Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , » Sebaik-baik Ucapan dan Petunjuk Bag. 3

Sebaik-baik Ucapan dan Petunjuk Bag. 3

Kita sudah memahami bahwa bulan itu punya rotasi yang tidak bisa berubah. Tidak mungkin bulan bisa berubah posisi sebagaimana yang disampaikan di dalam hadits tetapi jelas. Bulan itu ada yang mengatur rotasinya, ada yang mengatur putarannya, ada yang mengatur cahayanya, ada yang mengatur posisinya, Dialah Allah SWT, Jika Allah menghendaki maka bulan itu pun taat kepada Allah dengan perinah Nabi Muhammad SAW. Dan beliau (Nabi SAW) adalah orang yang paling bertanggung jawab, paling perduli terhadap orang orang yang mencintai beliau dan membela beliau SAW walaupun mereka barangkali lebih banyak berbuat salah. 

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, ketika paman beliau Abu Thalib yang disaat sakaratul mautnya diperintah oleh Sang Nabi SAW untuk mengucap syahadatain dan Abu Thalib menolak. Karena apa? karena takut kalau ia mengucapkan, nanti orang-orang kafir Quraisy makin menyiksa Nabi SAW. Jiwanya beriman tapi tidak mau mengucapkannya, maka Abu Thalib wafat. 

Para Sahabat bertanya “Ya Rasulullah berarti perjuangan Abu Tholib sia sia? bukankah ia yang membelamu disaat semua orang mencaci dan menghinamu? apakah berguna perjuangan beliau yang demikian hebatnya berakhir dengan kematian yang tidak berarti dengan menolak mengucapkan syahadat”. Rasul SAW merah padam wajahnya berkata “berguna..!" perjuangan Abu Tholib tidak sia-sia, kalau bukan aku yang memperjuangkan, maka Abu Tholib sudah ada di jurang neraka yang terdalam”. (Shahih Bukhari).

Diriwayatkan juga pada Shahih Bukhari, Abu Thalib ada di pantainya neraka. Kenapa bisa ada di pantai neraka? karena di syafa’ati oleh Nabi Muhammad SAW dari dasar neraka. Kenapa bisa di dasar neraka? Bukan mati dalam kekufuran, sebagaimana tuduhan sebagian saudara kita yang mengatakan Abu Thalib mati kafir karena menolak syahadat. Tentunya kalau ia mati dalam kekufuran, Rasul SAW tidak akan mensyafa’atinya. Rasul SAW mensyafa’atinya berarti ia wafat dalam iman walaupun tidak mengucapkannya.

Kalau tidak, Rasul SAW tidak akan mensyafa’atinya. Dan disini kenapa ia masuk ke jurang neraka, karena menolak perintah Rasul SAW mengucap syahadat. Karena disini bukan lagi antara paman dan keponakan, Abu Thalib pamannya Nabi SAW. Ini bukan paman dan keponakan tapi ini antara hamba dengan utusan Allah. Kalau seseorang diperintah oleh Rasul SAW dengan perintah langsung, yaitu langsung diucapkan dan ia mendengar perintah dihadapannya, lalu tidak ia perbuat, maka ia mati di dalam kekufuran (dosa besar).

Nah ini Abu Tholib diperintah oleh Rasul SAW mengucapkan syahadat tidak mau, bukan karena menentang Nabi SAW tapi karena takut nanti Rasul SAW makin disiksa oleh orang orang semacam Abu Lahab dan lainnya. berkata Abu Thalib : "Aku tidak mau mengucapkannya" demi menjaga Sang Nabi SAW, tapi ketidak taatannya kepada perintah Nabi SAW terkena dosa besar. Maka Rasul SAW mensyafa’ati Abu Thalib. 

Hebat sekali ucapan Sang Nabi SAW “kalau bukan karena aku yg mensyafa’atinya…”. Demikian perjuangan Sang Nabi SAW membela orang orang yang memperjuangkan dan mendukung beliau (Nabi SAW) sehingga di limpah ruahkanlah kemuliaan pengampunan kepada umatnya (Nabi SAW).

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bagaimana Rasul SAW memaafkan dan menyampaikan pengampunan Allah. Demikian mudahnya. Ketika seorang pemuda datang dengan airmata yang mengalir untuk bertaubat kepada Nabi SAW “Ya Rasulullah aku sudah banyak berbuat dosa, aku minta dihukum”. Rasul SAW berkata, Allah SWT yang menjawab “sungguh perbuatan perbuatan pahala menghapus dosa dosa”, maka gembira pemuda ini dan berkata “Ya Rasulullah apakah ini untukku sendiri?”, Rasul SAW menjawab “ini untukmu dan untuk seluruh umatku (Nabi SAW)”. Mereka yang memperbanyak pahala, Allah akan hapuskan dosa dosanya.

Carilah pengampunan Allah dalam segala hal daripada sunnah Nabi Muhammad SAW. Diantara shalat satu dengan shalat lainnya terdapat pengampunan. Kita shalat dhuhur lalu shalat ashar dan diampuni dosanya antara dhuhur dan ashar. Diantara satu shalat ke shalat lainnya maka penuh pengampunan diantara shalat jum’at satu ke shalat jum’at berikutnya terdapat pengampunan. Di setiap dzikir, di setiap selesai shalat terdapat pengampunan. Bahkan diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, barangsiapa yang mengucap “aamiin” disaat imam mengucapkan “ghairilmaghdhu bi alaihim waladhdhollin” ia mengucap “aamiin” maka malaikat akan meng “aamiin” kan ucapan sang imam dan Allah akan mengampuni dosa dosanya yang terdahulu karena ucapan amin saja, meng “amin” kan ucapan imam. Jika bersatu dan bersamaan aminnya dengan aminnya para malaikat tentunya amin yang yang teratur ketika imamnya mengucapkan “waladdhaallin”, ia berhenti beberapa detik lalu mengucapkan “aamiin”. Disaat itu pengampunan Allah turun atas mereka. Demikian hadirin hadirat indahnya pengampunan Allah muncul pada kalimat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan perbuatan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.



Habib Munzir Al Musawwa
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger