Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Sejenak Mengenang KH Zaenuddin MZ

Sejenak Mengenang KH Zaenuddin MZ


Dikenal dengan nama Zaenuddin Muhammad Zein yang kemudian biasa dipanggil dengan nama Zaenuddin MZ, lahir di Jakarta, 2 Maret 1951, adalah seorang anak Betawi asli sekaligus pemuka agama Islam di Indonesia. Beliau diberi Julukan "Dai sejuta umat" oleh masyarakat muslim Indonesia.

Mengenai nama MZ dibelakang nama beliau, H. Fatulloh selaku asisten beliau memaparkan bahwa MZ itu diambil dari nama ayah Zaenuddin. Nama ayahnya Turmudzi. Huruf M dan Z nya yang diambil menjadi nama belakang pak Zaenuddin. Namun, H. Fatulloh juga menuturkan bahwa KH. Zaenuddin tidak pernah mengungkapkan kenapa ia mengambil kedua huruf itu untuk dijadikan nama panjang Zaenuddin. Menurut H. Fatulloh, KH. Zaenuddin suka bercanda jika ditanya apa kepanjangan MZ. Kalau ditanya apa arti MZ pasti dibilangnya 'Memang Zaenuddin'. Suka dibuat bercanda, cuma lucu-lucuan. Beliau sebenarnya bernama asli Zaenuddin Hamidi. Nama itulah yang tercantum dalam KTP dan surat lahir Zaenuddin. Menurut Fatulloh, Zaenuddin tidak menggunakan nama aslinya karena terlalu panjang. Huruf MZ dipilih agar lebih singkat dan lebih mudah dihapal banyak orang.

Zaenuddin merupakan anak pertama dari empat bersaudara, tapi hanya Zaenuddin yang jadi ulama. Sejak lahir, KH. Zaenuddin tinggal di rumah orang tuanya di Jl Gandaria Gang Cemara Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Namun sejak tahun 1986, mereka pindah ke alamat yang sama namun berbeda gang, yaitu Gang Haji Aom No 101.

K.H. Zaenuddin M.Z. adalah seorang da’i kondang di Indonesia. Anak tunggal buah cinta pasangan Turmudzi dan Zainabun dari keluarga Betawi asli ini sejak kecil memang sudah nampak mahir berpidato. Bakatnya ini terbawa sampai ia dewasa hingga ia dikenal dengan julukan “da’i sejuta umat” itu, karena da’wahnya yang dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat. K.H. Zaenuddin M.Z. menempuh pendidikan tinggi formal di IAIN Sarif Hidayatullah dan berhasil mendapatkan gelar doktor dari Universitas Kebangsaan Malaysia. Beliau juga adalah murid KH. Idham Chalid di Pondok Pesantren.

Waktu kecil, Udin, nama panggilan keluarganya, suka naik ke atas meja untuk berpidato di depan tamu yang berkunjung ke rumah kakeknya. ‘Kenakalan’ berpidatonya itu tersalurkan ketika mulai masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Aliyah di Darul Ma’arif, Jakarta. Di sekolah ini ia belajar pidato dalam forum Ta’limul Muhadharah (belajar berpidato). Kebiasaannya membanyol dan mendongeng terus berkembang. Setiap kali tampil, ia memukau teman-temannya. Kemampuannya itu terus terasah, berbarengan permintaan ceramah yang terus mengalir.

Karena ceramahnya sering dihadiri puluhan ribu ummat, maka tak salah kalau masyarakatpun mulai menjulukinya ‘Da’i Berjuta Umat’. Suami Hj. Kholilah ini semakin dikenal masyarakat ketika ceramahnya mulai memasuki dunia rekaman. Kasetnya beredar bukan saja di seluruh pelosok Nusantara, tapi juga ke beberapa negara Asia.

Kepiawaian ceramahnya sempat mengantarkan KH. Zaenuddin ke dunia politik karena keprihatinan beliau akan carut marutnya dunia politik, terutama bagi kalangan ummat muslim. Dalam pergulatannya dengan dunia politik, beliau tetap eksis keliling berdakwah. Namun, akhirnya beliau menghentikan kegiatan politiknya dan hanya fokus untuk menebarkan dakwah islamiyah dan kembali berada ditengah-tengah umat Islam.

Kita tahu, ceramah almarhum disampaikan saat publik dikejutkan oleh mega-korupsi yang tak kunjung surut. Petikan ceramah singkat di atas dapat menggambarkan sosok dan karakter yang disampaikan sang dai. Itu sebabnya, jika dibandingkan sejumlah dai yang muncul belakangan, almarhum masih tergolong dai yang paling istimewa.

Keistimewaan dakwah KH. Zainuddin MZ bisa digambarkan dalam hal-hal berikut:  

Pertama, almarhum adalah seorang dai yang mempunyai kedalaman ilmu keislaman. Ia sudah memenuhi salah satu syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang dai. Setiap berceramah, pasti ayat, hadis, sejarah dan pendekatan semantik mengalir dengan lancar. Mereka yang menyimak ceramah-ceramahnya laksana menyelam ke lautan ilmu yang maha luas. Sebab itu, kalangan cendekiawan dan para ulama sekalipun sangat menyukai dan menikmati ceramah-ceramahnya, karena mengajak kita untuk mengaji sekaligus mengkaji ilmu-ilmu keislaman yang sangat kaya itu.

Menurut literatur ilmu dakwah, salah satu aspek yang paling krusial dalam dakwah adalah kapasitas keilmuan sang dai. Seorang dai ibarat guru besar sehingga harus menguasai ilmu keislaman dengan baik. Kaidah fikih mengenal, faqid al-sya’i la yu’thihi –seseorang yang tidak mempunyai kompetensi terhadap sebuah persoalan tidak layak menyampaikannya kepada orang lain. Seorang dai tidak sepatutnya hanya bermodal surban dan retorika kosong, seperti yang menghiasi layar kaca televisi saat ini. Seorang dai harus mempunyai kapasitas keilmuan yang mumpuni, terutama dalam ilmu-ilmu keislaman.

KH. Zainuddin MZ, harus diakui sebagai seorang ulama yang pantas dihormati, bukan karena penampilannya. Lebih dari itu, karena kedalaman ilmunya. Setiap kali berceramah, almarhum tampil bak orang biasa dengan kopiah hitam dan sarung. Tidak ada simbol-simbol kearaban; surban atau jenggot panjang. Tetapi, siapapun yang mendengarkan ceramahnya pasti  mendapatkan segudang ilmu yang siap disantap untuk menyegarkan fikiran dan hati nurani. Kalangan terpelajar atau awam bisa mendapatkan hidangan ilmu dari ceramah-ceramahnya.

Keistimewaan kedua, kontekstualisasi diskursus keagamaan dalam konteks keindonesiaan. Terlihat betapa ceramah-ceramah KH. Zainuddin MZ merespons isu-isu aktual  yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, meskipun hal tersebut bertentangan dengan kepentingan penguasa. Sejak rezim Orde Baru bercokol hingga rezim Reformasi saat ini, almarhum tidak pernah kehilangan daya kritis terhadap masalah-masalah yang merugikan kepentingan publik. Kita tahu, bahwa korupsi merupakan penyakit akut yang dihadapi bangsa ini, dan karenanya pesan keagamaan harus memberikan penekanan terhadap upaya pemberantasan korupsi.

Dalam hal ini, seperti yang telah dipopulerkan oleh Hasan Hanafi dalam Al-Yasar al-Islami, bahwa pemikiran Islam sejatinya dapat mendorong pembebasan umat dari belenggu kekuasaan tiran dan koruptif. Salah satu medium yang efektif adalah mimbar ceramah yang berhadapan langsung dengan umat. Biasanya, ceramah keagamaan hanya berkaitan dengan isu-isu spiritual yang mengajak umat untuk melakukan introspeksi kalbu. Tapi, KH. Zainuddin MZ adalah seorang ulama yang menyampaikan isu-isu aktual yang bernuansa pembebasan dari penindasan yang telah menyebabkan kerusakan bersifat massif.

Di samping itu, ceramah-ceramah almarhum bernuansakan kebangsaan. Salah satu ungkapan yang populer, yaitu “merangkul, tidak memukul”. Ungkapan tersebut sangat sederhana, tetapi maknanya luar biasa. Spirit keagamaan sejatinya tidak menumbuhkan konflik, apalagi kekerasan. Justru agama, khususnya Islam diturunkan ke muka bumi dalam rangka “merangkul” mereka yang berbeda paham, mazhab dan aliran.

Tidak bisa dipungkiri, perbedaan merupakan karakter menonjol dalam agama, baik dalam konteks intra-agama maupun antaragama. Oleh karena itu, budaya “merangkul” harus dikedepankan daripada budaya “memukul”, sebagaimana merebak dalam beberapa tahun terakhir. H. Rhoma Irama , menyebut KH. Zainuddin MZ sebagai “ulama nasionalis”, yang telah mempersatukan bangsa melalui ceramah-ceramahnya yang menyejukkan.

Ketiga, pesan keagamaan yang menghibur. Bagi sebagian dai, mimbar keagamaan kerap kali dijadikan sebagai forum agitasi untuk membangkitkan reaksi umat dalam melakukan perlawanan. Tetapi, di tangan KH. Zainuddin MZ, ceramah keagamaan berubah menjadi forum yang menghibur tanpa kehilangan esensi. Kombinasi antara “isi” dan “hiburan” merupakan sebuah keistimewaan yang dimiliki almarhum. Karena itu, umat betah duduk berjam-jam menunggu dan menikmati ceramah almarhum, karena pesan agama disampaikan dengan bahasa yang populis dan komunikatif.

Sejujurnya, ketiga hal tersebut merupakan keistimewaan KH. Zainuddin MZ sebagai dai yang telah mendedikasikan hidupnya dalam dunia dakwah keagamaan. Bahkan, almarhum telah menjadi dai yang khas, karena substansi dan style yang tidak dimiliki para dai lainnya. Alamarhum memang layak mendapat gelar sebagai “Dai Sejuta Umat”.

Kini, ditengah-tengah munculnya dakwah-dakwah keagamaan yang cenderung “memprovokasi”, yang kerap kali membangkitkan gairah umat untuk menebarkan kekerasan, sebagaimana tercermin di berbagai mimbar keagamaan, maka tidak salah jika kita mempunyai kerinduan yang sangat mendalam kepada ceramah-ceramah almarhum. Ceramah yang menghibur dan berbobot, serta mengajak umat berfikir dan berzikir, merupakan sebuah keniscayaan, sehingga umat tidak terjerembap dalam paham keagamaan yang sempit, rigid dan keras.

Ancaman ceramah bernuansa kebencian (hate speech) merupakan persoalan yang serius yang dihadapi bangsa ini. Terorisme dan radikalisme yang menyeruak di ruang publik, salah satunya bermula dari ceramah-ceramah keagamaan yang mengabsahkan kekerasan atas nama agama. Di samping itu, ceramah keagamaan yang tidak di dasarkan pada penguasaan yang mendalam dan kontekstualisasi keindonesiaan, menyebabkan agama terpisah dari spirit pembebasan dan transformasi sosial.

Maka dari itu, ada baiknya para dai yang belakangan ini bermunculan seperti jamur,  hendaknya mampu dan mau meneladani almarhum. Utamanya tidak pada aspek “menghibur”, tetapi pada aspek pengayaan diri terhadap khazanah keagamaan dan upaya kontekstualisasi keindonesiaan. Sebagai Negara yang mayoritas penduduknya muslim, para dai mempunyai tanggung jawab untuk mencerdaskan sekaligus mencerahkan umat.

Sebagaimana telah disebutkan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW, para ulama hakikinya adalah pewaris para Nabi. Maka, misi yang diemban oleh para ulama, yaitu menyebarkan nilai-nilai profetis kenabian, khususnya dalam rangka menebarkan tali-kasih di tengah-tengah umat, serta membangkitkan umat dari keputusasaan dan hilangnya harapan. Keberadaan ulama ditengah-tengah umah sangat sentral, karena mereka hadir menyampaikan pesan keagamaan kepada umat.


KH. Zaenuddin MZ meninggal dunia, Selasa (5/7/2011) sekitar pukul 09.20 WIB. Wafatnya mubaligh Betawi yang terkenal akrab “Dai Sejuta Umat” itu sangat mengejutkan. Almarhum, beberapa hari sebelumnya masih mengisi ceramah di salah satu televisi swasta. Ia menyatakan “Jihad yang paling utama adalah jihad melawan korupsi”. Bahkan almarhum menegaskan, bahaya korupsi lebih dahsyat dari terorisme, karena korupsi dapat menyebabkan kemiskinan yang bersifat massif. 

Menurut kabar, beliau terkena serangan jantung usai sarapan di rumahnya, walaupun menurut keluarga beliau tidak pernah memiliki riwayat sakit jantung. Beberapa hari sebelum beliau meninggal. beliau pun masih menjalankan aktivitas dakwahnya baik di stasiun TV maupun keliling pelosok. Namun, beliau sempat mengeluh sakit kepala dan tensi darah yang naik karena kecapekan. Beliau pun sempat dilarikan ke RS Pusat Pertamina, tetapi nyawanya tak tertolong.

Saking membludaknya pelayat, sejumlah polisi dan warga membuat 'pagar betis' dengan cara bergandengan tangan guna memperlancar iring-iringan pembawa keranda jenazah KH. Zainuddin menuju masjid Jami Fajrul Islam untuk disholatkan.

Beliau dimakamkan di halaman Masjid Jami Fajrul Islam (yang beliau bangun), yang terletak di depan rumahnya. Area itu dipilih sesuai dengan amanat beliau. Menurut Ust. Haikal Fikri, anak pertama KH. Zaenuddin MZ, Amanat dari Almarhum dua tiga tahun lalu memang ingin dimakamkan di area masjid karena cita-cita beliau ingin mendirikan pondok pesantren yang mengelilingi masjid itu.

Ust. Haikal tidak keberatan jika nantinya makam KH. Zaenuddin bakal didatangi banyak pelayat. Keluarga pun justru senang karena banyak orang yang akan mendoakan Almarhum KH. Zaenuddin.

Walaupun beliau telah tiada di dunia, tetapi keramahan dan dakwah-dakwah santunnya yang mudah dipahami dan meresap di hati masyarakat, akan selalu dikenang manis, tidak hanya oleh masyarakat muslim Indonesia, tetapi masyarakat muslim Asia pada umumnya. Semoga apa yang telah disampaikan beliau dalam dakwah-dakwahnya, dapat dilaksanakan dengan baik untuk kebaikan kita bersama dan untuk perbaikan bangsa ini.  

KH. Zainuddin MZ telah berjasa besar dalam menjaga watak Islam rahmatan lil ‘alamin di negeri ini. Tugas para ulama yang lain adalah melanjutkan agenda besar tersebut. Kekurangan dalam diri almarhum adalah manusiawi. Tak ada gading yang tak retak. Selamat jalan “Dai Sejuta Umat”. Allahummaghfirlahu warhamhu.



Dari berbagai sumber (termasuk media detik.com, zainuddinmz.com, majalah TRUST edisi No. 35 tahun IX, 7 Juli 2011 oleh Zuhairi Misrawi, dan lainnya)
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger