Maksudnya, seorang Muslim
mengkondisikan dirinya merasa diawasi Allah Ta’ala di setiap waktu kehidupan
hingga akhir kehidupannya, bahwa Allah Ta’ala melihatnya, mengetahui
rahasia-rahasianya, memperhatikan semua amal perbuatannya, mengamatinya, dan
mengamati apa saja yang dikerjakan oleh semua jiwa. Dengan cara seperti itu,
diri orang Mukmin selalu merasakan keagungan Allah Ta’ala dan kesempurnaanNya,
tentram ketika ingat nama-Nya, merasakan ketentraman ketika taat kepada-Nya,
ingin bertetanggaan dengan-Nya, datang menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari
selain-Nya.
Inilah yang dimaksudkan dengan Islamisasi wajah dalam firman Allah Ta ‘ala, “Dan siapakah yang Jebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia
mengikuti agama Ibrahim yang Jurus?” (An-Nisa’: 125).
Dan yang dimaksud dengan firman Allah Ta'ala, “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dis orang
yang berbuat kebeiken, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali
yang kokoh.” (Luqman: 22).
Itulah intisari seruan Allah Ta ‘ala dalam firman-Nya, ‘Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu maka
takutIah kepada-Nya. “(Al-Baqarah: 235).
Atau dalam firman-Nya, “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari
Al-Oυr’аn dan kalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi
saksi atasmu pada waktu kalian melekukannya. “(Yunus: 22).
Atau dalam sabda Rasulullah Shallallahu Aleihi wa Sallam, “Sembahlah Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidek bise
melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. “(Muttafaq Alaih).”
Jalan itulah yang dilalui para pendahulu kita dari para salafush shalih. Mereka membawa diri mereka kepadanya hingga akhir hayat mereka, dan mereka
berhasil mencapai derajat muqarrabin (hamba-hamba yang dekat dengan Allah).
Bukti-bukti berikut bersaksi untuk mereka:
1. Ditanyakan kepada Al-Junaid, “Bagaimana kiat menahan pandangan?”
AI-Junaid, “Yaitu pengetahuanmu, bahwa pandangan Dzat yang melihatmu itu lebih
dahulu dan lebih cepat daripada penglihatanmu kepada sesuatu yang engkau
lihat.”
2. Sufyan Ats- T sauri berkata, “Hendaklah engkau merasa diawasi oleh Dzat
yang mengetahui apa saja yang ada padamu. Hendaklah engkau berharap kepada Dzat
yang memenuhi (harapanmu). Dan hendaklah engkau takut kepada dzat yang memiliki
hukuman
3. Ibnu Al- Mubarak berkata kepada seseorang, “Hai si Fulan, hendaklah
engkau merasa diawasi Allah. ” Orang tersebut bertanya kepada Ibnu Al-Mubarak
tentang apa yang dimaksud dengan pengawasan Allah, kemudian Ibnu Al-Mubarak
menjawab, “Jadilah engkau seperti orang yang bisa melihat Allah
selama-lamanya.”
4. Abdullah bin Dinar berkata, “Pada suatu hari, aku pergi ke Makkah bersama
Umar bin Khaththab. Di salah satu jalan, kami berhenti untuk istirahat,
tiba-tiba salah seorang penggembala turun kepada kami dari gunung. Umar bin
Khaththab bertanya kepada penggembala tersebut, ‘Hai penggembala, juallah
seekor kambingmu kepada kami.’ Penggembala tersebut berkata, ‘Kambing-kambing
ini bukan milikku, namun milik majikanku.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Katakan
saja kepada majikanmu, bahwa kambingnya dimakan serigala.’ Penggembala yang
budak tersebut berkata, ‘Kalau begitu, di mana Allah?’ Umar bin Khaththab
menangis, kemudian ia pergi ke majikan penggembala tersebut, lalu membeli budak
tersebut, dan memerdekakannya.
5. Dikisahkan bahwa salah seorang shalih berjalan melewati orang-orang yang
sedang melempar, sedang salah seorang dari mereka duduk menyendiri dari mereka.
Orang shalih tersebut pergi kepada orang tersebut, dan ingin mengajaknya
bicara, namun orang tersebut lebih dahulu berkata kepadanya, “Dzikir kepada
Allah itu jauh lebih nikmat.” Orang shalih bertanya kepada orang tersebut,
“Engkau sendirian di sini?” Orang tersebut menjawab, “Aku bersama Tuhanku, dan
dua malaikat. ” Orang shalih bertanya kepada orang tersebut, “Siapa yang mendahului
orang-orang tersebut?” Orang tersebut menjawab, “Yaitu orang-orang yang
diampuni Allah.” Orang shalih bertanya kepada orang tersebut, “Di manakah jalan
itu?” Orang tersebut memberi isyarat ke langit, kemudian ia berdiri dan pergi.
6. Dikisahkan bahwa ketika Zulaikha berduaan dengan Yusuf Alaihis-Salam, ia
pergi ke patung, kemudian menutupnya dengan kain. Nabi Yusuf Alaihis-Salam
bertanya, “Engkau ada apa? Engkau malu kepada pengawasan benda padat kepadamu,
dan tidak malu kepada pengawasan Raja Teragung (Allah) kepadamu?”
Salah seorang shalih menyenandungkan syair, Jika Anda menyendiri dengan
zaman pada suatu hari, Anda jangan katakan, ‘Aku telah menyendiri, ‘namun
katakan, ‘Zaman mengawasiku. ‘ Sedetik pun Anda jangan beranggapan bahwa Allah lengah Dan bahwa Allah tidak
mengetahui apa yang Anda rahasiakan Tidaklah Anda lihat, bahwa hari ini cepat
berlalu Dan bahwa hari esok sudah dekat bagi orang-orang yang menunggunya.
Kitab Minhajul Muslim





Home
Posting Komentar