Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ketika Rasul SAW
didatangi oleh seorang yang mengadu “ya Rasulullah mulai sekarang aku tidak
mau lagi shalat subuh berjamaah di masjid itu”,
Rasul bertanya “kenapa
tidak mau shalat berjamaah subuh?”
Ia berkata “karena imamnya baca
surahnya panjang, baca surah AlBaqarah”. Al Baqarah itu panjangnya 2 ½ juz.
Maka imam itu Dipanggil oleh Rasulullah, bukan orang ini yang ditegur.
Selayaknya orang ini yang ditegur karena ketika ditanya “kenapa kau tidak
ingin shalat berjamaah?”, ia menjawab “aku punya pekerjaan ya
Rasulullah, aku bekerja. Kalau aku duduk hadir shalat subuh disitu bagaimana
dengan pekerjaanku”.
Semestinya Rasul SAW menegurnya dan menghardiknya “kau
ini mementingkan dunia apa shalat? kerja apa shalat?”, mestinya kan begitu.
Tapi Rasul SAW justru menegur imam itu dengan teguran yang tegas “afattaanun
anta ya Mu’adz..?!” apakah kau ini pembawa fitnah wahai Muadz..?!.. Kalau
kau jadi imam jangan panjang – panjang baca surah karena diantara mereka ada
yang bekerja, ada yang sakit, ada yang tua, ada yang sibuk, jangan
memberatkan orang kecuali jika kau ingin membawa shalatmu sendiri shalat
sunnah, silahkan! sepanjang – panjangnya. Tapi kalau untuk umatnya, maunya
mereka, maunya shalatnya yang ½ juz panjangnya silahkan!, maunya yang ¼ juz saja
silahkan!, mau yang 100 ayat, mau yang 10 ayat ikuti umatmu. Tapi jangan
beratkan makmum.
Sampai beliau SAW berkata “..anta ya Muadz..?!” apakah
kau ini pembawa fitnah wahai Muadz..?!.. Rasul bersabda “yassiru
wala tu’assiru” ringankan orang – orang ini dan jangan diberat – beratkan.
Ketika Rasul SAW didatangi 3 orang tamu “assalamu’alaikum warahmatullah”,
Rasulullah diam.“assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh”, Rasulullah
tidak jawab, kali yang ketiga Rasul bertayammum lalu menjawab salam.
Para
Sahabat bertanya “ya Rasulullah dari tadi kami memberi salam dan kau tidak
jawab, kami kira kau murka pada kami dan kami adalah ahli neraka”, Rasul
menjawab “bukan itu”, kata Rasul SAW. “aku tidak ingin menjawab
terkecuali dengan keadaan suci”. Lailahailalllah, adakah akhlak seperti
ini?
Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani didalam kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih
Bukhari menjelaskan makna yang pertama Nabi SAW tidak mau dari memuliakan
tamunya menjawab salam dalam keadaan tidak wudhu itu tidak sopan untuk Nabi SAW.
Sampai beliau digelari “wa innaka la’alaa khuluqin adzim” dan kau sungguh
berada didalam akhlak yang agung. (AL Qalam 4).
Kenapa?
Mau terima tamu,
mau menjawab salam saja harus berwudhu. Tidak ada air di depannya baru
bertayammum dan barulah menjawab salam. Dan makna yang kedua adalah Nabi SAW
tidak mau menyebut Nama Allah kecuali dalam keadaan wudhu, karena AsSalam
adalah Nama Allah. Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah.





Home
Posting Komentar