Hadits yang baru saja kita baca tadi “ana ma’a ‘abdi haitsu maa
dzakaranii wa taharrakat bii syafataah” Aku bersama hamba- hambaKu ketika ia
mengingat-Ku dan bergetar bibirnya menyebut Nama-Ku.
Al Imam Ibn Hajar
Al Asqalani didalam kitabnya Fathul Baari menjelaskan bahwa maknanya bukan
berarti Allah bersama dia secara Dzat-Nya, tapi menunjukkan betapa cinta dan
senangnya Allah kepada orang yang mengingat Allah. Dan mengingat Allah itu
bukan hanya dengan hati. Sebagian orang berkata bukan hanya dengan bibirnya
tapi hati itu mengingat Allah.
Ternyata kita dengar haditsnya “..wa
taharrakat bii syafataah” bergetar bibirnya menyebut Nama-Ku. Bukan
bersama Dzatnya Allah, namun bersama cintanya Allah hingga bibirnya yang
bergetar itu menyebut Nama Allah maka ia bersama degan kecintaan Allah.
Ternyata Allah masih menghargai bibir yang menyebut Nama-Nya. Allah sangat
memuliakan bibir yang mengagungkan Nama-Nya. Oleh sebab itu, inilah indahnya dzikir. Jiwa dan sanubari
kita berdzikir kepada Allah, jangan jadikan dzikir ini hal yang aneh dalam diri
kita.
Zaman sekarang orang bicara rindu dengan teman wajar, rindu
dengan kekasih pantas, rindu dengan anak pantas, tapi kalau rindu dengan Allah
koq sepertinya aneh? Padahal justru untuk ini kita dicipta. “wamaa
khalaqtuljinna wal insa illa liya’budun” tidak kuciptakan jin dan manusia
terkecuali untuk menyembah kepada-Ku. QS. Adz-Dzaariyat : 56.
Apa
untungnya bagi Allah kita menghamba kepada-Nya?
Allah tidak butuh penghambaan
kita. Allah ingin kita dekat, Allah ingin kita dekat. Inilah kenapa Allah
menciptaku dan menciptamu dan mencipta seluruh manusia keturunan Adam as. Allah
ingin mereka dekat lalu Allah ingin beri mereka surga yang lebih dan jangan
sembah selain-Nya, jangan cintai lebih daripada cinta seorang kepada Allah.
Kita bertanya, aku ini orang yang amam terhadap cinta kepada Allah? Aku punya
kekasih, punya keluarga, punya teman, punya rumah tangga.
Lalu bagaimana dengan
cinta Allah ini?
Tentunya “laa yukallifullahu nafsan illa wus a’ha” Allah
tidak paksa manusia kecuali menurut kemampuannya. QS. Al Baqarah : 286.
Sepertinya kalau harus jujur aku lebih cinta yang lain daripada Allah, aku
lebih perduli pada yang lain daripada Allah, malah jangan – jangan diantara
kita lebih sibuk memikirkan sandalnya jangan sampai hilang saat sujud kepada
Allah. Bagaimana dengan keadaan ini? Allah SWT menjawab “laa yukallifullahu
nafsan illa wus a’ha, laha maa kasabat wa a’laiha maktasabat”. QS. Al Baqarah :
286.
Lalu bagaimana dengan dosa – dosa ini Rabbiy? bagaimana dengan
kesalahan – kesalahan in Rabbiy?
Allah ajari lagi “rabbana laa tuakhidznaa
innasiinaa aw akhtanaa” wahai Allah jangan hukum kami kalau kami salah dan
lupa. QS. Al Baqarah : 286.
Ini ucapan coba kita renungkan!! Ucapan in
bisa dikatakan tidak adil, sudah berbuat salah minta jangan dihukum kalau
berbuat salah dan berbuat hal yang lupa. Tapi ternyata yang mengajari adalah
Allah. Aku ingin kau menyaksikan betapa indahnya kalimat – kalimat Illahi yang
sangat membuka pintu asmara-Nya untuk memanggil cinta kita agar berpaling
kepada cintanya Allah.
“Rabbana wala tahmil a’alaina ishran kama hamaltahu
a’lalladziina min qablina” orang sebelum kami itu dahsyat, perintahnya
berat, segala – galanya berat, jangan Kau bebankan kami seperti mereka. QS. Al
Baqarah : 286.
“Rabbana wala tuhammilna malaa thaqatalanabihi, wa’fu
‘anna waghfirlana warhamna” maafkan kami, ampuni kami, dan sayangilah kami.
QS. Al Baqarah : 286.
Indahnya kalimat ini “warhamna” sayangilah
kami. “..fanshurna a’lalqaumil kaafiriin” tolonglah kami dari
orang – orang yang jauh dan musuh – musuh Islam. QS. Al Baqarah : 286.
Habib Munzir Al Musawwa





Home
Posting Komentar