Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Kerusakan Alam Akibat Kerusakan Moral Manusia

Kerusakan Alam Akibat Kerusakan Moral Manusia

Akhir-akhir ini kita sedang dihadapkan pada masalah pemanasan global yang dampaknya sangat buruk bagi keberlangsungan hidup suatu mahluk. Marak kita dengar bagaimana putusnya rantai makanan mengakibatkan  sejumlah masalah besar. Mewabahnya pandemik ulat bulu itupun dikarenakan semakin berkurangnya predator ulat tersebut.  Entah akibat perburuan, ataupun perubahan lingkungan yang mengakibatkan punahnya beberapa spesies predator pemangsa ulat.

Kerusakan alam lebih disebabkan oleh kerusakan moral manusia. Alam makin tak bersahabat karena manusia memang tak memperlakukannya dengan benar. Itu dari sudut pandang agama. Sudut pandang sains boleh jadi berbeda. Sains lebih suka memandang kerusakan alam sebagai proses alamiah. Jika dalam kacamata agama, bencana adalah azab, peringatan atau ujian, maka dalam kacamata sains kerusakan alam adalah sebuah fenomena yang disebabkan sistem dan mekanisme alam itu sendiri. Nalar sains sulit menemukan benang merah antara kerusakan alam dan kerusakan moral.

Meski menggunakan nalar yang berbeda, namun tak berarti sudut pandang agama dan sains ini saling bertentangan. Sebab, konteks pembicaraan masing-masing sudut pandang tersebut memang berbeda. Tugas agama adalah mengambil hikmah dari apapun yang terjadi di dunia ini. Sedangkan, sains hanya mengamati bagaimana mekanisme sebuah fenomena bisa terjadi. Cara paling mudah untuk mengompromikan adalah dengan menggunakan mata rantai sebab yang ujungnya kembali kepada Sang Pencipta, karena secara logika tak mungkin ada sebab yang tak berujung (daur dan tasalsul). 

Mata rantai sebab itu misalnya bisa disusun dengan nalar: kejadian A disebabkan oleh B; B disebabkan oleh C; dan seterusnya sampai Z. Lalu, siapa yang menyebabkan Z? Maka satu-satunya jawaban adalah Kekuatan Maha Mandiri yang tak termasuk dalam mekanisme alam, karena tak mungkin Z disebabkan oleh A. Sang Maha Mandiri (Allah) mengatur alam sesuai dengan kehendak-Nya, termasuk di antaranya menimpakan bencana alam kepada orang-orang yang durhaka. Kehendak ini biasanya diwujudkan oleh Allah melalui mekanisme alam (sunnatullah atau hukum sebab-musabab). 

Dengan demikian, maka apapun yang dikatakan oleh agama tentang kerusakan alam sama sekali tak bertentangan dengan sains, meskipun tidak tercakup dalam teori sains. Hal itu perlu dipertegas sebagai landasan, karena keyakinan terhadap dogma agama mengenai bencana tak jarang terasa hambar ketika berhadapan dengan analisis sains tentang bencana tersebut, karena agama memang tidak menjelaskan kaitan logis antara bencana alam dengan bencana moral. Tanpa landasan itu, mungkin orang akan lebih mudah menerima pernyataan ilmuwan bahwa tsunami disebabkan oleh pergeseran lempengan bumi, daripada pernyataan ulama bahwa tsunami disebabkan oleh pergeseran nilai-nilai moral-keagamaan manusia.

Dalam Islam, kerusakan alam tak lepas dari tiga hal, yaitu azab, peringatan, atau ujian. Mengenai kerusakan alam sebagai azab Allah berfirman:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
Yang artinya: Dan jika Aku hendak membinasakan suatu negeri, maka Aku perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan di sana, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan-Ku, kemudian Aku hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS al-Isra’ [17]: 16).

Mengenai kerusakan alam sebagai peringatan, Allah juga telah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Yang artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. (QS ar-Rum [30]: 41)

Mengenai musibah (termasuk kerusakan alam) sebagai ujian untuk meningkatkan derajat seorang mukmin di Sisi Allah, Rasulullah Shallallâhu alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ
فَكَانَ خَيْرًا لَه وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Yang artinya: Menakjubkan urusan orang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan. Hal itu hanya dimiliki oleh seorang mukmin. Bila ia mendapat kemudahan ia bersyukur, maka itu menjadi lebih baik baginya. Bila mendapat kesengsaraan ia sabar, maka itu menjadi lebih baik baginya. (HR Muslim).

Begitu pula segala kenikmatan dan kemudahan di dunia ini, dalam pandangan agama juga tidak terlepas dari tiga hal: sebagai istidrâj (pemberian yang disertai kemurkaan) seperti disebutkan dalam QS al-An’am [6]: 44; sebagai ibtilâ’ (menguji ketahanan manusia terhadap godaan; sebagai barakah (anugerah murni yang diberikan kepada orang-orang saleh) seperti ditegaskan dalam QS al-A’raf [7]: 96. Ukurannya terletak kepada moral dan sikap manusia ketika mendapatkan apapun yang dialaminya, baik itu kemudahan ataupun kesengsaraan. Itulah kerangka umum dari ajaran dan pandangan agama mengenai segala hal yang terjadi pada umat manusia.

Kerusakan alam memiliki potensi untuk mengetuk pintu spiritualisme dalam diri manusia. Kabar mengenai lubang besar di atmosfer kita, cairnya es kutub, atau prediksi akan terjadinya banyak bencana pada beberapa tahun yang akan datang dapat memperkental ketakutan manusia terhadap Sang Penguasa. Manusia lebih mudah kembali kepada Tuhan pada saat ia merasa bahwa dirinya sangat lemah dan tidak berdaya. Sebaliknya, manusia justru lebih mudah lupa Tuhan pada saat ia berada dalam posisi nikmat dan berdaya.

Barangkali pintu spiritualisme itulah yang menjadi motivasi Sayidina Ali bin Abi Thalib mengeluarkan penegasan, “Tidaklah turun sebuah balâ’ (bencana) melainkan karena dosa; dan tidaklah hilang sebuah bala’ melainkan karena taubat.” 

Pernyataan ini tentu saja bukanlah sebuah hukum yang berlaku mutlak, karena pada kenyataannya, bencana, baik bencana alam ataupun yang lain, bisa menimpa siapa saja dan negeri mana saja, mukmin atau kafir, saleh atau fasik. Inti dari ucapan yang beliau tegaskan itu adalah untuk memberi motivasi agar kita senantiasa muhasabah (introspeksi diri), mengambil pelajaran dan peringatan dari setiap hal yang terjadi di alam ini, serta menjadikan fenomena alam sebagai pendorong untuk bertaubat.

Jadi, kerusakan alam jelas memiliki kaitan yang erat dengan kerusakan moral. Sebagian ada yang memiliki kaitan logis-alamiah, misalnya kerusakan alam yang disebabkan oleh keserakahan dan kebejatan manusia. Mereka mengeksploitasi alam untuk memenuhi nafsu mereka sehingga menyebabkan hilangnya keseimbangan ekosistem. Namun demikian, pada umumnya, benang merah antara kerusakan alam dan kebejatan moral manusia itu memang bersifat transenden, tidak tertangkap oleh kacamata sains. 

Apapun dan bagaimanapun, kerusakan alam yang demikian akut pada masa hidup kita ini, semestinya kita yakini sebagai pelajaran atau peringatan dari Sang Penguasa Alam. Karena hanya dengan keyakinan itulah kita bisa selamat dari bencana moral di balik bencana alam.


Ahmad Dairobi

Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger