Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Menghargai Diri Orang Lain Apa adanya

Menghargai Diri Orang Lain Apa adanya

Termasuk menentang takdir adalah manakala seseorang menjelekkan saudaranya dengan perkara (catat) yang di luar kehendaknya (Imam Abdullah Al Haddad).

Dalam bentang kehidupan umat manusia pasti ada yang hidup dalam keadaan sehat, sakit, kaya, miskin, demikian seterusnya rona-rona hidup. Mereka ada yang catat, postur tubuhnya kurus kerempeng, atawa hidup dalam kepapaan. Akan tetapi semuanya tidak dinilai oleh Allah dari segi fisiknya.

Maka dari itu, setiap sikap yang berwujud dalam meremehkan, menghina dan memandang sebelah mata orang-orang yang cacat, sakit, dan miskin di atas termasuk tindakan yang berbahaya yaitu menentang takdir.

Siagakan diri kita dari menghina orang lain. Tidak ada jaminan bahwa diri kita yang dha`if ini lebih baik dari orang yang kita lecehkan. Bisa jadi, dalam pandangan manusia, seseorang itu jelek fisiknya, melarat namun dia malah mendapatkan kemulian dari kekurangannya tersebut. Itu sebabnya baginda Nabi saw menerangkan dalam sebuah haditsnya :

الفُقَرَاءُ جُلَسَاءُ اللهِ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Orang-orang fakir itu adalah “teman duduknya” Allah di hari kiamat.”

Bersandar dari hadits di atas, kita diajari ternyata kemelaratan justru menjadi sebab kemuliaan. Oleh karena itu, banyak didapati di antara hamba-hamba Allah swt yang tergolek sakit yang dengan sakitnya tersebut ia meraih derajat di sisi Allah. Sebagai contoh cukup kiranya kisah Nabi Ayyub, sosok Nabi yang ditimpa aneka macam penyakit yang ternyata mendapat kemulian. Lihat pula kabar sahabat Nabi yang bernama Imran bin Hushain, ia meraih maqam sebab kesabarannya ditimpa penyakit. Dia terkena penyakit beser hingga tergolek tidak berdaya.

Suatu ketika dia berkata kepada Nabi yang intinya meminta doa kesembuhan, “Ya Rasulullah, doakan aku ini supaya sembuh.” Nabi memberi pilihan, “Imran kalau engkau kudoakan, engkau akan disembuhkan oleh Allah tapi kalau engkau (mau) bersabar, maka malaikat mendatangimu setiap hari guna memberi salam.” Tanpa ragu-ragu lagi, Imran mengambil pilihan kedua yang ditawarkan oleh Rasul.

Mungkin, kita sering merasa iba kepada mereka yang tertimpa suatu penyakit namun sebenarnya orang yang sakit mendapatkan pangkat dari Allah. Karenanya, jangan lagi ada perasaan yang menggelayut di benak bahwa yang sehat  lebih mulia daripada yang sakit; yang kaya lebih mulia daripada yang melarat. Kita sudah tahu kedudukan Imran bin Hushain yang saban hari didatangi malaikat juga kesabaran Nabi Ayyub yang diganjar dengan kedudukan mentereng di sisi-Nya, tinggal kita sekarang, masihkah  sampai hati kita mengina orang lain, senangkah diri ini bila saudara kita mendapat musibah? Ibnu Abbas memberikan komentarnya tentang firman Allah :

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang Telah mereka kerjakan ada (tertulis). dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (QS. [18]:49).

Kata Ibnu Abbas, tidak meninggalkan yang kecil adalah At Tabassum bil istihza` bil Mukmin (senyuman sinis yang bernada hinaan kepada orang mukmin), dan tidak (pula) yang besar adalah Al Qahqahah (tertawa terbahak-bahak menghina orang muslim).

Dalam firman-Nya yang lain,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka Telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”



Habib Ali Akbar Bin Agil
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger