Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Etika Berpuasa

Etika Berpuasa

1. Tidaklah sebaiknya (sebagai seorang yang murid) kamu hanya berpuasa pada bulan Ramadhan saja lalu kamu tinggalkan puasa sunnah dan amalan yang ditujukan untuk mendapatkan tingkatan yang tinggi di sorga, sehingga kamu menyesal nantinya ketika memandang posisi orang-orang yang berpuasa di sorga, seperti kamu memandang bintang-bintang yang tinggi, mereka tinggal di tempat yang sangat mulia.


2. Hari-hari mulia yang ditegaskan oleh riwayat-riwayat sebagai hari yang berkeutamaan dan berpahala besar apabila berpuasa di dalamnya.


Yaitu: hari Arafah untuk orang yang tidak melaksanakan Haji, hari Asyura (10 Muharram), 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah, 10 hari pertama bulan Muharram, bulan Rajab, Syaban, puasa pada bulan-bulan Haram merupakan keutamaan, yaitu bulan Dzul Qadah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab, satu menyendiri dan tiga berurutan. Inilah hari-hari dianjurkan puasa dalam setahun.


Adapun puasa dalam setiap bulan adalah: awal bulan, tengah bulan dan akhir bulan, hari-hari putih yaitu tanggal 13, 14 dan 15, adapun puasa mingguan adalah hari Senin, Kamis dan Jumat. Dosa mingguan dihapus dengan puasa Senin, Kamis dan Jumat. Dosa bulanan dihapus dengan puasa awal bulan, pertengahan bulan, akhir bulan dan hari-hari putih dan dosa tahunan dihapus dengan semua puasa di atas.


3. Jangalah kamu kira, ketika kamu puasa, bahwa puasa adalah meninggalkan makan dan minum dan berhubungan suami istri saja. 


Rasulullah SAW bersabda Banyak orang yang puasa tapi sejatinya puasanya hanya lapar dan dahaga. Kesempurnaan puasa juga dengan menjaga anggota tubuh semuanya dari apa yang dibenci Allah SAW. Seperti halnya kamu harus menjaga matamu dari melihat pemandangan yang tercela, menjaga lisanmu dari berbicara yang tidak perlu, menjaga telingamu dari mendengarkan yang diharamkan Allah. 


Orang yang mendengarkan adalah mitra dari yang berbicara, maka termasuk pelaku Ghiibah. Begitu juga kamu harus kendalikan semua anggota tubuhmu seperti kamu mengendalikan perut dan kemaluanmu. Dalam sebuah hadist disebutkan Lima perkara yang membatalkan puasa, yaitu bohong, membicarakan orang lain, adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat. 


Rasulullah SAW juga bersabda Puasa adalah pengendali, apabila kalian berpuasa maka jangan berbuat dosa, jangan berbuat kefasikan, jangan berbuat bodoh, apabila seseorang datang ingin memerangi atau mengajak perang mulut, hendaklah ia berkata bahwa saya sedang puasa.


4. Kamu juga harus berusaha untuk berbuka dengan makanan yang halal, jangan berlebih-lebihan sehingga melebihi apa yang biasanya kamu makan pada malam hari, maka tidak ada bedanya kalau kamu makan kebiasaan dua porsi dalam satu kali makan. 


Sesungguhnya tujuan dari puasa adalah mengendalikan hawa nafsu dan melemahkan kekuatan nafsumu agar kamu kuat dalam menjalankan ketaqwaan. Kalau kamu makan pada malam hari dengan porsi sebanyak apa yang biasanya kamu lewatkan pada siang hari, maka tidak ada gunanya puasamu, kamu juga telah memberatkan pencernaanmu. Tidak ada perut yang dibenci Allah kecuali perut yang kepenuhan dengan perkara halal, bayangkan kalau itu kepenuhan dengan perkara haram?


5. Setelah kamu pahami makna puasa, maka perbanyaklah berpuasa semampumu, sesunggunya puasa adalah landasan dari semua ibadah dan pembuka bagi kedekatanmu kepada Allah. 


Rasulullah SAW bersabda: Allah berfirman semua perkara baik akan diberi imbalan dengan 10 kali lihar sampai 700 kali lipat kecuali puasa, sesunggunnya itu hanya untukKu dan Akulah yang akan menentukan balasannya. 

Rasulullah SAW juga bersabda Demi Dzat yang memiliki diriku di Tangannya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di mata Allah dari aroma misik, Allah SWT berfirman Dia telah meninggalkan syahwatnya, makananya, minumannya demi Aku, puasa adalah untukKu dan Aku yang berham membalasnya. Rasulullah SAW bersabda Di sorga ada pintu yang disebut Rayyan, pintu itu hanya boleh dimasuki orang-orang yang suka berpuasa.



Sumber: Kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al Ghazali
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger