Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Home » » Ringankanlah, Jangan Diberat-beratkan

Ringankanlah, Jangan Diberat-beratkan

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ketika Rasul SAW didatangi oleh seorang yang mengadu “ya Rasulullah mulai sekarang aku tidak mau lagi shalat subuh berjamaah di masjid itu”, 

Rasul bertanya “kenapa tidak mau shalat berjamaah subuh?”

Ia berkata “karena imamnya baca surahnya panjang, baca surah AlBaqarah”. Al Baqarah itu panjangnya 2 ½ juz. 

Maka imam itu Dipanggil oleh Rasulullah, bukan orang ini yang ditegur. Selayaknya orang ini yang ditegur karena ketika ditanya “kenapa kau tidak ingin shalat berjamaah?”, ia menjawab “aku punya pekerjaan ya Rasulullah, aku bekerja. Kalau aku duduk hadir shalat subuh disitu bagaimana dengan pekerjaanku”. 

Semestinya Rasul SAW menegurnya dan menghardiknya “kau ini mementingkan dunia apa shalat? kerja apa shalat?”, mestinya kan begitu. Tapi Rasul SAW justru menegur imam itu dengan teguran yang tegas “afattaanun anta ya Mu’adz..?!” apakah kau ini pembawa fitnah wahai Muadz..?!.. Kalau kau jadi imam jangan panjang – panjang baca surah karena diantara mereka ada yang bekerja, ada yang sakit, ada yang tua, ada yang sibuk, jangan memberatkan orang kecuali jika kau ingin membawa shalatmu sendiri shalat sunnah, silahkan! sepanjang – panjangnya. Tapi kalau untuk umatnya, maunya mereka, maunya shalatnya yang ½ juz panjangnya silahkan!, maunya yang ¼ juz saja silahkan!, mau yang 100 ayat, mau yang 10 ayat ikuti umatmu. Tapi jangan beratkan makmum. 

Sampai beliau SAW berkata “..anta ya Muadz..?!” apakah kau ini pembawa fitnah wahai Muadz..?!.. Rasul bersabda “yassiru wala tu’assiru” ringankan orang – orang ini dan jangan diberat – beratkan.

Ketika Rasul SAW didatangi 3 orang tamu “assalamu’alaikum warahmatullah”, Rasulullah diam.“assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh”, Rasulullah tidak jawab, kali yang ketiga Rasul bertayammum lalu menjawab salam. 

Para Sahabat bertanya “ya Rasulullah dari tadi kami memberi salam dan kau tidak jawab, kami kira kau murka pada kami dan kami adalah ahli neraka”, Rasul menjawab “bukan itu”, kata Rasul SAW. “aku tidak ingin menjawab terkecuali dengan keadaan suci”. Lailahailalllah, adakah akhlak seperti ini?

Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani didalam kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan makna yang pertama Nabi SAW tidak mau dari memuliakan tamunya menjawab salam dalam keadaan tidak wudhu itu tidak sopan untuk Nabi SAW. Sampai beliau digelari “wa innaka la’alaa khuluqin adzim” dan kau sungguh berada didalam akhlak yang agung. (AL Qalam 4). 

Kenapa? 

Mau terima tamu, mau menjawab salam saja harus berwudhu. Tidak ada air di depannya baru bertayammum dan barulah menjawab salam. Dan makna yang kedua adalah Nabi SAW tidak mau menyebut Nama Allah kecuali dalam keadaan wudhu, karena AsSalam adalah Nama Allah. Demikian hadirin hadirat yang dimuliakan Allah.



Habib Munzir Al Musawwa
Adv 1
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger