu tempuh setengah hari.

5. Para Haji Mabrur, menyeberang Shirat Al-Mustaqim dalam waktu satu hari penuh.

6. Kaum mu`minin biasa yang taat-taat, menyeberang Shirat Al-Mustaqim selama satu bulan.

7. Kaum Mukminin yang pendosa, sangat ketekutan dengan jilatan api Neraka Jahannam, gemetar terpaku diawal penyeberangan, akan melihat cahaya iman mereka memberikan ketenangan penuh hiburan, “Wahai mu`min, menyeberanglah!, Sesungguhnya cahaya keimanan kalian, akan memadamkan aku (Neraka Jahannam). Maka merekapun menyeberang.
Adapun orang-orang kafir dari Jin atau manusia, mereka semua masuk Neraka sesuai dengan golongannya masing-masing untuk selama-lamanya, ada yang melalui hisab dan ada yang tidak melaluinya.

Aku berlindung kepada Allah SWT dari dahsyatnya padang Mahsyar dan kengeriannnya dan semoga kita semua mendapatkan Syafaat dari Baginda Rasulullah SAW. Aku berlindung kepada Allah SWT dari tergelincir dalam menyeberangi Shirat Al-Mustaqim dan semoga dengan syafaat Baginda Rasulullah SAW, kita semua menyeberang Shirat Al-Mustaqim dipenuhi dengan cahaya keimanan dan kecintaan kepada Baginda Rasulullah SAW. Amin amin amin ya Rabbal `alamin..



Ahlulkisa
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Shirat Al Mustaqim (1)

Setelah selesainya hisab, mereka para penghuni Mahsyar berbondong-bondong menuju “Shirat Al-Mustaqim” (Jembatan diatas Neraka Jahannam).

Didalam kitab Ihya Ulumudin karya Hujjatul Islam Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghazali juz 4, diterangkan bahwa; sahabat Anas bin Malik RA mendengarkan hadits dari Baginda Rasulullah SAW:

قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ ؤَسَلَّمَ الصِّرَاطُ كَحَدِّالسَّوْفِ اَوْكَحَدِّ الشَعْرَةِ وَاِنَّ الْمَلَئِكَةَ يَنْجُوْنَ المُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاِنَّ جِبْرِيْلَ لَآخَذَ بِحَجْزَتِى وَاِنِّى لَاَقُوْلُ يَارَبِّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَالزَّالاَتِ يَوْمَئِذٍكَثِيْرٌ

Rasulullah SAW bersabda; Shirat seperti sebilah pedang atau seperti seutas rambut. Sesungguhnya para Malaikat menyelamatkan kaum mu`minin dan mu`minat, Malaikat Jibril menahanku dan akupun bermohon kepada Allah SWT; wahai Tuhanku, selamatkan selamatkan. Maka pada hari itu yang tergelincir baik laki-laki ataupun perempuan sangatlah banyak.

Imam Al-Ghazali mendefinisikan bahwa, Shirat adalah jalan yang memenjang diatas Neraka Jahannam, lebih tajam daripada pedang atau lebih lembut dari pada rambut. Barang siapa Istiqomah didunia, akan ringan melewatinya, sedangkan yang tidak Istiqomah akan tergelincir diawal dia menginjakkan kaki diatas Shirat Al-Mustaqim.

Diriwayatkan dalam kitab “Tuhfatul Murid” Lil Syaihul Islam Ibrahim bin Muhammad Al Baijury,  mendefnisikan bahwa; Shirat Al-Mustaqim merupakan dua jalan yang sebelah kanan menuju Surga dan yang sebelah kiri menuju Neraka Jahannam, pada Shirat terdapat lubang-lubang yang bisa menggelincirkan pejalan kaki ke Neraka Jahannam. Shirat Al-Mustaqim panjangnya sejauh perjalanan tiga ribu tahun, seribu tahun naik, seribu tahun turun dan seribu tahun datar. Shirat Al-Mustaqim sangat gelap dan cahaya yang ada hanyalah cahaya yang keluar dari tubuh para penyeberang, cahaya mereka hanya berguna untuk diri masing-masing, penyeberang lain tidak bisa ikut memanfaatkannya.

Diriwayatkan dalam kitab “Sabilul-Iddikar”, Lil Imam Quthbil Irsyad Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad RA, halaman 97, bahwa yang pertama kali melewati Shirat Al-Mustaqim dari para Nabi dan Rasul adalah Baginda Rasulullah SAW dan yang pertama kali melewati Shirat Al-Mustaqim dari para umat, adalah umat Baginda Rasulullah SAW. 

Pada saat itu,  Malaikat Jibril AS datang atas izin Allah SWT untuk membentangkan sayapnya yang sangat besar sekali diatas Shirat Al-Mustaqim bagi para sahabat setia Baginda Rasulullah SAW dan orang-orang yang sungguh-sungguh cinta dan tulus setia kepada Baginda Rasulullah SAW, serta orang-orang yang banyak membaca shalawat salam kepada beliau SAW, agar bisa melewati Shirat Al-Mustaqim dengan aman sebagaimana permohonannya (Malaikat Jiibril AS) yang telah dikabulkan oleh Allah SWT pada saat Baginda Rasulullah SAW Mi`raj.



Ahlulkisa
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Malaikat Yang Mendudukkan Mayyit Dan Menanyainya

Kita sebagai muslim dan mukmin harus mengimani dengan iman yang kuat bahwa setelah seseorang dikubur, Allah mengembalikan ruhnya kepada jasadnya. Juga Allah akan mengembalikan kepadanya akal, pengetahuan dan perasaanya agar memahami betul apa yang akan terjadi di dalam kubur.

Kemudian datang dua malaikat yang disebut Munkar dan Nakir. Mereka akan datang kepada orang tersebut menanyakan beberapa hal kepadanya. Kedua malaikat itu bertanya kepadanya di dalam kubur tentang Allah, Nabi, dan agamanya.

Sesuai dengan hadits yang diriwatkan Imam Bukhari dari Anas bin malik, berkata: Jika seorang hamba telah masuk kedalam kubur, dan sahabatnya telah berpaling, maka ia akan didatangi oleh dua malaikat, lalu mendudukkannya dan menanyainya:

”Apa yang kamu bisa katakan tentang nabi Muhammad SAW”.

Jika ia seorang beriman maka akan segera mengatakan ”Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan rasul-Nya”.

Kemudian dikatakan kepadanya ”Lihatlah tempatmu dari neraka, sesungguhnya Allah telah menggantikannya dengan tempat di surga”, ia pun melihat kedua-duannya.

Sedangkan jika ia seorang kafir atau munafiq maka akan berkata ”Aku tidak tahu, aku katakan apa yang telah dikatakan manusia.”

Lalu dikatakan kepadanya ”kamu tidak tahu dan tidak membaca!”

Maka langsung dipukul dengan martil dari besi dan menjeritlah dia sehingga jeritan suaranya terdengar semua yang berada di alam kecuali manusia dan jin. Menurut riwayat lain seandainya jeritanya didengar oleh manusia pasti akan pingsan. 

Maka orang-orang yang dapat menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir adalah mereka yang selama hidupnya selalu berbuat kebaikan, banyak beribadah kepada Allah serta menolong sesama manusia. Sedangkan orang-orang yang selama hidupnya selalu berdurhaka, bermaksiat, jahat, dan berbuat dholim, maka ia akan mendapat siksa dalam kuburnya.



Ust. Abdul Hamid Mudjib
comments (1) | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Bergantung Pada Allah Ta’ala (2)

Al-Fudhail bin Iyadh ra, mengatakan, “Aku sungguh malu untuk mengatakan kepada Allah, bahwa aku ini bergantung kepada Allah. Karena orang yang bergantung kepada Allah Ta’ala, ia tidak pernah takut kepada selainNya, tidak pernah berharap selain Dia, dan hatinya putus dari gantungan dunia akhirat”.


Ditafsirkan mengenai arti firman Allah Ta’ala, “Inna Lillah” artinya adalah kami sebagai hamba Allah dan perangkatNya, berada dalam bolak balik kehendakNya dan ketentuanNya, serta gerak gerik hamba ada di TanganNya.

“Inna Ilaihi Rooji’un” kami ridlo kepadaNya, pasrah padaNya, bergantung denganNya dan pasrah total hanya kepadaNya.


Diriwayatkan, bahwa Allah Ta’ala, berfirman kepada Nabi Musa as, “Pergilah ke Fir’aun sesungguhnya ia telah ingkar!”

Lantas Nabi Musa as, menyela, “Oh Tuhanku, bagaimana dengan kambing-kambingku dan anak isteriku?”


Allah Ta’ala berfirman, “Kalau engkau menemukanKu, maka manalagi yang akan engkau perbuat selain kepadaKu?

Hai Musa! Berangkatlah, dan bergantunglah padaKu dan pasrah totallah hanya padaKu, serahkan urusanmu kepadaKu. Karena Aku jadikan harimau sebagai penggembala atas kambing-kambingmu dan para malaikat menjaga keluargamu.

Hai Musa ! Siapakah yang menyelamatkan dirimu dari Nil itu, hingga ditemukan oleh ibumu di sana? Siapakah yang mengembalikan dirimu pada bundamu setelah itu? Siapakah yang menyelamatkanmu dari musuhmu Fir’aun ketika engkau membunuh seseorang? Siapakah yang menyelamatkanmu dari Fir’aun ketika engkau melintasi sahara?”

Nabi Musa as, menjawab semuanya, “Engkau…Engkau….”


Ketahuilah siapa yang bergantung kepada selain Allah SWT,  atau apa pun selain Allah maka orang itu terhinakan, keluar dari garis kehambaan. Karena batas kehambaan itu adalah menyerahkan upaya pilihannya kepada Sang Maha Perkasa.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan Tuhanmulah Yang Mencipta Yang DikehendakiNya dan Memilihkan,  tak ada bagi mereka pilihan.”


Apa yang dibuka oleh Allah kepada manusia dari rahmat, maka tak satu pun bias menghadangnya..Dan jika Allah menghalanginya atas suatu bahaya, tak seorang pun bisa mencegahnya kecuali Dia.


Katakan, tak satu pun  musibah yang menimpa kami melainkan Allah sudah menentukan bagi kami. Dan siapa yang pasrah total kepada Allah, maka Dia mencukupinya.

Ketahuilah bahwa ubudiyah itu terbangun atas sepuluh dasar:
1. Bergantung kepada Allah Ta’ala dalam segala hal,
2. Ridlo kepada Allah Ta’ala dalam segalanya.
3. Kembali kepada Allah Ta’ala dalam segalanya.
4. Butuh kepada Allah Ta’ala di dalam segalanya.
5. Mengembalikan hati kepada Allah Ta’ala dalam segalanya.
6. Sabar bersama Allah dalam segalanya.
7. Memutuskan diri hanya kepada Allah dalam segala hal.
8. Istiqomah bersama Allah dalam segala hal.
9. Menyerahkan total kepada Allah Ta’ala dalam segala hal.
10. Pasrah segalanya dalam semua hal.



Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Bergantung Pada Allah Ta’ala (1)

Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi, “Tak seorang hamba pun yang turun padanya cobaan, lalu bergantung pada makhluk, bukan padaKu, melainkan Aku memutuskan anugerah-anugerah langit dari tangannya dan Aku bebankan masalahnya pada dirinya.”

Siapa yang mendapatkan cobaan lalu bergantung pasdaKu bukan pada makhlukKu, melainkan Aku berikan padaNya sebelum ia meminta kepadaKu, dan Aku mengijabahi sebelum ia mendoa kepadaKu.”

Sebuah riwayat sampai pada kami, bahwa Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Dawud as, “Demi kemuliaan dan kebesaranKu, dan demi keagunganKu dan ketinggianKu di atas segala makhlukKu, bahwa tak seorang pun hamba yang bergantung padaKu bukan pada  makhlukKu, dan aku tahu ketergantungan itu dari hatinya, maka ketika langit sampai ketujuh hingga para penghuninya, dan bumi sampai lapis tujuh dan seluruh penghuninya sedang merekadaya padanya, melain Aku memberi jalan keluar padanya.”

“Demi kemuliaan dan kebesaranKu, dan demi keagunganKu dan ketinggianKu di atas segala makhlukKu, bahwa tak seorang pun hamba yang bergantung pada makhlukKu bukan padaKu, dan aku tahu ketergantungan itu dari hatinya, kecuali Aku putus dirinya dari sebab-sebab yang menyelesaikannya, kemudian Aku tak peduli di lembah mana Aku binasakan Dia, dan Aku penuhi hatinya kesibukan, ambisi, angan-angan yang tak pernah sampai selama-salamanya.”

Dalam hadits dijelaskan, “Siapa yang bergantung kepada Allah dan memohon kepada Allah, maka manusia akan butuh kepadanya, dan dari lisannya terucapkan hikmah, serta ia dijadikan sebagai raja dunia akhirat. Sedangkan siapa yang bergantung kepada makhluk, bukan pada Allah Ta’ala, serta membebankan ketergantungan itu di hatinya,  maka Allah SWT, menyiksanya, dan ia diputus dari sebab-sebab instrument dunia akhirat!”.

Dalam riwayat dikatakan, “Kosongkanlah dirimu dari kesusahan dunia semaksimalmu. Dan menghadaplah kepada Allah Ta’ala dengan hatimu, dan bergantunglah kepadaNya dalam segala urusanmu. Karena seorang hamba ketika menghadap kepada Allah Ta’ala dengan qalbunya,   Allah menghadapkan hati para hambaNya kepadaNya. Dan siapa yang bergantung kepada Allah, maka Allah SWT mencukupi seluruh biayanya.”

Yahya bin Mu’adz ra ditanya, “Kapankah seseorang itu disebut bergantung kepada Allah SWT?”

“Ketika seseorang itu putus hatinya dari ketergantungan dengan segalanya, apakah ia punya maupun tidak, serta ia pun ridlo kepada Allah Ta’ala sebagai waki (tempat berserahnya),” jawabnya.

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Dawud as, “Tak ada satu pun hamba yang beribadah kepadaNya, dan tak seorang pun yang taqarrub,  yang lebih utama bagiKu ketimbang bergantung dan pasrah padaKu.”

Amir bin Qais ra berkata kepada salah satu ‘arifin,  “Doakan kepada Allah untukku.”

Sang arif berkata, “Anda benar-benar minta tolong kepada orang yang lebih lemah dibanding anda sendiri? Taatlah pada Allagh Ta’ala, bergantunglah padaNya, maka Allah Ta’ala akan memberikan yang lebih besar ketimbang yang diminta oleh para pemohon.”

Dalam wahyu yang diturunkan kepada Nabi Musa as, disebutkan, “Bila engkau ingin menjadi pemimpin dunia, dan menjadi pangeran dalam pandangan yang luhur, maka pasrah total lah dirimu pada perintahKu dan ridlo atas hukumKu.”



Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Apa Bukti Keimanan mu?

Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah SAW dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, "Siapakah kalian ini ?" 


Jawab kami, "Kami adalah orang beriman." 

Kemudian baginda bertanya, "Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimananmu ?" 

Jawab kami, "Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami biasakan sejak zaman jahiliyyah ?" 

Tanya Nabi SAW, "Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kalian itu?" 

Jawab mereka, "Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk." 

Selanjutnya tanya Nabi SAW, "Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu?" 

Jawab mereka, "Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu." 

Tanya Nabi SAW selanjutnya, "Apakah lima perkara yang kamu masih biasakan sejak zaman jahiliyyah?" 

Jawab mereka, "Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, ridha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh." 

Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Nabi SAW berkata, "Sungguh kalian ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama maupun dalam tatacara berbicara, hampir saja kamu serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi." 

Kemudian Nabi SAW melanjutkan, "Maukah kalian aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kalian punyai?" 


Janganlah kalian mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kalian makan. Janganlah kalian mendirikan rumah yang tidak akan kalian tempati, janganlah kalian berlomba-lomba dalam sesuatu yang bakal kalian tinggalkan (Dunia) berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat."



facebook.com/note.php?note_id=390479628099 oleh Mbah Jenggot
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Rukun Iman (2)

4. Beriman Kepada Para Utusan Allah

Para Nabi merupakan hamba-hamba Allah yang dipilih-Nya, mereka mendapatkan wahyu dari Allah berupa Syari’at, namun para Nabi tidak diperintahkan untuk menyampaikan wahyu ini kepada umat. Adapun Para Rasul, diperintahkan untuk menyampaikan wahyu yang mereka dapatkan kepada umatnya.

Allah SWT memilih hamba-hamba-Nya yang terpilih untuk menyampaikan risalah-Nya, tentang tauhid, mengesakan Allah.

Keyakinan kita dalam beriman kepada para Rasul; yakni meyakini dan membenarkan bahwasanya Allah SWT telah mengutus semua Rasul sebagai pemberi petunjuk bagi makhluk-Nya, sebagai penyempurna bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka. Sungguh para Rasul berlaku jujur terhadap segala hal yang mereka sampaikan dari Allah SWT, mereka telah menyampaikan segala perintah yang memang Allah perintahkan untuk disampaikan.

Tiada Rasul yang tidak Fathonah (cerdas), terjaga dari kelemahan dan kekurangan, ma’shum dari segala dosa kecil maupun besar baik sebelum ataupun setelah kenabian mereka, namun tak terlepas dari diri para rasul sifat-sifat kemanusiaan.
Di dalam hadits Baginda Nabi, dalam Al-Mustadrak Imam Hakim dan HR.Bayhaqi, disebutkan bahwa jumlah keseluruhan Nabi ada 124.000, sedangkan di antara mereka terdapat 313 Rasul. Namun kita hanya wajib mengetahui secara terperinci 25 di antara mereka, sebagaimana nama-nama mereka disebutkan di dalam Al-Quran Al-Kariim, yakni:

1. Adam, 2. Idris, 3. Nuh, 4. Hud,5. Sholeh 6. Ibrohim, 7. Luth, 8. Isma’il,9. Ishaq, 10. Ya’qub’,11. Yusuf’,12. Ayyub,13. Syu’aib, 14. Musa,15. Harun,16. Dawud, 17. Sulayman, 18. Yunus,19. Zakariyya, 20. Yahya,21. ‘Isa, 22. Ilyas,23. Yasa’, 24. Dzulkifli, 25. Muhammad SAW

Adapun, empat di antaranya masih khilaf di antara para ulama tentang kenabian mereka, yakni ’Uzayr, Dzulqornayn, Luqman dan Khidhir. Shalawaatullah wa salaamuhu ‘alaihim ajma’iin..

5. Beriman Kepada Hari Akhir

Meyakini akan datangnya hari akhir, yakni Hari Kiamat. Termasuk pula dalam pengertian Hari Kiamat, yakni meyakini;

Al-Ba’ts (Hari Dibangkitan Manusia); adalah hari dibangkitkannya seluruh manusia dari kubur masing-masing dengan jasadnya masing-masing. (QS.Al-Anbiya:104)

Al-Khasyr (Hari Dikumpulkannya Manusia); merupakan hari digiring dan dikumpulkannya manusia di suatu tempat untuk dihisab dan menghadap Allah SWT. ( QS.Al-Ghosyiyah:25-26)

Al-Miizaan (Hari Ditimbangnya Amal Perbuatan Manusia); barangsiapa beramal sekecil atom, maka dia pasti akan mendapatkan ganjarannya. Barangsiapa bermaksiat sekecil atom maka ia pun PASTI akan mendapat balasannya. Barangsiapa berat timbangan amal sholehnya, maka surge merupakan tempat kembalinya. (QS.Al-A’rof:8-9)

As-Shiroth (Saat Manusia Melewati Titian); yakni saat setiap manusia bergiliran melewati titian yang membentang di atas kobaran api neraka menuju surga, semua manusia tiada terkecuali. (QS.Maryam:71)

Haudhin Nabiy (Telaga Nabi Muhammad SAW); yakni telaga yang diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman sejenak sebelum memasuki surganya Allah SWT.

Al-Jannah (Surga); yakni tempat segala ganjaran dan keridhaan Allah atas hamba-hamba-Nya yang beriman. Berbagai rupa kenikmatan di dalamnya, namun kenikmatan puncak, tertinggi, di dalam surga adalah Perjumpaan Dengan Allah SWT. Adapun surga memiliki tingkatan-tingkatan tertentu, yakni Al-Firdaus (bagi para Nabi dan Utusan, serta hamba-hamba Allah yang shalih),  Al-Ma-wa, Al-Chuld, An-Na’im, ‘Adn, Darussalaam, Darul Jalalah.

An-Naar (Neraka); liang-liang neraka yang merupakan tempat segala siksa dan murka-Nya berlapis tujuh pula, yakni; Jahannam, Ladzo, AlKhuthomah, As-Sa’iir, Saqarr, Al-Jakhiim, Al-Haawiyah.

Wajib pula bagi kita untuk beriman terhadap apa yang akan menimpa kita di alam kubur, pertanyaan kubur serta nikmat dan siksa kubur. Wallaahu A’lam

6. Beriman Kepada Ketentuan Allah SWT

Beriman kepada Qodar berarti meyakini dan membenarkan bahwa Allah SWT. telah menentukan kebaikan ataupun keburukan terdahulu sebelum Ia menciptakan makhluk-Nya. Segala yang terjadi merupakan kehendak Allah SWT.

Segala perbuatan hamba, baik itu yang disengaja ataupun tidak, semuanya merupakan ciptaan Allah SWT. Akan tetapi, setiap hamba diwajibkan untuk ikhtiyar, mengusahakan ibadah dan kebaikan serta menghindari maksiat dan kejelekan, yang pada akhirnya disebut Kasb. Bila ternyat terwujud ikhtiyarnya, maka sungguh, itu merupakan kecocokan keinginannya dengan ketentuan dan kehendak Allah, adapun bagi orang yang mempergunakan kesempatan Kasb-nya untuk bermaksiat, maka sungguh, tiada keridhaan Allah atas dirinya, maka jatuhlah atasnya kepastian (Qodho) berupa murka Allah SWT. ( QS. Al-Qomar:49; QS. Az-Zumar:7 )



Dinukil dari kitab karangan Al-Amil Al-Faqih Al-Murabbi Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith Al-‘Alawiy yang berjudul “Syarah Hadits Jibril: Hidayatut Thalibin fi Bayani Muhimmatid Diin” oleh Ribat Nurul Hidayah
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Rukun Iman (1)

Iman berarti membenarkan dengan penuh kemantapan hati tentang segala yang disampaikan dan diajarkan oleh baginda nabi SAW dari hadirat allah SWT. Wajib bagi kita, atas keimanan ini, untuk meyakini dan membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, serta mengamalkan dengan perbuatan.

Adapun pondasi yang mendasari teguhnya iman ada 6, yakni: Iman kepada Allah SWT, Iman kepada Para Malaikat, Iman kepada Kitab-Kitab Allah, Iman kepada Para Utusan Allah, Iman kepada Hari Akhir, Iman kepada Ketetapan Allah, yang kita rasakan baik maupun yang jelek.

1. Beriman Kepada Allah ‘Azza Wa Jalla

Setiap manusia yang dikaruniai akal serta bisa membaca keadaan dan kejadian alam, tidak akan memungkiri eksistensi (keberadaan) Dzat Yang Maha Kuasa, Mahatunggal dalam Kemuliaan-Nya, yakni Allah SWT.

Inilah dasar daripada Keimanan Kepada Allah; yakin dan membenarkan eksistensi AllahTa’ala, meyakini bahwa pasti ada Dzat Yang Maha Menguasai, Yang pasti wujud-Nya, Mahatunggal, Maha Merajai, Mahakuasa, Mahahidup, Mahategak tanpa sekutu, Maha Terdahulu tanpa permulaan, Mahaabadi tanpa penghabisan!!!

Serta meyakini bahwa Dzat tersebut Maha Mengetahui segala sesuatu, tiada satupun yang menyerupai-Nya, Maha Mendengar Maha Melihat, Mahasuci dari penyerupaan dan penglihatan, Mahasuci dari sekutu dan bawahan, Dzat Yang tiada terkungkung waktu dan zaman, tiada terlingkupi arah dan tempat, tidak berubah-ubah keadaan-Nya.
Meyakini dengan sepenuh hati bahwa Dzat Ini adalah Maharaja Yang mutlak Kekayaan-Nya, muara kebutuhan bagi selain-Nya. Maha Menciptakan segenap makhluk-Nya, Maha Mencipta perbuatan makhluk-Nya. Maha Memberi petunjuk, pengampunan dan keridhaan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya, pun Maha Memelencengkan dan Memurkai setiap orang yang Ia kehendaki.

Dialah Dzat Yang telah menawarkan kepada hamba-hamba-Nya kebahagiaan abadi, pun Dialah Dzat Yang memperingatkan kita dengan murka-Nya yang pedih saat tak berguna lagi penyesalan.

2. Beriman Kepada Para Malaikat

Wajib pula bagi kita untuk meyakini dan membenarkan bahwa para Malaikat adalah hamba-hamba Allah yang mulia, tiada pernah sekalipun melenceng dari perintah Allah.

Adapun para Malaikat ini merupakan makhluk Allah dalam bentuk yang halus, tercipta dari cahaya, dikaruniai kemampuan menyerupai, tiada bersifat lelaki maupun wanita, hanyalah Allah Yang Mahatahu jumlah para Malaikat-Nya.

Tiada sejengkal pun tempat di langit dan di bumi melainkan ada Malaikat berpijak di atasnya. Bagi kita, wajib mengetahui sepuluh malaikat beserta tugas-tugas mereka, yakni;

A. Malaikat Jibril; menyampaikan wahyu
B. Malaikat Mikail; bertugas menebar rizqi dan menurunkan hujan
C. Malaikat Isrofil; bertugas meniup sangkakala hari akhir
D. Malaikat Izroil; bertugas mencabut nyawa
E. Malaikat Ridhwan; bertugas menjaga surga
F. Malaikat Malik; bertugas menjaga neraka
G. Malaikat Munkar dan
H. Malaikat Nakir; sebagai interrogator di alam kubur
I. Malaikat Roqib dan
J. Malaikat ‘Atiid; mendampingi kita manusia yang Mukallaf (Aqil Baligh), bertugas mencatat amal baik maupun amal jeleknya. Keduanya tiada berpisah dari kita melainkan pada saat kita buang hajat, bersetubuh dan mandi. Pada saat kita mati, keduanya duduk di atas kubur kita, pada saat kita dibangkitkan dan dikumpulkan, keduanya pun turut dikumpulkan bersama kita. (QS.Al-Infithor:10-12; QS.Qof:17-18).

3. Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah

Selain beriman kepada Allah dan Malaikat-Nya, kita pun semestinya beriman terhadap segala yang disampaikan para malikat dari Allah, wahyu kepada para utusan Allah, para rasul. Meyakini bahwa firman-Nya dalam kitab-kitab-Nya adalah qadiim (terdahulu, bersandar pada sifat qadiim Allah), serta meyakini bahwa segala yang terkandung di dalam kitab-kitab-Nya adalah benar tiada keragu-raguan sedikitpun.

Sedangkan kitab-kitab yang diturunkan berjumlah 104; 50 untuk Nabi Syits bin Adam, 30 untuk Nabi Idris, 10 untuk Nabi Ibrahim, 10 untuk Nabi Musa (selain Taurat), serta: Taurat bagi Nabi Musa, Injiil bagi Nabi Isa, Zabuur bagi Nabi Dawud dan Al-Quran untuk Nabi Muhammad saw dan untuk penyempurna kitab-kitab terdahulu.



Dinukil dari kitab karya Al-Amil Al-Faqih Al-Murabbi Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith Al-‘Alawiy yang berjudul “Syarah Hadits Jibril: Hidayatut Thalibin fi Bayani Muhimmatid Diin” oleh Ribat Nurul Hidayah
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Download File Audio

Sholat

Adab

Keluarga dan Pernikahan

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger