Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Kejujuran Untuk Indonesia

Kejujuran Untuk Indonesia

Kejujuran di Indonesia saat ini benar-benar dipertaruhkan. Lihat saja di media massa, banyak kita lihat, pejabat-pejabat negara yang seharusnya menjadi teladan justru memberikan contoh yang tidak baik lewat korupsi maupun kebohongan-kebohongan yang lain. Tak juga itu, kini lembaga penegak hukum, contah saja KPK, pun juga diragukan lagi kredibilitasnya akibat terlalu bertele-tele dan terlihat kepayahan dalam menyelesaikan kasus korupsi, padahal masyarakat awam saja sudah bisa jelas melihat siapa yang sepantasnya dijadikan sasaran pemeriksaan. Lantas dimana lagi mencari kejujuran di Indonesia jika kebanyakan para pejabatnya memberikan contoh berbuat tidak jujur?

Mari kita bayangkan sebuah kejadian!!

Ketika pada suatu saat kita mengadakan sebuah perjalanan dengan kereta api. Tapi entah kenapa karena suatu sebab, laptop kita ternyata tertinggal di dalam kereta. Kita baru ingat setelah tiba di kantor. Tapi anehnya ternyata kita kita tidak panik, kita langsung menelepon ke stasiun dan kita sampaikan permasalahan kita. Pihak stasiun lalu menyuruh kita menunggu satu setengah jam dan pada akhir jam itu kita mendapat telepon yang menyatakan bahwa laptop kita sudah ditemukan dan pihak stasiun justru memberi pilihan apakah akan diambil oleh kita sendiri atau diantar ke rumah?

Pada situasi yang lain kita sedang mengambil uang di ATM tapi karena sesuatu dan lain hal ternyata kita lupa tidak mengambil uangnya. Lalu anehnya kita tidak sadar sudah melakukan kesalahan itu sampai malam tiba. Tiba-tiba ketika malam tiba kita mendapat telepon dari polisi yang mengatakan kejadian tersebut dan sekaligus menawarkan apakah uang itu akan diambil oleh kita sendiri atau diantar ke rumah?

Lalu ada lagi kejadian lain, saat kita sedang sibuk-sibuknya bekerja di toko, adzan berkumandang dan kita serentak pergi begitu saja meninggalkan toko kita dalam keadaan terbuka. Ketika kita kembali ternyata semua barang kita masih utuh tak kurang suatu apapun juga. Dapatkah kita rasakan betapa nikmatnya bila kita hidup di tengah-tengah masyarakat seperti ini?

Sekarang mari kita bandingkan ketiga kejadian di atas dengan kondisi suatu tempat!!

Dimana jangankan uang yang keluar dari ATM, bahkan uang yang masih ada di dalam ATM pun dicuri, bahkan itu dilakukan oleh orang dalam banknya sendiri yang seharusnya menjaga amanah dari para nasabahnya.

Lalu ada lagi cerita dunia pendidikan di sana, ketika ada Ujian Nasional terjadi kebocoran dimana-mana. Lalu terjadilah efek-efek susulan seperti ketakutan akan mendapat nilai buruk, akibatnya seluruh manusia yang terlibat di sana melakukan segala cara untuk menaikkan nilai seperti mencontek atau menyuap tenaga pengajarnya. Bahkan orang yang berusaha untuk jujur pun malah dijadikan bulan-bulanan oleh masyarakat. Bayangkan saja jika orang tua pun menyuruh anaknya untuk tidak jujur.

Juga ada lagi, aparat-aparat negara yang menggunakan fasilitas negara bukan untuk kepentingan pekerjaan, tatapi untuk kepentingan partai politik dan pribadi. Ketika ditanya oleh wartawan televisi, maka ia berdalih boleh-boleh saja, padahal jelas aturan penggunaan barang negara adalah untuk hal yang semata-mata bersifat dinas. Apakah itu bukan suatu kebohongan?

Dapatkah kita rasakan bahwa alangkah tersesatnya kita jika sampai hidup di lingkungan seperti itu?

Bila kita baca ulang cerita-cerita di atas, maka mungkin kita akan bertanya-tanya, apakah memang itu bisa terjadi? Sebenarnya kasus-kasus di atas itu adalah kejadian nyata. Cerita laptop dan uang di ATM itu pernah terjadi di Jepang, sementara cerita toko yang terus buka itu terjadi di Mekkah Saudi Arabia. Sementara kasus sisanya entah terjadi di negara mana (kita pura-pura tidak tahu saja lah).

Semua cerita di atas memiliki landasan yang sama yaitu kejujuran. Apalagi kita ini hidup di dalam sebuah tatanan masyarakat modern, dan sebuah masyarakat modern sebenarnya tidak akan bisa berdiri tegak tanpa dibantu oleh kejujuran.

Tapi ada baiknya bila kita melihat dari sudut pandang agama. Sebab dari sudut itu Jepang bisa dibilang negara yang agamanya sulit didefinisikan tapi kenapa mereka bisa melakukan sesuatu yang cenderung “Islami” seperti itu?

Pertanyaan itu sebenarnya terjawab dalam Al-Quran, tepatnya pada ayat ini :

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua,(Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (QS Al- Isra : 7).

Apa maksudnya? Salah satu maksud ayat ini adalah kesadaran pada keberadaan Allah yang Maha Melihat. Mungkin inilah yang dipahami benar oleh orang Jepang (yang kebanyakan malah bukan orang muslim) tadi, pada intinya masyakarat Jepang percaya dan yakin semua itu adalah bagian dari hukum Allah (hukum tuhan), dan itu berarti apapun yang kita lakukan di dunia kelak akan mendapat balasan baik di dunia ataupun di akhirat.

Kembali pada cerita-cerita di atas tadi, tanpa harus dijelaskan pun kita mengerti bahwa cerita-cerita yang terakhir itu terjadi di negara kita sendiri. Pada akhirnya kita pun akan menyadari bahwa kita hidup di lingkungan yang penuh berisi kebohongan.

Jadi apakah kita sebenarnya sudah kehilangan harapan? Sebenarnya tidak, karena kita masih punya harapan untuk memperbaiki segala kesalahan itu. Antara lain dengan mengeluarkan suara menentang berbagai kecurangan di sekitar kita.

Sebenarnya inilah esensi dari ajaran agama Islam, yaitu saling mengingatkan dalam kebaikan. Dalam hal ini kita tidak boleh kehilangan harapan agar dapat mewariskan hari esok yang lebih baik dari hari ini, itupun kalau kita memang mendambakan Indonesia ada dalam kondisi yang lebih baik lagi.



Dr. Ir. Hermawan Kresno Dipojono
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger